Dikejar tenggat waktu menikah oleh sang nenek, Sari Maheswara CEO kaya raya yang dingin dan perfeksionis. Mobilnya mogok di dekat pasar subuh. Namun, kesialan itu membawanya bertemu dengan Arka, seorang duda tampan penjual kue basah yang karismatik. Hanya dengan sebutir kue klepon buatan Arka, lidah dan hati Sari langsung meleleh.
Terbiasa mendapatkan apa pun dengan uang, Sari dengan angkuh menyodorkan Black Card-nya untuk membeli seluruh dagangan, gerobak, sekaligus sang penjual! Bukannya tergiur, Arka yang berprinsip justru menolak mentah-mentah keangkuhan sang CEO.
Penolakan itu malah menyulut jiwa kompetitif Sari. Demi menaklukkan hati sang duda, Sari rela menanggalkan gengsinya: bangun jam 4 subuh, menerjang beceknya pasar dengan high heels, hingga berebut kue dengan emak-emak berdaster. Meski Arka berulang kali memintanya mundur karena perbedaan kasta dan status dudanya, Sari justru makin tertantang untuk membuktikan bahwa cinta sejatinya tidak bisa dibeli melainkan diperjuangkan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13
Suasana dapur kini jauh lebih tenang. Suara detak jarum jam dinding menjadi latar belakang yang menemani aktivitas mereka.
Sambil menimbang tepung dengan hati-hati, Sari memberanikan diri membuka percakapan untuk mencairkan suasana yang sempat canggung.
"Arka, apa kamu sudah lama berjualan kue?" tanya Sari pelan, matanya fokus memperhatikan jarum timbangan.
Arka yang sedang mengaduk adonan di baskom besar berhenti sejenak, menatap ke luar jendela yang gelap sebelum menjawab.
"Sudah lama, Mbak. Semenjak orang tuaku meninggal dunia. Aku harus belajar mandiri kalau mau bertahan hidup."
Sari terdiam, merasa tertohok mendengar jawaban yang mirip dengan kondisi hidupnya.
"M-maaf..." ucap Sari lirih.
Arka tersenyum tipis, sebuah senyum yang kali ini terasa lebih dalam dan penuh pengertian.
"Tidak apa-apa, Mbak. Lagipula, kita berdua sama-sama kehilangan orang tua kita. Mendiang Ibu yang mengajarkanku membuat kue ini. Dulu, sebelum berangkat sekolah, aku selalu ikut beliau berjualan ke pasar."
Sari terpaku, membayangkan sosok Arka kecil yang gigih.
Namun, lamunannya buyar saat Arka menunjuk ke arah timbangan dengan dagunya.
"Dan Mbak, sepertinya tepungnya kebanyakan," tegur Arka dengan nada jenaka.
Sari melihat ke arah timbangan yang memang sudah melampaui batas yang ditentukan. Ia refleks tertawa kecil, suara tawa yang terdengar jujur dan lepas.
"Ah, maaf. Aku terlalu fokus mendengarkan ceritamu sampai lupa takarannya."
Setelah urusan menimbang selesai, Arka kemudian memberikan tantangan berikutnya.
"Sekarang, bantu saya membuat klepon, Mbak. Bulatkan adonannya kecil-kecil, lalu isi dengan potongan gula merah di dalamnya."
Sari dengan penuh konsentrasi mengikuti instruksi Arka.
Jemarinya yang terbalut kasa putih bergerak perlahan membentuk bulatan demi bulatan adonan hijau pandan.
Saat satu per satu klepon yang dibuatnya tampak sempurna, Arka tidak segan melayangkan pujian.
"Hebat kamu, Mbak. Padahal ini pertama kalinya kamu pegang adonan, tapi hasilnya tidak kalah dengan pedagang profesional," puji Arka dengan tulus.
Sari tersenyum lebar, merasa bangga dengan pencapaian kecilnya.
"Benarkah?"
"Benar," jawab Arka singkat. Ia kemudian bergeser mendekat, memberikan satu wadah adonan lain ke hadapan Sari.
"Kalau sudah selesai, setelah ini bantu saya membuat adonan dasar bolu gulung ya, Mbak. Caranya sedikit lebih teknis, tapi saya yakin Mbak pasti bisa."
Sari mengangguk mantap, menatap Arka dengan sorot mata yang jauh lebih hangat dari beberapa jam yang lalu.
Rasa letih di tangannya seolah menghilang, tergantikan oleh rasa antusias untuk mempelajari dunia baru yang selama ini tak pernah ia bayangkan.
Malam kian larut, menyisakan keheningan yang kental di dalam rumah kontrakan kecil itu.
Setelah menyelesaikan adonan dasar dadar gulung bersama Sari, Arka beralih menyiapkan menu berikutnya: kue putu ayu.
Dengan cekatan, tangannya mulai mengocok telur dan gula hingga mengembang, lalu mencampurnya dengan santan dan terigu beraroma pandan yang wangi.
Suara konstan dari mikser tua miliknya bergaung rendah di dapur.
Saat Arka mematikan mesin untuk mulai mencetak adonan ke dalam cetakan plastik kecil yang sudah diberi kelapa parut, suasana mendadak senyap.
Arka menoleh ke arah meja kerja di sebelahnya. Sosok Sari yang beberapa menit lalu masih dengan gigih membantunya, kini tampak terdiam.
Kepala wanita itu sudah terkulai di atas meja, berbantalkan kedua lengannya yang terbalut kain kasa putih.
Matanya terpejam rapat, menyisakan napas yang teratur dan halus.
Sari benar-benar ketiduran karena kelelahan yang luar biasa.
Tubuhnya yang terbiasa dengan kenyamanan kasur busa mahal terpaksa beradaptasi ekstrem hari ini: mulai dari membersihkan luka pincang, menghadapi brutalnya pasar induk, menendang selangkangan juragan ayam, menangisi masa lalu, hingga tersiram air mendidih.
Arka meletakkan cetakan putu ayunya perlahan. Ia melangkah mendekat, berdiri di samping Sari yang tertidur lelap dengan beberapa sisa tepung kusam yang masih menempel di kaus putihnya.
Rasa kasihan dan iba yang amat sangat seketika menyeruak di dada Arka.
Wanita ini adalah seorang pimpinan tertinggi perusahaan besar, namun malam ini dia rela mengotori tangannya dan menahan sakit demi membuktikan sebuah ucapan.
Ada dorongan kuat di hati Arka untuk menyuruh Sari pulang saja ke rumah mewahnya agar tidak perlu menderita seburuk ini.
Namun, Arka menggeleng kuat. Ia harus tetap konsisten memberikan semua syarat berat ini agar Sari benar-benar memahami arti hidupnya sebelum melangkah lebih jauh.
Dengan gerakan yang sangat pelan dan hati-hati agar tidak mengejutkan tidurnya, Arka membungkuk.
Kedua tangan kekarnya menyusup ke bawah tubuh Sari, membopong tubuh ringkih wanita itu ke dalam dekapannya dengan penuh perlindungan.
Sari sempat melenguh kecil, menyurukkan wajah polosnya ke ceruk leher Arka untuk mencari posisi nyaman, namun ia tidak terbangun.
Arka membawa Sari berjalan perlahan menuju kamar tamu—kamar yang tadi sore disiapkan untuk Sari.
Setelah merebahkan tubuh Sari di atas kasur kapuk yang sudah dilapisi seprei bersih, Arka menarik selembar kain jarik bermotif batik untuk menyelimuti tubuh wanita itu hingga sebatas dada.
Arka berdiri di tepi ranjang, menatap wajah tidur Sari yang tampak begitu damai tanpa beban takhta Maheswara Group di pundaknya.
"Istirahatlah, Mbak," bisik Arka lirih, suaranya sarat akan kelembutan.
"Nanti jam tiga subuh, aku akan membangunkanmu lagi untuk mengemas kue-kue ini ke pasar."
Setelah memastikan Sari tertidur nyaman di kamar tamu, Arka melangkah kembali ke dapur dengan suara kaki yang sengaja dipelankan.
Aroma wangi pandan dan gurihnya kelapa parut sisa pengerjaan tadi masih menguar kuat di udara, berpadu dengan uap panas yang keluar dari sela-sela tutup panci kukusan raksasa.
Arka menarik napas dalam, mencoba mengusir rasa kantuk yang mulai menggelitik kelopak matanya.
Tugasnya belum selesai. Kue-kue yang sudah matang tidak bisa dibiarkan begitu saja di atas tampah.
Dengan cekatan, Arka mulai menata klepon hijau yang mengkilap ke dalam kemasan mika plastik kecil satu per satu.
Menggunakan jepitan kue, ia meletakkan sejumput kelapa parut kering di atasnya agar tampilan kue tradisional itu menggugah selera.
Setelah klepon, tangannya beralih membungkus dadar gulung berpori cantik dan menyusun putu ayu yang mekar sempurna.
Semua dikerjakan dengan ritme yang teratur dan rapi.
Tik... tok... tik... tok...
Suara jam dinding plastik terdengar makin nyaring di tengah kesunyian malam yang kental. Arka melirik ke arah angka jam.
Jarum pendek telah bertengger tepat di angka satu dini hari.
Seluruh kue pesanan dan dagangan untuk subuh nanti akhirnya selesai dikemas ke dalam kotak-kotak besar, siap untuk diangkut ke atas motor bebeknya.
Tubuh kekar Arka yang biasanya tangguh kini mulai mengirimkan sinyal lelah yang kentara. Punggungnya terasa kaku, dan pundaknya berdenyut pegal.
Arka berjalan lesu menuju amben kayu di ruang tamu.
Ia duduk di tepiannya, lalu meluruskan kedua kakinya ke depan.
Dipandanginya langit-langit rumah kontrakan yang kusam itu dengan tatapan kosong. Pikirannya mendadak melayang pada kejadian-kejadian tak terduga sepanjang malam ini—keberanian Sari di pasar induk, caranya mempertahankan harga diri, hingga air matanya saat menceritakan masa kecilnya yang sepi.
"Perempuan yang keras kepala..." gumam Arka tipis, sebuah senyuman samar terukir di sudut bibirnya.
Arka menyandarkan punggungnya ke dinding papan rumah, menekuk satu lengannya di atas dahi untuk menghalau sedikit pendar cahaya lampu neon.
Ia tahu, dua jam lagi ia harus terjaga untuk membangunkan Sari dan berangkat menembus dinginnya angin subuh.
Sambil mengembuskan napas panjang, Arka perlahan memejamkan matanya sebentar, membiarkan kesadarannya perlahan larut dalam istirahat singkat di keheningan sepertiga malam.
klo mas duda menolak cinta sih 1000 : 1...
di dunia kita laki2 tu ibarat kucing garong...ikan asin bejejer j di cuntan makinya awewe bungas ✌️✌️✌️🤎