"Siapa?!" Sebuah suara berat, serak, dan penuh ancaman terdengar di kegelapan.
Rayyan langsung mencengkeram pergelangan tangan Aira. Napas pria itu memburu, aroma maskulin yang bercampur dengan hawa panas menguar dari tubuhnya. Obat bius di dalam tubuh Rayyan bergolak hebat saat merasakan kulit halus seorang wanita menyentuhnya.
"S-sakit... panas..." Aira tidak menjawab pertanyaan Rayyan. Gadis itu justru meracau, air matanya menetes karena rasa tidak nyaman yang asing di sekujur tubuhnya. Sentuhan tangan Rayyan yang dingin di pergelangan tangannya justru terasa seperti penawar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pesan Rahasia Di Balik Layar
Aira kembali ke meja magangnya di divisi audit lantai 32 dengan perasaan campur aduk. Baru saja dia mendudukkan diri di kursi empuknya dan membuka dokumen laporan keuangan, telinganya langsung menangkap kasak-kusuk dari kubikel sebelah. Dua orang staf senior, Maya dan seorang karyawati lain, tampak sedang mengobrol dengan suara setengah berbisik sambil sesekali melirik ke arah koridor lift.
"Eh, kamu tahu tidak? Bu Sandra dari lantai eksekutif itu sebenarnya sudah lama banget ngejar Pak Rayyan," bisik karyawan berambut pendek itu dengan semangat. "Semua orang di lantai atas juga tahu kalau dia sangat menyukai Pak Rayyan. Segala perhatian dikasih, bahkan sampai gaya berpakaiannya pun disesuaikan dengan selera Pak Rayyan."
"Iya, aku juga dengar," sahut Maya sambil menggelengkan kepala. "Tapi ya begitu, Pak Rayyan kelihatan tidak tertarik sama sekali. Dingin banget. Jangankan membalas, senyum sedikit saja kalau Bu Sandra bicara pun hampir tidak pernah."
Aira yang mendengarnya hanya bisa terdiam. Tangannya yang memegang pena sedikit mengetat. Ada rasa tidak nyaman yang tiba-tiba merayap di dadanya—rasa cemburu yang asing namun nyata.
Tak berselang lama setelah desas-desus itu terdengar, pintu kaca otomatis divisi audit terbuka. Suasana ruangan seketika senyap seketika. Rayyan melangkah masuk bersama rombongan direksi untuk meninjau progres triwulan, dan tepat di samping belakangnya, Sandra berjalan dengan langkah anggun, membawa beberapa berkas dengan senyuman yang terus mengembang. Sandra sengaja mengambil posisi sedekat mungkin dengan sang CEO.
Melihat pemandangan itu, karyawan di sebelah kubikel Aira kembali menyenggol lengan temannya dan mulai berbisik lagi, cukup jelas hingga terdengar oleh Aira.
"Tapi kalau dilihat-lihat lagi, padahal mereka berdua itu serasi banget, ya? Yang satu tampan dan berkuasa, yang satu cantik dan elegan. Kok Pak Rayyan enggak mau ya sama Bu Sandra? Kurang apa coba?"
Kretekk.
Aira tanpa sadar menekan penanya terlalu kuat ke atas kertas. Kata "serasi" yang diucapkan rekan kerjanya barusan mendadak membuat hatinya terasa panas dan jengkel. Dia melirik sekilas ke arah rombongan itu. Sandra tampak sedang membisikkan sesuatu terkait jadwal rapat, mencoba terlihat sangat profesional sekaligus menawan di mata Rayyan.
Rayyan, yang sejak awal melangkah masuk ke ruangan hanya memiliki satu fokus, langsung mengarahkan pandangan mata elangnya ke sudut kubikel tempat istri sahnya duduk. Pria berusia 32 tahun itu menatap Aira dengan sorot mata yang dalam, mencoba mencari tahu apakah istrinya baik-baik saja setelah insiden senggolan di lantai atas tadi.
Namun, alih-alih mendapatkan kedipan mata manis atau senyuman seperti biasanya, Rayyan justru mendapati wajah Aira yang ditekuk cemberut.
Aira yang sedang dirayapi rasa jengkel sengaja memalingkan wajahnya dengan cepat. Dia sama sekali tidak memedulikan tatapan intens dari suaminya yang terus mengarah kepadanya. Dengan gerakan yang sedikit dihentak, Aira kembali menundukkan kepala, membalik halaman dokumen dengan kasar, dan berpura-pura sangat sibuk dengan angka-angka akuntansi di layarnya. Dia memilih untuk mengabaikan keberadaan sang CEO terkaya yang sebenarnya tiap malam tidur memeluknya itu, membiarkan Rayyan kebingungan di tengah koridor ruangan karena mendadak mendapat "aksi mogok bicara" dari sang istri tercinta.
Aira benar-benar membenamkan dirinya dalam tumpukan dokumen audit untuk mengalihkan rasa jengkel yang menggelitik dadanya. Ponselnya yang tergeletak di samping papan tik sesekali bergetar, menampilkan rentetan pesan dari grup obrolan teman-teman kampusnya. Mereka masih sibuk membahas materi kuliah dan gosip seputar dosen pembimbing, membuat layar ponsel Aira terus menyala.
Namun, di tengah keriuhan pesan kelompok itu, sebuah notifikasi baru muncul di bagian paling atas layar. Nama kontak yang tertera di sana langsung membuat gerakan tangan Aira yang sedang mengetik angka-angka akuntansi terhenti seketika.
Suamiku ❤️
Kenapa sayang? Kok tadi terlihat cemberut?
Jantung Aira berdesir aneh membaca kata "sayang" yang dikirimkan oleh pria yang beberapa menit lalu berdiri dengan aura mematikan di koridor kantor. Dia melirik ke sekeliling kubikelnya dengan waspada, memastikan tidak ada mata staf senior yang mengintip ke arah layar ponselnya.
Setelah merasa aman, Aira meraih ponselnya dengan gerakan cepat. Rasa jengkel karena ucapan karyawan lain tentang Sandra yang "serasi" dengan Rayyan ternyata belum sepenuhnya hilang. Dengan bibir yang sedikit dikerucutkan, jemari ramping Aira mulai mengetik balasan dengan nada ketus yang sengaja dia tunjukkan pada suaminya.
Aira:
Tidak apa-apa, Pak CEO. Saya cuma lagi sibuk kerja.
Hanya butuh waktu kurang dari sepuluh detik sampai ponselnya kembali bergetar. Rayyan tampaknya sedang memegang ponselnya di dalam lift eksekutif menuju lantai teratas.
Suamiku ❤️
Boong. Matamu tidak bisa menipu suamimu sendiri, Aira. Siapa yang membuat istriku kesal? Apa Sandra berbuat sesuatu lagi setelah di koridor tadi? Katakan padaku.
Melihat perhatian Rayyan yang begitu peka, sudut hati Aira sedikit melunak, namun egonya sebagai wanita yang sedang cemburu—ditambah hormon kehamilannya yang sedang sensitif—membuatnya ingin menyindir pria itu.
Aira:
Bukan Bu Sandra. Tapi kata orang-orang di divisiku, Pak Rayyan itu serasi banget kalau sama Bu Sandra. Yang satu tampan berkuasa, yang satu cantik elegan. Cocok banget katanya.
Di lantai 35, Rayyan yang baru saja melangkah masuk ke dalam ruang kerja utamanya langsung menghentikan langkah kaki begitu membaca pesan terakhir dari istrinya. Sebuah senyuman asimetris yang sangat tampan terukir di wajah tegas sang CEO. Rasa bingung yang sempat menderanya di divisi audit tadi kini berganti dengan rasa gemas yang luar biasa.
Istri kecilku sedang cemburu, batin Rayyan, merasa sangat bahagia mengetahui bahwa Aira sudah mulai memiliki perasaan yang dalam untuknya.
Rayyan langsung mengetik balasan dengan tatapan mata yang dipenuhi binar asmara, mengabaikan asisten Haris yang menatapnya heran karena sang bos besar mendadak tersenyum sendiri di depan ponsel.
Suamiku ❤️
Oh, jadi Nyonya Wijaya sedang cemburu, hm? Dengar, Sayang. Di mataku, tidak ada wanita yang lebih serasi bersanding denganku selain gadis manis berpakaian longgar yang semalam tidur di pelukanku dan sekarang sedang mengandung anakku. Fokus pada kerjamu, jangan kelelahan. Nanti malam aku sendiri yang akan memberikan 'hukuman' manis karena kamu sudah berani mendiamkan suamimu di kantor.
Wajah Aira seketika merona merah padam sampai ke leher setelah membaca pesan balasan dari Rayyan. Dia meletakkan ponselnya dengan terburu-buru seolah benda itu baru saja menyengat kulitnya. Aira menyembunyikan wajahnya yang terasa panas di balik kedua telapak tangannya, mencoba meredam debaran jantungnya yang menggila. Rasa jengkelnya menguap tanpa bekas, digantikan oleh rasa hangat yang membuncah di dalam dadanya.