NovelToon NovelToon
Pesona Mas Brewok

Pesona Mas Brewok

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Idola sekolah / Dikelilingi wanita cantik
Popularitas:583
Nilai: 5
Nama Author: septia19

saat sekolah dulu , Zahra hanya sekedar mengenal nama Rendra saja, tak pernah bertegur sapa sama sekali. setelah lulus, mereka tidak bertemu bertahun tahun , hingga akhirnya di pertemukan kembali.rendra yang mulai duluan menghubungi duluan. padahal awalnya Zahra sama sekali tak memiliki perasaan apapun begitupun rendra.bahkan Zahra ada berniatan menjodohkan Rendra dengan sahabat karibnya yaitu rana. namun anehnya malah zahra yang merasa cemburu melihat kedekatan mereka. padahal tak di sangka, hati rendra tertuju pada Zahra bukan rana. ini lah kisah cinta halal mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon septia19, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

episode 24.sikap yang menjauh

Setelah kejujuran Zahra terucap dan Raka sempat terdiam seolah menerima, pikiran itu ternyata hanya berlangsung sesaat. Di dalam lubuk hatinya yang paling dalam, rasa cinta Raka pada Zahra belum pudar sedikit pun. Ia merasa perasaan itu tumbuh terlalu kuat, terlalu lama, dan terlalu tulus untuk sekadar dilupakan dalam sekejap. Sebaliknya, Rana yang tadinya masih menyimpan harapan kecil atau sekadar ingin tahu, kini benar-benar menarik diri sepenuhnya menjadi sosok yang dingin, cuek, dan tak lagi mau terlibat dalam urusan hati siapa pun di antara mereka. Dua perubahan drastis ini membuat suasana yang tadinya mulai tenang kembali menjadi tegang dan penuh tanda tanya.

Perubahan sikap Rana kini sudah tidak bisa disembunyikan lagi. Ia tak lagi sekadar menghindar saat berdua dengan Zahra, tapi kini ia bersikap sama kepada semua orang termasuk Rendra dan Raka sendiri. Pagi itu saat sarapan, ia duduk diam, menyuap makanan dengan cepat, lalu langsung berdiri dan pergi tanpa menoleh atau menyapa siapa pun.

“Rana... makanlah pelan-pelan, sayang. Belum kenyang begitu buru-buru mau ke mana?” tanya Ibu Rendra lembut.

“Ke kebun, Bu. Ada yang harus dibereskan,” jawabnya singkat, lalu lenyap di balik pintu.

Zahra yang melihat itu hanya bisa menunduk sedih. Ia mencoba menyusul sebentar, namun saat mendekat, Rana justru berjalan lebih cepat, seolah tak ingin berpapasan dengannya.

“Rana... tunggu sebentar, bolehkah kita bicara?” pinta Zahra pelan saat akhirnya berjarak beberapa langkah.

Rana berhenti, namun tak menoleh. “Untuk apa? Semuanya sudah jelas, kan? Kau sudah memilih, dia sudah memilih, dan Raka pun sudah tahu. Aku tidak ada di tempat itu lagi, Zahra. Jadi tolong... jangan cari aku lagi. Aku hanya ingin tenang,” ucapnya dingin, lalu melanjutkan langkah tanpa menoleh sekali pun.

Bagi Rana, melihat kedekatan Zahra dan Rendra setiap hari adalah luka yang terus basah. Ia memilih bersikap cuek sebagai tameng agar hatinya tak semakin sakit, agar ia tak berharap hal yang mustahil, dan agar ia bisa mulai melupakan perasaannya sendiri. Ia sadar, semakin lama ia ada di tengah-tengah mereka, semakin sulit ia bangkit kembali.

Sementara itu, kesepahaman yang sempat terasa antara Raka dan Zahra ternyata belum selesai. Siang harinya, Raka mencari Zahra dan menemukannya sedang duduk bersama Rendra di pinggir sungai kecil. Pemandangan itu kembali membuat hatinya perih, namun ia tak lagi marah ia hanya berpegang teguh pada satu hal ia tak mau menyerah.

“Zahra,” panggil Raka tegas.

Keduanya menoleh. Rendra berdiri siap memberi ruang, namun Raka menggeleng. “Biarkan saja dia di sana. Aku bicara padamu, Zahra.”

Zahra berdiri perlahan. “Ka... tadi kan kita sudah bicara. Aku sudah jelaskan semuanya dengan jujur.”

“Kau sudah menjelaskan alasanmu, tapi kau tidak berhak memutuskan perasaanku,” potong Raka dengan suara mantap, matanya menatap tajam namun penuh kesedihan. “Aku tidak terima kalau kau putuskan begitu saja. Aku tidak mau, Zahra. Aku tidak akan mau berpisah darimu.”

Kata-kata itu membuat Zahra tertegun. Rendra pun maju selangkah, tak tega melihat sahabatnya hancur seperti itu. “Ka... jangan begini. Kalau hatinya sudah tidak ada, dipaksakan hanya menyakitimu sendiri.”

“Kau tidak mengerti, Ren!” seru Raka menatap Rendra. “Kau mendapatkan apa yang kau mau, tentu kau bisa bicara begitu. Tapi aku... aku tidak bisa hidup tanpa Zahra. Aku sudah mencintainya selama bertahun-tahun. Bagaimana mungkin aku tiba-tiba melupakan semuanya hanya karena hatinya berubah?”

Ia kembali menatap Zahra lekat-lekat, lalu ucapkan janji yang membuat udara di sekitarnya terasa berat.

“Dengar ini baik-baik, Zahra. Aku tidak akan menuntutmu untuk segera mencintaiku kembali. Aku tidak akan marah kalau kau dekat dengan Rendra. Tapi satu hal yang harus kau tahu aku tidak akan pernah menerima kata putus itu. Dan selama kau belum benar-benar menikah dengannya, aku tetap menganggapmu kekasihku. Lebih dari itu... aku berjanji pada diriku sendiri aku tidak akan mau mencari pacar lain, tidak akan mau melirik wanita lain, dan tidak akan pernah menikah dengan siapa pun selain kau. Aku akan menunggu, selama apa pun itu.”

Janji itu terucap begitu tegas, seolah itu adalah takdir yang sudah Raka tetapkan sendiri. Zahra terdiam lemas, air mata menetes tanpa suara. Ia tak menyangka keputusannya yang ia kira paling jujur dan adil justru menjadi beban yang begitu berat bagi Raka.

“Ka... jangan lakukan ini pada dirimu sendiri. Aku tidak pantas kau tunggu seperti itu,” mohon Zahra lirih.

“Bukan soal pantas atau tidak. Ini soal hatiku,” jawab Raka lembut namun tak tergoyahkan. “Kau bebas berjalan ke mana saja, kau bebas bersiap dengan siapa saja. Tapi hatiku tidak akan pernah berubah. Aku akan tetap di sini, menunggu sampai kau sadar bahwa tempatmu sebenarnya ada di sisiku.”

Setelah mengatakan itu, Raka berbalik perlahan dan pergi meninggalkan mereka berdua. Langkahnya berat, namun tekadnya sekeras batu. Ia tak mau mundur, tak mau menyerah, dan tak mau membuka hatinya untuk orang lain lagi.

Di tempat itu, Zahra dan Rendra hanya bisa saling pandang dengan perasaan campur aduk. Rendra tahu betul betapa besarnya cinta sahabatnya itu dan betapa sulitnya meruntuhkan keyakinan seperti itu.

“Aku membuat kesalahan besar, bukan?” bisik Zahra dengan suara parau. “Aku menyakiti Rana, dan kini aku membuat Raka terkurung dalam harapan yang tak berujung.”

Rendra mengusap bahunya pelan. “Kau tidak salah karena memilih apa yang kau rasakan. Tapi memang... jalan kita akan jauh lebih sulit dari yang kita bayangkan. Raka tidak akan pergi begitu saja, dan Rana pun tak mau mendekat lagi.

Malam itu, suasana di rumah semakin sunyi dan terasa dingin. Rana mengunci diri di kamarnya, tak mau keluar atau berbicara dengan siapa pun. Raka memilih tidur di ruang tamu, seolah tak sanggup melihat wajah Zahra atau Rendra di ruang tengah. Dan Zahra sendiri terjaga lama, memikirkan janji Raka yang begitu menyentuh sekaligus menakutkan janji untuk setia menunggu selamanya, meski tak ada kepastian.

Kini mereka berada di persimpangan yang pelik Rana mundur total, Raka bertahan dengan janji tak berujung, dan Zahra serta Rendra harus melangkah di tengah rasa bersalah yang tak kunjung hilang. Tak ada yang menang, tak ada yang kalah semuanya hanya terjebak dalam benang perasaan yang rumit dan tak mudah diurai dalam waktu dekat.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!