NovelToon NovelToon
The Sarcastic Survival Log

The Sarcastic Survival Log

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Fantasi Isekai / Survival
Popularitas:181
Nilai: 5
Nama Author: D'Silent Novel

Sinopsis: Mati konyol akibat tersedak tutup pulpen saat mencoba pamer trik sulap di depan kucingnya, Raditya dilempar oleh Dewa Administrasi yang burnout ke Aethelgard—dunia fantasi purba yang super kejam dan mematikan.

Bukannya dibekali pedang suci atau sihir penghancur masal, Raditya hanya diberi sebuah Sistem Survival yang hobi menghujat, bermulut sarkas, dan gemar memberikan hadiah absurd seperti panci aluminium. Tanpa kemampuan bertarung, Raditya terpaksa mengandalkan logika Bumi yang pas-pasan, keberuntungan yang aneh, dan adu bacot dengan sistemnya sendiri demi tidak mati untuk kedua kalinya di dasar rantai makanan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon D'Silent Novel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 1: Kematian, Dewa yang Burnout, dan Sistem Kurang Ajar

Rasa sakit yang dirasakan Raditya saat ini sebenarnya tidak terlalu megah. Itu adalah rasa perih yang luar biasa di tenggorokan, diikuti oleh benturan keras di bagian belakang kepalanya.

Hal terakhir yang diingat Raditya sebelum semuanya menjadi gelap adalah mata hitam polos milik si Belang—kucing kampungnya—yang menatapnya dengan pandangan menghakimi yang sangat dalam. Mengapa? Karena Raditya baru saja mencoba trik sulap "menelan tutup pulpen" demi mendapatkan perhatian si kucing. Sialnya, tutup pulpen itu benar-benar tertelan, menyangkut di trakea, dan saat dia panik mencari air, dia terpeleset genangan air seninya sendiri (karena kaget) lalu jatuh menghantam mangkuk makanan berbahan keramik milik si Belang.

Kematian yang sungguh... legendaris.

"Jadi... kamu mati karena... ini?"

Sebuah suara malas dan terdengar sangat lelah membuyarkan lamunan Raditya.

Raditya mengerjapkan matanya. Dia tidak lagi berada di lantai kamarnya yang berantakan. Dia kini duduk di sebuah kursi plastik putih—jenis kursi yang biasa ada di warung bakso—di sebuah ruangan yang sepenuhnya berwarna putih tak berujung. Di depannya, ada sebuah meja biro kayu yang tampak tua, dan di balik meja itu duduk seorang pria paruh baya mengenakan kemeja batik yang lengannya digulung, lengkap dengan ID card yang menggantung di lehernya.

Di atas meja, ada papan nama kecil bertuliskan: DEWA ADMINISTRASI REGION IV-A.

"Eh... anu, Pak Dewa," Raditya menggaruk tengkuknya yang sebenarnya sudah tidak terasa sakit. "Itu... refleks, Pak. Saya cuma mau menghibur kucing saya yang lagi depresi karena diputusin kucing tetangga."

Dewa itu memijat pelipisnya, lalu menghela napas panjang seolah-olah seluruh beban alam semesta baru saja dijatuhkan ke pundaknya. Dia membalik lembaran kertas di map dokumen di depannya.

"Dari sepuluh ribu jiwa yang saya urus minggu ini, kamu adalah yang paling ajaib, Raditya," kata Dewa itu dengan nada datar. "Ada yang mati kena serangan jantung saat maraton, ada yang kena begal, nah kamu? Tersedak tutup pulpen Faster warna hitam saat cosplay jadi pesulap jalanan di depan kucing. Kamu tahu betapa memalukannya menulis laporan kematian ini ke pusat?"

"Maaf, Pak... Tapi pulpennya memang licin—"

"Cukup!" Dewa itu mengangkat tangannya, menghentikan pembelaan Raditya. "Saya tidak mau dengar. Saya sudah burnout, kuota lembur saya bulan ini sudah habis, dan saya mau pulang cepat untuk nonton pertandingan bola antar-dimensi. Intinya, karena ada kesalahan teknis di server akhirat, antrean neraka dan surga sedang down. Jadi, jalan pintasnya: kamu saya lempar ke dunia lain. Paham?"

​"Wah, Isekai?!" Mata Raditya langsung berbinar. "Dapat cheat skill kan, Pak? Seperti pedang suci yang bisa membelah bumi? Atau sihir penghancur masal? Atau minimal harem sepuluh elf?"

​Dewa itu menatap Raditya dengan tatapan kosong, lalu tersenyum sangat tipis—jenis senyuman yang biasa diberikan oleh HRD sebelum memecat karyawannya.

​"Tentu saja. Saya beri kamu sebuah 'Sistem'. Sekarang, berdiri di atas lingkaran lingkaran cahaya itu dan cepat pergi dari sini sebelum saya berubah pikiran dan melemparmu ke dimensi cacing tanah."

Sebelum Raditya sempat memprotes atau meminta penjelasan lebih lanjut, lantai di bawah kursi plastiknya runtuh. Dia jatuh bebas ke dalam pusaran cahaya pelangi sambil berteriak histeris, meninggalkan Dewa Administrasi yang langsung membuka botol minyak angin dan menggosokkannya ke kening.

​"Aaaaakh—gedubrak!"

​Raditya mendarat dengan posisi wajah terlebih dahulu menancap ke dalam tumpukan lumut tebal berwarna ungu tua. Bau tanah basah yang asing langsung menusuk hidungnya.

Dia bangkit dengan terbatuk-batuk, meludahkan beberapa helai lumut ungu dari mulutnya. Dia melihat sekeliling. Pohon-pohon raksasa dengan kulit kelabu berkilau biru redup menjulang tinggi di sekitarnya. Kanopi daunnya berwarna merah bata. Suasananya begitu purba, liar, dan... sangat mengerikan.

​"Gila, ini beneran dunia lain," bisik Raditya, merinding melihat pohon yang tampak seperti bisa memakan manusia jika dia lengah. "Oke, tenang. Di mana cheat skill-ku? Sistem! Muncul!"

​Ding!

​Sebuah suara bel yang nyaring—mirip suara bel pintu minimarket—bergema langsung di dalam kepalanya. Sebuah layar hologram transparan berwarna hijau neon muncul di depan wajahnya.

​[Sistem Survival Terpaksa v1.0 berhasil diaktifkan!]

​[Menganalisis Pengguna...]

​Nama: Raditya (Mantan Manusia, Mantan Pesulap Gagal).

​Kondisi Fisik: Lemah, Kurang Gizi, Otot Lengan Lembek (Akibat terlalu sering scrolling media sosial).

​Atribut Khusus: Kebodohan Alami (Level Maksimal).

​[Pesan dari Sistem]: Selamat datang di Aethelgard, wahai jiwa yang mati karena tutup pulpen! Tugas Anda adalah bertahan hidup. Jika Anda mati lagi di sini, roh Anda akan otomatis diubah menjadi pupuk organik untuk kebun Dewa Administrasi. Semangat!

​Raditya melongo membaca teks tersebut. "Heh! Sistem kurang ajar! Kenapa deskripsinya ngejek begitu?! Lagian, di mana panel status kekuatanku? Mana sihir api? Mana pedang legendaris?"

Ding!

​[Jawaban]: Anda tidak memiliki bakat sihir atau fisik pendekar. Mengharap kekuatan super dengan modal mati tersedak pulpen adalah bentuk halusinasi tingkat tinggi. Silakan andalkan otak Anda yang tersisa 10% itu untuk mencari makan.

​"Sialan," umpat Raditya, meraba tubuhnya. Pakaiannya masih sama, kaus oblong dan celana jins. Tapi setidaknya, rasa sakit di kepalanya akibat benturan mangkuk kucing tadi sudah hilang.

​Tiba-tiba, perutnya berbunyi dengan sangat nyaring. Kruuuk~ Rasa lapar yang luar biasa langsung menyerang. Wajar saja, sebelum mati dia memang belum sempat makan malam karena sibuk bermain dengan si Belang.

​Ding!

​[Misi Darurat Pertama: Mengisi Perut yang Kosong]

​Tugas: Cari sesuatu yang bisa dimakan dalam radius 50 meter.

​Peringatan: 90% tumbuhan di sekitar Anda mengandung racun yang bisa membuat Anda buang air besar tanpa henti selama tiga hari tiga malam.

​Hadiah Misi: Alat masak pemula & Poin Waras (+1).

​Hukuman Gagal: Diare magis instan.

​Raditya menelan ludah. "Diare magis? Di hutan tanpa toilet selembut ini?! Ogah!"

​Dengan motivasi takut mencret di dunia lain, Raditya mulai merangkak dan memeriksa tanaman di sekitarnya. Dia mendekati sebuah tanaman bush yang memiliki buah bulat berwarna kuning cerah, tampak sangat menggoda seperti buah beri raksasa.

​"Sistem, yang ini bisa dimakan tidak?"

​[Analisis]: Buah Peledak Kentut (Farting Berry). Jika dimakan, tidak mati, tapi bokong Anda akan mengeluarkan gas bertekanan tinggi yang bisa terdengar hingga radius 2 kilometer. Sangat bagus jika Anda ingin mengundang semua predator malam untuk makan malam (di mana Anda adalah menunya).

​Raditya langsung menarik kembali tangannya dengan panik. "Ogah! Pilihan lain, pilihan lain!"

​Dia berjalan berjingkat, menghindari tanaman berlendir atau yang tampak mencurigakan. Setelah beberapa menit mencari dengan keringat dingin mengalir, dia melihat sejenis jamur besar berwarna cokelat polos yang tumbuh di sela-sela akar pohon raksasa. Jamur itu terlihat sangat membosankan, mirip jamur tiram di Bumi.

​"Kalau yang ini?"

​[Analisis]: Jamur Batu Tawar. Tidak beracun, tidak berasa, nutrisinya setara dengan makan kardus basah. Tapi aman untuk perut lembek Anda.

​"Yes! Kardus basah lebih baik daripada mencret!" Raditya dengan gembira langsung mencabut jamur itu.

​Ding!

​[Misi Darurat Selesai!]

​Evaluasi: Anda berhasil menemukan makanan paling membosankan di seluruh hutan ini. Selamat atas seleranya yang payah.

​Hadiah dikirim ke Inventaris: 1x Korek Api Awet, 1x Panci Kecil Aluminium, dan +1 Poin Waras (Sekarang tingkat kewarasan Anda: 11/100, masih dalam kategori agak gila).

​Sebuah panci kecil dan korek api tiba-tiba jatuh dari udara, tepat menghantam kepala Raditya.

​"Aduh! Bisa tidak hadiahnya ditaruh pelan-pelan?!" protes Raditya sambil mengusap kepalanya. Namun, senyumnya kembali mengembang saat melihat panci dan korek api itu. "Tapi lumayan, minimal aku bisa masak jamur kardus ini."

​Kegembiraan Raditya tidak berlangsung lama. Malam mulai jatuh dengan cepat di hutan Aethelgard. Pendaran tanaman neon mulai menyala, dan dari kejauhan terdengar suara lolongan aneh: "Auuu~ Ngoook~"—suara yang terdengar seperti perpaduan serigala dan babi hutan yang sedang bersin.

​Raditya merinding. "Sistem... suara apa itu?"

​[Pemberitahuan]: Itu adalah Babi Serigala Bertaring Dua (Boarwolf). Mereka biasanya berburu dalam kelompok dan sangat menyukai daging manusia yang empuk dan kurang olahraga. Disarankan untuk segera memanjat pohon atau menggali kuburan Anda sendiri.

​"Hei! Kasih solusi yang bener dong!" teriak Raditya panik, langsung memeluk batang pohon raksasa di dekatnya dan mencoba memanjatnya dengan gaya seperti koala yang ketakutan.

​Petualangan survival Raditya di dunia lain baru saja dimulai, dan modal utamanya hanyalah sebuah panci, jamur rasa kardus, dan Sistem yang hobi menghujatnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!