NovelToon NovelToon
Istri Rampasan Mafia Dingin

Istri Rampasan Mafia Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Action / Pengantin Pengganti
Popularitas:9.6k
Nilai: 5
Nama Author: Miss_Dew

Di hari yang seharusnya menjadi hari bahagianya Sonya Munic terpaksa harus membatalkan pernikahannya dengan Sagara Sardi tepat saat akan mengucapkan janji pernikahan. Batara Moretti datang merampas pengantin atas alasan utang keluarga. Padahal keluarga Munic telah mengatur pernikahan Batara dengan Talitha Munic, adik tiri Sonya. Di bawah ancaman nyawa ketua mafia paling berbahaya, Sagara terpaksa menyerahkan calon istrinya.
Tak mudah bagi Sonya, gadis yang terkenal lemah lembut hidup di lingkungan mafia dan sikap dingin Batara yang hanya menganggapnya sebagai istri pelunas hutang. Selain menagih hak suami istri Batara selalu diam dan acuh, saat Sonia mulai berdamai dengan keadaan, satu persatu kebenaran mulai terkuak.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss_Dew, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Memanfaatkan Kesempatan

​Langkah kaki Batara Moretti menggema dingin di sepanjang koridor beton ruang isolasi bawah tanah. Setiap dentumannya membawa aura kematian yang pekat, seolah sang iblis sendiri sedang menuruni anak tangga menuju neraka terdalam. Di belakangnya, dua dokter senior dan seorang pengawal berjalan dengan kepala menunduk, nyaris tidak berani bernapas.

​Pintu besi tebal ruang isolasi nomor tiga dibuka dengan dentingan engsel yang memekakkan telinga. Di dalam ruangan yang minim pencahayaan itu, terikat pada sebuah kursi besi berkaki kokoh, duduklah Talitha Munic. Beberapa hari disekap di tempat ini dengan pasokan makanan minimal ternyata tidak berhasil mematahkan keangkuhan yang mengalir di dalam darahnya. Rambutnya memang sedikit berantakan, dan pakaian bermereknya kini tampak kusam, tetapi matanya yang tajam langsung berkilat penuh kelicikan begitu melihat sosok Batara masuk.

​Tanpa basa-basi, Batara melangkah maju. Tangan kanannya yang besar bergerak secepat kilat, mencengkeram rahang Talitha dengan sangat kuat hingga kuku-kukunya memutih. Tekanan itu begitu masif, memaksa wajah cantik Talitha mendongak kasar menatap sepasang manik mata Batara yang sedingin es. Namun, wanita itu sama sekali tidak menunjukkan ketakutan. Sebaliknya, seulas senyum tipis yang meremehkan justru terukir di sudut bibirnya yang pucat.

​"Ini bukan sebuah negosiasi, Talitha!" ucap Batara tegas, suaranya rendah namun bergetar oleh amarah yang tertahan di tenggorokan. "Darahmu akan diambil saat ini, suka atau tidak. Aku tidak butuh izin dari seorang tawanan."

​Talitha meringis kecil karena rasa sakit di rahangnya, tetapi tawa renyah yang terdengar gila justru lolos dari mulutnya. "Darah ini berasal dari tubuhku, milikku sendiri, Tuan Batara yang terhormat. Aku yang memiliki hak mutlak untuk meminta kompensasi atas setiap tetesnya. Apalagi, jika dipikir-pikir, nantinya aku akan menjadi dewa penolong bagi anjingmu yang paling setia itu, bukan?"

​Mendengar kata 'anjing' digunakan untuk menyebut Jevan, cengkeraman tangan Batara di rahang Talitha semakin kuat, hingga terdengar bunyi gemertak halus dari tulang sendi wanita itu. "Kau... pantas mati!" desis Batara, matanya berkilat memancarkan hasrat membunuh yang murni.

​"Bunuh saja!" tantang Talitha, menatap lurus ke dalam mata sang penguasa mafia dengan keberanian yang lahir dari kalkulasi yang matang. "Ayo, bunuh aku sekarang juga! Ambil semua darah dari mayatku ini dan berikan padanya! Tapi aku bersumpah demi langit dan bumi, jika darah ini diambil dari tubuhku yang sudah mati, darah ini akan menjadi malapetaka maha dahsyat! Anjing setiamu itu akan mati kesakitan, mati tersiksa setelah cairanku memasuki pembuluh darahnya, Tuan Batara yang terhormat. Dia akan menolak setiap tetesnya!"

​"Beraninya kau mengutuk di depanku?!" bentak Batara, suaranya menggelegar memenuhi ruangan sempit itu.

​"Kita tidak sedang mengutuk, kita sedang melakukan negosiasi bisnis, Tuan Batara," sahut Talitha, suaranya mendadak melengking licik, memanfaatkan posisinya yang berada di atas angin. "Waktu terus berjalan, Tuan. Tik-tok, tik-tok. Bayangkan sekarang tubuh lemah anjing setiamu itu sedang berbaring pasrah di atas dinginnya meja operasi, berjuang melawan maut hanya untuk menunggu setetes darah yang sangat berharga dari tubuhku. Hahaha! Ironis sekali, bukan? Kali ini... Tuan Batara Moretti yang agung dan ditakuti ternyata sedang mengemis kepada seorang tawanan."

​"Wanita sialan!" Batara melepaskan cengkeramannya pada rahang Talitha dengan sentakan kasar hingga kepala wanita itu terayun ke samping. Pria itu mengepalkan tangannya kuat-kuat, menahan dorongan instingtif untuk memenggal kepala di depannya dan menggantungnya di depan gerbang. Namun, bayangan wajah Jevan yang memucat di meja operasi menahan tangannya. "Apa maumu?"

​Akhirnya, sang harimau Inferno mulai menurunkan ego dan menyerah pada situasi, meskipun dalam hatinya dia bersumpah akan mencabik-cabik wanita ini setelah semuanya selesai.

​Talitha memajukan tubuhnya sejauh ikatan tali di dadanya mengizinkan. Matanya berbinar penuh ambisi yang mengerikan. "Jadikan aku istrimu! Singkirkan Sonya, dan tempatkan aku di posisi yang seharusnya menjadi milikku!"

​"Dalam mimpi!" sahut Batara instan tanpa keraguan sedikit pun. Tatapannya dipenuhi rasa jijik yang amat sangat. "Lebih baik aku menggunakan Sonya untuk mendonorkan darahnya daripada harus memberikan status itu kepadamu!"

​Talitha tertawa terbahak-bahak, sebuah tawa kemenangan yang memuakkan. "Tapi kau tidak akan bisa melakukannya, bukan? Kau tidak akan pernah berani mengambil darah kakak tiriku yang tersayang itu. Mengapa? Karena kau lemah, Tuan Batara! Kau sudah terikat oleh perasaan bodoh pada wanita penyakitan itu! Kau tahu tubuhnya yang ringkih dan jantungnya yang rusak tidak akan kuat menahan proses donor! Jadi, pilihanmu hanya aku!"

​"Akan kurobek mulutmu jika kau berani menyebut namanya lagi," ancam Batara, langkahnya maju selangkah, memancarkan aura membunuh yang membuat para dokter di belakangnya gemetar berlutut.

​"Lakukan! Lakukan sekarang, Tuan Batara! Jangan hanya mengancamku dengan kata-kata kosong!" tantang Talitha lagi, membusungkan dadanya yang terikat. "Potong lidahku, robek mulutku, dan saksikan bagaimana anjing setiamu itu membusuk di dalam liang kubur karena kehabisan darah! Ayo!"

​Batara memejamkan matanya sejenak, menstabilkan napasnya yang memburu kasar. "Berbicara dengan semut sekecil dan sehina dirimu hanya membuang-buang waktuku yang berharga."

​Pria itu berbalik dengan cepat, jubah kemejanya berkelebat. Pikirannya sudah bulat. Logika mafianya mengambil alih, meskipun dia sangat mencintai Sonya dan tahu risiko kesehatannya, keselamatan Jevan dan stabilitas klan Inferno adalah prioritas di atas segalanya. Dia akan memaksa tim dokter untuk mengambil darah Sonya dengan pengawasan super ketat, meskipun hal itu akan membuat istrinya kesakitan dan menjadi sangat lemah untuk beberapa minggu ke depan.

​Melihat Batara yang benar-benar melangkah menuju pintu dengan tekad bulat, kepanikan mendadak menyerang dinding pertahanan Talitha. Sifat cerdiknya tahu bahwa jika Batara benar-benar keluar dari pintu itu, kartunya akan hangus dan dia akan kehilangan semua posisi tawar untuk keluar dari neraka bawah tanah ini.

​"Tuan Batara, tunggu!" teriak Talitha, suaranya berubah panik, tidak lagi melengking sombong. "Aku... aku akan meminta hal yang lain! Iya... Aku akan menurunkan permintaanku! Aku meminta hal yang lain!"

​Langkah kaki tegap Batara seketika terhenti tepat satu jengkal sebelum ambang pintu besi. Dia tidak membalikkan tubuhnya sepenuhnya, hanya menolehkan kepalanya ke belakang dengan tatapan mata yang sangat tajam, setajam mata pisau yang siap menguliti mangsanya.

​"Apa?" tanya Batara dingin. "Waktumu untuk bernapas dan berbicara hanya sepuluh detik dari sekarang."

​Talitha menelan salivanya dengan susah payah. Tenggorokannya terasa kering, dan jantungnya berdegup kencang melihat keseriusan di wajah pria itu. Dia harus berpikir cepat, menjatuhkan pilihan yang paling menguntungkan sekaligus paling merusak hubungan Batara dan Sonya.

​"Lima... empat... tiga..." Batara mulai menghitung mundur dengan suara bariton yang datar dan tanpa ampun.

​"Tidur denganku semalam!" pinta Talitha spontan, memotong hitungan Batara sebelum mencapai angka satu. Suaranya menggema di ruang isolasi. Dia menarik napas dalam-dalam, lalu melanjutkan dengan nada suara yang lebih lirih namun sarat akan racun kelicikan, "Tidur denganku malam ini... dan lepaskan aku dari tempat terkutuk ini setelah donor darah selesai."

​Batara terdiam sejenak. Matanya menyipit, menakar kedalaman rencana wanita di depannya. Sebuah kesepakatan yang menjijikkan bagi moralitasnya, namun sangat murah jika dibandingkan dengan nyawa Jevan atau keselamatan fisik Sonya. Tanpa mengeluarkan sepatah kata pun persetujuan secara lisan, Batara hanya membalikkan badannya dan memberikan kode isyarat tangan yang dingin kepada kepala pengawal di dekatnya.

​"Lepaskan dia. Bawa dia segera ke gedung mansion sebelah untuk proses donor," perintah Batara pendek, sebelum melangkah pergi meninggalkan ruangan tanpa menoleh lagi.

​Sementara itu, di lantai dasar gedung medis utama, suasana sunyi dan mencekam menyelimuti salah satu ruang perawatan darurat.

​Sonya Munic berdiri bersandar pada dinding semen yang dingin, kedua tangan mungilnya berpegangan erat pada tepi meja kayu di dekatnya agar tubuhnya tidak ambruk ke lantai. Kepalanya terasa sangat pusing, berputar hebat, dan pandangannya sesekali mengabur menjadi bintik-bintik hitam yang buram. Di lengan kiri bagian dalam tubuhnya, terdapat sebuah bekas tusukan jarum baru yang ditutupi oleh kapas dan plester medis putih.

​Sonya baru saja mendonorkan darahnya sebanyak dua labu penuh.

​Tiga puluh menit yang lalu, sebelum Batara kembali dari ruang isolasi bawah tanah, salah seorang dokter bedah berlari keluar dari ruang operasi dengan wajah pucat pasi. Kondisi Jevan mendadak mengalami syok kardiogenik sekunder akibat penurunan volume darah yang drastis, menyebabkan detak jantungnya melemah secara kritis. Dokter itu mencari keberadaan Batara dengan panik, namun sang ketua sedang berada di area bawah tanah.

​Sonya yang sejak tadi menunggu dengan cemas di luar koridor tidak bisa tinggal diam. Dia tahu betapa berharganya Jevan bagi suaminya. Pria paruh baya itu adalah perisai hidup dan belahan jiwa taktis bagi Batara di dunia hitam. Sonya tidak akan bisa memaafkan dirinya sendiri jika dia membiarkan orang paling dipercayai oleh suaminya itu menghadapi kematian, sementara dia memegang kunci keselamatannya melalui golongan darah B negatif yang langka di dalam tubuhnya.

​Maka, dengan memegang otoritasnya sebagai Nyonya Moretti, Sonya mengambil risiko terbesar dalam hidupnya. Dia memaksa tim dokter untuk segera mengambil darahnya saat itu juga.

​Proses itu diwarnai ketegangan luar biasa. Tim dokter dan semua anak buah Inferno yang berada di ruangan itu harus menandatangani sumpah darah tak tertulis untuk menutup mulut dan mata mereka rapat-rapat. Mereka harus berpura-pura seolah-olah kejadian donor darah oleh Sonya tidak pernah terjadi di dalam mansion ini. Mengapa? Karena jika sampai Batara mengetahui bahwa tim dokter berani menusukkan jarum dan menguras darah dari tubuh lemah Sonya tanpa izin resminya, maka kepala seluruh tim medis beserta anak buah yang berjaga malam itu akan menjadi taruhannya. Mereka semua tahu betul bagaimana kejamnya Batara jika menyangkut keselamatan fisik Sonya.

​"Nyonya... minumlah obat penambah darah ini dan sirup zat besi ini segera," bisik salah seorang perawat dengan tangan gemetaran, menyodorkan segelas cairan merah kental kepada Sonya.

​Sonya menerima gelas itu dengan tangan yang lemas, meminumnya perlahan demi mengusir rasa mual yang melanda perutnya. Wajahnya yang semula memang putih bersih kini tampak kian pucat pasi, nyaris menyerupai selembar kertas putih tanpa ada semburat aliran darah di pipinya.

​Setelah merasa sedikit memiliki tenaga, Sonya melangkah keluar dari ruang perawatan darurat dengan perlahan, bermaksud kembali ke mansion utama untuk beristirahat di kamarnya sebelum Batara menyadari ketidakhadirannya.

​Namun, baru saja dia melangkah keluar ke koridor penghubung antar gedung, langkah kaki Sonya mendadak terkunci di atas lantai marmer.

1
✮⃝🍌 ᷢ ͩ✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻᴹᵉᵎzc❖𝐕⃝⃟🏴‍☠️
oh ternyata Ibu Yooka yang menjadi pengasuh Batar, pantes aja jalau dia paham sama sifat Batara
✮⃝🍌 ᷢ ͩ✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻᴹᵉᵎzc❖𝐕⃝⃟🏴‍☠️
Astaga Batara kamu tega banget sih jadi cowok mentang2 di takuti seenaknya ajs sama perempuan, apa kamu gak kasihan sama Sonya yang ketakutan
✮⃝🍌 ᷢ ͩ✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻᴹᵉᵎzc❖𝐕⃝⃟🏴‍☠️
pantes aja si Jenna kasar banget ternyata dia punya obsesi terhadap bosnya sendiri
✮⃝🍌 ᷢ ͩ✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻᴹᵉᵎzc❖𝐕⃝⃟🏴‍☠️
Talitha harusnya kamu tuh berfikir kenapa orang memilih Sonya, harusnya kanu jadikan pelajaran bukan malah hidup dengan kedengkian
Muft Smoker
kak jgn sampe deeh si batara tdur sama thalita ,,
kasihan Sonya gx pnrh bahagia ,,
lgan si Sonya lemah amat kak ,,
kasih kekuatan super kek si Sonya ,, 🤭🤭🤭🤭
Muft Smoker: 😭😭😭😭😭😭
total 3 replies
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻтяι'𝐆🤎 ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ🏡s⃝ᴿ
ladalah Jenna masih ada disana kirain sudah dibuang jauh jauh dan ini Sonya kau terlalu lemah sekali kapan kau jadi kuat dan berani 🤔😔😔
SENJA
yaelaaah lemah banget lu kan isteri mafia, hadeeeh berubah dikit kek
SENJA
kirain jena udah dipecat hadeeh
SENJA
jangan terpedaya batara si lacur lagi sandiwara
SENJA
lacur emang lah kau sampah 😤
RANDI Satriandi
tuhh kan.. bener plot twist. ternyata Sonya udh duluan donor darah
🏘⃝Aⁿᵘ𝐇⃟⃝ᵧꕥᴍɪss_dew 𝐀⃝🥀 ♉🤎: 🤣🤣🤣🤣 tau aja
total 1 replies
RANDI Satriandi
kok curiga saya.. Sonya abis donorkan darah untuk jevan diam².. biasanya othor yang satu ini bikin plot twist/Applaud//Applaud/
🏘⃝Aⁿᵘ𝐇⃟⃝ᵧꕥᴍɪss_dew 𝐀⃝🥀 ♉🤎: /Chuckle//Chuckle//Chuckle/iya gitu
total 1 replies
🏵️Aყυԃιƚα✾ 🔆🔅
berani bersikap kurang ajar seperti ini, karena iri hati kah 😂
🏵️Aყυԃιƚα✾ 🔆🔅
air mata buaya Betina 😑 penuh kepalsuan
Muft Smoker
kak bikin aj dstu mati lampu ,, ad sosok penjaga yg postur tubuh ny sama dg batara ,, yg masuk menggantikn batara ,, pas udh beres lampu nyalah ,, syik syak syok gx tuh si thalita ,, 🤭🤭🤭😂😂😂😂😂
🏵️Aყυԃιƚα✾ 🔆🔅
😑 masa pakai darah Thalita, nnti makin besar kepala diaa
🏵️Aყυԃιƚα✾ 🔆🔅
harusnya gak perlu panggil tuan 🤭🤭
🏵️Aყυԃιƚα✾ 🔆🔅
gak perlu takut lagii, kmu istri Batara, harusnya mreka yg takut sama kamuu
🏵️Aყυԃιƚα✾ 🔆🔅
pantas saja ada musuh di balikk selimut 😑
🏵️Aყυԃιƚα✾ 🔆🔅
Batara kena jebakan kahh ini? 😭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!