NovelToon NovelToon
Bukan Menantu Pilihan Umi

Bukan Menantu Pilihan Umi

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir / Perjodohan
Popularitas:466
Nilai: 5
Nama Author: Mrs. Fmz

Apakah selembar kain jilbab cukup untuk menghapus masa lalu yang dianggap cacat?
Bagi Hana, pernikahan adalah gerbang lembaran suci. Namun, kenyataan menamparnya begitu menginjakkan kaki di kediaman suami. Sebagai wanita modern, ia dinilai miskin ilmu agama dan tidak bernasab terhormat. Sang Umi pun menganggapnya sebagai perusak masa depan putra kesayangan.
Kini, Hana harus menghadapi penolakan dingin dan upaya mertua mengembalikan kekasih lama suaminya. Ia hanya ingin bertahan demi membuktikan keikhlasan berbenah diri.
Jika gagal, Hana akan kehilangan pria tercinta sekaligus merelakan kesehatan jiwanya hancur. Di tengah jepitan konflik, sang suami dipaksa memilih antara bakti orang tua atau melindungi belahan jiwanya.
Akankah ketulusan Hana melunakkan kerasnya hati sang Umi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mrs. Fmz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9: Batasan Suci Yang Mulai Terasa Menjerat

Batasan suci yang mulai terasa menjerat seketika menghentikan detak jantung Hana sewaktu jemarinya gemetar menggenggam lembaran kusam di balik sajadah Azzam. Lembar putih tipis itu memuat rangkaian tulisan tangan yang sangat rapi, berisi bait bait kerinduan mendalam yang dialamatkan untuk suaminya dari masa silam. Kamar paviliun belakang yang masih menyimpan keharuman melati pengantin mendadak berubah menjadi ruang sidang sunyi yang menyesakkan rongga dada sang wanita kota. Hana merasakan sendi lututnya melemas, memaksa raganya terduduk lesu di atas lantai ubin dingin sembari menatap nanar goresan tinta hitam tersebut.

"Mengapa ada surat sekuno ini di bawah tempat sujudmu, Mas, jika kamu mengklaim masa lalumu sudah sepenuhnya selesai?" lirih Hana bertanya pada kesunyian ruangan.

Azzam yang baru saja melangkah masuk setelah menuntaskan pengajaran kitab pagi tertegun melihat secarik kertas berada di dalam genggaman erat sang istri. Wajah tampan sang ustaz muda seketika memucat, disusul sepasang mata yang bergerak gelisah menghindari tatapan menuntut yang dilayangkan Hana. Langkah kakinya tertahan kaku di dekat meja kerja kayu jati, membiarkan keheningan pekat kembali membentang luas di antara sekat hati mereka berdua.

"Itu hanya lembaran lama yang lupa aku musnahkan sebelum hari pernikahan kita tiba, Hana," jawab Azzam dengan nada suara yang bergetar rendah.

"Namun untaian kata di dalamnya membuktikan bahwa jiwamu masih tertinggal pada nama Sarah yang diagungkan Umi," cecar Hana dengan air mata yang mulai menggenang di pelupuk mata.

Pembelaan diri yang diucapkan Azzam terdengar begitu hambar, laksana sapuan angin malam yang gagal menghalau kabut kecurigaan di dalam kamar. Hana bangkit berdiri perlahan, merasakan gaun kaku pemberian mertuanya seakan ikut menekan sisa sisa kekuatan batin yang ia miliki sejak fajar. Kesadaran baru mulai merayapi benaknya bahwa aturan ketat lingkungan ini bukan sekadar untuk mendidik perilaku lahiriah, melainkan cara halus untuk memenjarakan kebebasan batinnya. Di bawah kepungan dinding tembok paviliun yang tebal, Hana merasa predikat sebagai istri sah tidak lebih dari seulas status tanpa makna di atas kertas penikahan.

Azzam menghela napas panjang, mencoba mendekat demi mengambil alih lembaran tulisan tangan yang memicu prahara pagi itu dari jemari sang istri. "Pernikahan kita diikat oleh komitmen ibadah yang luhur, jadi tolong jangan biarkan kecurigaan keduniawian merusak ketetapan imanmu."

"Bagaimana aku bisa tenang beribadah, Mas, jika setiap sudut rumah ini terus mendikte raga dan menyembunyikan hati suamiku untuk wanita lain?" tantang Hana tegas.

"Umi menetapkan seluruh batasan di pesantren ini demi kebaikan bersama, termasuk menjaga marwah kita sebagai pengasuh santri," kilah Azzam kembali berlindung di balik nama ibunya.

Sikap pasif sang suami yang selalu menggunakan alasan syariat untuk memaklumi ketidakadilan emosional membuat batin Hana semakin tercabik parah. Wanita kota itu melangkah mundur, menolak sentuhan tangan Azzam yang terasa dingin dan tidak lagi membawa kehangatan perlindungan seperti janji masa lalu. Ia melihat sosok di hadapannya bukan lagi seorang imam yang gagah berani, melainkan lelaki bimbang yang terkunci rapat di bawah ketiak otoritas sang bunda. Ruang gerak Hana kini benar benar terkunci dari segala arah, memaksanya menelan bulat bulat kepahitan takdir yang kian menjauh dari angan bahagia.

Suasana mencekam di dalam paviliun runtuh saat ketukan keras Mbok Siti terdengar menggelegar dari balik daun pintu kayu luar secara tiba tiba. Perempuan pengasuh senior itu mengabarkan bahwa Umi Kalsum sudah menunggu kehadiran Hana di pendopo utama untuk memulai agenda penilaian hafalan harian. Hana menyeka sisa air mata di sudut pipinya secepat kilat, mencoba menyembunyikan gurat kerapuhan batin sebelum melangkah keluar menuju ruang publik. Ia merapikan jilbab besarnya di depan cermin, menatap pantulan wajah yang kian kehilangan binar keceriaan akibat rentetan tekanan mental yang datang bertubi tubi.

Langkah kaki Hana menyusuri jalan setapak di antara barisan pohon jati dilakukan dengan ritme lambat seolah memikul beban puluhan kilogram di pundaknya. Sinar matahari pagi yang mulai terik terasa menyengat kulit wajahnya, namun hawa dingin di dalam kalbunya tidak kunjung mencair oleh kehangatan alam. Beberapa santri putri yang berpapasan langsung menunduk takzim, namun bisikan bisikan halus segera terdengar samar begitu punggung Hana melewati koridor asrama. Lingkungan pesantren yang semula ia bayangkan penuh kedamaian kini menjelma menjadi labirin penuh intrik yang siap menghakimi setiap kekeliruan kecilnya.

Saat kakinya menginjak lantai marmer pendopo utama, sosok Umi Kalsum sudah duduk anggun di atas kursi kebesarannya ditemani beberapa pengurus senior. Di atas meja kayu di hadapan wanita tua itu, telah tersusun rapi beberapa kitab suci tebal yang sengaja disiapkan sebagai instrumen penguji. Sorot mata sang mertua langsung mengunci pergerakan Hana, memeriksa keserasian busana tanah yang dikenakan sang menantu sejak subuh tadi. Hana mengambil posisi duduk bersila di atas karpet hijau, mencoba menenangkan debar jantungnya yang berpacu liar laksana genderang perang yang bertalu.

"Seorang menantu utama harus mampu menghafal beberapa bait penting dalam kitab ini sebagai syarat kelayakan memimpin asrama putri," ujar Umi Kalsum tanpa basa basi pembuka.

Hana memandang tumpukan kitab suci itu dengan pandangan nanar. "Umi, saya membutuhkan waktu untuk menyesuaikan diri karena latar belakang pendidikan saya di kota sangat berbeda dengan tradisi di sini."

"Pesantren tidak memiliki waktu untuk menunggu jiwa yang lambat, karena kepemimpinan umat membutuhkan kesiapan mutlak setiap waktu," tegas Umi Kalsum dengan intonasi tajam menembus batin.

Azzam yang menyusul duduk di samping Hana hanya mampu menundukkan kepala, memilin butiran tasbihnya tanpa berani menyela keputusan sang ibu kandung. Keberpihakan setengah hati sang suami kembali terpampang nyata, mempertegas posisi Hana sebagai pihak asing yang harus berjuang sendirian di tengah arena persidangan karakter. Setiap bait kalimat suci yang coba dilafalkan Hana di bawah tekanan tatapan dingin mertuanya mendadak lenyap dari ingatan, tertutup oleh kabut kesedihan yang teramat pekat. Kegagalan melafalkan hafalan pagi itu langsung disambut oleh helaan napas kecewa dari mulut Umi Kalsum yang terdengar laksana vonis bersalah.

"Jika urusan hafalan dasar saja kamu masih terbata bata, bagaimana mungkin kamu bisa bersanding sejajar dengan nama besar keluarga ini?" sindir Umi Kalsum dengan senyuman tipis yang menyakitkan.

Hana mengepalkan kedua belah jemarinya di balik kain gamis kaku yang membungkus erat tubuhnya. "Saya akan terus berusaha belajar, Umi, asalkan saya diberikan ruang batin yang tenang tanpa terus dibanding bandingkan."

"Ruang tenang hanya didapatkan oleh jiwa yang patuh, bukan oleh raga yang penuh pembangkangan kota," tukas Umi Kalsum seraya menutup kitab dengan dentuman keras.

Bunyi benturan buku di atas meja kayu itu menandai akhir dari sesi pengujian pagi yang menyisakan luka baru di dalam lubuk hati Hana. Wanita muda itu bangkit berdiri setelah memohon izin, melangkah meninggalkan pendopo dengan sisa harga diri yang dicoba dipertahankan sekuat tenaga. Alur penderitaan ini terasa kian memuncak, merenggut kebebasan berpikir dan bertindak yang selama ini ia miliki sebelum memasuki gerbang pesantren. Dengan langkah yang limbung, Hana kembali berjalan menuju paviliun belakang, menyadari bahwa hari hari ke depan akan dipenuhi oleh persiapan menghadapi gelombang badai yang jauh lebih dahsyat.

Ketika malam kembali membungkus kompleks pesantren dengan kesunyian yang mencekam, Hana memilih berdiri di dekat jendela paviliun yang terbuka lebar. Ia memandangi gundukan awan hitam yang perlahan mulai menutup rembulan, laksana gambaran masa depan rumah tangganya yang kian buram tanpa kepastian arah. Azzam tampak masih tertahan di rumah utama untuk mendiskusikan urusan manajemen asrama bersama ibunya, meninggalkan sang istri dalam sepi tanpa teman bicara. Di tengah kesunyian malam yang kian larut, Hana mulai menghitung sisa sisa kekuatan sabar yang tersimpan di dalam relung dinding dadanya yang kian rapuh.

Kesadaran bahwa dirinya tidak pernah diinginkan di tempat ini kini berubah menjadi sebuah keyakinan mutlak yang tidak bisa diganggu gugat lagi. Hana memejamkan mata erat erat, membiarkan angin malam menghapus sisa kehangatan terakhir yang ada di atas permukaan kulit wajahnya yang pucat. Ia tahu bahwa esok hari, skenario pengucilan mental yang diatur oleh sang mertua akan memasuki babak baru yang lebih menantang ketahanannya. Sambil memegangi dadanya yang sesak, Hana bersiap mengukuhkan hati demi menyambut kedatangan hari baru yang dipastikan membawa gulungan ombak pertama yang siap menguji keutuhan janji suci penikahannya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!