NovelToon NovelToon
Dendam Manis Di Cawan Hitam

Dendam Manis Di Cawan Hitam

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Mafia / Balas Dendam
Popularitas:170
Nilai: 5
Nama Author: Neef

Di Oakhaven, cinta adalah racun paling murni, dan aku baru saja meminumnya hingga tetes terakhir."
​Dulu, aku adalah mesin pembunuh bagi pemerintah. Kini, aku adalah Marie Vance—seorang putri bangsawan yang dibuang untuk dijadikan boneka. Di kota yang selalu menangis di bawah hujan neon ini, aku terikat kontrak darah dengan Julius Vance, monster yang menguasai aliran Nectar di jantung kota. Dia menginginkan kemampuanku untuk mengungkap konspirasi, sementara aku menginginkan kepala setiap orang yang menghancurkan hidupku. Namun, di antara ranjang yang dingin dan pengkhianatan yang mematikan, aku menyadari satu hal: kami berdua adalah predator yang saling memangsa, hingga tak ada lagi yang tersisa kecuali dendam yang manis... dan cawan hitam yang siap menampung darah kami.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Neef, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rantai Besi dan Kebisuan Jiwa

*"Jika kalian mengira dengan merantai tanganku, kalian bisa membungkam kebenaran yang mulai berteriak, maka kalian benar-benar telah kehilangan akal sehat untuk melihat bahwa setiap luka yang kalian torehkan hanya akan menjadi bahan bakar bagi api yang akan membakar kota ini hingga menjadi abu."*

Suaraku parau, namun lantang di tengah alun-alun kota yang mendadak senyap. Tatapan ribuan mata tertuju padaku—bukan tatapan simpati, melainkan tatapan ketakutan yang berubah menjadi kebencian kolektif. Kota ini tidak mengenalku sebagai Marie Vance yang dulu mereka kenal; mereka mengenaliku sebagai ancaman, sebagai sosok pembawa kutukan yang merobek realitas dan mengacaukan tatanan sihir yang mereka agungkan.

Pria yang menyerupai ayahku melangkah maju. Sepatu bot peraknya berdenting di atas batu lantai, suara yang terdengar seperti lonceng kematian. Dia tidak lagi memegang pedang, melainkan sepasang belenggu yang terbuat dari *Logam Penekan Sihir*—bahan langka yang mampu menyerap energi dari aliran darah siapa pun yang memakainya.

*"Marie Vance,"* ucapnya dengan nada yang tenang namun menusuk. *"Nama itu hanyalah sisa dari sejarah yang seharusnya sudah terkubur. Kau bukan lagi pewaris tahta, kau bukan lagi pion, dan kau tentu saja bukan lagi manusia yang bisa kami biarkan berkeliaran. Kau adalah anomali yang harus segera dibersihkan dari garis waktu."*

Dia tidak menunggu jawabanku. Dengan gerakan yang lebih cepat dari kedipan mata, dia mencengkeram pergelangan tanganku. Rasa sakit yang tajam langsung menjalar ke seluruh sarafku. Logam dingin itu menyentuh kulitku, dan seketika, aku merasakan aliran sihir murni yang selama ini menjadi nadiku mendadak tersedat. Rasanya seperti jantungku dicabut paksa, menyisakan kekosongan yang dingin dan menyakitkan.

Aku terjerembap ke tanah, lututku menghantam lantai dengan suara yang memilukan. Orang-orang di sekitar mulai berbisik, suara mereka terdengar seperti lebah yang berdengung di telingaku.

*"Dia tidak bisa melawan!"* seseorang berteriak.

*"Bawa dia ke Menara Hukuman! Jangan biarkan kutukannya menyebar!"*

Aku tidak bisa merasakan Julius. Koneksi samar yang biasanya terasa di antara kami—ikatan yang terbentuk dari ribuan siklus yang tak terhitung—seolah terputus. Di manakah dia? Apakah dia juga tertangkap? Ataukah dia terbuang ke tempat yang jauh lebih gelap?

Prajurit menyeretku bangkit dengan kasar. Mereka mendorongku menuju menara batu hitam yang berdiri kokoh di ujung alun-alun. Setiap langkah yang kuambil terasa berat. Tanpa sihir yang mengalir, tubuh ini terasa sangat fana, sangat lemah, sangat... manusia. Aku teringat kembali pada hari-hari awal di dunia ini, saat aku pertama kali terbangun di tubuh Marie Vance yang menyedihkan, dan betapa takutnya aku pada dunia yang tidak memihakku. Namun, kali ini berbeda. Ketakutan itu telah hilang, digantikan oleh bara amarah yang jauh lebih berbahaya.

Saat kami melewati gerbang kota, aku melihat bayangan sesosok pria di balik gang sempit. Itu bukan Julius, tapi dia memiliki aura yang sangat mirip. Seseorang yang sedang mengawasi. Seseorang yang tahu bahwa aku sedang tidak berdaya.

Kami tiba di depan pintu masuk menara. Pria yang menyerupai ayahku berhenti dan menatapku dengan tatapan yang sulit diartikan—ada secercah keraguan yang sangat samar di balik matanya yang dingin.

*"Mengapa kau melakukan ini?"* tanyaku, memberanikan diri meski suaraku nyaris hilang. *"Jika kau adalah manifestasi dari penyesalanku, jika kau adalah bagian dari diriku, mengapa kau begitu ingin melihatku hancur?"*

Dia terdiam sejenak, lalu mendekat ke telingaku. Bisikannya dingin seperti es. *"Karena kehancuran adalah satu-satunya cara untuk mencapai titik nol, Marie. Kau tidak akan pernah bisa membangun dunia baru jika kau masih membawa puing-puing dunia lama di punggungmu. Aku di sini bukan untuk menghancurkanmu, tapi untuk memastikan bahwa kau benar-benar kehilangan segalanya—hanya dengan kehilangan segalanya, kau akan menemukan apa yang sebenarnya tersisa."*

Dia mendorongku masuk ke dalam kegelapan menara. Pintu besi raksasa itu berdentum tertutup, memutus cahaya matahari dan menyisakan bau lembap yang mencekik.

Aku ditinggalkan di dalam sel bawah tanah yang hanya diterangi oleh satu lampu minyak yang hampir habis. Lantainya becek dengan air kotor, dan dindingnya penuh dengan goresan-goresan tangan yang putus asa. Aku mencoba memfokuskan pikiranku, mencoba memanggil kembali esensi sihirku, namun belenggu di tanganku terus-menerus menyedot setiap tetes energi yang kucoba bangkitkan.

*Sabar,* bisik suara hatiku. *Jangan paksakan sihirnya, Marie. Belenggu itu dirancang untuk menyerap energi yang bergejolak. Jika kau tenang, jika kau bisa membuat dirimu menjadi bagian dari keheningan ini...*

Aku duduk bersila di tengah sel, menutup mataku, dan mencoba mengatur napasku. Aku membuang semua ketakutan, semua kemarahan, dan semua ingatan tentang Julius. Aku membiarkan diriku benar-benar kosong. Dalam keadaan tidak memiliki sihir, dalam keadaan terbelenggu sebagai manusia biasa, aku mulai merasakan sesuatu yang lain.

Bukan sihir murni yang mengalir di udara, tapi detak jantung bumi itu sendiri.

Ternyata, dunia ini memiliki irama yang jauh lebih tua dari sihir manapun. Setiap batu, setiap dinding sel ini, setiap tetesan air yang jatuh, memiliki frekuensi. Jika aku tidak bisa menggunakan sihir untuk menghancurkan belenggu ini, mungkin aku bisa menggunakan resonansi.

Aku mulai bersenandung—bukan mantra, bukan nyanyian sihir, melainkan sebuah nada yang selaras dengan detak jantung menara ini. Awalnya, tidak terjadi apa-apa. Namun, setelah beberapa saat, aku merasakan getaran kecil di pergelangan tanganku. Belenggu itu mulai bergetar. Logam penekan sihir itu tidak dirancang untuk menahan resonansi fisik; ia hanya dirancang untuk menahan sihir yang dimanipulasi oleh kehendak penyihir.

*Lebih dalam,* pikirku. *Samakan iramanya.*

Suaraku semakin keras, dan dinding sel mulai bergetar hebat. Debu-debu berjatuhan dari langit-langit. Tiba-tiba, suara langkah kaki terdengar di koridor luar. Seseorang datang. Seseorang yang tidak seharusnya ada di penjara bawah tanah ini.

Pintu selku terbuka perlahan. Di sana berdiri seorang gadis—gadis yang sama yang kulihat di perpustakaan, manifestasi dari ingatan masa laluku. Dia tidak tampak terkejut melihatku melakukan resonansi.

*"Kau belajar dengan cepat,"* katanya sambil masuk ke dalam sel.

*"Siapa kau sebenarnya?"* tanyaku, suaraku masih bergetar karena resonansi yang kupakai. *"Dan mengapa kau membantuku?"*

*"Aku tidak membantumu, Marie. Aku sedang menyelamatkan diriku sendiri,"* jawabnya sambil mengulurkan tangan. *"Jika kau mati di sini, aku akan ikut lenyap. Dan aku belum siap untuk menghilang sebelum aku melihat akhir dari cerita ini."*

Dia menyentuh belenggu di tanganku. Tanpa perlu sihir, tanpa perlu mantra, dia hanya menekan titik tertentu pada logam itu, dan *KLIK*—belenggu itu terbuka.

Aku jatuh terduduk, tanganku mati rasa namun aku bisa merasakan aliran sihir mulai kembali ke pembuluh darahku seperti air yang pecah dari bendungan. Aku merasa hidup kembali.

*"Di mana Julius?"* tanyaku segera setelah aku bisa berdiri.

Gadis itu menggeleng. *"Dia sedang bertarung melawan cermin-cerminnya sendiri di dimensi yang berbeda. Dia terjebak dalam refleksi dari rasa bersalah yang dia simpan selama ribuan tahun. Jika kau tidak segera menemuinya, dia akan terjebak di sana selamanya, menjadi bagian dari cermin yang akan pecah dan melenyapkan eksistensinya."*

*"Bawa aku ke sana,"* pintaku.

*"Kau tidak bisa pergi begitu saja. Kau harus keluar dari menara ini dan menghadapi pria yang menyerupai ayahmu itu. Dia adalah penjaga gerbang dimensi di mana Julius berada. Jika kau mengalahkannya, kau bisa menembus penghalang itu."*

Aku melihat ke arah pintu sel yang terbuka. Di luar sana, suara langkah kaki prajurit semakin mendekat. Mereka tahu aku telah lepas.

*"Berikan aku senjatamu,"* kataku pada gadis itu.

Dia memberikan sebuah belati kecil yang terbuat dari kristal bening. *"Ini bukan senjata fisik, Marie. Ini adalah belati yang bisa memotong ilusi. Gunakanlah untuk melihat kebenaran di balik topeng pria itu."*

Aku keluar dari sel, belati kristal itu kugenggam erat di tangan kananku. Koridor menara ini seperti labirin yang terus berubah bentuk, namun aku tidak lagi merasa bingung. Aku menggunakan resonansi yang tadi kupelajari untuk merasakan di mana pria itu berada.

Aku menemukannya di ruang utama menara, berdiri di depan sebuah cermin besar yang terhubung langsung dengan dimensi tempat Julius berada. Dia menungguku. Dia tahu aku akan datang.

*"Kau benar-benar tidak pernah belajar, bukan?"* ujarnya tanpa menoleh. *"Kau seharusnya tetap di dalam sel itu dan menunggu ajalmu. Sekarang, kau hanya akan menyaksikan bagaimana rekarmu hancur dari balik cermin ini."*

Dia mengaktifkan cermin tersebut, dan di sana, aku melihat Julius. Dia sedang berdiri di tengah ruangan yang dipenuhi cermin, dan cermin-cermin itu mulai pecah satu per satu, mengiris kulitnya. Dia terlihat begitu lelah, begitu putus asa.

*"Tidak!"* teriakku. Aku berlari menuju pria itu, belati kristal di tanganku sudah siap untuk menyerang.

Pria itu berbalik, dan dengan satu gerakan tangan, dia menciptakan perisai cahaya yang menghalangi jalanku. Namun, aku tidak menyerang perisainya. Aku menggunakan resonansi yang masih tersisa di tubuhku untuk menggetarkan ruang di sekitar perisai itu.

*Brak!*

Perisai itu hancur berkeping-keping. Aku menusukkan belati kristal itu tepat ke arah dada pria itu. Namun, bukannya menusuk daging, belati itu menembus tubuhnya seolah-olah dia hanyalah bayangan.

Pria itu tertawa. *"Kau terlalu lambat, Marie. Kau tidak bisa membunuh bayangan dengan belati ilusi."*

Dia mengayunkan tangannya, dan aku terlempar ke dinding menara. Namun, saat aku jatuh, aku menyadari sesuatu. Belati kristal yang kugenggam tadi tidak menembus pria itu karena dia adalah bayangan, tapi belati itu *menempel* pada bayangannya.

Belati itu menyala terang. Pria itu berteriak—bukan suara manusia, melainkan suara ribuan jeritan. Sosoknya mulai terdistorsi.

*"Apa yang kau lakukan?!"* teriaknya, suaranya kini terdengar sangat muda, sangat takut.

*"Aku tidak membunuh bayanganmu,"* kataku sambil bangkit berdiri, *"aku mengembalikan ingatanmu kepada dirimu sendiri."*

Sosok pria itu hancur menjadi serpihan cahaya, dan di tempat dia berdiri, kini terlihat sosok seorang pemuda yang tampak bingung, dengan mata yang dipenuhi air mata. Dia adalah jiwa yang terjebak di dalam cangkang buatan yang dikendalikan oleh Kronos.

*"Di mana aku?"* tanya pemuda itu lemah.

Aku tidak menjawab. Aku berlari menuju cermin dimensi tempat Julius terjebak. Aku menempelkan tanganku pada permukaan cermin yang dingin itu.

*"Julius! Dengarkan aku!"* teriakku. *"Itu bukan salahmu! Semua yang terjadi, semua dosa yang kau simpan, itu bukan beban yang harus kau tanggung sendiri! Lepaskan!"*

Di dalam cermin, Julius terdiam. Dia menoleh ke arahku, matanya yang obsidian kini tampak jernih. Dia membuang pedang bayangannya, membiarkan cermin-cermin di sekitarnya pecah dan menghantam tubuhnya. Namun, dia tidak lagi merasa sakit. Dia tersenyum, dan di detik berikutnya, dia melangkah keluar dari cermin itu, langsung ke dalam pelukanku.

Dunia di sekitar kami berhenti. Menara itu tidak lagi terasa seperti penjara, melainkan seperti tempat yang perlahan-lahan runtuh karena kebenaran yang baru saja kami temukan.

*"Kau berhasil,"* bisik Julius di telingaku, suaranya penuh kelegaan yang luar biasa.

*"Kita berhasil,"* koreksiku.

Namun, tepat saat kami hendak pergi, langit-langit menara itu terbuka lebar. Bukan cahaya yang masuk, melainkan ribuan bayangan hitam yang mulai turun seperti hujan. Kronos tidak akan membiarkan kami pergi semudah ini.

*"Kalian memang bisa membebaskan satu jiwa,"* suara Kronos menggema, *"tapi kalian tidak akan pernah bisa membebaskan diri kalian dari kehendakku!"*

Bayangan hitam itu mulai membentuk wujud yang lebih besar, lebih mengerikan dari apa pun yang pernah kami hadapi sebelumnya. Sebuah bentuk yang menyatukan semua rasa takut, semua keraguan, dan semua kehancuran yang pernah ada dalam sejarah Oakhaven.

Aku memandang Julius. Dia menggenggam tanganku. Tidak ada kata yang perlu diucapkan. Kami tahu apa yang harus dilakukan.

Kami berdua menutup mata, menyatukan sisa-sisa sihir murni yang kami miliki, dan alih-alih melawan bayangan itu, kami justru membiarkan diri kami tersedot ke dalam pusat wujudnya.

*Jika kau adalah wujud dari semua kehancuran, maka kami akan menjadi wujud dari awal yang baru,* pikirku.

Ledakan energi emas yang luar biasa menyapu menara, kota, dan bahkan dunia ini. Saat cahaya itu perlahan meredup, aku tidak tahu apakah kami masih hidup atau sudah menjadi bagian dari sejarah yang baru. Yang aku tahu, tanganku masih memegang tangan Julius, dan itu adalah satu-satunya hal yang penting.

1
Abe shaikha
Aku suka yang FL nya kuat begini, semangat thor nulisnya😍
Abe shaikha
Seru Thor... 😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!