Seseorang yang mengharapkan cinta dari orang yang paling ia cintai, justru adalah orang yang paling menyakiti. Hingga suatu saat mungkin harapan itu akan muncul dan menemukan seseorang jauh dan mampu memberikan rasa nyaman dan cinta.
Raisa harus menanggung perjodohan yang di sebabapkan Ardi, sang papa memiliki banyak hutang kepada seorang pengusaha kaya raya, sebagai ganti tidak bisa membayar utang tersebut, Raisa harus menjadi pengganti atau jaminan semua utang keluarganya.
Raisa adalah gadis yang baik, namun dia tidak seperti wanita pada umumnya yang di berikan cinta seluas samudera, berharap bahwa suatu saat nanti akan ada cahaya di balik kegelapan yang menyelimuti hatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hsnwy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24 - Hari Pernikahan 2
Bab 24 - Hari Pernikahan 2
"Apa yang kamu lakukan di sini?" teriak Senopati dari kejauhan, sambil berjalan perlahan mendekati sosok yang sedari tadi membuat keributan karena memaksa masuk ke dalam aula pernikahan.
"Senopati! Apakah kau benar-benar akan menikahi wanita itu? Bukankah dulu kau mencintaiku?" seru Laras dengan suara meninggi, sambil terus meronta karena kedua tangannya tertahan oleh pengawal Senopati.
Hati Senopati dipenuhi rasa jijik melihat wanita yang kini berdiri di hadapannya. Ia pun bertanya dalam hati, bagaimana mungkin dirinya dulu bisa menyukai gadis ini? Kini, tak tersisa lagi perasaan apa pun untuk Laras—yang ada hanyalah rasa kesal dan ketidaksukaan karena kedatangannya telah mengganggu hari paling bersejarah dalam hidupnya. Dulu, ia rela melakukan apa saja demi selalu berada di sisi Laras dan membuatnya bahagia. Namun kenyataannya, setelah ia berikan segala kenyamanan, wanita itu justru memilih pergi meninggalkannya begitu saja.
"Laras, apakah kau tidak merasa malu dengan ucapanmu sendiri?"
Tatapan dingin bercampur rasa jijik tergambar jelas di wajah Senopati. Untuk pertama kalinya Laras melihat ekspresi seperti itu, dan entah mengapa, pandangan itu seketika membuat keberaniannya sedikit luntur.
"Ini adalah hari yang sangat penting bagiku, hari pernikahanku. Namun kau datang ke sini seolah-olah kaulah satu-satunya orang yang paling tersakiti!" Nada bicara Senopati meninggi, amarahnya mulai meluap tak terbendung. "Kau pergi begitu saja saat aku sudah berusaha memberikan segalanya untukmu."
"Senopati, izinkan aku menjelaskan semuanya!"
"Cukup, Laras! Kau kira aku tidak menyelidiki ke mana kau pergi dan alasan di balik kepergianmu yang tiba-tiba itu?"
Laras merasa dirinya terpojok. Ia tahu sebenarnya dirinya pergi demi mengejar karir dan juga karena tertarik pada teman dekat Senopati. Selama ini, ia hanya memanfaatkan kebaikan hati pria yang kini menatapnya dengan pandangan penuh kebencian. Namun, pria yang ia pilih dan tinggalkan Senopati demi itu justru akhirnya mengkhianatinya. Itulah sebabnya ia kini berusaha kembali mendekati Senopati.
Namun, siapa sangka bahwa perasaan Senopati telah berubah total menjadi kebencian terhadapnya. Bahkan sekarang, pria itu akan menikahi gadis lain yang belum pernah sekalipun ia temui sebelumnya.
Wajah Laras memucat mendengar pertanyaan tajam itu. Ia menggigit bibir, berusaha menyusun kata-kata yang bisa meredakan kemarahan Senopati, namun kenyataannya lidahnya terasa kelu.
"Bukan begitu, Senopati... aku pergi bukan karena tak menghargai apa yang kau berikan. Ada hal-hal yang tak bisa kuceritakan saat itu," jawabnya terbata-bata, berusaha membela diri.
Senopati tertawa sinis, suaranya menggema di lorong dekat aula. "Tak bisa diceritakan? Atau justru kau pergi karena ada yang lebih menguntungkan di matamu? Kau pikir aku buta? Aku tahu kau pergi bersama Raka—teman yang aku percaya dan dia tahu kalau aku menyukai kamu. Kau tinggalkan aku demi dia, bukan karena alasan apa pun."
Mendengar nama itu disebut secara terang-terangan, raut wajah Laras berubah. Ia merasa terbongkar sudah semua kebohongannya.
"Ya, dulu aku memang salah memilih! Tapi sekarang aku sadar, Senopati! Dia bukan pria yang baik, dia hanya memanfaatkanku dan kemudian membuangku. Hanya kaulah yang tulus selama ini. Aku kembali karena aku menyadari bahwa kaulah yang terbaik untukku!" seru Laras dengan nada memohon, air matanya mulai menetes.
Namun permohonan itu justru membuat Senopati semakin muak. Ia melangkah lebih dekat, suaranya rendah namun penuh penekanan.
"Terlambat, Laras. Sangat terlambat. Perasaan itu tak bisa diputar kembali seperti kancing baju. Dulu kau buang aku seenaknya, dan sekarang ketika kau terluka, kau datang mengharap aku tetap menunggu? Kau salah sangka besar. Cinta yang pernah ada sudah mati sejak hari kau melangkahkan kaki pergi bersamanya. Dan hari ini, aku akan menikahi Raisa—wanita yang tak pernah memandang apa yang aku miliki, melainkan menerima aku apa adanya."
"Raisa? Siapa dia? Dia tak sebaik aku, Senopati! Kau pasti hanya terbuai saja!" bantah Laras, suaranya kembali meninggi karena cemburu dan tak terima.
"Bagaimana dia bukan urusanmu lagi. Mulai detik ini, jangan pernah menginjakkan kaki di tempat ini atau mengganggu hidupku dan istriku kelak. Jika kau masih punya harga diri, pergilah sebelum aku meminta pengawal mengusirmu secara paksa."
Nada bicara Senopati tak memberi ruang untuk tawar-menawar lagi. Laras terdiam, menyadari bahwa pintu hatinya sudah tertutup rapat, dan ia tak punya kunci apa pun untuk membukanya kembali.
Radit yang menyaksikan seluruh perdebatan itu langsung memijit pelipisnya, merasa pusing sekaligus kesal. Ia sangat paham betapa hancurnya perasaan tuannya saat Laras tiba-tiba menghilang tanpa kabar. Waktu itu, Senopati memang sempat terpuruk, namun masa itu tak berlangsung lama. Ia segera bangkit, mencurahkan seluruh perhatiannya pada perkuliahan, serta mulai belajar mengelola perusahaan dari tangan ayahnya.
Sebagai asisten yang selalu mendampingi, Radit sangat mengerti perasaan sebenarnya yang tersembunyi di balik sikap tegas Senopati.
“Tuan, lebih baik kita masuk sekarang. Para tamu sudah lama menunggu di dalam,” ujar Radit sambil melangkah mendekat, berdiri tepat di sisi Senopati dan berusaha mengajaknya pergi meninggalkan Laras.
Senopati mengangguk pelan. “Baik. Kalian awasi ketat wanita ini,” perintahnya sambil menatap tajam tepat ke arah wajah Laras. “Jika sampai dia berhasil masuk dan membuat keributan lagi, jangan harap aku memberi ampun pada kalian semua.”
Setelah mengucapkan kalimat itu dengan nada dingin dan mengancam, Senopati segera berbalik dan berjalan pergi bersama Radit, meninggalkan Laras yang terus berteriak memanggil namanya, meronta memohon agar pria itu mau mendengarkannya kembali.
Di tengah perjalanan menuju pintu masuk aula, Radit berbisik pelan, “Tuan, tolong perbaiki ekspresi wajah Anda. Nanti para tamu bertanya-tanya melihat raut wajah yang begitu tegang.”
Senopati menarik napas panjang, mengembuskannya perlahan untuk menenangkan gejolak di hatinya. Ia merapikan kerah jas dan menyesuaikan letak dasinya, lalu melangkah masuk ke dalam aula.
Begitu melangkah masuk, ratusan pasang mata langsung tertuju padanya. Namun, Senopati tak tergoyahkan. Wajahnya tetap datar dan dingin, meski sudah jauh lebih tenang dibandingkan saat berhadapan dengan Laras tadi. Ia berjalan dengan postur tegap, menyapa tamu undangan dengan anggukan singkat, seolah tak ada hal buruk yang baru saja terjadi di luar.
Sementara itu, di luar aula, Laras akhirnya dipaksa pergi oleh para pengawal. Ia menatap pintu tertutup itu dengan pandangan penuh kebencian dan penyesalan. Di lubuk hatinya, ia sadar telah kehilangan segalanya kebahagiaan yang dulu bisa ia genggam, kini lenyap selamanya karena keserakahannya sendiri.
Namun, bukan Laras namanya kalau ia akan mundur begutu saja, ia akan berusaha merebut Senopati bagaimana pun caranya, meski harus menyingkirkan Raisa. Karena Senopati baginya adalah orang paling tepat untuk mendampinginya. Serta kekayaan dan ketenaran bisa ia dapatkan melalui Senopati karena Laras tahu kalau Senopati salah satu pria terkaya saat ini.