NovelToon NovelToon
Nyonya Kampung Di Rumah Megah Sang Perwira

Nyonya Kampung Di Rumah Megah Sang Perwira

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Penyelamat / Menikahi tentara
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: PqxxyZ

Vina, gadis desa sederhana, menyelamatkan Radit, perwira militer yang terjebak perangkap dan badai kabut di hutan perbatasan. Merasa berutang budi sekaligus kagum, Radit akhirnya membawa Vina ke kota untuk dinikahi dan tinggal bersama keluarganya yang kaya raya serta terpandang.

​Namun di rumah itu, Vina terus ditekan dan direndahkan sebagai "gadis kampung". Di tengah kejamnya intrik kasta kota dan perbedaan status sosial, sebuah rahasia masa lalu perlahan terkuak.

Akankah cinta mereka mampu bertahan diuji antara ketulusan, harga diri, dan kejamnya tatanan kasta kota?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PqxxyZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17 : Kembali ke Rumah Lama

​Jip hijau militer milik Radit melaju membelah jalanan tanah yang bergelombang menuju sebuah kampung terpencil.

Di bagian belakang jip, tumpukan kantong belanjaan baju mewah, kotak-kotak oleh-oleh premium, serta kardus televisi dan radio baru tampak bergoyang-goyang mengikuti ritme jalanan yang tidak rata. Debu-debu jalanan berterbangan di belakang kendaraan gagah itu, kontras dengan keheningan yang menyelimuti kabin depan.

​Vina duduk di kursi penumpang dengan perasaan campur aduk. Ada rasa bahagia dan haru karena bisa pulang untuk memuliakan keluarganya membawa rezeki dari kota, namun terselip pula rasa cemas yang tak kasat mata di dalam dadanya. Ia terus meremas jemarinya sendiri, menatap gaun merah salem barunya yang kini sedikit tertutup oleh jaket kusamnya.

​"Mas... itu rumahku," tunjuk Vina lembut pada sebuah rumah kayu sederhana yang tampak sunyi di ujung jalan.

​Radit mengangguk tenang tanpa ekspresi yang berarti.

"Apa kita benar-benar ke rumahku? Sepertinya tidak perlu berlama kesana." ucap Vina.

​"Ada apa? Kenapa Kamu mendadak gelisah?" tanya Radit tanpa mengalihkan pandangannya dari jalanan tanah di depan mereka.

​Vina menunduk, meremas ujung gaun barunya dengan erat. Suaranya terdengar mencicit dan bergetar. "Aku... aku hanya takut, Mas. Ibu dan Ayah pasti sangat marah karena aku pergi dan tiba-tiba kembali dalam keadaan seperti ini. Aku takut kedatangan kita justru akan memicu keributan."

​Radit melirik sekilas melalui spion tengah, menatap raut wajah istrinya yang mendadak pucat dan dipenuhi kecemasan. Alih-alih menjawab dengan kalimat panjang, Radit justru melepaskan satu tangannya dari kemudi, lalu menepuk punggung tangan Vina dengan pelan namun tegas—memberikan kehangatan yang instan.

​"Selama ada aku di sampingmu, tidak ada satu orang pun yang boleh dan bisa menyakitimu lagi, Vina. Anggap rumah ini sebagai langkah awal kita untuk meluruskan semuanya," ucap Radit dengan suara baritonnya yang berat dan penuh keyakinan.

​Mendengar kalimat suaminya, kecemasan di dada Vina sedikit mereda, digantikan oleh rasa aman yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.

Ia memarkirkan jip militernya tepat di depan halaman rumah dengan sekali sentakan kemudi yang mantap.

Tanpa membuang waktu, dengan cekatan Radit dan Vina mulai turun untuk mengambil barang bawaan mereka. Radit mengangkat kardus televisi berwarna ukuran 14 inci yang cukup berat, sementara Vina membawa beberapa bingkisan besar berisi oleh-oleh.

Langkah kaki mereka beriringan mantap menuju pintu depan rumah lama Vina.

​Namun, tepat saat kaki Vina baru saja menginjak anak tangga teras dan hendak mengetuk pintu, tiba-tiba pintu kayu tua itu terbuka secara kasar dari dalam.

​BYURRR!

​Tiba-tiba seember air dingin disiramkan dengan sangat keras dari arah dalam rumah, tepat mengenai tubuh Vina dan Radit yang berdiri di depannya. Air keruh itu membasahi sebagian gaun baru Vina yang indah serta seragam militer gagah milik Radit. Kardus televisi yang dipegang Radit pun ikut basah terkena cipratan air yang mendadak itu.

​Vina terengah kaget, matanya membelalak dan napasnya seolah tertahan di tenggorokan. Ia mendongak dan mendapati sang ayah berdiri di ambang pintu dengan wajah yang memerah padam penuh amarah, memegangi ember plastik kosong.

Di belakang ayahnya, tampak sang ibu tiri sedang bersedekap dada dengan senyuman sinis yang tersembunyi di balik wajah berpura-pura sedih dan prihatin.

​"Ayah...?" bisik Vina dengan suara bergetar, benar-benar syok dengan sambutan yang begitu kasar dan menyakitkan.

​"Jangan panggil aku Ayah! Aku tidak sudi punya anak perempuan yang tidak tahu malu seperti kamu!" bentak sang ayah dengan suara menggelegar, telunjuknya menunjuk lurus ke wajah Vina dengan gemetar. "Pulang-pulang sudah membawa barang-barang mewah begini... dari mana kamu dapat uang, hah?! Apa kamu sudah menjual dirimu dan kehormatan keluarga ini demi kemewahan kota?"

​"Astaga, Pak, sudahlah... jangan emosi dulu," sela sang ibu tiri dengan nada memprovokasi, berpura-pura menenangkan namun aslinya sengaja menyiram bensin ke dalam api. "Kan sudah aku billing, Vina itu di kota pasti cuma jadi simpanan atau menikah diam-diam karena tergoda harta dan ketampanan tentara ini. Dia sudah lupa daratan, Pak. Menikah tanpa restu dan tanpa memberi tahu kita, benar-benar anak durhaka yang bikin malu sekampung!"

​Mendengar hasutan keji dari ibu tirinya yang telah meracuni pikiran sang ayah, air mata Vina seketika luruh membasahi pipinya yang memerah. "Ayah, semua ini salah paham. Menikah dengan Mas Radit adalah—"

​"Cukup! Bawa semua barang-barang sialan ini pergi dari rumahku! Aku tidak sudi menerima sedekah dari anak yang sudah menginjak-injak harga diri ayahnya sendiri!" potong sang ayah dengan dada kembang kempis menahan rasa kecewa yang teramat mendalam.

​Di tengah badai amarah dan caci maki itu, Radit tetap berdiri kokoh seperti batu karang yang tidak tergoyahkan. Sorot mata elangnya yang tajam sempat melirik dingin ke arah ibu tiri Vina, membuat wanita licik itu seketika merinding dan mundur selangkah bersembunyi di balik punggung suaminya.

Radit meletakkan kardus televisi yang basah ke lantai teras dengan perlahan dan hati-hati. Setelah itu, sang perwira muda melangkah maju satu langkah, tepat berdiri di depan Vina—membuat tubuh tegapnya menjadi tameng dan sekat pelindung bagi istrinya yang sedang menangis sesenggukan.

​Bagai kilat di siang bolong, tanpa ragu dan tanpa mempedulikan seragamnya yang basah kuyup, Radit menekuk kedua lututnya. Di atas lantai teras kayu yang dingin, perwira militer yang biasanya ditakuti dan dihormati di markas itu kini berlutut dengan tegap dan jantan di hadapan ayah mertuanya.

​"Mohon maaf yang sebesar-besarnya, Bapak," ucap Radit dengan suara bariton yang sangat lantang, tegas, namun sarat akan rasa hormat yang mendalam. "Saya, Perwira Radit Mahesa Laksmana, meminta maaf karena kelalaian saya yang telah menikahi Vina tanpa meminta restu dan kehadiran Bapak secara langsung sebagai wali kandungnya."

​Ayah Vina tertegun sejenak, rahangnya agak mengendur. Ia tidak menyangka seorang tentara dengan seragam penuh atribut pangkat tinggi mau merendahkan diri dan berlutut di kakinya yang kotor dan penuh debu.

​"Pernikahan kami berdua terjadi karena situasi darurat demi menyelamatkan nyawa dan kehormatan Vina setelah kejadian di perbatasan. Dan semua barang elektronik dan pakaian ini... Ini bukan hasil dari perbuatan haram. Ini adalah nafkah sah dan jujur dari hasil keringat saya sebagai suami Vina," lanjut Radit dengan tatapan mata yang lurus, tidak ada ketakutan atau keraguan sedikit pun di wajahnya.

​Radit menarik napas dalam-dalam, lalu menundukkan kepalanya sedikit sebagai tanda hormat. "Bapak boleh kecewa, dan Bapak berhak merasa marah kepada saya. Sebagai menantu, saya siap menerima hukuman apa pun dari Bapak hari ini. Bapak mau memukul saya, menghukum fisik saya, atau menyiram saya dengan air lagi, saya akan terima dengan lapang dada tanpa melawan sedikit pun. Asalkan..."

​Radit kembali mendongak, menatap mata ayah mertuanya dengan binar sumpah seorang pria sejati. "...asalkan Bapak tidak meminta saya untuk berpisah dan melepaskan Vina. Karena sejak catatan militer dan janji suci itu diucapkan, Vina adalah tanggung jawab saya seumur hidup, dan saya tidak akan pernah melepas apa yang sudah menjadi takdir saya."

​Mendengar sumpah dan pengakuan yang begitu jantan dan berani dari Radit, tangis Vina semakin pecah. Ia ikut berlutut di samping Radit, menggenggam erat lengan seragam suaminya yang basah.

Sementara itu, ayah Vina langsung bungkam seribu bahasa. Melihat ketulusan luar biasa dan keberanian menantunya, pertahanan amarah di hatinya runtuh seketika. Sumpah lisan Radit jauh lebih meyakinkan ketimbang puluhan kalimat hasutan yang diembuskan istrinya sejak kemarin.

​Ayah Vina menghela napas panjang, sebuah helaan napas yang sarat akan penyesalan. Ia meletakkan ember plastiknya, lalu mengulurkan tangan tuanya yang gemetar untuk memegang kedua pundak Radit.

"Berdirilah, Nak... Berdiri. Maafkan orang tua ini yang terlalu cepat naik darah karena hasutan orang lain," ucapnya dengan suara yang mendadak serak dan lirih.

​Radit dan Vina bangkit berdiri. Radit dengan sopan menjawab, "Saya sama sekali tidak sakit hati, Bapak. Saya sangat memaklumi kekhawatiran seorang ayah kepada putrinya."

​"Mari, masuk ke dalam dulu. Pakaian kalian basah semua," ajak sang ayah sembari membukakan pintu lebih lebar. Ibu tiri yang melihat adegan itu langsung melipat bibirnya rapat-rapat, wajahnya cemberut dan terlihat sangat kesal karena rencana busuknya gagal total.

​Begitu masuk ke dalam ruang tamu yang sederhana dan beralaskan tikar pandan, Radit tidak membiarkan kecanggungan menguasai suasana. Sambil menunggu Vina mengeringkan air di wajahnya, Radit dengan tenang membuka tas dokumen kecilnya yang kedap air. Ia mengeluarkan selembar kertas tebal berstempel resmi negara dan militer.

​"Bapak, ini adalah dokumen administrasi pernikahan resmi militer kami. Vina sekarang dilindungi penuh oleh hukum negara dan institusi saya," ucap Radit seraya menyerahkan kertas tersebut dengan kedua tangannya secara hormat. Matanya sempat melirik tajam ke arah ibu tiri yang berdiri di sudut ruangan. "Jadi, siapa pun yang mencoba memfitnah atau merendahkan istri saya dengan tuduhan yang tidak berdasar, maka orang tersebut akan berurusan langsung dengan hukum militer."

​Mendengar penekanan kata 'hukum militer' dari mulut dingin Radit, wajah ibu tiri Vina seketika berubah pucat pasi. Ia menelan ludahnya dengan susah payah dan langsung memalingkan wajah, benar-benar mati kutu dan ketakutan.

​Untuk mencairkan suasana dan benar-benar mengambil hati mertuanya, Radit langsung menggulung lengan kemeja seragamnya yang setengah basah. Tanpa canggung, ia berlutut di depan meja kayu dan mulai membongkar kardus televisi dan radio baru yang dibawanya. Dengan sigap dan cekatan, tangan kekar sang perwira merangkai kabel, memasang antena portabel, dan menyetel gelombang elektronik tersebut.

​Cklek... Sreeet...

​Suara statis berganti menjadi suara siaran berita televisi yang jernih, memenuhi ruangan rumah yang biasanya sunyi itu. Ayah Vina menatap layar kaca itu dengan mata berbinar takjub, merasa sangat dihargai dan dihormati oleh menantunya.

​Setelah memastikan televisi menyala dengan sempurna, Radit mendekati ayah mertuanya dan menyelipkan sebuah amplop cokelat tebal yang cukup berat ke dalam genggaman sang ayah. Ayah Vina terkejut dan mencoba menolaknya. "Eh, Nak Radit, apa ini? Tidak usah repot-repot..."

​"Bapak, tolong diterima," potong Radit dengan senyum tipis yang sangat tulus dan sopan. "Ini bukan uang untuk pamer atau puji diri. Ini adalah bentuk bakti dan nafkah pertama saya sebagai anak yang sekarang ikut menjaga Bapak dan keluarga di sini. Mohon digunakan untuk memperbaiki atap rumah yang mungkin bocor dan memenuhi kebutuhan harian Bapak."

​Mendengar kalimat yang begitu santun dari seorang perwira tinggi kota, dada sang ayah bergemuruh dan matanya berkaca-kaca menahan haru. Beliau menepuk-nepuk pundak Radit dengan bangga, menyadari sepenuhnya bahwa putrinya tidak salah memilih pelindung dan sandaran hidup.

​Vina yang baru saja kembali dari dapur membawa nampan berisi teh hangat dan beberapa stoples kue kering premium tertegun di ambang sekat ruangan. Menyaksikan kehangatan dan bagaimana gigihnya Radit berusaha mengambil hati sang ayah demi dirinya, rasa hangat dan cinta yang tulus seketika menjalar memenuhi seluruh lubuk hati Vina. Di atas tikar pandan kesederhanaan rumah kampung itu, Radit berhasil membuktikan bahwa dirinya adalah seorang perwira sejati, baik di medan perang maupun di mata keluarga.

1
Putri Ayu/PqxxyZ
aduh maaf banget di bab kali ini banyak typo bertebaran 😭🙏
Ris Ris.25
Semangat ya Thor🙏
Ris Ris.25
Semangat thor🙏🙏
Ris Ris.25
mana nih kelanjutannya?🙏
Putri Ayu/PqxxyZ: Oke ditunggu ya kak😊
total 1 replies
Ris Ris.25
Bagus sekali Thor... semangat! 🙏
Sri Sulastri
mana lanjutannya min 🙏
Putri Ayu/PqxxyZ: huhu makasih ya kak sudah nungguin.. setiap Hari update 1 kali sehari ya biar sehat 🤣🤭 setiap jam 9
total 1 replies
Wawan
Salam kenal Vina ✍️💪
Putri Ayu/PqxxyZ: Hai kakk.. salam kenal kembali..
total 1 replies
Mustafa
Keren
Putri Ayu/PqxxyZ
ayo kita lihat bersama PERWIRA GANTENG DAN BAIK
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!