NovelToon NovelToon
Bestie,KUA Di Sebelah Mana?

Bestie,KUA Di Sebelah Mana?

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Nikah Kontrak / Nikahmuda
Popularitas:3.7k
Nilai: 5
Nama Author: Markario Putra

Karakter Utama:

​Arga: Cowok yang biasanya tenang, rapi, dan selalu jadi "penjaga" kalau mereka nongkrong. Tapi malam itu, dia sama mabuknya.

​Kinar: Cewek ceplas-ceplos, panikan, dan tipe sahabat yang tahu semua aib Arga dari zaman masih ngompol sampai sekarang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Markario Putra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 22: Getaran Ponsel dan Percikan yang Membakar Gengsi

Getaran heboh dari dalam saku celana Kinar seolah menjadi penyelamat—atau mungkin justru perusak—dari sebuah momen yang hampir saja mengubah garis batas di antara mereka. Kalimat Arga yang menyentuh hati itu masih menggantung di udara, namun realitas dengan kejam menarik mereka kembali. Kinar buru-buru merogoh sakunya dengan gerakan yang sedikit gemetar, sementara Arga langsung mengalihkan pandangannya ke arah cangkir tehnya, berdeham pelan demi menutupi rasa salah tingkah yang mendadak menyerang telinganya hingga memerah.

Kinar melihat layar ponselnya. Nama yang tertera di sana membuat keningnya berkerut.

"Halo, Rian? Kenapa?" tanya Kinar setelah menggeser tombol hijau. Suaranya sengaja dikeraskan sedikit agar atmosfer canggung di antara dirinya dan Arga bisa terkikis.

Arga yang mendengar nama 'Rian' disebut, otomatis menajamkan pendengarannya. Rian adalah teman satu kelas Kinar di fakultas teknik, cowok yang selama ini terkenal ramah, pintar, dan diam-diam sering memberikan perhatian lebih kepada Kinar, yang sayangnya selalu dianggap Kinar sebagai bentuk kebaikan sesama teman kuliah biasa.

"Hah? Sekarang?" Kinar menjauhkan ponselnya sebentar untuk melihat jam di dinding. "Oke, oke. Gue ke kampus sekarang. Bahan presentasinya udah gue bawa di flashdisk kok. Iya, tunggu sepuluh menit lagi gue nyampe."

Kinar menutup teleponnya, lalu beralih menatap Arga yang kini memasang wajah datar, kembali ke mode tripleknya. "Ga, gue harus ke kampus sekarang. Si Rian bilang dosen kelas jam sepuluh mendadak majuin jadwal kuis kelompok. Gue bisa telat kalau gak berangkat sekarang."

Arga berdiri dari sofanya, merapikan kaus putihnya tanpa ekspresi. "Gue anter. Lagian gue juga ada kelas siang nanti. Sekalian aja."

"Gak usah, Ga. Gue bisa naik ojek online kok, lagian lo kan belum siap-siap—"

"Gak ada bantahan, Kinar Anindita," potong Arga dengan suara baritonnya yang tegas, tidak menerima penolakan. "Kita udah sepakat di depan Mama kalau kita harus kelihatan kompak. Kalau lo berangkat sendiri dan tetangga atau kenalan Mama liat, ntar dikira kita lagi berantem. Tunggu lima menit, gue ganti baju."

Kinar hanya bisa mengembunkan napas pasrah melihat punggung Arga yang melangkah lebar menuju kamarnya. Sifat keras kepala cowok itu memang tidak pernah berubah sejak zaman SMA.

Sepanjang perjalanan di atas motor sport hitam milik Arga, tidak ada obrolan berarti di antara mereka. Suara angin jalanan dan deru mesin motor seolah mengubur semua kata-kata yang ingin mereka ucapkan. Kinar mencengkeram jaket bagian pinggang Arga dengan erat, menahan tubuhnya agar tidak terlalu menempel pada punggung cowok itu karena sisa-sisa ucapan Arga di sofa tadi masih membuat hatinya berdesir aneh.

Begitu motor Arga berhenti di depan lobi gedung fakultas teknik, Kinar segera turun dan melepas helmnya.

"Makasih ya, Ga. Lo langsung balik atau nunggu di kantin?" tanya Kinar sambil menyerahkan helmnya kembali.

"Gue mau ke perpus dulu, ada tugas yang—"

"Kinar!"

Ucapan Arga terputus oleh sebuah teriakan lantang dari arah tangga lobi. Seorang cowok dengan kemeja flanel rapi dan tas ransel yang disampirkan di satu bahu berjalan setengah berlari mendekati mereka. Itu Rian. Wajahnya terlihat lega begitu melihat Kinar sudah sampai di kampus.

"Untung lo cepet nyampe, Nar. Kelompok kita udah kumpul di dalam, tinggal nunggu flashdisk dari lo aja," ucap Rian dengan senyum ramah yang mengembang lebar. Namun, pandangan mata Rian kemudian beralih ke arah Arga yang masih duduk di atas motornya dengan tatapan yang luar biasa dingin.

Sebagai sesama cowok, Rian langsung bisa merasakan aura permusuhan yang tidak kasatmata terpancar dari tubuh Arga. Rian berdeham kecil, mencoba tetap bersikap sopan. "Eh, ada Arga juga. Makasih ya udah anterin Kinar."

Arga tidak turun dari motornya. Dia hanya menurunkan kaca helmnya sedikit, menatap Rian dari atas ke bawah dengan pandangan menilai yang sangat meremehkan. "Iya. Dia istri gue, jadi udah kewajiban gue buat anter jemput dia. Gak perlu diucapin makasih."

Kata 'istri gue' yang diucapkan Arga dengan begitu lugas di area publik kampus sukses membuat Rian tertegun di tempat, sementara Kinar langsung mencubit lengan Arga dengan gemas dari balik jaketnya. Arga beneran nekat bawa-bawa status kontrak ini di depan temen kuliahnya!

Rian mencoba tersenyum canggung, meski hatinya jelas merasa sedikit terkejut dengan kepemilikan mutlak yang ditunjukkan Arga. "Ah, iya... maksud gue, makasih karena Kinar gak jadi telat. Ya udah Nar, yuk masuk sekarang. Keburu dosennya masuk kelas."

Rian secara refleks mengulurkan tangannya, berniat menepuk pundak Kinar untuk mengajaknya segera berjalan. Namun, belum sempat telapak tangan Rian menyentuh kain kemeja Kinar, suara klakson motor Arga mendadak berbunyi nyaring satu kali, memecah perhatian semua orang di sekitar lobi.

BIP!

"Nar, handphone lo ketinggalan di jaket gue," dusta Arga dengan wajah lempeng, padahal Kinar tahu jelas kalau ponselnya ada di dalam saku celananya sendiri.

Kinar mendekati Arga dengan dahi berkerut. "Apaan sih, Ga? Kan HP gue ada di—"

Sebelum Kinar menyelesaikan protesnya, Arga mendadak mencondongkan tubuhnya ke depan, meraih pergelangan tangan Kinar dengan lembut namun bertenaga, lalu menarik gadis itu mendekat. Di depan mata Rian yang memperhatikan dengan melotot, Arga menggunakan tangan kirinya untuk merapikan beberapa helai rambut Kinar yang berantakan di dekat dahinya—tepat di sebelah benjolan kecil yang kini sudah agak mengempis.

Sentuhan jemari Arga yang hangat di kulit wajahnya membuat seluruh pasokan oksigen di sekitar Kinar mendadak lenyap. Jantungnya kembali melakukan maraton brutal.

"Belajar yang bener. Gak usah meleng, gak usah kebanyakan senyum sama cowok lain," bisik Arga dengan suara rendah yang hanya bisa didengar oleh Kinar, namun matanya tetap melirik tajam ke arah Rian yang berdiri kaku di belakang Kinar. "Nanti siang gue jemput di sini. Kalau lo pulang duluan sama cowok ini, kunci rumah gak bakal gue bukain."

Setelah mengucapkan kalimat super protektif—atau lebih tepatnya cemburu buta—itu, Arga langsung menutup kaca helmnya dengan sentakan kasar, memutar gas motornya, dan melesat pergi meninggalkan lobi fakultas teknik dengan suara knalpot yang menderu keras, meninggalkan Kinar yang berdiri mematung dengan wajah yang sudah merah padam seperti kepiting rebus.

Rian melangkah mendekati Kinar dengan ekspresi bingung bercampur kecewa yang tidak bisa disembunyikan. "Nar... Arga emang selalu se-posesif itu ya sama lo?"

Kinar hanya bisa tersenyum kaku, tangannya bergerak menyentuh dahinya yang baru saja dirapikan oleh Arga. Di dalam hatinya, Kinar merutuki kelakuan sahabat masa kecilnya itu setengah mati. Arga Mahendra beneran sudah gila, dan sialnya, Kinar juga merasa dirinya mulai ikut gila karena tidak membenci rasa posesif itu sama sekali. Dinding pembatas di antara mereka kini benar-benar sudah hancur, menyisakan ego dua orang sahabat yang sama-sama gengsi untuk mengakui kalau mereka sudah saling jatuh cinta.

Halo, Teman-Teman Pembaca Setia! ✨

Aku mau ngucapin terima kasih banyak dari lubuk hati yang paling dalam untuk kalian semua yang sudah meluangkan waktu, kuota, dan energinya buat membaca kisah perjuangan rumah tangga abal-abal Arga dan Kinar ini.

Melihat antusiasme, dukungan, setiap view, like, komen gemas, sampai bintang lima yang kalian kasih bener-bener jadi bahan bakar utama buat aku untuk terus konsisten menulis dan menembus batas kata di setiap babnya. Tanpa adanya kalian, cerita "BESTIE, KUA DI SEBELAH MANA?" ini gak akan bisa hidup dan seseru ini.

Semoga naik-turunnya emosi, drama adu jidat yang konyol, sampai momen salting brutal mereka bisa terus menghibur dan menemani hari-hari kalian, ya!

Tetap kawal perjalanan sandiwara pasutri gadungan ini sampai akhir! Jangan lupa buat terus tinggalin jejak berupa komentar atau dukungan kalian di bab selanjutnya, karena satu komen dari kalian itu berharga banget buat kelangsungan jari-jariku ngetik, hehe.

Kalian semua luar biasa! Happy reading, and see you in the next chapter! ❤️

Salam hangat,

Markario Putra

1
Delia_Sherlyn
bola mata ap bola apa?
Markario Putra: bola matanya k,siap salah🙏😄
total 1 replies
Delia_Sherlyn
semangat ya kak, mohon izin untuk jadi refrensi🙏
Markario Putra: ok ka👍
total 1 replies
Markario Putra
Untuk sahabat ku semua yang baru membaca novel ku ini,jangan lupa untuk klik tombol IKUTI ya kawan ku semua🙏🙏
Kim Borahae
hi, saya pembaca baru. ceritanya masuk di aku 🤣. semangat terus ya author.


btw, saya pun baru mula menulis novel. kalau ada masa boleh tinggalkan komen di novel saya juga ya. tinggal tekan profile, terima kasih /Smirk//Rose/
Kim Borahae: terima kasih yaa
total 2 replies
Markario Putra
Tinggalkan komentar Anda🙏🙏
Markario Putra: untuk sahabat ku,mohon tinggalkan komentar supaya sy bisa lebih semangat lagi untuk menulis🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!