"Angka? "
angka yang muncul diatas kepala Ivy, setelah mendapatkan diagnosa dari dokter tentang batas akhir hidupnya.
Ivy yang menghargai setiap waktu, memutuskan untuk hidup untuk dirinya. karena selama ini dia setelah kembali ke keluarga Dermawan. Ivy hidup seperti boneka, membahagiakan orang lain dan bersaing dengan Oliv saudara angkatnya.
Dengan bantuan mamanya yang mengetahui penyakitnya, Ivy melepaskan diri dari otoriter ayahnya.
Hidupnya berwarna disaat akhir hidupnya, saat bersama warga desa Gemilang. sambil memikirkan cara menambah angka hidupnya, sampai suatu hari dia tidak sengaja mencium Rama cahya yang merupakan paman mantan tunangannya.
Yang bisa menambah hari angka kehidupannya,akhirnya Ivy mendapatkan cara agar dirinya bisa hidup lebih lama.
Tapi sepertinya Ivy mengalami kesulitan, karena Rama bukan pria yang mudah didekati wanita.
Bisakah Ivy terus dekat dengan Rama?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anastasia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1.Diagnosa tak diharapkan.
“Nona Ivy, saya ucapkan terus terang saja agar Anda tidak terkejut nanti,” suara dokter itu terdengar lembut namun tegas, memecah keheningan di ruang pemeriksaan yang berwarna putih bersih.
Ivy duduk tegak di kursi di hadapan meja dokter, kedua tangannya tergenggam erat di atas pangkuan. Matanya menatap lurus ke wajah pria berseragam putih itu, berusaha menangkap setiap kata yang keluar dari mulutnya. “Silakan, Dokter. Saya sudah siap mendengarkan hasil pemeriksaannya,” jawabnya dengan nada yang berusaha tetap tenang, meski di dalam hatinya sudah mulai berdebar tak menentu.
Dokter itu menghela napas panjang, lalu menatap lembut ke arah Ivy. “Dari hasil rontgen, CT scan, dan serangkaian tes darah yang kami lakukan, ditemukan adanya pertumbuhan sel kanker di bagian otak Anda. Kondisinya sudah masuk stadium akhir, Nona Ivy.”
Seolah ada guntur yang meledak tepat di telinganya, tubuh Ivy seketika terasa kaku dan dingin. Matanya membelalak lebar, napasnya terhenti sesaat seolah lupa untuk bernapas. Wajahnya yang tadinya sedikit pucat kini terlihat semakin memutih, dan tangannya yang tergenggam mulai bergetar halus.
“Maaf… apa yang baru saja Dokter katakan?” tanya Ivy terbata-bata, suaranya terdengar nyaris tidak terdengar. “Kanker otak? Stadium akhir? Apakah Dokter tidak salah baca hasilnya? Mungkin ada kesalahan pada pemeriksaannya? Tolong periksa sekali lagi, saya mohon.”
Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya, namun ia berusaha keras menahannya agar tidak tumpah. Ia tidak ingin terlihat lemah, apalagi setelah bertahun-tahun ia berjuang membuktikan bahwa dirinya layak menjadi putri kandung keluarga Dermawan.
Dokter itu mengangguk pelan dengan rasa iba, lalu menjelaskan dengan sabar sambil menunjuk hasil gambar di layar komputernya. “Saya sudah memeriksa berulangkali, Nona. Bahkan saya meminta pendapat dua rekan spesialis lain untuk memastikannya. Seluruh hasilnya menunjukkan hal yang sama. Sel kanker itu sudah menyebar ke jaringan sekitarnya dan menekan saraf-saraf penting, itulah sebabnya Anda sering merasakan pusing hebat, pandangan kabur, hingga tiba-tiba pingsan seperti yang Anda alami kemarin.”
Ivy hanya diam membisu. Kata-kata dokter itu masih terasa asing dan sulit diterima oleh akal sehatnya. Matanya menatap kosong ke dinding di seberang ruangan, namun pikirannya melayang jauh kembali ke masa lalu. Perjuangannya saat pertama kali datang ke rumah keluarga Dermawan, setelah kepergian nenek dan kakek yang merawatnya.
Nenek seorang dokter desa, dan kakek seorang ahli bela diri. Dia dari kecil didik menjadi seperti mereka, tapi dengan kasih sayang.
Tapi saat usia 18 tahun, setelah kepergian kakek dan neneknya yang meninggal bersamaan. Mengetahui kebenaran kalau mereka berdua bukan kakek dan nenek kandung dirinya, kepala desa yang tidak tega melihat gadis yang berbakat hidup didesa terpencil.
Akhirnya membantunya untuk menemukan orang tuanya dikota, beberapa bulan kemudian berkat bantuan polisi setempat.
Akhirnya kabar orang tua kandung Ivy ditemukan, dengan membawa uang seadanya dari warga desa yang berutang budi pada kakek dan nenek Ivy.
Namun, saat ia pulang, tempatnya sudah tergantikan oleh Oliv, anak angkat yang dipelihara orang tuanya selama ia hilang.
Orang tuanya menyambut kepulangan Ivy dengan hangat, Ivy pun merasakan kehangatan orang tuanya.
Tapi selama tinggal di rumah keluarga Dermawan,kehidupan Ivy sebagai anak orang kaya tidak mudah.Ia harus berjuang keras melawan segala intrik, kecemburuan, dan fitnah yang dilontarkan Oliv kepadanya. Ia harus membuktikan bahwa dirinyalah putri sejati, bukan gadis yang hanya datang merebut kasih sayang dan harta keluarga. Baru saja ia mulai melihat sedikit pengakuan dari ayah dan ibunya, baru saja ia merasa mulai mendapatkan tempatnya, kenapa takdir malah menghadiahinya dengan vonis maut ini?
“Apakah… apakah masih ada harapan untuk sembuh, Dokter?” tanya Ivy lagi, suaranya terdengar lemah dan penuh keraguan.
Dokter itu menggeleng perlahan, wajahnya terlihat sedih. “Kondisinya sudah terlalu lanjut, Nona. Pengobatan kemoterapi atau operasi pun hanya bisa memperlambat sedikit perkembangannya, namun tidak bisa menyembuhkan secara total. Dampaknya justru akan membuat tubuh Anda semakin lemah.”
Jantung Ivy terasa diremas kuat hingga terasa sakit. Ia menelan ludah dengan susah payah, lalu memberanikan diri mengajukan pertanyaan yang paling ia takuti namun paling ingin ia ketahui. “Kalau begitu… berapa lama lagi saya masih punya waktu? Berapa sisa umur yang tersisa untuk saya jalani?”
Suasana ruangan menjadi sunyi sepi. Dokter itu terdiam sejenak, seolah sedang memilih kata-kata yang paling halus namun tetap jujur. “Dengan kondisi saat ini, perkiraannya hanya sekitar satu bulan ke depan. Saya menyarankan agar keluarga Anda segera mengetahui hal ini, agar bisa menyiapkan segala sesuatunya dan menemani Anda menghabiskan waktu yang tersisa dengan tenang.”
Satu bulan. Hanya tiga puluh hari lagi.
Kata itu terus berputar di kepala Ivy seolah menjadi gema yang tak berhenti. Ia tidak menangis, tidak berteriak, bahkan tidak lagi memprotes. Ia hanya merasa seluruh tenaganya tersedot habis begitu saja, meninggalkan tubuhnya yang terasa ringan namun sekaligus sangat berat.
“Baiklah… terima kasih atas penjelasannya, Dokter,” ucapnya datar, lalu berdiri perlahan dan melangkah keluar dari ruangan itu tanpa menoleh lagi.
Begitu berada di lorong rumah sakit, langkah kakinya terasa goyah. Ia berjalan tanpa tujuan, tanpa rasa, seolah jiwanya sudah terpisah dari tubuhnya. Saat tiba di area parkir, ia melihat mobil sedan mewah berwarna hitam miliknya terparkir rapi di tempatnya, namun ia tidak memiliki tenaga lagi untuk mengendarainya. Ia hanya memandangi mobil itu sebentar, lalu berbalik arah dan memilih berjalan kaki menyusuri jalan raya kota Velo ria yang ramai.
Matahari bersinar terik, kendaraan berlalu lalang, orang-orang berjalan tergesa dengan urusan masing-masing, namun bagi Ivy, dunia ini terasa sunyi dan asing. Ia terus melangkah tanpa menghitung jarak, tanpa merasakan panasnya sinar matahari, tanpa memperhatikan keringat yang membasahi dahinya. Hanya ada satu kalimat yang terus terngiang di kepalanya yaitu satu bulan lagi aku akan mati.
Setelah berjalan hampir satu jam, akhirnya ia sampai di depan gerbang megah yang menjulang tinggi. Itulah kediaman keluarga Dermawan, salah satu keluarga terkaya dan paling berpengaruh yang menduduki peringkat keempat di kota ini. Penjaga gerbang segera membukakan pintu, lalu memberi hormat dengan senyum sopan.
“Selamat siang, Nona Ivy. Selamat datang,” sapa mereka dengan nada hormat. Biasanya Ivy akan menjawab sambil tersenyum ramah, namun kali ini ia hanya melirik sekilas tanpa ekspresi, lalu berjalan masuk begitu saja seolah tidak mendengar sapaan itu.
Begitu memasuki ruang utama, Bibi Nora, kepala pelayan yang sudah mengabdi puluhan tahun di keluarga itu, segera menyambutnya dengan wajah cemas.
“Ya ampun, Nona Ivy! Dari mana saja Anda? Kenapa Anda berjalan kaki? Di mana mobil Anda? Wajah Anda terlihat sangat pucat dan lemas sekali. Apakah Anda merasa sakit?” tanya Bibi Nora bertubi-tubi sambil memegang bahu Ivy dengan lembut.
Ivy menarik napas panjang, lalu memaksakan senyum tipis yang terasa sangat pahit. “Tidak apa-apa, Bibi. Mobilnya saya tinggalkan di rumah sakit, saya hanya ingin berjalan sebentar untuk menghirup udara segar. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan.”
“Syukurlah kalau begitu. Tapi sebaiknya Anda segera duduk dan minum air putih dulu,” ujar Bibi Nora masih dengan rasa khawatir. “Ngomong-ngomong, Tuan dan Nyonya sedang berkumpul di ruang keluarga. Juga ada tamu penting yang datang.”
“Tamu penting?” tanya Ivy pelan, mencoba mengingat jadwal hari ini. “Siapa?”
“Tuan Brian dari keluarga Cahya. Mereka sedang membahas rencana pernikahan, Nona. Sepertinya tuan Brian bermaksud melamar.” jawab Bibi Nora.
Seketika itu juga Ivy teringat. Ia sama sekali lupa! Hari ini ia dijadwalkan bertemu dan berkenalan dengan Brian, cucu keluarga Cahya yang merupakan keluarga paling elit dan terhormat di kota itu. Ia sudah bersiap-siap sejak pagi, namun pusing hebat menyerang dan ia langsung dibawa ke rumah sakit, sehingga ia melupakan semuanya.
Jantungnya yang baru saja terasa remuk itu kini kembali berdebar kencang karena rasa panik. “Kenapa dia melamar,kami saja belum bertemu?” gumamnya, lalu segera berjalan tergesa-gesa menuju ruang keluarga yang terletak di ujung lorong.
"Tapi yang aku dengar seperti itu, non. "
Namun, saat ia baru saja sampai di ambang pintu dan hendak membukanya, langkah kakinya terhenti seketika. Suara-suara dari dalam ruangan terdengar jelas masuk ke telinganya.
“…Jadi, dengan ini saya secara resmi melamar Nona Oliv untuk menjadi istri saya. Saya yakin dia adalah wanita yang paling cocok untuk mendampingi saya dan menjaga nama baik keluarga Cahya,” terdengar suara laki-laki yang tegas dan berwibawa—suara Brian.
“Terima kasih, Tuan Brian. Kami sangat berbahagia menerima lamaran ini. Oliv memang gadis yang baik dan cerdas, dia pasti akan menjadi istri yang sempurna untukmu,” jawab suara ibunya dengan nada gembira.
Dan diikuti suara lembut namun penuh kebahagiaan milik Oliv, “Terima kasih, Tuan Brian. Saya akan berusaha menjadi pendamping yang terbaik untukmu.”
Tubuh Ivy terasa seolah tersambar petir di siang bolong. Ia berdiri membeku di depan pintu, matanya terbelalak tak percaya, dan rasa sakit yang jauh lebih hebat daripada vonis dokter tadi kini menyergap seluruh hatinya. Hari ini, ia baru saja menerima vonis kematian, dan di saat yang sama, tempatnya, tunangannya, bahkan masa depannya pun direbut begitu saja oleh orang yang selama ini menjadi saingannya.
Di atas kepala setiap orang yang ada di ruangan itu, Ivy tanpa sadar melihat sesuatu yang aneh—muncul diatas kepalanya angka aneh seperti jam digital. Dan saat ia menoleh ke arah cermin di dinding, ia melihat sebuah angka yang menyala redup di atas kepalanya sendiri 30 dan dibelakangnya terus berjalan seperti detik dan menit.
Ivy berusaha menyentuh angka itu, atau berniat menghilangkannya dari atas kepalanya.
Tapi tidak bisa dihapus ataupun dihancurkan, apa yang dilakukannya disaksikan oleh Nora.
"Non, sedang melakukan apa?. Apa ada seranga diatas kepala nona?. "
"Bibi, tidak lihat angka diatas kepala ku?. "
"Angka? " ucapnya yang bingung.
"Aku... aku mau kembali ke kamar dulu. Jika ayah dan mama tanya, bilang saja aku sedang istirahat. "
"Baik non. "
Ivy segera berjalan tergesa-gesa sambil terus menghilangkan angka dikepalanya, sambil terus bertanya pada pelayan yang dia temui sepanjang perjalanan ke kamar tentang angka diatas kepalanya.
kalo berkenan mampir juga thor🤭😉