Di balik gaun megah bertabur mawar merah dan dansa yang begitu mesra, tersimpan sebuah rahasia yang mematikan.
Melanie mengira ia telah menemukan cinta sejatinya pada diri Glen, seorang pria menawan yang memperlakukannya bak seorang ratu tanpa cela, seperti mawar merah yang indah tanpa duri (Thornless Red Rose). Namun, Melanie tidak pernah tahu bahwa di balik tatapan penuh kehangatan itu, Glen sedang merajut jaring balas dendam yang kejam terhadap keluarganya.
Ketika kebenaran perlahan mulai terkuak, Melanie harus menghadapi kenyataan pahit: apakah cinta Glen kepadanya murni nyata, ataukah ia hanya sekadar bidak dalam permainan balas dendam yang dirancang untuk menghancurkan hidupnya?
Sebuah kisah tentang cinta yang tumbuh di atas bara dendam, di mana batas antara ketulusan dan pengkhianatan menjadi begitu tipis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sarifah31, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pangeran yang Keluar dari Lembaran Dongeng
Lantai perpustakaan Universitas Airrawan Jogjakarta siang itu terasa lebih dingin dari biasanya, kontras dengan udara luar yang membakar kulit. Aroma khas kertas-kertas tua, debu yang menari di bawah berkas cahaya matahari yang menerobos jendela tinggi, dan keheningan yang absolut selalu sukses membuat Melanie betah berlama-lama di sana. Baginya, di antara rak-rak buku setinggi tiga meter inilah tempat persembunyian terbaik dari penatnya jadwal kuliah makroekonomi.
Melanie berdiri berjinjit, jemari lentiknya berusaha menggapai sebuah buku tebal bersampul beludru marun di rak paling atas. "Satu senti lagi..." gumamnya tertahan, menahan napas saat ujung jarinya hanya mampu menyentuh ujung buku.
Tepat ketika ia hampir menyerah dan berniat mencari kursi pijakan, sebuah bayangan tinggi melingkupinya dari belakang. Sebuah aroma maskulin yang segar perpaduan antara wangi kayu pinus dan aroma hujan tiba-tiba memenuhi indra penciumannya. Sebuah tangan dengan jemari kokoh dan urat-urat halus yang kentara menjangkau buku itu dengan sangat mudah, lalu menurunkannya.
Melanie berbalik dengan cepat, berniat mengucapkan terima kasih, namun kata-katanya mendadak tercekat di tenggorokan.
Di hadapannya berdiri Glen.
Semua orang di Universitas Airrawan tahu siapa Glen. Dia adalah mahasiswa jurusan Sastra yang dinobatkan sebagai pria tertampan di kampus, tipe visual yang membuat koridor mendadak sepi karena semua orang sibuk menatapnya. Namun, Glen bukan sekadar cowok tampan biasa. Dia dikenal eksentrik, penyendiri, dan memiliki obsesi mendalam pada buku-buku dongeng klasik serta dunia fantasi. Desas-desusnya, Glen sering kali bertingkah seolah-olah dia adalah karakter yang hidup di dalam lembaran fiksi yang dibacanya.
Siang itu, Glen menatap Melanie dengan sepasang mata elang yang tajam namun menyimpan kehangatan yang ganjil. Ia tidak langsung menyerahkan buku itu, melainkan memandangi sampulnya, lalu menatap Melanie seolah wanita itu adalah makhluk asing yang baru saja turun dari langit.
"Membaca bab tentang kutukan penyihir di siang bolong, Nona?" suara Glen terdengar rendah dan berat, bergaung lembut di antara keheningan perpustakaan. Gaya bicaranya tenang, tertata, dan memiliki intonasi yang sangat teatrikal, seperti seorang pangeran dari abad pertengahan yang sedang berdialog di atas panggung sandiwara.
Melanie berkedip beberapa kali, mencoba menguasai dirinya yang sempat terpana. "Ah... iya. Aku hanya penasaran dengan ilustrasinya. Terima kasih sudah mengambilkannya..."
Glen tersenyum tipis, jenis senyuman yang sanggup membuat jantung perempuan mana pun berhenti berdetak sesaat. Ia melangkah satu langkah lebih dekat, memotong jarak di antara mereka hingga Melanie bisa melihat pantulan dirinya di manik mata hitam pria itu. Glen membungkukkan sedikit badannya, menyodorkan buku beludru itu dengan kedua tangannya, persis seperti seorang kesatria yang menyerahkan upeti kepada sang ratu.
"Sebuah kehormatan bisa membantu," ujar Glen, suaranya nyaris berbisik namun penuh penekanan yang dalam. "Di dalam cerita ini, seorang putri sering kali tersesat di dalam hutan belantara sebelum ia menemukan takdirnya. Kuharap, Anda tidak sedang tersesat di perpustakaan ini, Melanie."
Melanie tersentak kecil. Jantungnya berdegup dua kali lebih cepat. Bagaimana dia bisa tahu namaku? batinnya berteriak bingung.
Namun, sebelum rasa heran itu menguasai dirinya, getaran aneh yang terasa magis telanjur menyelimuti atmosfer di antara mereka. Pertemuan ini terasa begitu tidak nyata. Pencahayaan temaram dari celah jendela, aroma buku tua, dan cara Glen menatapnya dengan intensitas tinggi... semuanya terasa seperti adegan yang ditulis dengan tinta emas di dalam sebuah buku dongeng fantasi.
"Kamu... tahu namaku?" tanya Melanie akhirnya, suaranya agak bergetar.
Glen tidak langsung menjawab. Ia menegakkan tubuhnya kembali, melipat kedua tangannya di depan dada sembari mempertahankan tatapan mistisnya. "Angin di Airrawan membawa banyak cerita, Nona. Dan terkadang, nama-nama yang indah memang ditakdirkan untuk didengar terlebih dahulu sebelum pemiliknya menampakkan diri."
Melanie menahan senyumnya, merasa geli sekaligus terpesona secara bersamaan. Ia tahu Glen sedang mendalami perannya sebagai tokoh fiksi entah dari buku apa, tetapi entah mengapa, kepura-puraan cowok itu terasa begitu alami dan memabukkan. Tidak ada kesan norak; Glen membawakannya dengan karisma yang begitu mutlak hingga garis realitas di kepala Melanie rasanya mulai mengabur.
"Kalau begitu, Tuan Pangeran," sahut Melanie, memberanikan diri untuk ikut larut dalam permainan kata Glen, "apakah ada peringatan yang harus kuingat sebelum membuka buku kutukan ini?"
Mata Glen berkilat aneh mendengar respons Melanie. Sudut bibirnya terangkat lebih tinggi, menampilkan senyum misterius yang menyimpan sejuta arti yang tak mampu dibaca oleh Melanie. Glen mengulurkan tangan kanan, menyelipkan seuntai rambut Melanie yang terlepas ke belakang telinga wanita itu dengan gerakan yang amat lembut, hampir tak menyentuh kulit.
"Hanya satu peringatan," bisik Glen, wajahnya kini hanya berjarak beberapa senti dari telinga Melanie. "Jangan pernah memercayai mawar yang tidak memiliki duri. Karena terkadang, bahaya terbesar justru bersembunyi di balik keindahan yang paling sempurna."
Setelah membisikkan kalimat yang terdengar seperti ramalan kuno itu, Glen mundur selangkah. Ia membungkuk hormat sekali lagi, lalu berbalik dan berjalan menjauh, menghilang di balik tikungan rak buku fiksi ilmiah, meninggalkan Melanie yang terpaku sendirian.
Melanie mendekap buku beludru marun itu erat-erat ke dadanya. Napasnya masih memburu, dan debaran di dadanya menolak untuk tenang. Di tempatnya berdiri, ia merasa dunia nyata baru saja bergeser, menyeretnya masuk ke dalam awal dari sebuah kisah fantasi yang ditulis khusus untuknya oleh pria bernama Glen. Ia tidak pernah tahu bahwa peringatan dari 'sang pangeran' siang itu, adalah awal dari duri tak kasatmata yang siap menusuk jantungnya di masa depan.
terlalu mengaitkan kisah fiksinya...