NovelToon NovelToon
Runtuhnya Hati Seorang Daren(Penyesalan Terdalam Dan Ketulusan Cinta Nadia)

Runtuhnya Hati Seorang Daren(Penyesalan Terdalam Dan Ketulusan Cinta Nadia)

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Penyesalan Suami
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Isshabell

"Kamu harus menikah dengannya Daren!" lantang suara nenek Lusi berkata pada cucunya itu.


"Aku tidak mau nek, Aku punya pilihan sendiri dan nenek tidak bisa semaunya mengatur hidupku!" suara Daren pun tak kalah lantangnya dari suara nenek Lusi.


"Baiklah kalau kamu tetap menolak menikah dengan Nadia. Sekarang nenek kasih kamu pilihan, Menikah dengan Nadia atau kamu tidak akan pernah mendapatkan warisan apapun dari nenek," suara nenek Lusi merendah tapi penuh penekanan membuat kuping Daren memerah mendengarnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Isshabell, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 4 Tanda tangan proposal kerjasama

Kalau saja Daren tidak menyetujui proposal kerjasama pihak Sanjaya yang aku ajukan kemaren, jangan harap aku akan menyetujui keinginan gila Nenek Lusi yang akan menjodohkan Daren dengan gadis kampung itu meskipun Daren berjanji kalau pertunangan itu hanya formalitas saja,"ucap Elsa yang sedang bersolek di depan kaca meja riasnya yang terletak di samping tempat tidur mewah miliknya itu sambil tersenyum sinis.

...----------------...

Sementara itu di lain tempat di rumah Daren terlihat Bu Siska sedang mencecar Daren dengan berbagai macam pertanyaan.

"Daren. Mama tidak habis pikir dengan jalan pikiran kamu itu, Kenapa kamu mau saja di jodohkan dengan gadis kampung yang tidak jelas asal usulnya itu," Bu Siska menatap Daren tajam.

"Ma, aku sudah berkali-kali bilang ke Nenek kalau aku tidak setuju dengan rencana perjodohan itu, tapi Nenek tetap bersikeras melakukannya."

"Kamu juga harusnya lebih tegas dong Daren, masak kamu kalah sama Nenek, jelas-jelas kamu sudah di beri kuasa atas perusahaan Wijaya oleh Nenek, seharusnya kamu itu bisa menolak dengan tegas rencana gila Nenek kamu itu," Bu Siska mulai menunjukkan kekesalannya pada Daren.

"Ma, aku bisa apa kalau Nenek sudah mengatakan kalau hak waris untukku dari keluarga Wijaya akan di cabut kalau aku tidak setuju dengan rencana perjodohan itu."

"Apa! Nenek sampai segitunya mau mencabut hak waris kamu hanya gara-gara gadis kampung yang tak ada gunanya itu," mata Bu Siska mendelik seolah mau keluar dari cangkangnya setelah mendengar perkataan Daren tentang ultimatum dari Nenek Lusi.

"Ya. Nenek memang egois hanya karena perempuan kampung itu sudah menyelamatkan nyawanya, Nenek merasa punya hutang Budi yang sangat besar pada perempuan kampung itu," ucap Daren masih dengan nada kesal yang amat sangat kalau mengingat kembali keputusan Nenek Lusi yang sangat merugikan dirinya.

"Tapi kenapa harus kamu yang jadi korbannya Daren," ucap Bu Siska.

"Ya. Karena hanya aku satu-satunya cucu laki-laki Nenek di keluarga Wijaya kan?" Daren mengangkat kedua bahunya sambil tersenyum kecut.

"Tapi kamu hanya berpura-pura saja kan menuruti kemauan Nenek tentang perjodohan ini? " Bu Siska memiringkan kepalanya menatap Daren serius.

"Jelas lah Ma, mana mungkin aku setuju dengan rencana perjodohan itu, aku melakukan nya hanya untuk melindungi aset keluarga Wijaya supaya aman dan tidak jatuh ke tangan orang lain selain aku," Daren menegakkan kepalanya dengan sombong.

"Bagus kalau begitu, kamu harus berpura-pura mengikuti permainan Nenek dan ingat Daren jangan sampai kamu jatuh cinta pada perempuan yang gak jelas asal usulnya itu," Bu Siska mulai mengintimidasi Daren.

"Ma, aku gak akan pernah jatuh cinta pada perempuan kampungan kayak Nadia itu, bahkan untuk melihatnya saja aku sudah cukup jijik," ucap Daren dengan mimik muka tidak suka saat menyebutkan nama Nadia.

"Bagus. Lantas bagaimana kamu menjelaskan pada Elsa tentang situasi ini?" tanya Bu Elsa pada Daren sambil menggigit buah apel New Zealand yang berwarna merah marun yang di pegangnya itu.

"Aku sudah bicarakan baik-baik dengan Elsa Ma, awalnya dia bersikeras tidak terima dengan perjodohan ini, tapi setelah aku jelaskan kalau aku hanya berpura-pura menjalani perjodohan ini demi aset keluarga Wijaya akhirnya dia mau menerima juga tapi dengan satu syarat kalau aku harus menyetujui proposal kerjasama dengan keluarga Sanjaya yang dia ajukan beberapa Minggu yang lalu."

Bu Siska menganggukkan kepalanya pelan sambil bergumam dalam hatinya " Elsa benar-benar jeli memanfaatkan kondisi ini, tapi....tak apalah toh ini juga demi perluasan jaringan bisnis kedua keluarga besar ini."

"Ma, aku berangkat ke kantor dulu," pamit Daren kemudian pada Bu Siska.

Bu Siska menganggukkan kepalanya, lalu Daren pun bergegas pergi meninggalkan mamanya dan berjalan menuju ke garasi tempat mobilnya di parkir di sana.

...----------------...

Di gedung kantor Daren terlihat Elsa sedang berbicara dengan sekertaris Daren.

"Maaf non Elsa, Pak Daren nya masih belum datang, jadi non Elsa silahkan tunggu Pak Daren di loby dulu," ucap sekertaris itu dengan penuh hati-hati dan sangat sopan sekali karena dia tahu kalau Elsa adalah calon istri Daren, pimpinannya.

"Kenapa emangnya kalau gak ada Daren, aku gak boleh masuk ke dalam ruang kerjanya hah!" Elsa mulai emosi berkata pada sekertaris tersebut.

"Emm, bukan begitu non Elsa, masalahnya kita sudah di pesenin sama Pak Daren kalau ada tamu suruh tunggu di lobby dan tidak boleh masuk ruang kantor bapak," sekertaris itu menjelaskan pada Elsa.

"Tapi aku kan bukan orang asing....aku ini calon istri Daren...paham gak sih kamu, hah!" Elsa mulai menaikkan nada suaranya karena kesal pada sekertaris Daren yang ngeyel terus dari tadi.

"Oh iya non Elsa, maafkan saya tapi saya hanya menjalankan tugas dari Pak Daren," sekertaris itu menundukkan kepalanya takut Elsa marah lagi.

"Ah sudahlah, aku mau masuk ke dalam," Ucap Elsa bersungut-sungut sambil ngeloyor pergi menuju ke ruangan Daren.

"Tapi non..." sekertaris itu hanya menatap Elsa dengan cemas dia tidak melanjutkan kata-katanya lagi saat melihat Elsa sudah berjalan menuju pintu ruang kerja Daren.

Elsa mendorong pintu kayu jati berselimut vernis berkilat itu dengan kasar, mengabaikan tatapan cemas dari sekretaris Daren yang berada di meja depan. Dia langsung menghempaskan tubuhnya ke atas kursi kebesaran Daren, menyilangkan kakinya yang jenjang dengan angkuh. Tangannya mengetuk-ngetuk meja marmer, sementara matanya menatap tajam ke arah pintu, menanti sang pemilik ruangan tiba.

​Tidak butuh waktu lama, pintu ruangan akhirnya terbuka. Daren melangkah masuk dengan langkah tegap, namun dahinya langsung berkerut begitu mendapati sosok Elsa yang sudah duduk manis di kursinya.

Elsa? Kamu sudah di sini?" tanya Daren, sedikit terkejut namun ekspresi dinginnya langsung mencair, digantikan oleh senyuman tipis. Dia berjalan mendekati meja kerjanya.

​Elsa tidak langsung menjawab. Dia bangkit dari kursi, melangkah anggun mendekati Daren, lalu melingkarkan tangannya di leher pria berusia tiga puluh lima tahun itu. "Lama sekali, Sayang. Aku bahkan harus berdebat dengan sekertaris mu yang tidak tahu sopan santun itu hanya untuk masuk ke ruangan calon suamiku sendiri," adu Elsa dengan nada manja yang dibuat-buat, meski kilat matanya tetap memancarkan keangkuhan.

Daren menghela napas pendek, mengelus rambut Elsa dengan lembut. "Mereka hanya menjalankan prosedur kantor, Elsa. Jadi, mana proposal kerjasama Sanjaya Group yang kamu bicarakan kemarin?"

​Mendengar kata 'proposal', senyum Elsa semakin melebar. Dia melepaskan pelukannya, berjalan menuju meja dan mengambil sebuah map dokumen tebal berlambang Sanjaya Group dari dalam tas branded-nya. Dia menyerahkannya kepada Daren dengan tatapan menuntut. "Ini. Aku mau kamu menandatanganinya sekarang juga, Daren. Ini bukti kalau kamu memang tidak main-main dengan janjimu padaku soal pernikahan formalitas itu."

Daren menerima map tersebut. Tanpa ragu sedikit pun, dan tanpa membaca detail pasal di dalamnya secara mendalam karena rasa bersalahnya pada Elsa, Daren mengambil pena montblanc dari saku jasnya. Dengan beberapa goresan tegas, tanda tangan Daren resmi tertera di atas kertas proposal investasi bernilai miliaran rupiah itu.

​"Sudah," ucap Daren sambil menyerahkan kembali map itu pada Elsa. "Dana segar untuk perluasan jaringan kedai modern Sanjaya akan cair sore ini. Sekarang kamu percaya kan kalau posisimu tidak akan pernah tergantikan oleh gadis kampungan itu?"

Elsa menerima map itu seperti seorang pemenang yang baru saja mendapatkan piala. Matanya berkilat puas. "Terima kasih, Daren. Aku tahu kamu tidak akan mengecewakanku," ucap Elsa, mengecup pipi Daren sekilas.

​Namun, di dalam kepalanya, otak licik Elsa sudah bekerja lebih jauh. Mendapatkan tanda tangan kerja sama ini barulah langkah awal. Target utamanya tetaplah menyingkirkan Nadia sepenuhnya dari radar keluarga Wijaya.

Sambil merapikan dokumennya, Elsa memasang wajah manis yang manipulatif. "Oh ya, Daren. Untuk merayakan kerja sama baru kita dan pembukaan cabang kedai Sanjaya minggu depan, aku berniat mengadakan perjamuan kuliner besar. Aku... ingin mengundang Nadia. Sebagai calon tunanganmu, dia harus mulai diperkenalkan ke lingkungan kita, bukan?" tanya Elsa dengan nada suara yang terdengar sangat bijak dan perhatian.

​Daren mendengus kencang, menggelengkan kepalanya acuh tak acuh. "Untuk apa mengundang perempuan itu? Dia hanya akan mempermalukan kita."

Hush, tidak boleh begitu. Biar bagaimanapun, Nenek Lusi pasti senang kalau melihat aku bersikap baik pada pilihan beliau," bujuk Elsa lagi, membelai dada Daren dengan lembut. "Biarkan aku yang mengirimkan undangannya secara pribadi, oke?"

​Daren akhirnya mengangguk pasrah. "Terserah kamu saja, Elsa. Atur saja sesukamu."

​Setelah berpamitan dengan Daren, Elsa melangkah keluar dari ruangan kerja itu dengan langkah yang angkuh. Begitu pintu lift tertutup rapat dan dia hanya sendirian di dalam, senyuman manis di wajah cantik Elsa lenyap seketika, digantikan oleh seringai menyeramkan yang penuh dengan kebencian.

1
partini
bikin mereka ga bisa berpisah nek ,ayo lah nek be smart
partini
lagian ada" saja mau di Pepet terus juga percuma lah wong ga ada rasa di hati buat kamu loh ren
partini
pastinya ga perduli Nadia kan ga ada rasa sama kau Darren
partini
rasain loh 🤭🤭🤭
ayo berfikir Darren istri mu sayang banget sama nenekmu harusnya kamu lebih pintar mengunakan nenekmu untuk mendekati istri mu
partini
aku kira lagi Ina inu thor
Isshabell: ah kakak..🤭
total 1 replies
partini
rutuh yah aduhh
partini
gampang banget masuk rumah CEO behhh ga ada pengaman ga ada cctv juga wow
partini
ga cuma pengemis Maaaf tapi cinta juga loh ,,dari sinopsisnya seperti itu ya Thor di tunggu part di mana babang bego mengemis cintahhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh
partini
mantap Nadia bikin suami mu ga bisa tenang CEO bego mau aja di kadalin
partini
iya juga ngapain juga mikirin mereka berdua,,bisa agak bar bar ga Thor Nadia nya
Isshabell: gitu ya kak🤭
total 1 replies
partini
nice
Isshabell: terimakasih kak .....
total 1 replies
partini
minum aja yg banyak habis itu Ina inu aihhhhh CEO 1/2 ons ,,aku benci Ama si nenek Thor bikin sengsara orang aja
partini
nek kamu malah bikin seorang perempuan di hina di rendah kan dan di sakiti kaya bintang cuma mau bikin cucumu sadar tega kamu nek
partini
mau di apain cucumu nek ,lagi tergila gila ma pacarannya mau dengar kalau iya cuma masuk telinga kiri keluar telinga kanan susah cucumu CEO 1/2 ons
partini
ikuti aja alur nya Nadia nanti juga jatuh cinta kalau sudah tau betapa beratnya sang kekasih untuk sekarang masih cinta buta mau ini itu ga bakal mempan adanya kamu yg sakit hati
jadi bar" dikit nad jangn lembek yg bisanya cuma mewek doang
Isshabell: hai kak maksih ya sdh mampir🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!