Bara, hantu pemula dengan nilai pas-pasan, mendapat tugas akhir: meneror penghuni apartemen dalam 30 hari atau turun derajat jadi hantu kelas teri. Masalahnya, korbannya adalah Dinda, content creator horor yang skeptis dan malah mengkritik teknik menakut-nakuti Bara karena "kurang estetik".
Di tengah tekanan KPI dari supervisor hantu yang toksik dan tuntutan algoritma media sosial, Bara justru terjebak menjadi asisten pribadi Dinda. Akankah Bara berhasil menyelesaikan magangnya, atau malah gagal total karena terlalu asyik berdebat soal lighting dan angle kamera?
Sebuah komedi horor segar tentang hantu yang takut PHK dan manusia yang takut unfollow.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Denny Priyanto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Serangan Dari Lereng Gunung
"Sinyal kekuatan primordial terdeteksi dengan kuat di dalam rumah utama desa," suara salah satu penyusup terdengar jelas melalui radio komunikasi yang terpasang di lehernya. "Kekuatan tersebut sesuai dengan data yang kita terima dari operasi di sekitar Gunung Merapi. Izinkan untuk menyerang dan mengambil target segera sebelum mereka memiliki kesempatan untuk melakukan sesuatu yang tidak diinginkan."
Sebelum perintah bisa diberikan dari pusat kendali mereka, tanah di sekitar penyusup mulai bergoyang dengan kuat. Batang bambu besar yang tebal dengan cepat muncul dari bawah tanah, membentuk pagar yang kokoh dan tinggi di antara mereka dan gerbang desa. Batang-batang bambu tersebut kemudian saling menyilang satu sama lain dengan presisi yang luar biasa, menciptakan penghalang yang tampak tidak mungkin ditembus. Dari balik pagar bambu yang baru terbentuk itu, Mira berdiri dengan gagah dengan tangan terangkat ke atas, wajahnya penuh ketegasan namun tetap tenang. Di sekelilingnya, beberapa anggota komunitas lainnya muncul dengan tenang – sebagian membawa senjata tradisional seperti keris dan tombak yang sudah diberi doa, sementara yang lain membawa alat-alat sederhana yang dipadukan dengan teknologi lokal yang efektif.
"Kalian tidak akan mendapatkan apa-apa di sini," teriak Mira dengan suara yang kuat dan jelas, terdengar jelas meskipun ada jarak yang cukup jauh. "Pulanglah sekarang sebelum terlambat dan kalian harus merasakan konsekuensi dari tindakanmu. Kekuatan yang kalian cari bukan milik manusia yang hanya berpikir untuk diri sendiri!"
Salah satu penyusup yang tampaknya menjadi pemimpin mereka menunjukkan tidak peduli dengan peringatan itu. Ia mengangkat senjatanya dan mencoba menembak pagar bambu dengan peluru khusus yang diklaim bisa menembus segala jenis penghalang. Namun, ketika peluru menyentuh permukaan bambu, ia hanya terpantul dengan kuat dan melesat ke arah langit, meninggalkan jejak kecil yang cepat hilang di udara malam. Lapisan energi yang membungkus desa bekerja dengan sempurna, menolak segala bentuk serangan yang datang dengan niat jahat.
"Tidak masalah," ucap pria dengan jas hitam yang berdiri di depan layar besar di lokasi rahasia di tengah gurun pasir jauh di luar negeri, melihat semua kejadian melalui kamera yang terpasang di baju setiap penyusup. Wajahnya tidak terlihat jelas di balik bayangan yang dihasilkan oleh penerangan yang minim di ruangan itu, namun suara yang keluar dari mulutnya penuh dengan keserakahan dan keyakinan bahwa ia akan mendapatkan apa yang diinginkannya. "Rencana A mungkin tidak berhasil, tapi kita sudah menyusun rencana B jauh sebelum ini. Siapkan unit kedua untuk menyerang dari arah pegunungan – melalui jalur pendakian yang jarang digunakan dan dianggap tidak bisa dilewati. Mereka tidak bisa melindungi semua sisi desa sekaligus, terutama bagian yang berada di lereng gunung yang curam."
Di atas langit, pesawat tanpa awak berwarna hitam pekat yang telah mengorbit diam-diam selama beberapa jam mulai turun ketinggian secara perlahan, siap melepaskan pasukan kedua yang lebih kuat dan lengkap dengan peralatan khusus untuk menembus sistem perlindungan alamiah desa. Di dalam rumah Ki Ageng, Dinda dan Bara berdiri bersebelahan dengan sikap siap siaga, tangan mereka hampir bersentuhan sebagai bentuk dukungan satu sama lain. Ki Ageng berdiri di belakang mereka, tangannya mulai menyentuh alat musik tradisional yang terletak di sisi kanannya – sebuah gamelan dengan bentuk yang unik dan ukiran yang indah yang sudah ada di sana selama berabad-abad.
"Perjuangan yang sebenarnya mulai sekarang, anak-anak," ucap Ki Ageng dengan suara yang penuh kekuatan dan kebijaksanaan, kemudian mulai memainkan nada pertama pada gamelan tersebut. Suara gendang yang dalam dan merdu mulai terdengar, menyatu dengan irama alam yang ada di sekitar desa dan menciptakan harmoni yang luar biasa. "Sekarang kamu akan melihat betapa kuatnya ketika kekuatan tradisi dan masa depan bekerja bersama-sama untuk melindungi apa yang berharga."
Suara gamelan Ki Ageng semakin merdu dan kuat, menyebar ke seluruh penjuru desa seperti gelombang energi yang menghubungkan setiap jiwa yang tinggal di sana. Anak-anak yang tadinya bermain dengan riang segera diantar ke dalam rumah oleh orang tua mereka, sementara para pemuda dan lansia yang mampu berkibar mengumpulkan diri di titik-titik strategis yang telah ditentukan. Cahaya dari berbagai sumber alamiah – lilin yang dibuat dari lemak hewan lokal, minyak kelapa yang dibakar dalam wajan tanah, hingga cahaya yang terpancar dari batu permata yang disimpan di setiap rumah – mulai menyala dengan lebih terang, membentuk pola perlindungan yang tampak seperti peta bintang di atas desa.
"Unit kedua sudah siap untuk melakukan pendaratan di koordinat yang telah ditentukan," suara dari radio di tangan pria berkostum hitam terdengar jelas di ruangan gelap gurun. "Mereka akan menggunakan peralatan peluncur udara untuk mendarat di lereng selatan Gunung Lawu, sekitar dua kilometer dari lokasi target. Perkiraan waktu sampai di desa: tiga puluh menit."
Pria itu mengangguk tanpa mengubah ekspresinya, matanya tetap terpaku pada layar besar yang menampilkan gambar real-time dari udara. "Beritahu mereka untuk bekerja cepat dan hati-hati. Kekuatan alamiah yang mereka hadapi bisa sangat tidak terduga. Jika tidak bisa mengambil target hidup-hidup, maka hilangkan saja mereka – kita tidak bisa membiarkan kekuatan primordial itu jatuh ke tangan orang lain."
Di lereng selatan Gunung Lawu, lima sosok berpakaian seragam hitam dengan perlengkapan pelindung udara melesat dari dalam pesawat tanpa awak, menggunakan parasut khusus yang bisa menyamarkan bentuk tubuh mereka agar tidak terlihat dari bawah. Mereka mendarat dengan sangat lembut di antara semak belukar dan batu besar yang menjulang tinggi, kemudian segera menghilangkan perlengkapan penerbangan dan menggantiinya dengan sepatu khusus yang bisa mengurangi suara langkah kaki mereka di tanah berbatu dan berumput.
"Semua unit siap," suara pemimpin unit kedua terdengar melalui komunikasi internal. "Kita akan mengambil jalur melalui sungai bawah tanah yang telah kita peta sebelumnya. Jalur ini akan membawa kita tepat ke belakang rumah utama desa, jauh dari posisi pertahanan mereka yang ada di depan gerbang."
Sementara itu, di desa, Bara sedang melakukan pemindaian menyeluruh terhadap seluruh area sekitar menggunakan teknologi yang ada padanya. Clipboard-nya sekarang menyala dengan berbagai warna yang menunjukkan jenis dan lokasi setiap objek yang terdeteksi. Ia menggerakkan tangannya dengan cepat di atas layar hologram yang muncul di depannya, menganalisis setiap data yang masuk dengan presisi tinggi.
"Terdeteksi adanya gerakan di lereng selatan gunung," suara kecerdasan buatan di dalam kepalanya memberitahu. "Lima objek dengan profil energi yang sama dengan penyusup pertama. Mereka sedang bergerak melalui jalur bawah tanah yang tidak terdeteksi oleh sistem perlindungan alamiah desa. Perkiraan waktu kedatangan mereka ke lokasi target: dua puluh lima menit."
Bara segera menghampiri Ki Ageng dan Dinda yang sedang berbicara dengan Mira serta para pemimpin pertahanan desa. "Mereka datang dari belakang! Ada lima orang lagi yang menggunakan jalur sungai bawah tanah untuk menyelinap masuk. Aku bisa melihat rute mereka melalui peta bawah tanah yang terinduksi oleh sistemku."
Ki Ageng mengangguk perlahan, tetap bermain gamelan dengan ritme yang tidak terganggu. "Aku sudah merasakan keberadaan mereka jauh sebelum kamu mendeteksinya, Bara. Jalur itu adalah salah satu cara masuk yang diketahui oleh leluhur kita – kita sengaja tidak menutupinya agar bisa mengetahui sejauh mana mereka bersedia pergi untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan." Ia kemudian menoleh ke arah seorang pemuda yang berdiri dengan membawa sebuah tabung kayu besar. "Anto, bawalah 'Genta Keseimbangan' yang disimpan di kamar pusaka. Waktunya telah tiba untuk mengaktifkan pertahanan terakhir desa."
Anto mengangguk dengan hormat dan berlari pergi dengan cepat. Sementara itu, Dinda merasakan bagaimana energi Barong dan Rangda di dalam dirinya semakin kuat, seolah mereka juga merasakan bahaya yang semakin dekat. Pola cahaya di tangannya kini mulai menyebar ke lengan dan kaki nya, membentuk pola yang indah namun penuh kekuatan. "Aku bisa merasakan mereka ingin membantu," ucap Dinda dengan suara yang sudah jauh lebih mantap. "Mereka ingin melindungi desa ini dan semua orang yang tinggal di sini."
"Kamu harus mempercayai mereka, Dinda," ucap Mira yang berdiri di sebelahnya, tangannya juga mulai memancarkan cahaya hijau muda yang berasal dari kekuatan bumi yang ada di dalam dirinya. "Kekuatan alamiah tidak pernah bekerja sendiri – mereka selalu membutuhkan hubungan dengan manusia yang bisa menjadi saluran bagi mereka untuk bertindak."
Beberapa menit kemudian, Anto kembali membawa sebuah tabung kayu besar yang dihiasi dengan ukiran naga dan burung phoenix yang saling melilit. Di dalam tabung tersebut terdapat sebuah genta besi tua yang telah dipoles hingga mengkilap, dengan ukiran simbol-simbol kuno yang tampak bersinar ketika terkena cahaya bulan. Ki Ageng berhenti bermain gamelan sejenak, kemudian berdiri dan mengambil genta tersebut dengan hati-hati.
"Ini adalah Genta Keseimbangan," ucap Ki Ageng sambil mengangkat genta ke atas kepalanya. "Dibuat oleh leluhur kita lebih dari seribu tahun yang lalu untuk mengaktifkan jaringan pertahanan terbesar desa. Setiap kali genta ini berbunyi, seluruh desa akan menjadi satu kesatuan energi yang tidak bisa ditembus oleh siapa pun yang datang dengan niat jahat."
Ia kemudian mulai membunyikan genta tersebut dengan ritme yang lambat namun kuat. Suara lonceng yang dalam dan jernih menyebar ke seluruh desa, bahkan terdengar sampai ke lereng gunung yang jauh. Seperti merespons suara genta tersebut, tanah di sekitar desa mulai bergetar dengan lembut, dan dari setiap sudut pemukiman muncul cahaya warna-warni yang membentuk kubah besar di atas desa.
Di dalam sungai bawah tanah, penyusup unit kedua merasa tiba-tiba sulit bernapas. Udara yang tadinya segar menjadi panas dan berat, sementara jalanan di dalam sungai mulai menyempit secara perlahan.
"Apa yang terjadi?" teriak salah satu penyusup dengan panik. "Sistem menunjukkan bahwa jalur ini semakin kecil – seolah tanah sedang bergerak untuk menutupinya!"
"Jangan panik! Kita sudah hampir sampai di ujung jalur. Bergerak lebih cepat!"
Mereka berlari dengan sekuat tenaga di dalam sungai yang semakin menyempit, sampai akhirnya keluar di sebuah lorong sempit di belakang rumah Ki Ageng. Namun, apa yang mereka lihat membuat mata mereka melebar dengan kagum dan sedikit takut. Kubah energi warna-warni telah membentang dengan sempurna di atas desa, dan di depan mereka berdiri Dinda, Bara, Mira, serta sepuluh anggota komunitas desa yang sudah siap bertempur.
"Kalian tidak akan melangkah lebih jauh dari sini," ucap Dinda dengan suara yang penuh kekuatan, pola cahaya di tubuhnya kini sudah terbentuk menjadi sosok Barong dan Rangda yang saling mengelilingi dirinya.
Pemimpin penyusup mengangkat senjatanya dengan cepat.
"Serang saja! Jangan biarkan mereka menghalangi kita!"
Namun sebelum mereka bisa melakukan apa-apa, Bara sudah bergerak dengan kecepatan luar biasa. Ia menggunakan stun sticknya untuk menghalangi serangan pertama dari salah satu penyusup, sementara Mira mengangkat tangannya ke atas dan membuat tanah di bawah kaki penyusup bergoyang dengan kuat.
Salah satu penyusup mencoba menembak ke arah Dinda, namun peluru tersebut hanya terpantul oleh kubah energi yang mengelilinginya dan melesat ke arah langit. Dinda kemudian mengangkat tangannya ke atas, dan dari dalam dirinya muncul dua bentuk energi yang jelas – sosok Barong yang gagah dengan warna emas keemasan, dan sosok Rangda yang megah dengan warna merah tua.
"Apa ini...Apa yang terjadi dengan aku?" bisik salah satu penyusup dengan suara yang lemah, menjatuhkan senjatanya ke tanah. Ia merasa seperti semua keinginan untuk menyerang dan mengambil kekuatan itu tiba-tiba hilang, digantikan oleh rasa bersalah dan pemahaman bahwa apa yang mereka lakukan adalah salah.
Pemimpin penyusup mencoba bertahan, namun akhirnya juga tidak mampu menahan gelombang energi yang penuh dengan kebenaran dan kedamaian. Ia jatuh lutut di tanah, wajahnya penuh dengan kesadaran bahwa mereka telah melakukan kesalahan besar.
Di lokasi rahasia gurun, pria berkostum hitam melihat dengan marah ketika layar besar menunjukkan bahwa kedua unit penyusupnya telah gagal. Beberapa dari mereka bahkan mulai berbalik arah dan berlari pergi dari desa, sementara yang lain hanya duduk diam dengan wajah penuh kesadaran.
"Ini tidak mungkin!" teriaknya dengan marah, menjatuhkan cangkir yang ada di tangannya ke lantai. "Siapkan semua unit yang kita miliki! Kita akan menyerang dengan kekuatan penuh besok pagi. Aku tidak peduli apa yang harus kita lakukan – kekuatan primordial itu harus menjadi milik kita!"
Di desa, setelah semua penyusup ditangkap atau melarikan diri, Ki Ageng mendekati Dinda yang sedang duduk dengan lelah di atas batu besar di halaman rumahnya. Bara sedang memeriksa kondisi para penyusup yang ditangkap, sementara Mira dan anggota desa lainnya sedang membersihkan area dan merawat yang terluka.
"Kamu telah melakukan yang terbaik, Dinda," ucap Ki Ageng dengan senyum hangat. "Barong dan Rangda telah menunjukkan bahwa mereka benar-benar siap bekerja sama denganmu untuk melindungi yang berharga."
Dinda mengangguk lembut, merasa sangat lelah namun juga penuh dengan rasa lega dan kebahagiaan.
"Aku hanya berbuat apa yang harus kulakukan, Ki Ageng. Dan aku tidak bisa melakukannya tanpa bantuan teman-teman di desa ini serta Bara."
"Sistemku menunjukkan bahwa ada aktivitas besar dari arah gurun – mereka sedang mempersiapkan serangan skala besar. Kita tidak punya banyak waktu untuk bersiap."
Ki Ageng mengangguk dengan wajah yang semakin serius. "Kita tahu bahwa ini bukan akhir dari masalah kita. Besok pagi, setelah upacara pemersatu selesai, kita harus segera menghubungi komunitas lain di seluruh Indonesia.