NovelToon NovelToon
SARUNG TANGAN PENGHANCUR GUNUNG

SARUNG TANGAN PENGHANCUR GUNUNG

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Epik Petualangan / Balas Dendam
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Danzo28

Bagi Zei, dunia hanyalah hamparan lumpur sawah Desa Danau Keruh dan beratnya cangkul di pundak. Namun, segalanya runtuh dan lahir kembali ketika ia menyaksikan Turnamen Musim Semi. Di atas panggung kuarsa, ia melihat Qian Yue’er—sang "Permata" dari Sekte Cendrawasih—bertarung dengan keanggunan yang menyerupai tarian burung surga.

​Terpikat oleh keindahan yang mustahil itu, Zei menolak takdirnya sebagai petani. Menggunakan Qi elemen tanah yang kasar dan memodifikasi alat tani menjadi senjata, ia nekat merangkak naik dari turnamen ke turnamen. Di tengah cemoohan kaum bangsawan yang menganggapnya "pungguk merindukan bulan", Zei harus bertarung melawan rasa mindernya sendiri.

​Ini bukan tentang menjadi yang terkuat di kolong langit, ini tentang sebuah janji naif seorang anak desa: agar bisa berdiri di panggung yang sama dan melihat sang bulan menari sekali lagi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danzo28, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

WARISAN DI DASAR JURANG

​Rasa sakit yang menjalar di seujur tubuh memaksa Zei untuk membuka matanya dengan rintihan parau. Langit-langit di atasnya bukan lagi jalinan tajuk pohon Hutan Kematian, melainkan dinding-dinding batu tebing yang mengerucut tinggi, menyisakan celah sempit tempat cahaya matahari pagi menyelinap masuk secara samar. Udara di dasar jurang ini terasa sangat dingin dan lembap, namun anehnya, sarat dengan komponen Qi tanah yang sangat murni, padat, dan tenang—berbeda total dengan energi liar yang bergolak di atas sana.

​Zei menoleh dengan susah payah. Di sampingnya, di atas hamparan lumut tebal yang melunakkan benturan jatuh mereka semalam, A-Lang terbaring pingsan. Tubuh sahabatnya itu menggigil hebat akibat hawa dingin dasar jurang yang menusuk tulang, meskipun untungnya tidak ada luka patah tulang baru karena Zei sempat memeluknya erat sebelum mereka menghantam semak belukar.

​"Aku harus mencari tempat berlindung," bisik Zei pada dirinya sendiri.

​Dengan sisa tenaga yang dipaksakan, Zei merangkak dan memapah tubuh A-Lang. Mengikuti gemercik suara air, langkah kakinya membawa mereka ke balik sebuah air terjun kecil yang mengalir di dinding tebing. Di balik tirai air yang menderu, mata tajam Zei menangkap sebuah celah gua alami yang tersembunyi dari pandangan luar.

​Begitu melangkah masuk ke dalam gua, atmosfer dingin langsung berganti dengan kehangatan yang ganjil. Struktur di dalam gua ini bukan sekadar bentukan alam; ada sisa-sisa peradaban manusia di dalamnya. Di tengah ruangan, terdapat sebuah ranjang yang dipahat dari batu giok hijau kuno. Di sudut ruangan, bersandar pada dinding gua, terdapat tumpukan tulang belulang seorang kultivator yang telah memutih murni, menandakan bahwa sosok tersebut telah wafat ratusan tahun lalu. Di atas dinding batu di dekat kerangka tersebut, sebuah kalimat diukir dalam-dalam menggunakan getaran jari yang sarat akan Qi:

​"Bumi adalah fondasi murni, menahan beban langit tanpa runtuh."

​Zei bisa merasakan sekeliling gua ini dilindungi oleh sebuah formasi kuno tak kasat mata yang mengisolasi keberadaan mereka dari predator luar. Tempat ini adalah suaka yang sempurna.

​Tanpa membuang waktu, Zei membaringkan A-Lang di atas ranjang batu giok yang entah bagaimana memancarkan hawa hangat yang menenangkan. Kondisi meridian Zei sendiri saat ini sangat kritis; robek di berbagai tempat akibat bilah angin Guo Feng dan pembekuan es yang belum pulih. Ia tahu, jika ia tidak memulihkan kekuatannya sekarang, mereka berdua hanya akan menunggu ajal di dasar jurang ini.

​Zei duduk bersila di lantai batu, lalu merogoh kantong jubah raminya yang compang-camping. Ia mengeluarkan Nei Dan (Inti Monster) Ular Sanca Sisik Beludru yang berkilau hijau tua. Tanpa keraguan sedikit pun, Zei memasukkan bola kristal hangat itu ke dalam mulutnya dan menelannya bulat-bulat.

​BOOM!

​Begitu inti monster itu melebur di dalam perutnya, energi elemen kayu kehidupan yang sangat masif dan meluap-luap meledak, membanjiri seluruh jalur meridian Zei. Energi itu terasa seperti air bah yang hijau, panas, dan liar. Di bawah kondisi normal, elemen kayu akan mengikis elemen tanah milik Zei. Namun, saat teringat tulisan di dinding gua tentang bumi sebagai fondasi, Zei mengubah taktik kegilaannya.

​Alih-alih menolak energi kayu tersebut, Zei menggunakan Qi tanah murninya untuk membungkus dan mengompres energi hijau itu di dalam dantiannya. Ia membiarkan esensi kehidupan dari elemen kayu tersebut menyembuhkan, merajut kembali, dan meregenerasi dinding-dinding meridiannya yang robek. Simbiosis alami terjadi: tanah menyerap nutrisi dari kayu untuk menjadi lebih subur dan kaya.

​Secara perlahan, pendaran warna emas di sekujur kulit Zei bangkit kembali. Namun kali ini, cahayanya tidak lagi redup atau liar seperti aura hitam semalam. Cahaya itu bertransformasi menjadi warna emas kecokelatan yang sangat padat, berkilau murni sekeras kuarsa sejati. Kultivasinya tidak hanya pulih, tetapi fondasi fisiknya telah ditempa menjadi jauh lebih kuat dari sebelumnya.

​Zei membuka matanya yang kini memancarkan aura ketenangan bumi yang dalam. Ia langsung bangkit, melangkah ke arah A-Lang, dan menempelkan telapak tangannya ke dada sahabatnya itu. Zei menyalurkan sisa energi kehidupan elemen kayu yang lembut dari dalam dantiannya ke tubuh A-Lang. Dalam beberapa hembusan napas, hawa menggigil A-Lang lenyap, dan luka dalam akibat hantaman gada besi di dadanya perlahan sembuh total tanpa bekas.

​A-Lang melenguh pelan sebelum akhirnya membuka sepasang matanya. Ketika melihat wajah Zei yang kini tampak lebih segar dan penuh energi, air mata kebahagiaan nyaris menetes dari sudut matanya. "Zei... kita... kita belum mati?"

​Zei tersenyum lebar, menepuk pundak A-Lang dengan erat. "Kita selamat, Kawan. Dan kita akan menjadi lebih kuat setelah ini."

​Ikatan persaudaraan di antara kedua pemuda desa itu kini telah melampaui batas darah, ditempa oleh maut yang berhasil mereka lalui bersama.

​Zei kemudian melangkah mendekati kerangka kultivator kuno di sudut gua untuk mencari petunjuk jalan keluar dari dasar jurang ini. Di samping kerangka yang telah memutih itu, tergeletak sebuah gulungan peta kuno berbahan kulit binatang yang tampaknya menggambarkan jalur bawah tanah rahasia menuju Ibu Kota Wilayah. Namun, perhatian Zei teralih pada sebuah cincin perunggu kuno berpola gunung yang tersemat di jari kerangka tersebut—sebuah cincin penyimpanan (spatial ring) kuno yang disegel oleh sisa energi spiritual yang pekat.

​Tepat saat jari Zei terulur dan menyentuh permukaan cincin perunggu tersebut, sebuah getaran mistis yang sangat kuat mendadak terpancar ke udara.

​WUSH!

​Sisa energi espiritual dari cincin itu meledak keluar, membentuk gumpalan kabut asap putih yang perlahan memadat di tengah gua. Kabut itu bertransformasi menjadi sesosok proyeksi ilusi bayangan jiwa (Soul Clone) seorang pria tua berambut putih panjang dengan jubah kebesaran kuno yang megah.

​Sepasang mata ilusi pria tua itu mendadak terbuka, memancarkan tekanan spiritual masif yang membuat seluruh gua bergetar hebat. Tatapan matanya yang tajam langsung mengunci sosok Zei yang berdiri terpaku.

​"Siapa yang berani mengusik peristirahatan terakhir Tetua Agung Sekte Bumi Suci?" suara ilusi itu menggelegar, memenuhi rongga gua dengan gema kekuasaan purba yang menuntut jawaban mutlak.

1
y@y@
👍🏾⭐👍🏻⭐👍🏾
y@y@
💥🌟👍🏿🌟💥
y@y@
👍🏿⭐👍🏻⭐👍🏿
y@y@
🌟👍🏾👍🏼👍🏾🌟
y@y@
💥👍🏿👍🏻👍🏿💥
y@y@
🌟👍🏾👍🏼👍🏾🌟
y@y@
⭐👍🏿👍🏻👍🏿⭐
y@y@
💥👍🏾👍🏼👍🏾💥
y@y@
🌟👍🏿👍🏻👍🏿🌟
y@y@
⭐👍🏾👍🏼👍🏾⭐
y@y@
💥🌟👍🏻🌟💥
y@y@
⭐👍🏾👍🏼👍🏾⭐
y@y@
👍🏿👍🏻🌟👍🏻👍🏿
y@y@
💥👍🏾👍🏼👍🏾💥
y@y@
⭐👍🏿👍🏻👍🏿⭐
y@y@
🌟👍🏼👍🏻👍🏼🌟
y@y@
⭐👍🏿👍🏾👍🏿⭐
y@y@
👍🏻⭐👍🏿⭐👍🏻
y@y@
👍🏾🌟👍🏼🌟👍🏾
y@y@
💥🌟👍🏼🌟💥
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!