NovelToon NovelToon
Melody Cinta Yang Salah

Melody Cinta Yang Salah

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Teen / Idola sekolah
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Jjamiyuu09

Jolina Zaneva, siswi SMA, diam-diam mencintai gitaris band idolanya—sosok yang hanya ia kenal lewat lagu dan layar. Meski dilarang ibunya, ia nekat datang ke konser, berharap mimpinya menjadi nyata.
Namun malam itu berubah menjadi mimpi buruk ketika Jolina melihat idolanya memperlakukan seorang gadis dengan kasar. Amarah mengalahkan kekaguman—dan sebuah tamparan mengakhiri rasa cinta yang ia simpan diam-diam.
Sejak saat itu, Jolina membenci lelaki yang pernah ia puja. Hingga takdir kembali mempertemukan mereka dalam hubungan yang jauh lebih rumit. Perlahan, Jolina mulai meragukan apa yang ia lihat malam itu.
Saat rahasia terungkap, Jolina harus memilih: bertahan pada kebencian, atau berani mendengarkan kebenaran di balik melodi yang pernah ia cintai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jjamiyuu09, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Part 02

Langkah kaki Jolina masih terasa ringan meski konser telah usai. Kepalanya dipenuhi dentingan gitar, sorak penonton, dan suara ribuan orang yang menyanyikan lagu yang sama. Rasanya seperti mimpi—mimpi yang terlalu nyata untuk sekadar diceritakan ulang.

“Gue masih nggak percaya kita barusan nonton konser itu,” gumam Zoya sambil memeluk lengannya sendiri.

Audrey tertawa kecil. “Sama. Rasanya kayak… surreal.”

Mereka berjalan menuju area keluar ketika sebuah suara memanggil Audrey dari belakang.

“Drey.”

Audrey menoleh. “Kak!”

Seorang pria dengan ID staf menggantung di leher menghampiri mereka. Wajahnya lelah, tapi senyumnya ramah. Ia menepuk bahu Audrey singkat sebelum melirik ke arah Jolina dan Zoya.

“Teman-teman kamu?” tanyanya.

Audrey mengangguk cepat. “Iya, Kak.”

“Kalau mau,” lanjut pria itu santai, “ikut aku sebentar. Beberapa personel Glass Horizon masih di belakang.”

Kalimat itu seperti petir di tengah malam.

Jolina membeku.

“Hah?” Zoya spontan bersuara.

Audrey menoleh ke mereka dengan mata berbinar. “Kakak gue salah satu staf di sini. Kita bisa ketemu beberapa anggota band.”

Detak jantung Jolina langsung tak beraturan. Tangannya terasa dingin, perutnya mulas tiba-tiba. Bertemu langsung? Bukan dari jauh. Bukan dari layar.

Langsung.

“Jo?” Zoya menyenggol lengannya. “Lo oke?”

Jolina menelan ludah. “O-oke.”

Padahal tidak. Sama sekali tidak.

Mereka mengikuti kakak Audrey melewati lorong yang lebih sempit dan redup. Suasananya berbeda—lebih sunyi, lebih sibuk, penuh orang lalu-lalang dengan headset dan walkie-talkie. Jolina berusaha menenangkan napasnya, namun setiap langkah terasa semakin berat.

Tiba-tiba—bruk!

Seorang gadis bermasker menabraknya dari samping.

“Aduh, kak! Gimana sih!” gadis itu refleks berseru.

Ice coffee di tangannya tumpah, membasahi lengan Jolina.

“Maaf, kak, maaf!” lanjut gadis itu panik.

Jolina refleks mundur selangkah. “Udah-udah, gapapa.”

Meski lengannya basah dan lengket, Jolina memilih tak mempermasalahkannya. Ini bukan waktu yang tepat untuk ribut.

“Kalian duluan aja,” ucapnya cepat sambil menatap Audrey dan Zoya. “Gue mau ke toilet.”

“Toilet sebelah kiri ya, Jolin,” kata kakak Audrey sambil menunjuk arah.

Zoya langsung menawarkan diri. “Gue temenin—”

“Nggak usah,” potong Jolina halus. “Gue bisa sendiri.”

Gadis bermasker itu sudah berlalu entah ke mana. Jolina menarik napas, lalu berjalan menuju toilet.

Di depan wastafel, ia membasuh lengannya dengan air. Cairan lengket itu perlahan luntur, tapi alis Jolina mengernyit. Tidak ada bau kopi. Sama sekali tidak. Yang ada justru aroma menyengat, asing, dan membuat hidungnya sedikit perih.

“Aneh…” gumamnya.

Namun ia memilih tak berpikir jauh. Mungkin minuman lain. Mungkin pikirannya saja yang terlalu lelah. Setelah memastikan lengannya bersih, Jolina mengeringkannya dengan tisu dan segera keluar dari toilet.

Baru beberapa langkah…

Suaranya terdengar.

Bukan musik. Bukan tawa.

Nada rendah. Tajam. Marah.

Langkah Jolina melambat, lalu berhenti. Jantungnya berdebar pelan, nalurinya berkata untuk mundur—tapi rasa penasaran menahannya di tempat.

Ia memundurkan langkah sedikit, bersembunyi di balik dinding lorong, lalu mengintip.

Dan saat itulah dunia Jolina runtuh dengan cara yang sama sekali tak ia duga.

Di sana berdiri Jr.

Gitaris yang beberapa menit lalu ia teriakkan namanya sepenuh hati.

Wajah Jr tidak tersenyum. Rahangnya mengeras, matanya tajam. Di depannya—gadis bermasker itu. Gadis yang menabraknya tadi.

“Apa sih masalah lo?” suara Jr terdengar dingin.

Gadis itu mundur setengah langkah. “Aku cuma—”

Jr mendorongnya.

Tidak keras, tapi cukup membuat gadis itu kehilangan keseimbangan dan membentur dinding.

Jolina menutup mulutnya dengan tangan.

Dadanya terasa sesak.

Itu… bukan yang ia bayangkan. Bukan idola yang ia kagumi. Bukan sosok yang ia cintai lewat lagu-lagu.

Itu terlihat seperti… kemarahan. Seperti penindasan.

Gadis itu menunduk, bahunya bergetar. Jr masih berdiri di depannya, tubuhnya menjulang, bayangannya menekan.

Jolina tidak mendengar kelanjutan kata-kata mereka. Yang ia tahu hanya satu hal—

Melodi yang ia cintai sejak lama, malam ini terdengar sangat… salah.

Cup kopi itu terdengar jatuh.

Entah terlepas dari genggaman, atau sengaja dijatuhkan.

Suara cek! kecil itu menggema di lorong sempit, cukup untuk membuat Jolina menahan napas. Detik berikutnya terasa berjalan lambat. Otaknya berteriak untuk menjauh, berpura-pura tidak melihat apa pun. Tapi kakinya justru melangkah maju.

Jolina memantapkan diri.

“Apa yang lo lakuin?!”

Suara itu keluar lebih keras dari yang ia kira.

Jr dan gadis bermasker itu sama-sama menoleh. Mata gadis itu sembab, air mata membasahi pipinya. Tangannya gemetar saat ia berusaha menutup tubuhnya sendiri, seolah sedang melindungi diri dari sesuatu yang tak terlihat.

Tanpa pikir panjang, Jolina mendorong Jr menjauh.

“Jangan sentuh dia!”

Jr terhuyung setengah langkah ke belakang. Wajahnya terlihat terkejut—atau mungkin bingung. Ekspresinya datar, sulit ditebak.

“Ternyata lo itu orangnya kayak gini, ya?” suara Jolina bergetar oleh amarah. “Di depan panggung sok ramah, tapi di belakang malah nindas perempuan?”

Jr mengerutkan kening. “Lo kalau nggak tau apa-apa, mending diem aja.”

“Gue diem?” Jolina tertawa pendek, sinis. “Gue nggak bisa diem kalau ngeliat cowok nindas cewek!”

“Nindas?” Jr mendengus. “Gue? Dia itu—”

Belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya, gadis itu tiba-tiba berteriak.

“Tolong! Jangan dekat-dekat gue!”

Suara itu melengking, memecah ketegangan.

Jr refleks menoleh. “Eh, lo kenapa tiba-tiba teriak?”

“Mundur lo!” Jolina berdiri di depan gadis itu, matanya menyala. “Jangan dekat-dekat!”

Namun Jr justru melangkah maju satu langkah. “Gue sama sekali nggak lakuin apa-apa.”

“Dia bohong,” suara gadis itu lirih tapi jelas. “Dia bohong…”

Jr menatapnya tajam. “Gue? Bohong?”

Detik itu juga—

Plak!

Tamparan Jolina mendarat di pipi Jr.

Suara itu menggema, lebih keras dari cup kopi yang jatuh tadi.

Lorong seakan membeku.

Jr menatap Jolina dengan mata membelalak, tak percaya. Ada bekas merah di pipinya, tapi yang lebih jelas terlihat adalah keterkejutan di wajahnya. Jolina sendiri terengah, dadanya naik turun, tangannya gemetar—antara marah dan kecewa.

Beberapa detik kemudian, langkah kaki tergesa terdengar mendekat.

“Ada apa ini?” seorang staf menghampiri mereka. “Apa yang terjadi?”

Gadis bermasker itu tidak menjawab. Ia menunduk, lalu tiba-tiba berlari menjauh, meninggalkan mereka tanpa sepatah kata pun.

Jolina menatap punggung gadis itu yang menghilang, lalu kembali menoleh ke Jr. Tangannya bergerak cepat, membuka gelang konser di pergelangan tangannya.

Ia menjatuhkannya ke lantai—tepat di hadapan Jr.

“Menyesal gue pernah ngefans sama lo,” ucapnya dingin.

Di saat yang sama, Audrey dan Zoya berlari menghampiri.

“Jolin!” Zoya terengah. “Lo ke mana aja? Kita khawatir—”

Kalimatnya terhenti ketika melihat Jr, staf, dan wajah Jolina yang tegang.

“Lo… udah ketemu Jr?” tanya Audrey pelan, ragu.

Namun Jolina tidak menjawab. Ia berbalik, melangkah pergi tanpa menoleh lagi. Raut wajahnya kesal, matanya basah tapi menahan diri untuk tidak menangis.

“Kita pulang sekarang,” ucapnya singkat.

Zoya dan Audrey saling pandang, bingung dan cemas—lalu mengikuti Jolina tanpa bertanya lebih jauh.

Di belakang mereka, Jr masih berdiri di tempatnya, menatap gelang konser di lantai dengan ekspresi yang tak bisa dijelaskan.

Dan malam itu, bagi Jolina, melodi yang dulu ia cintai… resmi berubah menjadi kebencian.

1
Sasya
Ditunggu crazy up nyaa thooooorrrr 😍😍
Sasya
Bisa langsung 5 part sekaligus ga Thor?? 🤣🤣
Chuyoung56
Lanjut author 💪💪💪
Parkhanayaa
lanjut min cepetan
Parkhanayaa
Jeremy tuh pelakunya, yakin gue
Cewenya Sunghoon
Wkwk makin kacauu ini masalah merek, dari gitar yg belum kelar, ini jaket orang juga jadi korban
Choiwonhee
Ini si Jeremy balas dendam nya, malah jaket orang yg di rusakin
Choiwonhee
Ada udang di balik batu, Jeremy pura-pura ga tauuuu
Rossa
Wkwk ga seruuu Thor kalau mereka berantem kek gini🤭
Rossa
Hahah kayaknya aku tau, siapa pelakunya 🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!