Di kota megah yang dipenuhi gemerlap lampu malam dan dosa, nama Aragon De Hartmann dikenal sebagai raja mafia paling kejam dan tak tersentuh. Di balik kekuasaan, uang, dan darah yang mengalir di tangannya, Aragon hidup dalam kegelapan.
Sementara itu, Aurora, seorang gadis panti asuhan yang sederhana dan lembut, berjuang hidup sendirian setelah panti tempat ia dibesarkan terancam ditutup oleh kelompok kriminal. Demi menyelamatkan anak-anak kecil di sana, Aurora nekat mendatangi seorang pria yang paling ditakuti di seluruh kota, dia adalah Aragon De Hartmann.
Pertemuan mereka seharusnya hanya sebuah transaksi.
Namun, tatapan mata Aurora yang hangat perlahan menghancurkan dinding dingin di hati sang mafia. Untuk pertama kalinya Aragon mulai merasakan sesuatu yang hampir ia lupakan, yaitu cinta dan harapan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alistia Haka, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 5
Para preman itu akhirnya pergi dari panti asuhan dengan wajah penuh amarah. Suara makian dan ancaman mereka masih terdengar samar di tengah derasnya hujan sore itu. Sebelum melangkah masuk ke dalam mobilnya, Bulldog sempat menoleh tajam ke arah Aurora yang berdiri gemetar di depan gerbang.
“Aku beri kau waktu untuk berpikir,” ucapnya dingin dengan senyum penuh tekanan.
”Menikahlah denganku jika kau ingin panti asuhan ini tetap berdiri. Kalau tidak, bersiaplah melihat semuanya dihancurkan.”
Setelah mengatakan itu, Bulldog masuk ke mobilnya dan pergi bersama anak buahnya, meninggalkan suasana mencekam di halaman panti asuhan.
Aurora masih berdiri terpaku di bawah hujan. Baju, tubuh dan rambutnya sudah basah kuyup, tubuhnya gemetar bukan hanya karena dingin, tetapi juga karena rasa takut dan tekanan yang terus menghimpit dadanya. Bibirnya pun mulai semakin membiru dan wajahnya pucat.
Para suster segera menghampirinya dengan wajah penuh khawatir. Salah satu dari mereka memegang bahu Aurora dengan lembut, mencoba menenangkannya.
“Aurora, masuk dulu. Tubuhmu bisa sakit jika terus kehujanan,” ujar suster Paulin dengan suara lembut.
Aurora hanya menunduk pelan, berusaha menahan air matanya agar tidak jatuh di depan anak-anak panti yang diam-diam memperhatikannya dari balik jendela.
Para suster kemudian membawa Aurora masuk ke dalam. Mereka menyiapkan air hangat dan pakaian ganti agar gadis itu bisa mandi lebih dulu dan menenangkan dirinya.
“Biarkan kami yang akan memikirkan jalan keluarnya bersama. Kita pasti menemukan cara untuk menyelamatkan panti asuhan ini agar tidak ditutup. Kau jangan khawatir Aurora. Pekerjaanmu sudah terlalu banyak, kami tidak bisa membebanimu lagi, apalagi kau sudah 20 tahun seharusnya kau sudah hidup mandiri di luar. Tapi kau masih saja menanggung kami di sini. Maaf kan kami Aurora.” Kata Suster Magdalena.
Aurora menggenggam erat handuk di tangannya. Meski hatinya dipenuhi ketakutan, ia tahu satu hal pasti, ia tidak akan membiarkan panti asuhan yang telah menjadi rumah bagi begitu banyak anak itu hancur begitu saja.
“Tidak Suster. Kita harus memikirkannya bersama, aku juga bagian dari panti ini. Aku tumbuh besar di sini, panti ini adalah rumah ku dan adik-adikku. Kalian sudah seperti ayah dan ibu ku.” Kata Aurora menangis.
*****
Ruang makan kecil di panti asuhan itu terasa begitu sunyi malam itu. Hanya suara hujan yang masih turun di luar jendela menemani suasana penuh kecemasan. Lampu kuning redup menerangi wajah Aurora dan ketiga suster yang duduk mengelilingi meja kayu tua.
Di atas meja terdapat beberapa berkas tagihan, surat peringatan penggusuran, serta laporan keuangan panti yang semakin memburuk.
Aurora menggenggam cangkir teh hangat di tangannya erat-erat. Matanya terlihat lelah setelah kejadian sore itu, namun ia masih berusaha berpikir tenang.
“Kalau kita meminjam uang bagaimana?” ucap Aurora pelan memecah keheningan. “Mungkin ada bank atau seseorang yang mau membantu. Setidaknya kita bisa membayar sementara agar panti ini tidak ditutup. Aku akan membayar cicilan angsurannya.”
Ketiga suster saling berpandangan sebelum akhirnya Suster Teresa menghela napas berat.
“Aurora… Jumlah uang yang diminta oleh Bulldog dan si pemilik tanah pasti besar,” katanya lirih. “Bahkan jika kita meminjam, kita tidak akan mampu membayarnya kembali.”
“Tapi kita tidak bisa menyerah begitu saja!” balas Aurora dengan suara mulai bergetar. “Anak-anak di sini tidak punya tempat lain.”
Suster Magdalena kemudian menggenggam tangan Aurora lembut.
“Kami tahu kau sangat menyayangi tempat ini,” ujarnya penuh rasa iba. “Tapi kau juga harus memikirkan dirimu sendiri. Kau hanya bekerja sebagai pegawai kontrak di beberapa tempat. Gajimu bahkan tidak cukup untuk menanggung kebutuhan panti apalagi di tambah hutang sebesar itu.”
Aurora menunduk diam.
Ucapan itu memang menyakitkan, tetapi semuanya adalah kenyataan.
Selama ini Aurora bekerja siang dan malam hanya untuk membantu kebutuhan panti asuhan. Namun penghasilannya tetap tidak akan mampu menyelamatkan tempat sebesar ini dari ancaman penggusuran.
“Kalau begitu biarkan aku menikah dengan Bulldog.” Kata Aurora akhirnya, meski sangat sakit ia menahan tangisnya di dalam kerongkongannya, kalimat itu lolos juga.
“Tidak! Kami tidak akan menyerahkanmu pada Bulldog!” Tegas Suster Paulin.
“Aurora… Kau pantas bahagia dan hidup dengan penuh berkat! Aku bersumpah tidak akan merestui ucapanmu itu! Bulldog. Pria itu adalah iblis!” Kata Suster Teresa dengan wajah takut sekaligus wajah iba pada Aurora.
“Kalaupun kau menikah dengannya, suatu saat jika dia bosan panti ini akan runtuh juga. Pria itu kejam Aurora, dia terkenal suka main wanita setelah bosan tidak ada lagi yang tersisa dari para wanita itu!” Suster Teresa menahan tangis ketika ia melihat tubuh mungil Aurora, gadis yang ia besarkan.
“Gaji mu tidak akan cukup, jadi jangan berhutang. Kau juga tidak boleh menikah dengan Herder. Pembicaraan ini berhenti. Kita pikirkan besok lagi.” Kata Suster Magdalena meskipun ia tahu tak akan ada lagi hari esok.
Ruangan kembali hening.
Jam dinding tua menunjukkan hampir tengah malam, tetapi mereka masih belum menemukan jalan keluar apa pun.
Setelah pembicaraan panjang yang berakhir buntu, para suster akhirnya meminta Aurora untuk beristirahat lebih dulu.
“Sekarang tidur lah sayang. Kau terlihat sangat lelah. Aku takut kau jatuh sakit. Kami akan memikirkannya lagi.” Kata Suster Paulin membelai kepala Aurora dengan lembut.
Aurora hanya mengangguk pelan sebelum berjalan menuju kamarnya.
Langkahnya terasa berat.
Begitu pintu kamar tertutup, Aurora perlahan duduk di tepi ranjang kecilnya. Cahaya bulan samar masuk melalui jendela yang basah oleh hujan.
Ia menutup wajahnya dengan kedua tangan.
Untuk pertama kalinya malam itu, air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya jatuh juga.
Tubuhnya bergetar pelan menahan tangis.
Aurora merasa begitu tidak berdaya.
Panti asuhan itu adalah rumah bagi anak yang tidak memiliki siapa-siapa. Tempat itu juga menjadi satu-satunya keluarga yang ia miliki sejak kecil.
Namun sekarang, semuanya berada di ambang kehancuran. Dan yang paling membuatnya takut adalah kenyataan bahwa ia sama sekali tidak tahu bagaimana cara menyelamatkannya.
Malam semakin larut.
Hujan di luar mulai mereda, menyisakan suara tetesan air yang jatuh dari atap panti asuhan. Aurora masih belum bisa tidur. Ia duduk sendirian di atas ranjang kecilnya sambil memeluk lutut.
Pikirannya penuh.
Tentang ancaman Herder.
Tentang anak-anak panti.
Tentang bagaimana semuanya bisa hancur dalam hitungan jam, karena saat ini mereka di kejar waktu yang telah di berikan oleh Herder.
Dengan napas lelah, Aurora akhirnya meraih ponselnya yang tergeletak di samping bantal. Ia membuka media sosial hanya untuk mengalihkan pikirannya sejenak.
Namun tanpa diduga, nama yang terus muncul di layar ponselnya justru membuatnya terdiam.
Aragon De Hartmann.
Bersambung