NovelToon NovelToon
Wasiat Terakhir Ibu

Wasiat Terakhir Ibu

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Dokter / Romansa
Popularitas:4.6k
Nilai: 5
Nama Author: Yehppee

🍀AYO, MAMPIR 🍀
Galang Langit jatmika sama sekali tidak mengenal sosok Hanum Sekar Salsabila.

Tapi di ranjang kematian ibunya, ia di paksa mengucap ijab Kabul untuk menikahi gadis itu.

"Nikahi Sekar, jaga gadis itu untuk ibu."

Pernikahan tanpa cinta, masa lalu yang datang, dan rumah tangga yang semakin terasa hambar.

Tapi bagaimana kalau wasiat itu justru jadi jalan satu-satunya untuk menyembuhkan hati mereka berdua yang penuh luka?


Yuk, cari jawabannya di sini 🍀

°°°°°°°°

Jangan lupa subscribe, like, vote, dan komen🫶

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yehppee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 7. Singel?

Lampu ruang operasi akhirnya padam setelah hampir empat jam menyala tanpa henti. Pintu otomatis terbuka perlahan, menampilkan sosok dokter anestesi yang sejak tadi sibuk mempertahankan kondisi pasien tetap stabil di meja operasi.

Galang Langit jatmika berjalan keluar sambil melepas sarung tangan medisnya satu per satu. Langkahnya tenang, tetapi jelas menyimpan lelah. Kemeja scrub hijau yang dikenakannya sedikit kusut di bagian lengan, sementara masker putih masih menggantung di dagunya.

"Alhamdulillah selesai juga," gumam seorang perawat sambil meregangkan bahu.

"Pasiennya sempat drop tadi ya, Dok?" tanya perawat lain.

Galang mengangguk kecil. "Tensinya turun cepat waktu penutupan. Tapi sekarang aman."

Nada bicaranya datar seperti biasa.

Di rumah sakit itu, hampir semua orang mengenal Galang sebagai dokter dingin, profesional, dan sulit ditebak. Ia tidak banyak bicara di luar urusan pekerjaan. Jarang ikut bercanda. Bahkan nyaris tidak pernah membahas kehidupan pribadinya.

Namun justru sikap itulah yang membuat banyak orang penasaran.

"Dok Galaaaang!"

Suara perempuan terdengar dari ujung lorong operasi.

Dokter Melisa Wulandari berjalan mendekat sambil membuka penutup kepalanya. Rambut hitam kecokelatannya terurai sedikit berantakan setelah operasi panjang tadi. Meski lelah, wajahnya masih tampak segar dengan senyum yang tak pernah absen ketika melihat Galang.

"Good job tadi," ujarnya sambil berdiri di samping Galang. "Kalau bukan kamu anestesinya, aku udah stres duluan."

Galang hanya menatap sekilas. "Tim bedahnya juga bagus."

"Tumben muji." Melisa tertawa kecil.

Dua orang dokter muda yang sedang duduk di nurse station langsung saling melirik jahil.

"Nah lho..." salah satunya menyenggol temannya. "Dok Melisa senyum terus kalau ada Dok Galang."

"Dari dulu kali," timpal yang lain pelan, tapi cukup terdengar.

Melisa pura-pura melotot. "Kalian nih ya."

Namun pipinya sedikit memerah.

Bukan rahasia lagi kalau dokter spesialis bedah itu menyukai Galang. Hampir semua orang di rumah sakit tahu. Melisa sering mencari jadwal operasi yang sama dengan Galang, sering membawakan kopi, bahkan beberapa kali terang-terangan membela Galang saat rapat.

Sayangnya, lelaki itu tidak pernah memberikan respons lebih.

Bukan menolak.

Tapi juga membuka pintu.

"Dok Galang besok free enggak?" tanya Melisa santai sambil menyandarkan tubuh di meja.

"Lihat jadwal."

"Kalau enggak sibuk, makan bareng yuk. Kita udah lama enggak nongkrong."

Sebelum Galang menjawab, dokter Ardi yang baru datang langsung tertawa.

"Wah wah wah...modus nih."

"Tuh kan," sahut perawat lain. "Dok Melisa mah, enggak pernah menyerah."

Melisa terkekeh malu. "Berisik banget sih kalian."

Ardi malah semakin semangat menggoda. "Udah cocok sebenarnya kalian tuh. Sama-sama spesialis, sama-sama pintar. Tinggal akad aja."

"Benar!" seru yang lain.

"Pasang favorit rumah sakit!"

"Kalau nikah jangan lupa aula rumah sakit dipakai resepsi!"

Tawa langsung pecah di nurse station.

Melisa menunduk malu-malu sambil tersenyum kecil. Sesekali matanya melirik Galang, berharap lelaki itu setidaknya membalas candaan dengan senyum tipis.

Namun Galang tetap memasang wajah datar.

Ia mengambil botol air mineral lalu meminumnya perlahan seolah tidak tertarik dengan pembicaraan itu.

"Eh, serius deh, Dok," Ardi kembali menyenggol bahu Galang. "Kamu tuh sebenernya enggak punya pacar atau gimana sih?"

"Jangan-jangan diam-diam udah tunangan."

"Atau malah udah nikah?" celetuk seorang perawat sambil tertawa.

Melisa ikut menatap Galang penuh rasa ingin tahu.

Suasana mendadak terasa menunggu.

Namun bukannya menjawab, Galang justru menutup botol minumnya pelan lalu melangkah mengambil map pasien di meja.

"Laporan pos-op saya taruh di ruangan," katanya singkat.

"Lah, kok kabur?" Ardi tertawa keras.

"Jawab dulu woy!"

"Dok Galang malu-malu nih!"

Melisa ikut tertawa kecil meski ada rasa penasaran mengganjal di dadanya.

"Ya udah deh, Minimal kasih tahu satu hal," ujarnya sambil berjalan mengikuti langkah Galang beberapa meter. "Ada perempuan yang lagi deket sama kamu gak?"

Galang berhenti sebentar.

Namun hanya sebentar.

Tatapan matanya lurus ke depan, sulit ditebak apa yang sedang dipikirkannya.

Entah kenapa, di kepalanya justru terlintas wajah Sekar.

Perempuan itu pagi tadi menyiapkan sarapan sederhana. Bahkan saat Galang akan berangkat kerja, Sekar mengantarnya meski sampai ambang pintu seraya meminta dirinya untuk hati-hati.

Galang menekan rahangnya pelan.

Pernikahan itu terjadi terlalu cepat. Terlalu mendadak. Bahkan sampai sekarang ia masih belum benar-benar memahami bagaimana hidupnya berubah hanya dalam satu malam karena permintaan terakhir ibunya.

Ia menikahi Sekar demi menenangkan ibunya sebelum meninggal.

Bukan karena cinta.

Dan Galang sadar betul dirinya belum sepenuhnya menerima hubungan itu sebagai rumah tangga yang utuh.

"Dok Galang?"

Suara Melisa membuyarkan lamunannya. Galang menoleh singkat. Namun lagi-lagi tidak menjawab pertanyaan tadi.

"Aku keruangan dulu," katanya pendek.

"Hah? Ya ampun, dihindari lagi," keluh Ardi dari belakang.

"Galang mah enggak seru!"

"Dingin banget sih jadi orang."

Beberapa orang kembali tertawa.

Melisa ikut tersenyum, walau samar terlihat kecewa.

.

.

.

Malam turun pelan, udara Garut terasa semakin dingin setelah hujan gerimis selepas magrib tadi. Angin sesekali masuk melalui celah jendela ruang tamu, membuat tirai tipis bergoyang perlahan.

Di tengah rumah, Sekar duduk di kursi dengan mata lelah karena mengantuk. Berkali-kali ia melirik ke arah jam dinding yang kini jarumnya telah menunjukkan pukul setengah sembilan malam.

Di atas meja tersedia segelas teh manis hangat yang sengaja dibuat Sekar sejak tadi. Uapnya mulai menipis perlahan.

Sekar menunduk, jemarinya memainkan ujung lengan cardigan dengan gelisah.

Suara motor lewat di depan rumah membuat Sekar refleks menoleh cepat. Namun ternyata hanya tetangga yang baru pulang.

Bukan Galang.

Sekar mengembuskan napas kecil lalu kembali menatap gelas teh di meja. Tadi sore, Sekar sempat mengirimkan pesan menanyakan kapan pulang dan Galang hanya menjawab singkat kalau ada operasi malam.

Tidak ada penjelasan lebih, bahkan tidak ada janji akan pulang jam berapa. Dan Sekar juga tidak berani bertanya lebih jauh. Hubungan mereka masih terlalu rapuh untuk hal-hal sederhana seperti itu.

Ia sempat ingin masuk kamar dan tidur lebih dulu. Namun setiap kali berdiri, langkahnya malah berhenti lagi di ruang tamu.

Sekar melirik foto Bu Rahman di atas lemari kecil dekat televisi. Matanya sedikit menghangat.

"Aku berusaha, Bu..." gumamnya lirih hampir tidak terdengar. "Walau pun masih bingung harus gimana."

Tak lama kemudian terdengar suara gerbang depan bergeser.

Sekar sepontan berdiri. Jantungnya berdetak sedikit lebih cepat.

Sorot lampu mobil akhirnya menyapu halaman rumah yang gelap.

Galang pulang.

Sekar segera berjalan ke arah pintu depan lalu membukanya sebelum lelaki itu sempat mengetuk.

Udara malam langsung menerpa wajahnya.

Galang baru saja turun dari mobil dengan wajah lelah. Kemeja putih tadi pagi sudah terlihat kusut, bahkan sudah di gulung sampai siku.

Begitu melihat Sekar sudah berdiri di depan pintu, tatapan Galang sedikit berubah samar.

"Aa baru pulang..." ucap Sekar pelan.

"Hm."

Galang menutup pintu mobil lalu berjalan masuk ke rumah. Saat melewati ruang tamu, matanya menangkap segelas teh hangat di atas meja.

"Kamu belum tidur?"

Sekar menggeleng kecil. "Nunggu Aa."

Jawaban itu membuat langkah Galang melambat sepersekian detik. Entah kenapa, ada rasa asing yang menyentuh dadanya.

"Lain kali enggak usah nunggu," katanya datar sambil melepas jam tangan. "Kalau capek tidur aja."

Sekar menunduk kecil. "Iya..."

Galang duduk di sofa lalu meletakkan jas putihnya di sisinya. Tatapannya kembali jatuh pada teh hangat di meja.

"Kamu bikin teh?"

"Iya."

Galang meraih gelas itu lalu meminumnya sedikit.

"Lusa, teman-temanku akan datang ke rumah buat melayat. Sekalian katanya mau ngeliwet." Ujar Galang seraya menoleh ke arah Sekar. "Kamu bisa....sudahlah, biar aku meminta Teh Mila aja--"

Sekar menjawab cepat. "Aku bisa, aku...aku bisa bikin liwet, biar nanti aku siapkan."

Galang menatap Sekar lebih lama. Suara cicak membuat Galang buru-buru memalingkan wajahnya.

"Aku...mau mandi dulu," ucap Galang seraya beranjak dari duduknya.

"Mau aku siapkan air panasnya? Sekarang...dingin," ujar Sekar lalu tertunduk.

Galang berdeham, "tidak usah. Kamu...tidur duluan saja."

Galang berdiri, entah kenapa suasana jadi canggung. Saat Galang hendak melangkah tak sengaja tulang keringnya menyenggol ujung meja membuat pria itu meringis.

"Kenapa A? Sakit ya? Mau aku obati? Tunggu, biar aku bawa kotak P3K dulu." Ujar Sekar sibuk sendiri.

"Enggak perlu, aku enggak apa-apa. Kamu...ke kamar duluan. Aku...mandi dulu." Ujar Galang seraya berjalan menuju ke arah belakang.

Entah kenapa kalimat itu membuat tengkuk Sekar meremang, jantungnya berdetak semakin tak karuan.

"Kenapa dia menyuruhku ke kamar duluan? A-apa..."

kedua bola mata Sekar membulat, gadis itu menggigit bibir bawahnya. Ada rasa takut dan khawatir, namun ia sadar statusnya sekarang.

.

.

.

Apa yang akan terjadi?????🤭🤭🤭🤭

Tunggu bab selanjutnya 🫶

Bersambung....

1
Gemuruh riuh
kiw, mulai ada rasa nih
Gemuruh riuh
awas aja kalo tiba-tiba jadi asing
Gemuruh riuh
cie cie 🤭
Gemuruh riuh
yu Galang Pepet terus istrimu! jangan sampe di ambil mantan nya😭
Gemuruh riuh
cie cie mulai gombal, pasti di ajarin Ardi nih🤣🤭
Gemuruh riuh
ah baru aja mau gosip🤣
Gemuruh riuh
Ardi ini tipe rusuh banget 🤭
Gemuruh riuh
iya sih rata-rata kenapa ya suka padanya kapan hamil, seolah pertanyaan itu tuh udah biasa
Gemuruh riuh
waduh 😲
Gemuruh riuh
Galang berantem yuk🫵
Gemuruh riuh
Bu Dian ini tipe tetangga kalau nurunin kulkas langsung kepanasan
Gemuruh riuh
nih orang blak-blakan banget 😭🤣
Alia Chans
Jleb😯😯
falea sezi
lanjut bkin cerai aja dah laki. bloon bgt dikira istrimu g ada yg suka apa
falea sezi
istrimu di gondol pebinor kapok lu lang😒 jd suami cuek bgt🤣 arif uda siap tuh nrima janda mu🤣
falea sezi
🤣kampret di prank
falea sezi
😍 ganteng amat dokternya aduhh
🍀 YEHPPEE 🍀: silahkan di pilih kak😁
total 1 replies
Gemuruh riuh
ih Galang jahat banget mulutmu! awas aja nanti-nanti nelen ludah sendiri
Gemuruh riuh
wkwkwkw teh Emi lucu nih, jangan sampe Sekar satu circle sama teh emi🤣
Gemuruh riuh
Jangan-jangan Sekar putus sama dokter Arif gara-gara milih nikah sama Galang ya???
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!