NovelToon NovelToon
Orang Malas? Tidak Saya Adalah Immortal

Orang Malas? Tidak Saya Adalah Immortal

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Xianxia / Mengubah Takdir
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: Pencari Dao Sejati

​"Kultivasi energiku memang kembali jadi kecoa, tapi dengan fisik dewa ini... jika ada master yang mencoba meninjuku, tangannya sendiri yang akan patah menjadi tebu!"
​Seratus tahun disiksa dan dibuang ke kolam darah Gunung Ming akibat konspirasi kejam di masa lalunya, Lin Ling akhirnya berhasil bangkit. Melalui ritual terlarang yang membakar habis basis kultivasi Nascent Soul-nya, ia melebur esensi Ular Purba Mahayana dan Kristal Dao Agung untuk menciptakan sebilah wadah kedewaan baru.
​Namun, takdir bercanda dengannya. Tubuh barunya menjelma menjadi monster dengan kekuatan fisik murni ranah Mahayana Lapisan 1, tetapi dantian spiritualnya kosong melompati segala bentuk Qi. Karena bakatnya terkunci di Akar Spiritual Kelas Menengah, Lin Ling terpaksa harus merangkak kembali dari dasar bumi—ranah Body Tempering lapisan pertama.
​Trauma masa lalu? Dendam yang meledak-ledak? Tidak ada waktu untuk itu! Lin Ling yang baru telah menjelma menjadi sosok Immortal yang bebas, konyol, super santai

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pencari Dao Sejati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jejak Monster di Hutan Batu

Pagi musim dingin itu terasa jauh lebih sunyi dan mencekam dibanding biasanya.

​Bahkan area karavan di jalan utama desa yang biasanya riuh sebelum fajar, kini tampak lengang. Suara para pedagang yang biasanya saling bersahutan menawarkan barang dagangan terdengar sayup-sayup dan tertahan, seolah-olah ada sekat tak terlihat yang membuat udara di sekitar ikut menegang.

​Di dekat sebuah api unggun besar yang mulai meredup, beberapa pemburu gunung berpengalaman berkumpul dengan wajah tegang, berbicara dengan nada suara yang sangat rendah.

​"Jejaknya... ditemukan lagi pagi ini."

"Di wilayah utara, tepat di pintu masuk hutan batu."

"Ada beberapa pohon kuno berdiameter dua pelukan orang dewasa yang tumbang berkeping-keping, seperti dihantam oleh palu raksasa dari langit..."

​Salah satu pemburu paruh baya menghela napas berat, tangannya yang memegang busur bergetar samar. "Monster seperti itu... bukan sesuatu yang bisa dihadapi oleh manusia fana seperti kita. Bahkan jebakan besi terbaik kita akan hancur seperti ranting kering jika tergilas olehnya."

​Percakapan penuh ketakutan itu hanyut bersama embusan angin malam yang sedingin es, sebelum akhirnya menghilang di antara keramaian pasar yang tidak lagi terasa hangat.

​Sementara itu, di dalam gubuk kayu kecil di sisi timur desa, Nenek tua duduk di sebuah bangku rendah dekat tungku api. Matanya yang keruh menatap kosong ke arah sebuah keranjang bambu kosong yang bersandaran di sudut ruangan.

​Api di dalam tungku menyala dengan sangat lambat, memberikan sedikit kehangatan di tengah ruangan yang sederhana dan sunyi itu. Namun, kerutan di dahi Nenek tidak juga mengendur.

​"Xiao Yu..." suara Nenek terdengar sangat pelan, namun membawa bobot kekhawatiran yang teramat berat. "Untuk beberapa hari ke depan... jangan pergi ke gunung utara dulu. Tinggallah di rumah membantu Nenek."

​Lin Ling, yang saat itu sedang duduk bersila di lantai sambil mengikat tali jerami untuk persiapan memotong kayu, mendadak menghentikan gerakan tangannya. Jemari mungilnya masih menggenggam ujung tali yang kasar, namun dia tidak bergerak lagi selama beberapa detik.

​Di dekat tungku tanah liat, beberapa potong Kayu Batu Gunung sisa kemarin masih tersisa. Api yang dihasilkan dari kayu tersebut menyala dengan sangat stabil dan memancarkan hawa panas yang jauh lebih kuat dibanding kayu biasa.

​Lin Ling menatap nyala api itu sekilas. Otak taktisnya langsung bekerja. Dengan adanya rumor tentang monster di gunung, pasokan Kayu Batu Gunung di pasar pasti akan mandek total hari ini. Artinya, harga jual untuk satu ikat kayu bisa melonjak naik menjadi tiga atau bahkan empat koin perak.

​Namun...

​Tatapannya perlahan bergeser dari tungku api menuju ke arah Nenek tua. Wajah renta itu tampak sangat lelah, garis-garis usianya terlihat semakin dalam di bawah temaram cahaya api, dan yang paling jelas—ada rasa takut yang tulus akan keselamatan diri Lin Ling yang tidak disembunyikannya sama sekali.

​Lin Ling terdiam beberapa saat, menekan ego dinginnya sebelum akhirnya bertanya singkat, "Kenapa?"

​Nenek tua itu menghela napas kecil, tubuhnya yang bungkuk tampak sedikit gemetar. "Para pemburu di pasar bilang ada sesuatu yang mengerikan sedang bangun di utara gunung. Mereka tidak tahu pasti wujud makhluk apa itu, tapi saat ini tidak ada satu pun kelompok pemburu berani mendekat terlalu jauh ke batas hutan batu."

​Ruangan kembali jatuh ke dalam kesunyian yang pekat.

​Di luar gubuk, angin musim dingin berembus kencang, melewati celah-celah dinding kayu yang renggang dan menciptakan suara siulan parau yang konstan.

​Lin Ling menunduk, menatap telapak tangannya yang mulai dipenuhi kapalan tipis akibat kapak besi. Dia melihat keranjang kosong, lalu meraba kantong uang berisi sisa koin perak di balik lengannya. Musim dingin baru saja dimulai, dan jika mereka berhenti mengumpulkan kayu sekarang, semua modal yang dia kumpulkan akan habis dalam hitungan minggu, dan mereka akan kembali ke titik nol.

​Jari-jari mungilnya perlahan mengencang, mencengkeram tali jerami hingga memutih.

​"Aku akan pergi sebentar saja, Nenek," ucap Lin Ling akhirnya, nadanya tetap datar namun tidak bisa dibantah.

​Nenek tua itu langsung menegakkan tubuhnya yang rapuh dengan panik. "Xiao Yu!"

​Nada suara Nenek terdengar lebih tegas dari biasanya, mencerminkan rasa sayang yang mendalam agar anak angkatnya tidak mengantarkan nyawa ke sarang monster.

​Lin Ling tidak langsung menjawab untuk berdebat. Dengan gerakan yang tenang, dia menyelesaikan simpul ikatan tali di tangannya, berdiri perlahan, lalu menyampirkan keranjang bambu kosong itu ke punggung kecilnya.

​"Aku tidak akan masuk terlalu dalam ke wilayah dalam. Hanya di tepi luar hutan batu," kalimat itu keluar dari mulut Lin Ling sebagai sebuah penenang untuk memotong perdebatan.

​Nenek tua itu berdiri diam, menatap sosok kecil berbaju merah tua di depannya dengan pandangan mata yang berkaca-kaca. Wajahnya tampak ingin melarang dengan keras, namun melihat keteguhan yang mutlak di sepasang mata hitam Lin Ling, dia akhirnya hanya bisa menghela napas panjang yang sarat akan kepasrahan.

​"Kalau begitu... berjanji pada Nenek, cepatlah pulang sebelum matahari turun."

​Lin Ling mengangguk kecil, memberikan penghormatan formalitas terakhirnya. "...Mn."

​Di pagi buta yang masih menyisakan dingin yang menusuk kulit sampai ke tulang, Lin Ling meninggalkan batas desa tanpa banyak suara. Langkah kaki kecilnya bergerak konstan menembus kabut tebal yang menyelimuti lereng bawah gunung utara.

​Di gerbang luar desa, dua pengawal berzirah kulit sempat menghentikan langkahnya.

​"Utara sedang tidak aman, Bocah!" salah satu dari mereka berkata dengan nada tegas, menghalangi jalan dengan lengan kekarnya. "Beberapa pemburu senior melihat jejak aneh yang mengerikan di sana. Jangan pergi mencari mati."

​Lin Ling mendongak, memasang wajah polos seorang anak desa yang terdesak kebutuhan perut. "Saya hanya mengambil Kayu Batu Gunung yang tumbang di tepi paling luar, Tuan. Di rumah tidak ada lagi makanan."

​Pengawal itu menatap Lin Ling cukup lama, memperhatikan pakaian merah tuanya yang lusuh, sebelum akhirnya menghela napas panjang penuh kebosanan. "Jika kau memaksa, pergilah. Tapi ingat, jangan sekali-kali melewati batas hutan batu hitam. Sekali kau melangkahi area itu, kami tidak bisa menjamin keselamatan nyawamu jika sesuatu terjadi."

​Lin Ling tidak menjawab lagi dengan kata-kata. Dia hanya mengangguk kecil sebagai tanda mengerti, lalu kembali melanjutkan langkah kakinya, meninggalkan kebisingan desa di belakang punggungnya.

​Hutan utara memiliki atmosfer yang sangat berbeda dari hutan biasa.

​Pohon-pohon di wilayah ini tumbuh lebih jarang, namun batangnya berstruktur sangat keras, berwarna kelabu kehitaman seperti batu yang telah membeku oleh waktu selama ribuan tahun. Tanahnya terasa sangat dingin saat diinjak, dan setiap langkah kaki di atas daun-daun kering memicu suara retakan yang menggema janggal di tengah keheningan yang membisu.

​Lin Ling berjalan dengan langkah yang sangat pelan, sepasang mata hitamnya bergerak liar dan tajam, mengamati setiap inci pergerakan di sekelilingnya.

​Kayu Batu Gunung dengan kualitas terbaik biasanya tumbuh melimpah di area yang agak dalam, di mana batu-batu hitam raksasa menumpuk saling tumpang tindih menyerupai reruntuhan kuno. Setelah berjalan selama satu jam menembus kabut, dia akhirnya menemukan apa yang dia cari.

​Sebuah dahan kayu tebal berwarna abu-abu gelap menempel kokoh di sela-sela bongkahan batu hitam. Saat disentuh, permukaan kulit kayu itu terasa sedingin dan sekeras logam murni.

​Lin Ling mulai mengumpulkan potongan-potongan dahan yang telah patah akibat badai dengan hati-hati, satu per satu, memasukkannya ke dalam keranjang bambunya tanpa menimbulkan suara bising.

​Namun, tepat saat dia hendak bergeser untuk mencari dahan berikutnya... langkah kaki Lin Ling mendadak terkunci di atas tanah.

​Insting dan indra taktisnya menjeritkan alarm bahaya. Ada sesuatu yang sangat tidak beres dengan struktur medan di depannya.

​Tanah lembap yang tertutup salju tipis di hadapannya tampak terbelah panjang, membentuk sebuah parit pararel yang dalam seolah-olah ada sebuah benda berbobot ribuan ton yang baru saja menyeret tubuhnya di sana. Pohon-pohon kuno di sisi kanan dan kiri jalur parit itu semuanya tumbang ke arah yang sama dengan kondisi batang yang hancur berantakan—bukan karena tebasan senjata atau hempasan angin badai, melainkan akibat tekanan fisik yang luar biasa masif dari satu arah.

​Lin Ling merendahkan tubuh mungilnya, berjongkok perlahan di tepi retakan tanah tersebut.

​Dia mengulurkan jari-jari tangannya yang mungil, menyentuh permukaan tanah yang retak dan hancur tersebut. Rasa dingin yang janggal langsung merambat ke ujung jarinya, namun di balik rasa dingin itu, ada sisa-sisa kehangatan energi spiritual aneh yang berdenyut samar.

​Manik mata hitam Lin Ling seketika menyipit tajam. Jejak kerusakan masif ini... jelas bukan milik manusia fana maupun kelompok pemburu biasa.

​Dia menggeser tatapannya, mengikuti garis parit retakan tanah itu dengan sangat teliti... hingga pandangannya berhenti di satu titik di balik semak belukar yang hancur.

​Sisik.

​Bukan hanya satu atau dua buah.

​Beberapa serpihan sisik berukuran setipis kuku manusia dewasa tertinggal di atas tanah beku yang retak. Sisik-sisik itu berwarna gelap kehijauan, memantulkan kilatan cahaya yang licin dan pekat seolah-olah dilapisi oleh lendir beracun.

​Lin Ling menahan napasnya dalam-dalam di dalam tenggorokan.

​WUSS...

​Angin musim dingin berembus melewati celah-celah pohon batu, membawa suara desiran pelan yang aneh—suara yang menyerupai sesuatu yang sangat besar sedang merayap dan menggesek permukaan bumi dari arah kedalaman kabut.

​Dan untuk pertama kalinya sejak menapakkan kaki di gunung ini, Lin Ling menyadari satu fakta yang mengerikan: Jejak kerusakan dan ukuran serpihan sisik ini mengindikasikan bahwa panjang tubuh makhluk yang melintas di sini kemungkinan besar melampaui tinggi pohon terbesar yang ada di hutan ini.

​Seekor Ular Raksasa purba. Sebuah Monster Beast tingkat tinggi yang setara dengan kultivator tingkat atas fana.

​Lin Ling tidak membuang waktu untuk panik. Dengan gerakan yang sangat terlatih, dia langsung merendahkan seluruh tubuh kecilnya hingga menempel ke tanah.

​Tanpa menimbulkan riak suara sekecil pun, dia bergerak mundur secara perlahan dan menyelinap ke balik sebuah bongkahan batu besar yang retak di tengah labirin hutan batu. Dia menahan napasnya sebisa mungkin, membiarkan tubuhnya menyatu sempurna dengan bayangan batu hitam. Di tengah kesunyian yang mencekam itu, hanya suara detak jantungnya sendiri yang terasa berdegup terlalu keras di dinding dadanya.

​Kabut putih di sekeliling hutan mulai turun dengan intensitas yang tidak wajar.

​Bukan kabut musim dingin biasa—kabut ini terlalu pekat, terlalu dingin, dan bergerak dengan ritme yang janggal seolah-olah dikendalikan oleh fluktuasi energi kehidupan tersembunyi di dalamnya.

​Lin Ling menempelkan punggung kecilnya erat-erat ke permukaan batu yang kasar. Tangan kirinya perlahan meraba dan menahan keranjang kayu di samping tubuhnya, memastikan tidak ada potongan Kayu Batu Gunung di dalamnya yang bergeser dan menimbulkan bunyi sekecil apa pun.

​Lalu...

​SRET... SRET...

​Suara gesekan itu akhirnya terdengar dari arah permukaan tanah di depan batu persembunyiannya. Suara itu pelan, berat, namun memiliki frekuensi rendah yang bergetar dalam.

​Seperti seonggok daging raksasa berbobot ribuan pon yang sedang merayap perlahan di atas permukaan bumi yang membeku.

​Tanah di bawah tempat Lin Ling berjongkok mulai bergetar pelan secara konstan, membuat debu-debu halus dan serpihan salju berjatuhan dari celah batu di atas kepalanya.

​Lin Ling tetap membeku seperti patung es, matanya melirik tajam melalui celah sempit di antara dua batu hitam besar di depannya.

​Dari balik celah itu, dia bisa melihat kabut pekat di depannya bergerak secara aneh—terbelah perlahan menjadi dua sisi, disibakkan oleh sebuah pergerakan objek masif yang luar biasa besar.

​Lalu... makhluk itu muncul.

​Bukan wujud tubuhnya secara utuh yang terlihat dari sudut pandang sempit Lin Ling. Hanya sebagian kecil dari guratan bayangan tubuh panjangnya yang melintas lambat di antara rimbunnya pepohonan batu.

​Makhluk itu terlalu besar untuk disebut sebagai ular biasa. Ujung diameter tubuhnya saja sudah setinggi batang pohon dewasa, dan di atas permukaan sisik gelap kehijauannya yang mengilat, terdapat lapisan energi pekat yang menakutkan.

​Lin Ling menahan napasnya erat-erat hingga dadanya terasa sesak dan perih akibat kekurangan oksigen.

​Bayangan ular raksasa itu tidak berhenti di depan batunya. Makhluk itu terus bergerak melintas dengan ritme yang sangat pelan... sangat lambat... seakan-akan sepasang indra penciumannya sedang mendeteksi dan mencari sisa aroma sesuatu di area sekitar hutan batu ini.

​Ketika ujung ekor raksasa itu akhirnya menghilang sepenuhnya di balik ketebalan kabut putih yang menutup kembali jalurnya, hutan utara kembali diselimuti oleh kesunyian yang mati.

​Namun, atmosfer sunyi kali ini terasa sangat berbeda. Bukan ketenangan yang damai, melainkan sebuah keheningan yang mencekam—seperti seekor predator raksasa yang baru saja memejamkan mata sesaat namun belum benar-benar tertidur kembali ke sarangnya.

​Lin Ling tetap mempertahankan posisinya, tidak bergerak sepasang rambut pun selama hampir sepuluh menit penuh.

​Baru setelah getaran di atas tanah benar-benar lenyap dari indra fisiknya, dia perlahan mengendurkan ketegangan di bahu kecilnya, menghirup udara dingin ke dalam paru-parunya yang terasa panas.

​Meskipun lolos dari maut, sepasang manik mata hitamnya tetap memancarkan kilatan tajam yang penuh kewaspadaan. Karena berdasarkan analisis taktisnya, dia tahu satu hal pasti: Ular raksasa purba itu belum pergi jauh dari wilayah luar gunung ini.

​Pasar desa masih berdenyut riuh oleh aktivitas fana ketika Lin Ling tiba kembali di sore hari.

​Asap putih dari tungku-tungku kecil kedai makanan bercampur dengan bau kayu bakar yang basah dan kulit hewan buruan. Suara para pedagang bersahutan menawarkan barang dagangan mereka, menciptakan kebisingan yang akrab. Namun, semua hiruk-pikuk itu terasa sangat jauh di telinga Lin Ling—seperti sebuah dunia asing yang berjalan tanpa mempedulikan eksistensinya sedikit pun.

​Lin Ling melangkah membelah keramaian menuju ke depan sebuah lapak milik pedagang kayu tua di sudut pasar.

​Tanpa mengucapkan banyak kata atau basa-basi, dia menurunkan keranjang bambu dari punggungnya yang ringkih, memperlihatkan tumpukan Kayu Batu Gunung berkualitas murni di dalamnya.

​"Kayu Batu Gunung...?" pedagang tua itu bergumam sambil menyipitkan sepasang matanya yang keriput.

​Tangannya yang kasar langsung mengambil satu batang kayu, lalu menimbangnya dengan dahi berkerut sebelum mengetuk permukaannya berulang kali. Semakin lama dia memeriksa serat kayu tersebut, ekspresi wajah pedagang tua itu perlahan berubah menjadi terkejut dan serius.

​"Bocah... apakah ini benar-benar diambil dari tepi luar hutan utara?" tanyanya dengan suara pelan dan berbisik.

​Lin Ling hanya mengangguk singkat, wajahnya tetap datar tanpa ekspresi.

​Pedagang tua itu terdiam sesaat, menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan keterkejutannya. "Kualitas barang ini... jauh lebih keras dan padat dari kayu biasa. Ini adalah bagian inti kayu yang paling dicari oleh pembeli kota."

​Beberapa orang pemburu fana dan pedagang di sekitar lapak mulai melirik ke arah mereka, berbisik-bisik lirih. Kayu Batu Gunung memang bukan barang yang langka di desa ini, namun kualitas murni yang berstruktur sekeras logam seperti yang dibawa Lin Ling jarang sekali muncul di pasar desa kecil terpencil ini.

​Pedagang tua itu akhirnya mengeluarkan sebuah kantong kain kecil dari balik jubahnya.

​"Aku bayar setengah harganya dulu sekarang," ucap pedagang itu dengan sangat hati-hati, menyerahkan beberapa koin perak yang berkilau. "Sisanya akan kulunasi setelah aku memeriksa minat para pembeli besar dari klan kota besok pagi."

​Lin Ling menerima koin-koin perak itu tanpa menunjukkan banyak reaksi emosi di wajah pucatnya. Uang berpindah tangan dengan mulus. Tidak ada senyuman kelegaan atau binar kebahagiaan yang terlihat dari sepasang matanya. Dia dengan tenang memasukkan koin-koin itu ke balik lengan jubah merah tuanya, lalu kembali mengikat tali keranjang kosongnya ke punggung.

​Namun, tepat di saat Lin Ling sedang sibuk merapikan keranjangnya—​Di seberang jalan pasar, dari bawah atap bangunan kayu berlantai dua yang megah, seseorang sedang berdiri diam, mengamati seluruh gerak-geriknya sejak awal dengan tatapan yang sangat dalam.

​Di sana, seorang pemuda berpakaian sutra biru tua yang bersih dan mewah tampak berdiri bersandar di pilar pembatas lantai dua. Pakaiannya yang rapi dan elegan tampak sangat kontras dengan penampilan kumal orang-orang pasar di bawahnya. Di belakang punggung pemuda itu, dua pengawal berzirah kulit berdiri tegak tanpa mengeluarkan suara sedikit pun.

​Itu adalah Tuan Muda Kedua dari Klan Huang, Huang Shi.

​Tuan muda itu tidak sedang berbicara dengan siapa pun. Sepasang mata kuningnya yang tajam mengunci sosok Lin Ling dengan sangat fokus sejak bocah berbaju merah tua itu menurunkan keranjangnya, saat kayu diperiksa oleh pedagang tua, hingga saat transaksi koin perak selesai.

​Di tengah riuh rendahnya keramaian pasar malam yang berisik, bagi Huang Shi, hanya ada satu hal yang terasa sangat aneh dan menonjol dari bocah kecil di bawah sana: Anak itu sama sekali tidak memancarkan emosi fana yang sewajarnya diperlihatkan anak kecil seusianya.

​Tidak ada kegugupan saat dikerumuni orang dewasa, tidak ada rasa bangga setelah mendapatkan koin perak, dan yang paling memicu rasa ingin tahunya—tidak ada sedikit pun rasa takut atau tunduk saat berpapasan dengan aura kelas atas. Seolah-olah seluruh dunia fana di sekitarnya hanyalah hal sepele yang lewat begitu saja di depan matanya.

​Seorang pengawal pribadi di samping Huang Shi membungkuk sedikit, berbisik dengan suara rendah. "Tuan Muda, anak itu hanya seorang pedagang kayu kecil dari kalangan fana miskin di sudut timur. Tidak ada hal istimewa yang patut diperhatikan dari dirinya."

​Huang Shi tidak langsung menjawab atau mengalihkan pandangannya. Matanya masih mengikuti setiap langkah kecil Lin Ling yang kini mulai berbalik untuk meninggalkan area pasar.

​Saat bocah berbaju merah tua itu berjalan menjauh dengan langkah yang sangat tenang dan teratur—seperti seseorang yang telah selesai dengan urusan dunia hari ini—baru saat itulah, sudut bibir Huang Shi bergerak sedikit, membentuk seulas senyuman tipis yang hampir tidak terlihat.

​"Biasa...?" suara Huang Shi keluar dengan nada yang sangat pelan, bergumam pada dirinya sendiri.

​Namun, ada sesuatu yang berat dan tajam di dalam intonasi suaranya. Sebuah rasa tidak percaya yang perlahan-lahan mulai berubah menjadi sebuah ketertarikan psikologis yang sangat mendalam terhadap identitas asli sang bocah.

​Sepasang mata kuningnya menyempit tipis, memancarkan kilatan yang berbahaya.

​Bukan karena Lin Ling sengaja berbuat mencolok di pasar ini untuk mencari perhatian. Justru sebaliknya—karena bocah itu sama sekali tidak mencoba untuk mencolok atau membaur dengan standar fana, hal itulah yang membuatnya tampak sangat ganjil. Dan di dalam dinamika dunia klan kultivasi yang penuh dengan intrik, hal yang terlalu "tenang" seperti itu... jarang sekali benar-benar merupakan hal yang biasa.

​Ketika sosok mungil Lin Ling akhirnya menghilang sepenuhnya di balik kerumunan padat pasar malam, Tuan Muda Huang Shi masih tetap berdiri di posisi yang sama di atas lantai dua paviliun, menatap koridor jalan yang kosong dengan pandangan mata yang dipenuhi rencana terselubung. Untuk pertama kalinya hari itu, dia tidak segera memalingkan wajahnya dari kalangan fana.

1
Boqin Changing
mantap
Alia Chans
keren thor
Arena Breakout1
lanjut
Arena Breakout1
mantap ceritanya lebih enak di baca dan alurnya mulai menari👍👍👍
Pencari Dao Sejati
Sekali lagi saya ingatkan untuk membaca ulang buat yang belum baca
Jiwa Kuno
lanjutttttttttt
yayat
lanjut lah kapan terungksp kebenarn lin ling
Jiwa Kuno
Jangan lama lama upnya
Arena Breakout1
lanjut thorrr
Arena Breakout1
bagus juga
Arena Breakout1
oke 👍
Jiwa Kuno
Cepetin upnya thor bikin penasaran
Wu Xin
up lagii🙏🙏
Wu Xin
lanjutt thorr penasaran
yayat
kapan jd kuatnya lin ling
Pencari Dao Sejati: entar di bab 17-20
total 1 replies
yayat
biasa itu konspirasi untuk mengulingkan pimpinan klan
yayat
ok alus alurnya mudah dipahami moga ga mengecewakan para pecinta fantim
Wu Xin
peakkk/Scream/
Jiwa Kuno
bro~~~~~~
Wu Xin
haha
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!