NovelToon NovelToon
Pita Hitam Kala Senja

Pita Hitam Kala Senja

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Persahabatan / Trauma masa lalu
Popularitas:107
Nilai: 5
Nama Author: Shourizzz BP

Semua sudah berakhir. Aku yang sulit dalam bergaul, pasti akan mudah dilupakan oleh orang – orang. Tidak dekat dengan siapapun, mau itu teman atau bahkan keluarga, pasti membuat kematianku sama seperti angin yang berlalu. Tidak dikenang oleh siapapun. Hanya kesendirianan yang tersisa. Akhir yang pantas bagi orang sepertiku. Seharusnya begitu, tapi …,
Kenapa aku bisa merasakan tetesan air mata?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shourizzz BP, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

TERIMAKASIH AYAH

Terlihat sederhana, tapi percakapanku dengan Ayah yang terjadi di ruang makan sekarang adalah percakapan terpanjang yang pernah kulakukan dengan Ayah semasa SMA. Dari sekian banyak pertanyaan yang mungkin diajukan oleh Ayah, dia memilih mengkhawatirkan kondisiku. Jujur, itu membuatku merasa sedikit senang. Aku tersenyum ketika Ayah berusaha peduli padaku. Mungkin sekarang giliranku untuk bicara. Aku terlalu membebankan Ayah dengan suasana yang begitu berat. Percakapan yang akan aku bahas sebenarnya juga hal yang berat. Malahan akan membuat suasana semakin pelik. Tapi, aku tetap harus bicara. Aku harus merobohkan dinding yang memisahkan aku dan Ayah selama bertahun – tahun. Meski aku tidak yakin akan hancur begitu saja, tapi aku tau itu lebih baik daripada hanya diam. Aku tau apa yang harus dilakukan sekarang.

Kuberanikan diri untuk menatap Ayah. Hal kecil yang selalu menghalangi interaksiku dengan Ayah. Aku tidak tau sejak kapan, hanya saja setelah kusadari, aku selalu menunduk ketika berhadapan dengan Ayah. Sebenarnya aku bukan takut Ayah akan teringat soal kematian Mama ketika melihatku. Alasan sebenarnya aku tidak berani melihat Ayah adalah demi diriku. Aku selalu teringat amarah yang Ayah lakukan padaku. Aku takut kalau dia akan semakin membenciku kalau kami sering bertemu, membuatku sebisa mungkin tidak terlibat dengan Ayah. Akulah yang menutup diri untuk melindungi ketenangan batin. Aku hanya tidak ingin membuat keadaan semakin buruk. Tapi, sekarang aku sadar. Justru tindakan menghindar yang membuat keadaan semakin buruk. Aku harus menghadapi Ayah tanpa rasa takut.

Kudapati Ayah sedang menunduk. Ayah juga tidak melihat kearahku selama bicara. Meski agak samar – samar, Aku melihat beberapa helai rambutnya mulai memutih. Aku juga bisa melihat banyak kerutan – kerutan diwajahnya. Aku juga bisa melihat kantung mata Ayah yang semakin tebal. Aku merasa kalau Ayah sedikit pucat. “Ayah sakit?”

“Sedikit pusing. Habis lembur.”

“Kenapa gak bilang? Ayo istirahat dulu, Yah.”

“Katanya! Ada yang mau kamu bicarain.”

“Itu …, bisa nanti. Ayah istirahat aja dulu.”

“Tidak apa. Ayah bisa nunggu.”

“Ke – kenapa?”

“Anaknya mau bicara. Sebagai orang tua, Ayah harus mendengarkan.”

“Hah? Apa - apaan itu?”

“Ayah tidak – Kenapa kamu nangis?” Apa maksud pertanyaan Ayah? Aku tidak mengerti – Eh? Kenapa mataku berair? Kenapa saat kusentuh pipi, ada air menetes yang membasahi pipiku? Apa aku sedang menangis? Aku? Kenapa? Ada yang aneh dengan diriku sekarang. “Kamu masih sakit? Biar Ayah bawa ke rumah sakit.” Ayah bangkit dari duduknya dan mendekat kearahku. Saat itu terjadi, aku langsung memeluknya. “Ayo! Apa yang sakit?”

“Gak ada. Tenang, Yah.”

“Terus kenapa?”

Aku mengerti. Air mataku mengalir begitu tau bahwa Ayah tetap memprioritaskanku dibandingkan dirinya. Sebelumnya, aku selalu berpikir kalau Ayah sudah tidak peduli lagi padaku sejak kematian Mama. Ayah cuman orang yang bertanggung jawab dan berusaha membesarkanku tanpa memperdulikanku. Aku terus terjebak dalam pikiran tersebut, sampai akhirnya aku sadar sedikit demi sedikit. Itu pun baru terjadi selama beberapa hari kebelakang. Aku sadar kalau Ayah masihlah orang yang sama. Bukan Ayah yang berubah sejak kematian Mama, tapi aku. Aku yang berubah. Kematian Mama terus menghantuiku, membuatku tidak bisa lagi membedakan mana yang benar dan salah. Aku hanya fokus menyalahkan diri sendiri. “Maaf Ayah. gara – gara aku, Mama meninggal. Gara – gara aku, keluarga kita hancur. Aku tau permintaan maaf aja gak cukup buat nebusnya. Tapi, cuman itu yang bisa aku lakukan. Aku gak bisa apa – apa. Aku juga menderita atas kehilangan Mama. Aku tau kalau Ayah pasti jauh lebih menderita. Maka dari itu, aku juga minta maaf gak bisa buat Ayah bahagia. Aku minta maaf karena gak berguna sebagai anak. A – aku benar – benar minta maaf.”

Aku sudah tidak peduli lagi jika Ayah akan marah. Dia bebas melakukan yang dia mau. Selama Ayah merasa lebih baik, aku tidak masalah. Aku hanya mau semua kembali. Aku tidak mau lagi bersembunyi dalam rasa takut. Jika Ayah menginginkan sesuatu dariku, akan kuberikan dengan senang hati. Jika Ayah tidak berharap apapun dariku, akan kubuat dia berharap. Selama aku bisa melakukannya, aku akan memenuhi harapannya. Akan aku buat Ayah bersyukur karena sudah membesarkanku.

Ayah menepuk pundakku. Dia melakukannya berulang kali. Itu membuatku ingat dengan Mama. Setiap aku menangis dulu, Mama akan selalu melakukan hal yang sama. Dia akan menepuk pundakku berulang kali agar aku merasa lebih baik. Disaat aku mulai sedikit lebih tenang Mama akan bicara, “Tenang. Kamu gak sendiri.” Ayah mengatakan hal yang sama.

Dulu, aku tidak mengerti arti ucapan Mama. aku pikir itu hanya semacam kata penenang. Jujur aku merasa lebih baik meski tidak tau artinya waktu kecil. Sekarang berbeda. Aku yang beranjak remaja, mulai paham arti dari ucapan orang tuaku. Masalah akan terasa berat jika dihadapi sendiri. Setiap manusia pasti memiliki masalah. Tidak ada yang bisa luput dari yang namanya masalah. Tapi, ada cara untuk meringankan beban dari masalah tersebut. Cara agar masalah yang mustahil untuk dihadapi, menjadi mungkin untuk diselesaikan. Caranya adalah dengan dilakukan bersama. Masalah yang awalnya besar, jika ditangani bersama akan jauh lebih ringan. Meski tidak semua masalah bisa disama ratakan, tapi kebanyakan masalah akan jauh lebih mudah ketika diselesaikan bersama. Itu sebabnya orang tuaku selalu menekankan kalau aku tidak sendiri. Aku memiliki keluarga yang peduli padaku. Mereka selalu bersamaku.

“Ayah tidak bermaksud menyalahkanmu atas kematian Mama. Ayah memang sempat emosi. Tapi, ayah sadar kalau bukan kamu penyebab kematian Mama. Mama meninggal karena memang begitulah takdirnya. Bukan kamu yang harusnya minta maaf, tapi Ayah. Ayah minta maaf.”

Sekarang aku ingat apa yang Ayah bicarakan setelah dia menyalahkanku atas kematian Mama. Ayah tidak langsung bicara padaku. Dia menunggu di ruang makan selama berhari – hari. Aku melewatinya begitu saja karena tidak ingin memperburuk suasana. Meski begitu, ayah tetap menunggu diruang makan. Ayah makan sendiri selama ini. Setelah diingat – ingat, aku pernah melihat raut wajah Ayah yang begitu lesu ketika sedang duduk makan. Aku ingin mendekat, tapi aku terlalu takut. Aku lari dan mengurung diri dikamar. Hari – hari kulalui dengan penuh rasa takut.

Suatu waktu, Ayah pernah mencoba masuk ke kamarku satu kali. Dia membahas soal sekolah yang akan kumasuki. Sebenarnya Ayah tetap mengizinkanku untuk masuk ke sekolah yang kuinginkan. Hanya saja, aku yang masih merasa bersalah, memutuskan untuk masuk ke sekolah yang pernah disarankan. Aku pikir itu salah satu cara untuk menebus dosaku.

“Semakin kamu dewasa, semakin kamu tau betapa susahnya buat bilang maaf dan makasih.”

Aku tidak menatap Ayah saat dia bicara denganku. Aku tidak tau bagaimana ekspresinya. Kira – kira raut wajah seperti apa yang Ayah tunjukkan? Apa Ayah tetap menunjukkan wajah marah? Apa Ayah menunjukkan ekspresi sedih? Atau mungkinkah Ayah menunjukkan wajah rasa bersalah? Setelah kupikir berulang kali, Ayah terlihat ingin mengatakan sesuatu setelahnya. Ayah seperti menunggu aku untuk bicara agar interaksi berjalan. Tapi, aku yang saat itu hanya terfokus pada rasa bersalah tidak menghiraukannya. Mungkin waktu itu Ayah sedang mencoba berbaikan denganku. Dia ingin berdamai dengan situasi yang ada. Dia ingin minta maaf dimomen yang sudah ia ciptakan. Ayah sudah berusaha minta maaf sejak hari itu. Tapi, aku menghancurkan waktu sempurna yang sudah Ayah buat. Aku membuat dinding besar yang membuat Ayah tidak bisa lagi menyampaikan perasaannya. Hingga, waktu sempurna untuk menyampaikan perasaan tidak pernah kembali. Aku yang menutup kemungkinan untuk kami kembali menjadi keluarga harmonis. Lagi – lagi, akulah penyebab rusaknya hubungan.

“Jangan terlalu dipikirkan.” Ayah memelukku jauh lebih erat. Dia seperti bisa membaca isi pikiranku. “Soal rasa bersalah, ayo kita tanggung bersama. Ayo kita mulai keluarga ini kembali dari awal. Ayah tidak bisa sendiri, makanya Ayah perlu kamu, nak.” Ayah melepas pelukkannya dan memegang kedua pundakku. “Kamu mau, kan?” Aku mengangguk. “Kalau soal bahagiain, Ayah selalu bangga sama kamu. Walau kamu tidak ranking 1, tapi Ayah tau kamu sudah berusaha keras buat masuk 10 besar. Walau kamu tidak pernah menang lomba badminton, Ayah tau kamu selalu latihan buat jadi juara. Ayah udah bangga liat kamu yang terus berusaha.”

“Ayah tau?”

“Tentu.” Ayah tersenyum padaku. “Kamu pikir, siapa yang ngajarin kamu main waktu kecil?”

“Ayah.” Aku memeluknya sekali lagi. Padahal aku berusaha untuk menahan tangis sebisa mungkin, tapi tampaknya mustahil. Aku menangis di pundak Ayah yang telah membesarkanku dengan baik selama ini. Seorang Ayah yang benar – benar berjasa dalam hidupku. Aku tidak mungkin bisa terlahir tanpa adanya kedua orang tua. Hanya Ayah orang tuaku yang tersisa sekarang. Aku harus bisa menjaganya dengan baik. Aku harap Ayah selalu diberi kebaikan. “Terimakasih buat segalanya.”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!