NovelToon NovelToon
Bayang Koridor Di Utara

Bayang Koridor Di Utara

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Misteri / Romantis
Popularitas:838
Nilai: 5
Nama Author: nana_2

Saat pindah ke SMA Arkana, sekolah tua yang terkenal karena rumor siswa hilang dan lorong terkutuk, seorang gadis dingin bernama Naresha justru tertarik membongkar rahasia itu. Di tengah penyelidikannya, ia terjebak hubungan rumit dengan Arven — ketua OSIS yang tenang, tampan, namun menyimpan sesuatu yang menyeramkan.

Semakin dekat mereka, semakin banyak kejadian aneh terjadi. Bisikan di kamar mandi kosong, bayangan tanpa wajah, hingga siswa yang menghilang satu per satu.

Dan ternyata… sekolah itu memang menyimpan sesuatu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nana_2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 11 — Rahasia Arven

Brakkk!

Pintu ruang arsip kembali digedor keras dari luar.

Naresha refleks mundur sambil masih memegang lengan Arven erat.

Lampu di ruangan terus berkedip tidak stabil.

Ctek!

Gelap.

Ctek!

Terang.

Dalam sepersekian detik cahaya menyala, sosok perempuan di balik kaca pintu masih berdiri di sana.

Diam.

Senyumnya terlalu lebar.

Dan matanya hitam seluruhnya.

“Hehehe…”

Suara tawanya terdengar menggema di seluruh ruangan.

Naresha mulai gemetar.

“Ven… dia masuk ga sih?”

Arven tidak menjawab.

Cowok itu justru menatap pintu dengan rahang menegang.

Tangannya perlahan mengepal.

Seolah sedang menahan sesuatu.

Brakkk!

Gedoran kali ini jauh lebih keras.

Kayu pintu mulai retak sedikit.

Naresha langsung pucat.

“ASTAGA.”

Arven buru-buru menarik Naresha menjauh dari pintu.

“Belakang.”

“Hah?”

“Cepet!”

Mereka bergerak ke bagian belakang ruang arsip yang dipenuhi rak tinggi dan lemari tua.

Arven menyinari sekitar menggunakan senter ponselnya.

Tatapannya seperti mencari sesuatu.

“Apa yang lo cari?!”

“Jalan keluar.”

Naresha langsung menoleh cepat.

“Memang ada?”

“Harusnya ada pintu lama di belakang sini.”

Brakkk!

Pintu depan kembali digedor.

Suara tawa perempuan itu semakin jelas sekarang.

“Hehehe…”

“Aku tahu kalian di sana…”

Napas Naresha tercekat.

Suara itu terdengar dekat sekali.

Sementara Arven sibuk menyingkirkan beberapa kardus tua.

Debu beterbangan memenuhi udara.

Dan akhirnya—

“Kena.”

Arven menarik sebuah gagang besi kecil di balik lemari.

Klik.

Sebuah pintu sempit tersembunyi perlahan terbuka.

Lorong gelap terlihat di baliknya.

“Masuk.”

Tanpa banyak protes, Naresha langsung mengikuti Arven masuk ke lorong sempit tersebut.

Begitu mereka masuk, Arven buru-buru menutup pintunya kembali.

Brakkk!

Suara pintu ruang arsip akhirnya jebol tepat beberapa detik setelah mereka pergi.

Naresha langsung menahan napas.

“Astaga…”

Lorong sempit itu gelap dan lembap.

Hanya cahaya senter Arven yang menerangi jalan.

Dindingnya penuh jamur dan cat mengelupas.

“Ini tempat apa sih…”

“Lorong lama sekolah.”

“Kenapa kayak tempat pembunuhan.”

Arven melirik Naresha sekilas.

“Karena emang pernah dipakai buat nutupin sesuatu.”

Deg.

Ucapan itu membuat langkah Naresha melambat.

“Lo tahu banyak banget tentang sekolah ini.”

Arven diam.

Dan diamnya mulai membuat Naresha curiga.

“Ven.”

Cowok itu tetap berjalan.

“Arven.”

Kali ini Arven berhenti.

Naresha menatap punggungnya beberapa detik sebelum akhirnya berkata pelan,

“Sebenernya hubungan lo sama Evelyn apa?”

Sunyi.

Hanya suara tetesan air yang terdengar di lorong gelap itu.

Tik…

Tik…

Tik…

Arven perlahan membalikkan badan.

Tatapannya terlihat rumit.

Dan untuk pertama kalinya sejak mereka bertemu…

Naresha melihat kesedihan jelas di mata cowok itu.

“Dulu… gue kenal dia.”

Deg.

Naresha langsung membeku.

“Apa?”

“Evelyn senior gue waktu SMP.”

Naresha mencoba mencerna ucapan itu.

“Terus?”

Arven menunduk sebentar sebelum melanjutkan.

“Dia orang pertama yang ngerti gue bisa lihat hal beginian.”

Suasana mendadak terasa lebih sunyi.

“Orang lain nganggep gue aneh,” lanjut Arven lirih. “Tapi Evelyn engga.”

Naresha terdiam mendengarkan.

Cara Arven menyebut nama Evelyn terdengar berbeda.

Lembut.

Dan itu anehnya membuat dada Naresha terasa tidak nyaman.

“Lo suka sama dia?” celetuknya spontan.

Arven langsung menatap Naresha.

Beberapa detik hening.

Lalu cowok itu menghela napas kecil.

“Gue cuma mau nolong dia.”

Jawaban itu tidak benar-benar menjawab pertanyaan Naresha.

Dan entah kenapa…

Itu membuatnya sedikit kesal.

“Terus waktu dia meninggal lo di mana?”

Ekspresi Arven langsung berubah.

Gelap.

Penuh rasa bersalah.

“Di sana.”

Deg.

Naresha langsung menatap Arven lebar.

“Maksud lo…”

“Gue lihat semuanya.”

Jantung Naresha berdetak lebih cepat.

“Lo lihat dia bunuh diri?”

Arven menggeleng perlahan.

“Karena dia memang ga bunuh diri.”

Sunyi.

Ucapan itu menggantung berat di udara.

“Waktu gue sampai di lorong lantai tiga…” suara Arven mengecil, “Evelyn udah penuh darah.”

Naresha menelan ludah pelan.

“Dan ada seseorang berdiri di dekat dia.”

“Siapa?”

Tatapan Arven berubah dingin.

“Aku ga lihat wajahnya.”

“Terus?”

“Sebelum gue bisa nolong… dia jatuh.”

Suara Arven terdengar retak di akhir kalimatnya.

Dan itu cukup membuat dada Naresha terasa sesak.

Untuk pertama kalinya…

Arven terlihat rapuh.

Bukan ketua OSIS dingin.

Bukan cowok misterius yang selalu tenang.

Melainkan seseorang yang masih dihantui masa lalunya sendiri.

Naresha perlahan mendekat.

“Ven…”

Namun tiba-tiba—

Krekkkk…

Suara sesuatu terdengar dari ujung lorong gelap di belakang Arven.

Mereka langsung menoleh bersamaan.

Dan napas Naresha seketika berhenti.

Seseorang berdiri di ujung lorong.

Perempuan.

Rambut panjang.

Seragam putih penuh darah.

Namun kali ini…

Wajahnya terlihat jelas.

Cantik.

Pucat.

Dan matanya menatap lurus ke arah Arven.

Evelyn.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!