NovelToon NovelToon
Kebangkitan Kaisar Pedang Yang Terlupakan

Kebangkitan Kaisar Pedang Yang Terlupakan

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Istana/Kuno / Fantasi
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: hajdhts

"Seribu tahun lalu, aku adalah puncak dari segala ilmu pedang. Kini, aku hanyalah sampah yang dihina oleh keluargaku sendiri."

Ling Chen adalah seorang pemuda dari keluarga cabang yang lemah dan tidak memiliki bakat dalam kultivasi pedang. Di dunia di mana kekuatan pedang adalah segalanya, ia menjadi bulan-bulanan, dikhianati oleh tunangannya, dan hampir tewas di tangan saudara sepupunya sendiri.

Namun, di ambang kematian, segel kuno di dalam jiwanya hancur. Ingatan sebagai Kaisar Pedang Surgawi, penguasa semesta yang pernah ditakuti oleh para dewa dan iblis, bangkit kembali. Dengan teknik "Sembilan Tebasan Langit" yang telah lama hilang dan pedang karatan yang ia temukan di gudang tua, Ling Chen memulai langkahnya untuk menagih hutang darah.

Satu per satu genius yang sombong akan ia tebas. Kerajaan yang dulu mengkhianatinya akan berlutut di bawah kakinya. Langit mungkin melupakannya, tapi dunia akan segera tahu bahwa sang penguasa telah kembali untuk merebut tahtanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hajdhts, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ep 7: Pulang Untuk Menghakimi

Angin yang berhembus di gerbang kota Jombang sore itu terasa sangat berbeda. Jika biasanya udara kota ini dipenuhi dengan hiruk-pikuk pedagang dan aroma masakan dari kedai-kedai pinggir jalan, kini yang tersisa hanyalah kecemasan yang menggantung.

Kabar tentang apa yang terjadi di Hutan Seribu Pedang telah sampai lebih dulu, menyebar seperti racun yang melumpuhkan keberanian para penduduk.

Di kejauhan, sesosok pemuda berjalan dengan langkah tenang.

Jubahnya yang compang-camping tertiup angin, memperlihatkan pedang hitam yang tergantung di pinggangnya.

Di belakangnya, seekor serigala perak raksasa berjalan dengan anggun, membuat para penjaga gerbang jatuh terduduk karena ketakutan.

Ling Chen telah kembali ke tempat di mana ia pernah dihina sebagai sampah.

Namun, tujuannya kali ini bukan untuk meminta pengakuan, melainkan untuk mengambil apa yang menjadi haknya.

Langkah Ling Chen terhenti di depan sebuah kediaman tua yang kini tampak tak terawat. Ini bukan kediaman utama Keluarga Ling yang megah, melainkan paviliun terpencil tempat ia tinggal bersama ibunya sebelum wanita itu meninggal dunia.

Pintu kayunya telah rapuh, dan tanaman merambat liar menutupi sebagian besar dindingnya.

"Ibu, aku pulang," bisik Ling Chen. Matanya yang biasanya sedingin es, sejenak melembut.

Ia ingat bagaimana Keluarga Ling menyita semua peninggalan ibunya, termasuk sebuah liontin giok yang konon merupakan satu-satunya benda yang dibawa ibunya saat menikah.

Mereka mengambilnya dengan alasan bahwa "sampah tidak layak memegang benda berharga."

Kuro, makhluk kecil hitam di bahunya, mengeluarkan suara dengkur halus, seolah merasakan kesedihan yang tersembunyi di hati tuannya.

Ling Chen menghela napas panjang, dan dalam sekejap, kelembutan itu menghilang, digantikan oleh aura kaisar yang tak tergoyahkan.

"Serigala, jaga di sini. Siapapun yang berani mengusik tempat ini, hapuskan mereka dari muka bumi," perintahnya.

Ling Chen tidak membuang waktu. Ia berjalan langsung menuju kediaman utama Keluarga Ling.

Sepanjang jalan, para anggota keluarga yang melihatnya segera lari berhamburan. Mereka melihatnya seperti melihat dewa kematian yang sedang berjalan-jalan.

Saat ia tiba di depan aula besar, pintu-pintu aula sudah tertutup rapat.

Ling Chen tidak mengetuk. Ia hanya menatap pintu kayu jati yang kokoh itu, dan dengan satu tekanan aura, pintu tersebut hancur berkeping-keping menjadi debu.

BUM!

Di dalam aula, seluruh tetua Keluarga Ling sedang berkumpul, dipimpin oleh Kepala Keluarga, Ling kaisar—ayah dari Ling Jian.

Di sampingnya, Yan Ran berdiri dengan wajah pucat, matanya terus-menerus melirik ke arah pintu yang hancur.

"Ling Chen! Kau benar-benar berani kembali!" raung Ling kaisar sambil berdiri.

"Kau telah membawa bencana bagi keluarga ini! Gara-gara kau, Sekte Awan Biru dan Aliansi Tiga Sekte sedang mengepung kota ini!"

Ling Chen melangkah masuk ke tengah aula, mengabaikan teriakan pria di depannya. Ia menarik sebuah kursi kayu yang masih utuh, duduk dengan santai, dan meletakkan pedang hitamnya di atas meja.

"Aku tidak datang untuk mendengar keluhanmu," ucap Ling Chen datar.

"Serahkan liontin giok ibuku sekarang juga, dan aku mungkin akan membiarkan Keluarga Ling memiliki satu hari lagi untuk bernapas."

"Kau bajingan!" teriak salah satu tetua.

"Kau pikir dengan sedikit keberuntungan di hutan itu kau bisa mendikte kami? Kami telah meminta bantuan dari Sekte Pedang Langit untuk menangkapmu!"

Ling Chen tertawa, sebuah tawa yang terdengar sangat meremehkan.

"Sekte Pedang Langit? Kalian benar-benar putus asa. Baiklah, jika kalian memilih jalan ini, maka biarlah darah yang berbicara."

Yan Ran, yang sedari tadi diam, akhirnya melangkah maju.

"Ling Chen, hentikan semua ini. Jika kau menyerahkan diri sekarang dan memberikan rahasia kekuatanmu kepada Aliansi, aku berjanji akan memohon agar nyawamu diampuni. Kita bisa kembali seperti dulu..."

Ling Chen menatap Yan Ran dengan tatapan yang membuat wanita itu merasa seolah seluruh pakaiannya ditelanjangi oleh rasa malu.

"Kembali seperti dulu? Yan Ran, kau adalah wanita yang melihatku sekarat dan tidak melakukan apa-apa. Kau adalah wanita yang lebih mencintai kursi sekte daripada janji suci. Di mataku, kau bukan lagi manusia, kau hanyalah kerikil yang menghalangi jalanku."

Wajah Yan Ran memerah karena marah dan malu. Ia tidak menyangka bahwa Ling Chen benar-benar telah membuang segala perasaan padanya.

Tiba-tiba, udara di sekitar aula bergetar. Sebuah aura yang sangat kuat, jauh lebih kuat dari Grand Elder Zhao, turun dari langit.

"Ling Chen! Keluar dan hadapi kematianmu!" sebuah suara menggelegar dari udara, mengguncang seluruh pondasi bangunan.

"Ah, sepertinya mangsa besarnya sudah tiba," Ling Chen berdiri perlahan, memegang pedang hitamnya.

Ia melirik Ling kaisar yang tampak gemetar ketakutan sekaligus penuh harapan akan bantuan tersebut.

"Simpan giok itu baik-baik, paman. Aku akan mengambilnya setelah aku membersihkan sampah di luar sana."

Ling Chen berjalan keluar dari aula menuju halaman luas.

Di atas sana, tiga orang pria tua terbang di atas pedang mereka, dikelilingi oleh ratusan murid elit dari tiga sekte berbeda. Inilah Aliansi Tiga Sekte Besar yang legendaris di wilayah tersebut.

Penduduk kota Jombang mengintip dari jendela rumah mereka, gemetar melihat kekuatan yang begitu besar mengepung kota mereka hanya untuk satu orang pemuda.

Ling Chen menengadah ke langit, menatap ratusan lawan di atasnya.

Kuro di bahunya mulai mengeluarkan percikan petir hitam, dan Serigala Perak yang tadi menjaga paviliun kini sudah melesat ke sampingnya, memamerkan taringnya yang bersinar perak.

"Sembilan Alam pernah tunduk di kakiku," bisik Ling Chen, suaranya pelan namun sanggup didengar oleh setiap orang di sana.

"Hari ini, kota kecil ini akan menjadi saksi bahwa Kaisar tidak pernah benar-benar mati. Dia hanya sedang menunggu waktu untuk menghancurkan kalian semua."

Ia mencabut pedang hitamnya. Bilahnya kini tidak lagi karatan, melainkan hitam mengkilap dengan garis-garis biru yang berdenyut seirama dengan detak jantungnya.

"Mari kita mulai pesta darah ini."

Suasana di halaman utama Keluarga Ling mendadak menjadi sangat dingin, sebuah dingin yang tidak wajar yang seolah-olah menyerap semua suara di sekitar.

Para tetua yang tadi berteriak lantang kini terdiam dengan wajah membiru, napas mereka keluar dalam bentuk uap putih yang tebal.

Mereka menyadari bahwa ruang di sekitar Ling Chen bukan lagi bagian dari dunia yang mereka kenal; itu adalah dominasi absolut dari seorang penguasa yang telah melampaui logika mortal.

Ling Chen memutar pedang hitamnya dengan gerakan malas, namun setiap putaran bilah pedang itu meninggalkan robekan kecil di udara, memperlihatkan retakan hitam tipis yang mengeluarkan suara mendesis.

Kuro, yang bertengger di bahunya, mulai mengembangkan sayap kecilnya yang transparan, memancarkan gelombang energi ungu yang menyerap cahaya matahari senja, membuat sosok Ling Chen tampak seperti lubang hitam di tengah kerumunan.

"Kalian membawa ratusan orang hanya untuk menangkap satu orang 'sampah'?" suara Ling Chen bergema, tidak hanya di telinga mereka, tapi langsung di dalam jiwa para pendekar yang melayang di langit.

Beberapa murid tingkat rendah di udara mulai goyah, pedang terbang mereka bergetar hebat seolah-olah ketakutan menghadapi kehadiran pedang hitam di tangan Ling Chen.

Salah satu pemimpin Aliansi, seorang pria tua dengan jubah emas, mencoba memecah tekanan itu dengan tawa paksa.

"Jangan sombong, bocah! Keberuntunganmu berakhir di sini. Formasi Pengunci Langit, Aktifkan!"

Seketika, seratus murid di langit melepaskan rantai energi berwarna biru yang saling bertautan, membentuk jaring raksasa yang menutupi seluruh langit kota Jombang.

Cahaya dari formasi ini begitu menyilaukan hingga penduduk kota harus menutup mata mereka. Namun, Ling Chen hanya mendongak, matanya yang biru safir kini sepenuhnya berubah menjadi putih bercahaya.

"Formasi yang lumayan," ucap Ling Chen pelan. Ia menusukkan ujung pedangnya ke tanah, dan seketika retakan besar merambat ke seluruh halaman.

"Tapi untuk mengunci langit, kalian harus terlebih dahulu memiliki kuncinya. Dan kunci itu... ada di tanganku."

Dengan satu sentakan energi dari Tulang Dewa-nya, aura biru yang dahsyat meledak dari tubuh Ling Chen, membentuk pilar cahaya yang menantang jaring energi di langit.

Pertempuran sesungguhnya belum dimulai, namun pondasi kota Jombang sudah mulai bergetar hebat, menandakan bahwa sejarah baru akan segera ditulis dengan tinta darah.

1
Nanik S
Giliranku menunjukan permainan yang sesungguhnya👍👍👍
Nanik S
Ganggu orang makan saja... Dasar Pak Tua ..ganti baju dulu🤣🤣🤣
Nanik S
Ceritanya bagus tapi gak hidup sama sekali karena susunan kata saja ditulis aja ..banget .... Loh.....harusnya ditulis yang pas Tor
Siti Hodijah: makasih masukannya
total 1 replies
Nanik S
Lanjutkan dan kata katanya banyak kurang pas
Nanik S
Dikit dikit kata banget... cari kata lain yang Pas Tor
Siti Hodijah: contohin dong kak
total 2 replies
Nanik S
Sebagai masukan .. kata subuh dijaman dulu itu tidak ada Tor
Siti Hodijah: jadi sarannya gmnaa kaka
total 2 replies
Nanik S
Kemana lagi Lin Chen dan Mu Rong
Nanik S
Ada kata yang kurang .. salah satunya Oky dan adalagi Tot
Nanik S
Shiiip
Nanik S
Sang Kapten yang mau menyetor Nyawa ke Lin Chen
Nanik S
Jelas Beda Jiwa Kaisar yang berada didalam tubuh Lin Chen
Nanik S
Maaantaap Poooool
Nanik S
IPasukan bayangan yang berkhianat di kekaisaran
Nanik S
Keluarga Kekaisaran...benua Tengah
Nanik S
Kyuuuuu habis semua
Nanik S
Liontin Mu Rong bersonasi dengan batu peninggalan ibunya
Nanik S
Mu Rong... siapa gadis ini sebenarnya
Nanik S
Segel di Liontin Giok
Nanik S
Habis sudah harapan hidup Yan Ran wanita licik dan Munafik
Nanik S
Bantai semua Aliansi
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!