Dia pangeran yang selamat dari eksekusi bertemu arwah artis figuran yang mati di rel kereta. Wajah mereka sama. Arwahnya minta tolong pada Pangeran. Pangeran itu mau—karena dia ingin hidup abadi. Tapi kemudian dia bertemu gadis yang tak ingin hidup sama sekali. Namun Sang Takdir membiarkan Pangeran membentur fakta: gadis ini belahan jiwamu.
Hng Sih Kian Li — bertemu dirimu di masa yang jauh.
oleh The Bwee Lan (Anggrek cantik dari Marga The)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon The Bwee Lan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PENJELASAN DARI SEORANG KAKAK
"Ti," panggil Eng Sok pelan. "Kita mandi dulu aja. Nanti kita beresin habis mandi."
Ah Ti tidak menjawab mengangguk, ambil alat mandi.
Eng Sok sendiri mengambil bath bomb natural yang ia sudah cek kandungannya. Ini sisa endorse beberapa waktu lalu. Tapi dia senengnya mandi rempah bukan bath bomb. Dia gak bakal bisa ngerebus rempah mandi hari ini.
Dia pake shower cap. Kepalanya sakit dan dia keramas sore, pikinya.
Ah Ti keluar — wajah merah, mata tidak berani menatap. Eng Sok tidak berkata apa-apa. Ia hanya mengulurkan tangan, menggandeng adiknya ke kamar mandi.
---
Air hangat mengalir dari shower. Uap tipis memenuhi ruangan.
Eng Sok duduk di kursi plastik — seperti biasa, tangan kanan masih dibungkus plastik, tidak boleh kena air. Ah Ti duduk di depannya, kepala menunduk, punggung membelakangi kakaknya.
"Ti," kata Eng Sok pelan. "Kamu tadi namanya mimpi basah. Udah tahu mimpi basah?"
Ah Ti menggeleng. Tidak berani bersuara.
Eng Sok menghela napas. Ia bukan guru biologi. Tapi dulu, di istana, ia alkemis. Salah satu tugasnya — selain membuat bubuk mesiu dan ramuan penyembuh — adalah mengajari para pangeran muda tentang tubuh mereka sendiri.
"Itu pertanda kamu sudah mulai beranjak dewasa," kata Eng Sok. "Bukan penyakit. Bukan aib. Bukan kesalahan."
Ah Ti masih diam.
"Tubuhmu mulai memproduksi bibit pria. Kalau itu tidak keluar dengan sengaja — ya keluar sendiri saat tidur. Namanya mimpi basah."
"Sakit?" bisik Ah Ti.
"Tidak."
"Berbahaya?"
"Tidak. Itu... normal. Wajar. Semua laki-laki mengalaminya."
Ah Ti menoleh sedikit. Matanya masih merah. "Koko... juga?"
Eng Sok tersenyum. "Dulu, waktu Koko seusia kamu — atau mungkin lebih tua sedikit. Zaman dulu kurang gizi. Jadi biasanya baru mulai umur 14-15 tahun. Tapi sekarang gizi bagus, ya bisa lebih cepat."
Ah Ti terdiam.
"Kalo wanita," lanjut Eng Sok, "nanti akan menstruasi. Itu tandanya ladang di rahimnya sudah siap ditumbuhi benih dari pria. Kalau bertemu benih dari pria— bisa hamil. Makanya pria dan wanita tidak boleh bersama. Takutnya ada hubungan…." Kata Eng Sok dengan senyum miring.
Ah Ti sudah merah mukanya. Dia tau pasti. Dia melihat dalam mimpinya.
Ah Ti mendongak ia mau memastikan, "Jadi... kalau gua melakukan perbuatan aku di mimpi semalam... Gua bisa bikin perempuan hamil, koh?"
"Betul.", jawab Eng Sok.
Eng Sok gak paham apa itu sel telur, apa itu sperma. Dia hanya tau itu. Rahim wanita adalah ladang dan pria memberikan bibit. Keluar kamar mandi, mereka buka HP. Ah Ti membacanya di bawah bimbingan Eng Sok. Mereka baru tahu sel sperma dan sel telur. Lapisan ini itu.
Ah Ti berbisik,”Ko, meskipun tadi penjelasan Koko kuno, tapi aku paham. Cuma memang sudah berubah zaman”
Eng Sok mengangguk. Merasa si paling ndeso. Hanya penjelasan pria sederhana.
---
Setelah mandi, Eng Sok berbisik ke Ah Me.
"Ah Me, Ti... sudah mimpi basah."
Ah Me berhenti menjahit. Jarumnya tertahan di udara. Ia menatap Eng Sok — lalu ke pintu kamar mandi di mana Ah Ti sedang mengeringkan rambut.
"Aku jelasin sudah," kata Eng Sok. "Dia paham. Kami buka HP juga. Tapi penjelasan aku masih laki-laki dengan benihnya dan perempuan sebagai ladang."
Ah Me menghela napas. Panjang. Tangannya — yang dulu gemetar — sekarang tenang. Penjelasan kuno itu sudah lebih dari cukup. Apalagi dibantu cari di HP.
"Untung kamu bantu Ah Me," bisiknya lirih. "Ah Me... ga ada suami. Bingung kalau harus jelasin sendiri perkara gituan."
Eng Sok tidak menjawab. Ia hanya menepuk bahu Ah Me — pelan.
---
Beberes dimulai.
Ah Ti menjemur kasurnya — yang basah semalam — di balkon lantai 2 kontrakan. Matahari masih pagi, tidak terlalu panas, tapi cukup untuk mengeringkan.
Eng Sok mengambil kasurnya sendiri — diangkat dengan tangan kiri. Tidak berat. Tapi Ah Ti memperhatikan.
"Ko... kok ka... kasur... Koko... juga...?"
Ah Ti terbata-bata. Matanya membulat.
Eng Sok tersenyum — lebar. Matanya nakal.
"Koko kan laki-laki. Kayak kamu juga!"
Ah Ti terdiam.
Lalu — ngakak. Kencang. Sampai Ah Me di dalam rumah menengok.
"Hehehehehe!" Ah Ti memegang perut. "Koko juga... ternyata Koko juga..."
Eng Sok tidak marah. Ia hanya mengangkat bahu — lalu ikut tertawa kecil.
Mereka berdua — kakak dan adik — tertawa di halaman belakang, di bawah matahari pagi, di antara kasur yang dijemur.
---
Sarapan. Nasi. Telur dadar. Sayur.
Ah Ti sudah pulih. Tidak malu lagi. Bahkan ia menggoda Eng Sok: "Ko, kalo mimpi basah... mimpinya jangan-jangan Cici Ah Chio?"
Eng Sok diam. Wajahnya merah.
Eng Sok dengan mata nakal bertanya,”Lu sendiri sama siapa?”. Tanyanya sambil memegang dagu adiknya.
“Sama Ah Nio!”, jawab Ah Ti keceplosan lalu menutup mulutnya. Mukanya merah… Ah Nio, anak Ah Cek Tauke depan rumah yang cantik.
Ah Me memukul pelan kepala Ah Ti dan Eng Sok "Ciak bue! (Makan nasi), gak usah macem-macem, haiyaaah!"
Ah Ti cengar-cengir. Eng Sok ngakak-ngakak.
---
"Hari ini nyicil Tengah Semester, ya!" kata Eng Sok. Suaranya tegas — tidak bisa ditawar.
Ah Ti awalnya merengut. Bibirnya maju ke depan. Matanya ke atas — seperti menghitung berapa banyak ketidakadilan di dunia.
Lalu — matanya beralih ke tembok kamar.
Foto tahun lalu. Bingkai plastik agak lusuh. Di dalamnya, Ah Ti — pakai Tng Sa, rambut disanggul penuh. Tersenyum lebar.
Di sampingnya — Sioh Bu. Rambut panjang, sanggul penuh, dan Tng Sa prajurit . Ia berpose jurus dengan Ah Ti.
Libur sekolah. Tahun lalu. Baru saja sekolah dibuka setelah tiga tahun pandemi. Mereka isi festival budaya di sekolah.
Ah Ti menatap Eng Sok. Dia kasihan melihat Eng Sok kerja berat. Seusia Eng Sok, tetangga dia menikah. Bukan mimpi basah. Mendadak pikiran Ah Ti dewasa. Jauh melompati usianya.
Ah Ti diam. Memejamkan mata.
Ia menunduk. Lalu mengangguk.
"Baik, Ko. Aku kerjain.", jawabnya dengan nada datar.
Tanpa protes. Tanpa omel. Tanpa alasan.
Ah Me yang melihat dari pintu kamar — matanya panas. Ia tidak menangis. Tapi hidungnya perih. Ia turun ke lantai satu.
Ah Me melihat altar keluarga dan papan nama Ah Pa. “Ah Pa... anakmu... tumbuh dewasa”, bisiknya sambil melihat asap sebatang dupa yang selalu dinyalakan Eng Sok tiap pagi melayang.
---
Ah Ti duduk di meja belajar. Buku latihan "Chhian -chhin" terbuka di halaman 25. Pensil di tangan. Menulis dengan sabar — tidak terburu-buru, tidak asal-asalan.
Eng Sok meletakkan booklet kunci jawaban di dalam sarung bantal. Lalu menekan tombol alarm di HP. 2 jam.
"Kalo alarm bunyi, stop. Nanti lanjut lagi."
Ah Ti mengangguk. Tidak menoleh.
Eng Sok merebahkan diri di sofa.
Matanya terpejam. Tapi tidak tidur. Pikirannya melayang.
---
Ah Me mengintip dari pintu kamar. Di tangannya, bordiran setengah jadi — motif naga. Jarum naik turun — pelan, sabar.
Ia melihat Eng Sok di sofa — wajah lelah, lengan masih diperban, napas pelan-pelan mulai teratur.
"Paling enggak, lu istirahat dulu," pikir Ah Me.
Ia tidak membangunkan. Kembali ke kamar. Menjahit. Sesekali melihat ke luar.
---
Eng Sok ingat — kemarin, di perjalanan pulang, saat memberikan kontrak Sam Hok Liong, Ah Chio memberikan nomor WA-nya.
Eng Sok memasukkan dan sudah coba kirim pesan Halo, Ah Cio sudah bisa membalas Halo. Sudah terhubung.
---
Pagi tadi, ada notifikasi.
Satu pesan masuk. Dari Ah Chio.
Eng Sok belum membalas. Takut kepleset. Takut ngomong sembarangan — lagi. Karena terbawa perasaan artinya status dia sebagai penduduk gelap bisa ketahuan. Dia gak mau karena cinta buta ke Ah Chio, utang budi ke Sioh Bu yang mengizinkan dia hidup lagi di atas identitasnya malah tidak terbalas. Makanya dia membatasi sosmed, cerita masa lalu, dll. Dia juga gak ingin tertangkap. Siapa yang menafkahi Ah Me dan Ah Ti nanti?
Ia ingat kemarin. Di kebun teh. Di taksi.
Pelukan. Dada bertemu. Tangan yang "iseng".
Eng Sok memejamkan mata.
Belum. Nanti dulu. Tenang dulu.
Ia membalikkan badan di sofa. Menghadap ke dinding. Terlelap tanpa mimpi.
HP di atas lemari samping sofa.
---
BERSAMBUNG
---
Ah Ti belajar tanpa protes.
Eng Sok menjelaskan mimpi basah dengan sabar.
Ah Me bersyukur tidak sendirian.
Dan satu pesan WA — dari Ah Chio — belum dibalas.
💐🪷