NovelToon NovelToon
Dendam Diatas Materai

Dendam Diatas Materai

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Nikah Kontrak / CEO
Popularitas:534
Nilai: 5
Nama Author: Senjani jingga

Gara-gara wine tumpah Aruna Wijaya harus menikah kontrak dengan seorang iblis berwajah tampan Devara Mahesa.

Tanda tangan kontrak diatas materai menjadi penanda Aruna resmi terjerat dalam pelukan hangat Devara yang mematikan dan penuh dendam rahasia.

Hingga Bayu datang, seorang dokter keluarga Wijaya yang menyimpan kenangan masa lalu kelam Aruna menawarkan kebebasan.

Apakah Aruna akan menerima tawaran Bayu lepas dari iblis?, ataukah akui dendam diatas materai itu sudah menjadi candu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senjani jingga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

DDM|30|Hati Yang Tertinggal

Jam 7.58 malam. Basement parkir penthouse Skyline city.

Lift terbuka.

Aruna melangkah keluar. Jaket di badan, tas selempang di bahu. Jantungnya berdetak terlalu cepat, sampai ia bisa dengar suaranya sendiri di telinga. Di kepalanya hanya satu kalimat 'Ini kesempatan terakhir'

Bayu sudah menunggu di dekat mobil hitam. Jas hitam rapi, tapi wajahnya tegang. Begitu melihat Aruna, ia menghela napas panjang, seperti orang yang baru bisa bernapas lagi setelah dua tahun.

“Kamu beneran datang,” bisiknya sambil tersenyum, senyum kemenangan karena telah berhasil membawa Aruna bersamanya setelah beberapa kali gagal.

Aruna tidak menjawab. Ia hanya mengangguk. Tangannya masih menggenggam tali tas erat. Bau alkohol dari lantai atas masih terasa di hidungnya. Bau Devara semalam.

Bayu membuka pintu mobil. “Ayo. Pesawat jam 10. Kita masih punya waktu.”

Aruna masuk. Pintu tertutup. Mesin menyala. Basement yang gelap mulai ditinggalkan.

Keheningan di dalam mobil terasa canggung. Bayu yang biasanya banyak bicara, kini diam. Aruna menatap keluar jendela. Cahaya lampu parkir berkelebat cepat, seperti waktunya yang juga sedang melesat.

“Kamu yakin?” tanya Bayu akhirnya, pelan.

“Wijaya nunggu di New York. Tapi kalau kamu berubah pikiran sekarang, aku masih bisa putar balik.”

Aruna menoleh. “Kenapa nanya gitu?”

“Karena aku lihat muka kamu,” jawab Bayu jujur. “Kamu orang yang pergi dengan tenang, Run.”

Aruna menggigit bibir. Ia ingin bilang 'aku baik-baik aja'. Tapi yang keluar malah diam. Karena bohong.

..........

Jam 9.15 malam. Bandara.

Andre sudah menunggu di lobi keberangkatan internasional. Jas rapi, wajah datar. Begitu melihat Aruna turun dari mobil bersama Bayu, rahangnya mengeras.

“Bu Aruna,” sapanya singkat. Nadanya profesional. Dingin.

“Pak Devara suruh saya pastikan Ibu masuk pesawat dengan selamat. Setelah itu tugas saya selesai.”

Aruna terkejut. 'Devara suruh?' Bukannya semalam dia bilang, “Kalau pergi sekarang, nggak akan saya cari”?

Ia menatap Andre, mencari kebohongan. Tapi wajah Andre tetap datar. Tidak ada emosi. Tidak ada belas kasihan. Hanya ketaatan.

Selama proses check-in, Andre berjalan dua langkah di belakang Aruna. Tidak bicara. Tidak bertanya. Hanya memastikan.

Berbeda dengan Bayu. Bayu terus bicara, mencoba mengisi keheningan. “Nanti di New York udaranya dingin. Kamu bawa jaket kan? Wijaya udah nunggu di apartemen. Dia…”

Aruna tidak mendengar. Matanya malah tertuju ke punggung Andre. Tegak. Kaku. Seperti orang yang sedang menahan sesuatu.

Dulu, kalau Devara yang mengantar, suasananya beda. Devara akan menatapnya tajam, bicara rendah, penuh ancaman atau kepemilikan. “Kamu tetap bersama saya. Sampai kapanpun.” Setiap langkahnya diawasi. Setiap geraknya dilaporkan. Menyesakkan. Tapi juga membuat ia merasa keberadaannya berarti.

Andre tidak begitu. Andre tidak menahan. Andre hanya menjalankan perintah.

Dan entah kenapa, itu membuat dada Aruna terasa lebih kosong.

Begitu boarding pass di tangan, Andre berhenti di depan gate imigrasi.

“Selamat jalan, Bu,” katanya pelan.

Ia menunduk sedikit. Lalu tanpa menunggu jawaban, ia balik badan dan pergi.

Aruna menatap punggung Andre yang menjauh. Dadanya sesak. 'Devara beneran melepas aku'.

...........

Jam 10.30 malam. Di dalam pesawat.

Aruna duduk di dekat jendela, Bayu di sebelahnya. Begitu pesawat mulai melaju di landasan, rasanya begitu berat, namun ada kebahagiaan diujung sana yang harus Aruna raih, Bayu disebelahnya sesekali melirik Aruna yang tampak diam tak banyak bicara.

Andre itu anak buah Devara, bukan Bayu. Nggak mungkin dia lapor ke Bayu. Dia bakal kirim bukti langsung ke Devara buat mastiin tugasnya selesai.

Ditempat lain penthouse lantai 98, ponsel Devara bergetar beberapa kali. Tengah malam, sendirian di penthouse kosong. Dia buka pesan itu yang berisi foto Aruna duduk di kursi pesawat, wajahnya pucat, nggak tau lagi diawasi.

Devara nggak bales pesan Andre. Cuma natap layar lama. Terus kunci HP.

Dan di saat yang sama, di atas sana, Aruna lagi lepas landas. Nggak tau kalau 10 menit sebelum pintu pesawat nutup, Devara masih ngecek dia.

Aruna tidak tahu. Tapi Devara tetap mengawasi dia sampai detik terakhir. Bukan untuk menahan. Hanya untuk memastikan.

Dan itu entah kenapa terasa lebih menyakitkan daripada kalau Devara datang sendiri sambil membentak.

Jam 6 pagi waktu New York. Apartemen Wijaya.

Pintu terbuka. Dan di sana, Wijaya duduk di kursi roda. Tubuhnya kurus. Rambutnya memutih. Tapi senyumnya masih sama seperti di foto lama yang Aruna simpan diam-diam.

“Run…” suaranya bergetar.

Aruna melepaskan tasnya. Berlari. Memeluk ayahnya erat. Air matanya pecah. Rindu tumpah dalam satu pelukan.

Bayu berdiri di belakang, tersenyum lega. Akhirnya.

Tapi Aruna, di tengah pelukan itu, tiba-tiba teringat punggung Andre yang pergi tanpa menoleh di bandara tadi malam.

Ia baru sadar: Devara mengirim Andre bukan untuk menahan. Tapi untuk memastikan ia aman sampai tujuan.

Dan itu berarti Devara benar-benar melepas.

Wijaya mengelus rambut Aruna. “Kamu kurus, Nak.”

Aruna mengangguk dalam pelukan. Tapi di kepalanya, suara Devara semalam masih terngiang:

“Kalau pergi sekarang… nggak akan saya cari kamu.”

Ia sampai di New York. Bersama Papa. Bersama Bayu.

Tapi kenapa rasanya… ia baru saja kehilangan sesuatu yang lebih besar dari kebebasannya?

Wijaya mengusap punggung Aruna pelan. “Udah, Nak. Kamu aman sekarang.”

Tapi Aruna tidak merasa aman.

Ia merasa kosong.

Di apartemen kecil itu, ada Papa. Ada Bayu yang tersenyum lega. Ada kebebasan yang dulu ia minta setiap malam dalam doa. Tapi kenapa napasnya tetap sesak?

“Run?” Bayu mendekat, khawatir. “Kamu kenapa?”

Aruna menggeleng. Ia memaksa senyum. “Nggak apa-apa. Cuma… kaget aja ketemu Papa.”

Bohong.

Yang ia lihat bukan hanya wajah Papa. Yang ia dengar bukan hanya suara Bayu. Di kepalanya masih ada suara lain: suara Devara yang berbisik di depan lift semalam.

“Kalau kamu pergi sekarang… nggak akan saya cari kamu"

Ia pikir kalimat itu akan membebaskan dia. Ternyata kalimat itu yang sekarang menghantui.

Di Jakarta, tengah malam, Devara duduk di lantai ruang kerjanya. HP di tangannya sudah mati. Foto terakhir dari Andre masih ia hafal: Aruna di kursi pesawat, wajah pucat, tidak tahu kalau ia masih diawasi.

Andre sudah pulang. Penthouse kembali sepi. Lebih sepi dari kemarin.

Devara menatap pintu lift yang tertutup. Di sanalah terakhir kali ia melihat Aruna. Dengan tas di bahu. Dengan keputusan di mata.

Ia pikir melepas itu mudah. Ternyata dadanya seperti digerogoti pelan-pelan.

“Baru beberapa jam,” gumamnya. “Kenapa rasanya kayak gue kehilangan semuanya?”

Di New York, Aruna akhirnya melepaskan pelukan dari Papa. Ia tersenyum, mengangguk, berusaha terlihat baik-baik saja.

Tapi saat Bayu memalingkan wajah, Aruna menunduk. Dan tanpa sadar, tangannya meraba tasnya.

Paspor ada di dalam. Tiket pulang belum ada.

Ia bebas.

Tapi hatinya… masih tertinggal di lift lantai 98.

1
andra screet love
lanjut trus 🙏🙏🙏💪💪
senjani jingga: siap😁
total 1 replies
pєkαᴰᴼᴺᴳ
semagat kk💪
senjani jingga: iya makasih, kamu juga semangat💪
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!