NovelToon NovelToon
The Predator’S Possession

The Predator’S Possession

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mafia / CEO
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Callalily

Benedict Franklin, pemilik Equinox Ventures dan pemimpin organisasi Veto, adalah pria yang hanya percaya pada angka dan kekuasaan. Baginya, emosi adalah kelemahan, dan tatapan matanya mampu meruntuhkan siapapun dalam hitungan detik. Namun, hidupnya yang penuh kendali berubah saat ia bertemu dengan Zara Clarance Harrison. Bagi Zara, hidupnya sudah cukup indah hanya dengan aroma tepung dan manisnya gula di toko kue kecil miliknya. Namun, dunianya yang tenang, hancur dalam semalam ketika ayahnya, David Harrison, menggunakan dirinya sebagai jaminan hutang kepada Benedict Franklin

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Callalily, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 1

“Anakku. Aku punya anak perempuan. Ambilah, gunakan sepuasmu.”

Benedict Franklin membeku, rahangnya mengeras hingga urat-urat di leher menonjol tajam. Matanya yang sedingin es kini berkilat, menyimpan amarah yang nyaris meledak. Dia manatap jijik pada sosok di depannya, seorang pria yang baru saja menggadaikan darah dagingnya sendiri demi nyawa yang tak seberapa.

“Kau menjijikkan, lebih dari sampah jalanan manapun,” geram Benedict, suaranya rendah dan sarat akan ancaman.

Moncong Desert Eagle miliknya ditekan lebih keras ke dahi David Harrison, meninggalkan bekas lingkaran merah yang dalam. David memekik, tubuhnya gemetar hebat hingga air kencing mulai merembes, membasahi celana dan lantai di bawah kursinya.

“A…apa maksudmu?! Putriku cantik dan masih sangat muda! Aku akan menyerahkannya kepadamu, kau bebas melakukan apapun, asalkan lepaskan aku!”

Benedict tidak menjawab, hanya tersenyum miring yang tampak begitu mengerikan di bawah lampu remang markas besar Veto. Dia memberi isyarat pendek pada Luca, tangan kanannya, untuk melepaskan ikatan tali yang melilit tubuh David.

“Lari!” Perintah Benedict singkat.

David tanpa berpikir dua kali, dia segera bangkit dan berlari tertatih-tatih di dalam labirin Veto yang luas dan menyesatkan. Ruangan itu dirancang untuk menghancurkan kewarasan, seolah tanpa batas, membuat David hanya berputar-putar dalam kepanikan yang mencekik.

“Nyalakan semua lampu. Aku akan mulai berburu,” titah Benedict.

Seketika seluruh ruangan terang benderang. Benedict berdiri tenang tanpa bergeser sedikit pun dari posisinya, matanya memicing, mengunci target yang sedang terseok-seok di kejauhan.

DOR!

Satu peluru melesat sempurna, bersarang telak di kaki David. Erangan kesakitan menggema, memecah kesunyian Veto saat dua pengawal menyeret tubuh David kembali ke hadapan Benedict.

“ARGHHHH! KEPARAT KAU SIALAN! BUNUH SAJA AKU!” maki David dengan sisa tenaganya, wajahnya pusat karena darah yang terus mengucur deras.

Benedict hanya tertawa sumbang, suara yang terdengar hampa sekaligus mematikan.

“Kau masih punya waktu hingga matahari terbit. Nikmati sisa waktumu.”

Benedict melangkah pergi begitu saja, mengabaikan segala sumpah serapah yang dilemparkan David. Di luar ruangan, Benedict berhenti sejenak untuk menyesap batang rokoknya, membiarkan asap putih memenuhi paru-parunya.

“Jangan biarkan dia mati. Aku tidak ingin dia mati dengan mudah” ucap Benedict pada Luca.

Luca yang sudah mendampingi Benedict sejak belia hanya mengangguk pelan.

“Nona Zara sudah sadarkan diri, kau akan membawanya bersamamu?” tanya Luca.

Benedict membuang puntung rokoknya ke lantai, menginjaknya hingga padam.

“Kau tahu Luca, aku tidak akan melewatkan buruanku.”

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Matahari sudah bersinar tinggi saat Benedict memasuki bangsal VVIP rumah sakit. Bau antiseptik yang menyengat menyambut cuping hidungnya, namun fokusnya hanya tertuju pada satu titik.

Benedict duduk di sofa, menatap diam pada tubuh Zara yang terbaring lemah dengan lebam kebiruan di sekujur tubuhnya.

Zara perlahan membuka mata, mengerjapkan kelopak matanya yang terasa berat. Dia mencoba untuk duduk, namun rasa nyeri di tulang rusuknya memaksa gadis itu kembali meringis kesakitan.

“Jangan banyak bergerak,” ucap Benedict, suaranya datar.

Zara tersentak, baru menyadari kehadiran pria itu disana. Dia menatap Benendict dengan tatapan yang sulit diartikan, antara takut dan bingun mendapati pria asing di bangsalnya.

Benedict bangkit, melangkah mendekat hingga bayangannya menutupi seluruh tubuh Zara. Dia membungkuk sedikit, menatap lurus ke dalam manik gadis itu yang masih bergetar.

“Maaf, Kau siapa? Aku tidak mengenalmu.” Tanya Zara, suaranya sedikit bergetar.

Alih-alih menjawab pertanyaan, Benedict justru mengajukan pertanya, “Kau tahu kenapa kau disini?”

Zara menggeleng pelan, suaranya tertahan di tenggorokan. Dia teringat bagaimana ayahnya menghajarnya habis-habisan malam itu sebelum segalanya menjadi gelap.

“David menggadaikanmu kepadaku, kau milikku sekarang,” bisik Benedict tepat di depan wajah Zara.

Napas Zara tercekat. Dia menatap Benedict dengan mata membelalak, mencoba mencari kebohongan di sana, namun yang dia temukan hanyalah kesungguhan yang mengerikan.

“Diriku adalah milikku. Aku tidak pernah menggadaikan diriku kepada siapapun,” ucap Zara dengan berurai air mata, ia mencoba menepis rasa takutnya.

Benedict mengulurkan tangan, jemarinya yang kasar mengangkat dagu Zara, memaksa gadis itu untuk terus menatapnya.

“Aku tidak peduli. Mulai detik ini, kau adalah milikku” ucap Benedict dengan nada klaim mutlak.

1
rurry Irianty
novel dark romance favorit kuuu
Bude Yanti
aku suka lajut kan
Nanda
novel ini bagus, cocok dibaca sama orang yang suka genre dark romance
Nanda
KAK SEMANGAT UP NYAAA
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!