NovelToon NovelToon
Mata Malaikat Dan Titisan Si Buta

Mata Malaikat Dan Titisan Si Buta

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Epik Petualangan / Fantasi
Popularitas:876
Nilai: 5
Nama Author: Iman Darul

Seorang bayi terlahir dalam keadaan cacat buta diberi nama Jalaludin Al Bulqini. Kesaktiannya di dapatkan dari darah sang ibu yang ternyata keturunan Si Buta Dari Gua Hantu.

Di saat bersamaan lahir seorang bayi yang juga buta, yang akan menjadi lawan antara putih dan hitam. baik dan buruk.

mereka memperebutkan mustika yang ternyata tersimpan di dalam tubuh seorang perempuan yang lahir di waktu yang sama, keturunan Ratu Ageng Subang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Iman Darul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kenangan di Balik Pohon Bakau

​Tujuh tahun telah berlalu, namun angin di pesisir Indramayu masih membawa aroma garam yang sama. Di halaman belakang sebuah rumah panggung yang tersembunyi di balik rimbunnya pohon bakau, seorang bocah laki-laki duduk bersila di atas sebuah batu besar. Matanya terpejam rapat, menyembunyikan kelopak yang tak pernah terbuka sejak lahir. Tangannya yang mungil namun kokoh menggenggam sebuah tongkat bambu kuning yang sudah licin karena sering digunakan.

​Telinga Jalaludin bergerak-gerak kecil, menangkap frekuensi kepak sayap capung di kejauhan, hingga suara desis angin yang terbelah.

​Wush!

​Sebuah batu sebesar kepalan tangan melesat dari arah kiri. Tanpa membuka mata, Jalal hanya memiringkan kepalanya beberapa milimeter. Batu itu lewat, hanya menyisakan embusan angin di telinganya. Tak lama, puluhan batu menyusul dari berbagai arah, dilemparkan oleh mekanisme kayu sederhana yang dipasang di pepohonan.

​Jalal tidak beranjak dari duduknya. Tongkat bambunya bergerak seperti tarian kilat. Takk! Takk! Trakk! Semua batu itu terpental jatuh sebelum sempat menyentuh kulitnya. Gerakannya sangat efisien, tenang, namun mematikan bagi siapapun yang mencoba mendekat.

​Suara langkah kaki yang berat dan tidak beraturan terdengar dari arah tangga rumah. Suara gesekan kayu dan tanah yang menandakan langkah yang pincang.

​"Hebat cucuku. Instingmu sudah melebihi tajamnya mata elang," suara berat itu milik Abah.

​Jalal menghentikan gerakan tongkatnya. Ia menoleh ke arah sumber suara, tepat ke arah wajah Abah meski ia tidak melihatnya. "Bah? Sudah selesai shalatnya?"

​Abah duduk perlahan di samping Jalal, kaki kanannya yang kaku dijulurkan lurus ke depan. Paha itu tampak sedikit bengkok, bekas luka besar yang dalam masih terlihat jelas jika kain sarungnya tersingkap.

​Jalal menyentuh lutut Abah yang kaku itu dengan lembut. "Bah... ceritakan lagi tentang Ayah. Tentang malam ketika kaki Abah jadi begini."

​Abah menarik napas panjang. Setiap kali Jalal meminta cerita itu, jantung Abah selalu berdenyut nyeri. Namun, ia tahu Jalal harus tahu harga dari nyawanya yang berharga. Kenangan Abah pun melesat, kembali ke malam berdarah tujuh tahun silam.

​Tujuh Tahun Silam...

​Malam itu, Indramayu yang biasanya tenang berubah menjadi jagat kematian. Dua bayangan hitam berkelebat menaiki tangga rumah panggung dengan gerakan yang sangat rapi. Mereka adalah predator yang terlatih, memegang pisau hitam yang tidak memantulkan cahaya rembulan.

​Namun, mereka meremehkan satu hal: darah jawara yang mengalir di tubuh Abah.

​Brak!

​Pintu depan jebol, namun sebelum pembunuh pertama bisa melangkah masuk, sebuah hantaman tongkat kayu jati milik Abah mendarat telak di dadanya. Pembunuh itu terpental jatuh kembali ke halaman.

​"Ahmad! Bawa Risma ke belakang! Sekarang!" teriah Abah sembari melompat turun ke halaman tanah.

​Pertarungan pecah di bawah cahaya bulan yang redup. Abah, meski sudah tua, bergerak dengan jurus-jurus silat tua yang mematikan. Namun, dua orang ini bukan preman pasar. Mereka adalah mesin pembunuh yang dingin. Mereka menggunakan teknik bela diri modern yang efisien.

​Abah dikeroyok. Satu lawan satu, Abah mungkin menang. Namun, koordinasi kedua pembunuh ini sangat sempurna. Saat Abah menangkis serangan pisau dari depan, pembunuh kedua meluncurkan tendangan rendah yang mengincar keseimbangan Abah.

​"Hah! Keparat!" geram Abah.

​Pisau hitam itu menyambar lengan Abah. Darah mulai membasahi bajunya. Pertarungan berlangsung sengit selama hampir sepuluh menit. Abah yang kelelahan mulai melambat. Di sebuah celah yang sempit, salah satu pembunuh berhasil menyelinap di bawah pertahanan Abah.

​Sret!

​Pisau itu merobek paha kanan Abah dengan sangat dalam, memutus otot dan hampir menghantam tulang. Abah berteriak tertahan, tubuhnya tersungkur di tanah merah. Darah mengalir membasahi tanah tempat Abah berdiri.

​Ahmad, yang sedari tadi mencoba mencari celah untuk membantu dengan sebuah parang tumpul, melihat mertuanya tumbang. Nyalinya meledak oleh rasa takut dan tanggung jawab.

​"Neng! Bawa lari anak kita! Lari ke arah hutan bakau!" teriak Ahmad sembari menerjang ke depan, menghalangi jalan kedua pembunuh itu agar tidak mengejar Risma.

​"Ahmad! Jangan!" teriak Abah dengan suara parau, berusaha bangkit namun kakinya sudah tidak bisa menumpu beban.

​Pembunuh itu menatap Ahmad dengan hina. Tanpa banyak bicara, salah satu dari mereka menggerakkan tangannya dalam sebuah gerakan melingkar yang cepat. Ahmad yang tidak punya dasar bela diri hanya bisa mengayunkan parangnya secara membabi buta.

​Jleb.

​Pisau hitam itu menembus perut Ahmad. Pria itu tertegun, matanya melotot. Ia merasakan dingin yang luar biasa menjalar dari perutnya. Namun, dengan sisa kekuatannya, Ahmad justru memeluk tubuh pembunuh itu erat-erat agar tidak bisa mengejar Risma.

​"Lari, Neng... lari!" suara Ahmad tersedak darah.

​Risma yang sedang menggendong Jalal di belakang rumah, mendengar teriakan itu. Dengan tangis yang pecah, ia berlari menembus gelapnya hutan bakau, kaki telanjangnya tergores akar-akar tajam.

​Di halaman, pembunuh kedua bersiap menghabisi Abah yang sudah tidak berdaya. Namun, tiba-tiba suara teriakan riuh terdengar dari arah jalan desa. Obor-obor terlihat mendekat.

​"Woy! Ada apa itu di rumah Abah?"

"Maling! Maling!"

​Anak buah Abah, para jawara pasar yang setia, datang dengan golok dan kayu pemukul. Melihat massa yang berjumlah puluhan, kedua pembunuh itu sadar misi mereka sudah gagal. Mereka tidak bisa mengambil risiko berurusan dengan polisi atau amukan massa.

​"Mundur!" perintah salah satu pembunuh. Mereka berbalik dan melompat pagar, menghilang ke arah berlawanan dengan pelarian Risma.

​Risma ditemukan oleh anak buah Abah di pinggir rawa sejam kemudian. Ia sedang mendekap Jalal yang tetap diam tanpa suara sedikit pun. Mereka membawanya kembali ke jalan, di mana Ahmad sudah terbaring di dalam mobil bak terbuka yang akan membawanya ke rumah sakit.

​Ahmad masih bernapas, namun dadanya naik turun dengan sangat lemah. Risma jatuh berlutut di samping suaminya, menggenggam tangannya yang sudah mulai dingin.

​"Kang... tahan Kang... ini Neng di sini," tangis Risma pecah, suaranya parau karena berteriak sepanjang hutan bakau.

​Ahmad membuka matanya sedikit, menatap wajah istrinya yang berlumuran lumpur dan air mata. Tangannya yang gemetar berusaha menggapai bungkusan kain yang berisi Jalal.

​"N-neng... jaga anak kita..." Ahmad terbatuk, darah keluar dari sudut bibirnya. "Maafkan... Akang... nggak bisa ikut... mengurus anak..k-kita."

​"Jangan ngomong begitu, Kang! Akang harus sembuh!"

​Ahmad tersenyum tipis, sebuah senyum yang sangat tulus, senyum yang sama saat ia menggoda Risma tentang urusan beli sate kambing jantan. "Neng... maafkan Akang... ya?"

​Genggaman tangan Ahmad melemas. Napasnya berhenti di tengah deru mesin mobil bak terbuka yang membelah malam Indramayu. Ahmad Syihabudin meninggal dunia sebelum sampai ke puskesmas, meninggalkan seorang istri yang menjerit histeris dan seorang putra yang lahir di tengah badai listrik, namun kehilangan ayahnya di tengah genangan darah.

​Kembali ke Masa Kini...

​Jalal tertunduk diam mendengar akhir cerita itu. Tangannya yang memegang tongkat bambu mengencang hingga buku-buku jarinya memutih.

​"Ayah meninggal demi melindungiku," bisik Jalal.

​Abah mengusap kepala cucunya. "Ayahmu adalah laki-laki paling berani yang pernah Abah kenal, Jalal. Dia tidak punya ilmu silat, tapi dia punya nyawa yang dia berikan tanpa ragu untukmu. Itulah kenapa kamu harus kuat. Kamu bukan cuma hidup untuk dirimu sendiri."

​Jalal berdiri dari batunya. Ia mengarahkan tongkat bambunya ke depan, ke arah laut yang luas. Meski matanya tertutup, ia bisa merasakan ada sebuah getaran jahat yang sangat jauh di sana, di kota yang penuh dengan beton dan kaca, yang sedang menunggunya.

​"Bah," suara Jalal berubah menjadi lebih dingin, lebih dalam. "Kapan aku bisa bertemu dengan orang-orang yang membunuh Ayah?"

​Abah menatap cucunya dengan bangga sekaligus ngeri. "Waktunya akan tiba, Jalal. Tapi sekarang, tunjukkan pada Abah... apa kamu sudah bisa merasakan arah angin sebelum ia bertiup?"

​Jalal tidak menjawab dengan kata-kata. Ia memutar tongkatnya, menciptakan suara siulan angin yang tajam, bersiap untuk latihan yang jauh lebih keras dari sebelumnya. Di dalam hatinya, sebuah sumpah telah tertanam: Darah ayahnya tidak akan tumpah dengan sia-sia.

​Pertarungan itu akan segera tiba, takdir sudah ditentukan, dan jalan akan semakin terjal.

1
Muqimuddin Al Hasani
💪 terimakasih
T28J
semangat a' /Rose//Rose//Rose//Rose/
T28J
keren pembukaan nya kak 👍👍👍
Muqimuddin Al Hasani
Sebuah karya yang diambil dari legenda Indonesia
T28J
👍👍👍
Muqimuddin Al Hasani
tadinya mau dioplos mbg
Muqimuddin Al Hasani
🤣🤣 untung nggak pake pestisida
T28J
anjay dioplos pakek darah
Muqimuddin Al Hasani
🤣🤣🤣 teu nyaho ieu rek komedi
T28J
eleuh eleuh si risma.. /Facepalm/
T28J
ngegeledak sia langsung mencret 🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!