"Tandatangani ini dan pergilah dari rumahku! Anak haram di rahimmu itu bukan darah dagingku!"Devan Mahendra, CEO dingin penguasa bisnis kota, melempar surat cerai tepat di wajah Anya. Terhasut oleh fitnah kejam, Devan mengusir Anya yang sedang hamil tua di tengah badai malam. Anya pergi membawa luka sedalam lautan dan dianggap tewas dalam kecelakaan tragis
Lima tahun berlalu. Devan hidup dalam penyesalan setelah kebenaran terungkap. Namun, dalam sebuah perjamuan bisnis kelas atas, sosok wanita yang sangat mirip dengan mendiang istrinya muncul. Dia bukan lagi Anya yang miskin dan penurut, melainkan Anastasia Wijaya, putri tunggal pewaris takhta keluarga terkaya nomor satu, didampingi sepasang anak kembar yang berwajah sangat mirip dengan Devan
Saat Devan berlutut memohon ampun, Anya hanya tersenyum dingin, "Maaf, Tuan Mahendra. Anda salah orang."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Finus Ina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 28
Happy reading guys
------------------------------
Bab 28: Badai Pembukaan Bursa
Gema suara langkah kaki Sekretaris Hendra di lorong VIP Rumah Sakit Pusat Jakarta terdengar begitu terburu-buru, memutus keheningan fajar yang baru saja mereda.
Wajah asisten tepercaya itu tampak sangat tegang saat ia menyerahkan komputer tabletnya ke hadapan Anastasia Wijaya.
Di atas layar, grafik merah berkedip konstan menampilkan hitung mundur pembukaan pasar modal yang tinggal menyisakan waktu lima belas menit lagi.
"Samuel Amalia benar-benar seorang pengacara bursa yang berdarah dingin, Nona," desis Hendra dengan napas yang memburu panik.
"Sistem auto-trigger yang ia pasang di peladen Swiss terhubung langsung dengan satelit bursa domestik. Jika obligasi bodong itu membanjiri pasar pada pukul sembilan lewat lima menit nanti, sentimen negatif akan menghancurkan likuiditas anak perusahaan kita di sektor pelabuhan timur seumur hidup mereka."
Anastasia Wijaya menyipitkan sepasang netra indahnya yang tajam, memancarkan kilat kemurkaan yang teramat pekat.
Sembari menatap layar tablet, otaknya yang genius langsung bekerja melakukan kalkulasi finansial.
Serangan dari Abraham Amalia di Singapura baru saja ia tangani dengan operasi senyap, namun kini Samuel meninggalkan warisan racun yang siap meruntuhkan takhtanya dari dalam lantai bursa Jakarta.
"Kita tidak bisa melakukan intervensi manual jika sistemnya digerakkan oleh peladen Swiss, Hendra," ucap Anastasia,
suaranya merendah hingga ke titik beku, memancarkan ketegasan seorang ratu bisnis yang sedang tersudut.
"Otoritas Jasa Keuangan butuh waktu minimal dua jam untuk membekukan transaksi massal seperti ini. Dalam waktu dua jam... perusahaan kita sudah resmi dinyatakan pailit secara teknis."
Tepat di saat keputusasaan taktis itu mulai merayap di dalam rongga dada Anastasia, sebuah suara bariton yang sangat serak namun sarat akan otoritas mutlak terdengar dari balik pintu ruang pemulihan steril di samping mereka.
"Gunakan... gunakan jalur lintas dark-pool milik Mahendra Group, Anya..."
Anastasia dan Hendra seketika tersentak sempurna.
Pintu kaca bergeser terbuka secara perlahan, menampilkan sosok Devan Mahendra yang sedang duduk di tepi ranjang pemulihannya dengan tubuh yang ditopang oleh Rian.
Wajah tampan sang CEO masih tampak begitu pucat laksana mayat hidup, dan selang alat pacu jantung mekanis sementara masih menempel ketat di dada bidangnya yang dilapisi perban medis.
Namun, sepasang netra elangnya memancarkan kilat ketajaman seorang penguasa bursa yang belum kehilangan taringnya sedikit pun.
"Devan! Apa yang kamu lakukan?! Kamu tidak boleh bergerak atau menerima guncangan emosional!"
pekik Anastasia histeris, langkah kakinya bergegas masuk ke dalam ruangan untuk menahan tubuh mantan suaminya agar tidak jatuh terduduk di lantai marmer.
Devan membalas cengkeraman tangan Anastasia dengan sisa kekuatan ringkihnya, menahan denyut perih yang membakar dari jahitan perut kirinya yang baru saja selesai dioperasi besar untuk ketiga kalinya.
"Saya tidak akan mati hanya karena selembar dokumen utang milik Samuel, Anya... Dengar saya seumur hidupmu... Samuel menggunakan protokol kliring Swiss untuk membanjiri pasar. Sistem itu memiliki kelemahan dasar pada validasi tanda tangan otoritas kustodian."
Devan melirik ke arah Alta yang mendadak melangkah masuk ke dalam ruangan bersama Arka yang masih memeluk bonekanya.
Sepasang mata elang Alta menatap lurus ke arah gawai pintar miliknya sendiri, seolah otaknya yang gifted sudah lebih dulu menangkap struktur kode bursa yang sedang diperdebatkan oleh orang tuanya.
"Alta... bawa jam tangan pintarmu ke sini, Sayang," suara Devan melemah namun sarat akan rasa bangga yang teramat pekat.
Pria itu mengulurkan tangannya yang gemetar ke arah putra sulungnya.
"Ayah tahu kamu sudah meretas manifes peladen Mahendra Group subuh tadi. Di dalam sistem perwalian (Trust Fund) yang kubuat untukmu... terdapat sebuah kunci enkripsi utama berstempel Master Kustodian yang tersembunyi di balik partisi memori merah."
Alta tidak banyak bicara. Bocah berusia empat tahun itu menarik napas panjang, lalu melangkah tegap mendekati tepi ranjang Devan.
Dengan gerakan jemari kecilnya yang luar biasa lincah dan presisi, ia menyentuh layar jam tangan pintarnya, melakukan pemindahan data nirkabel berskala raksasa langsung menuju laptop pribadi milik Anastasia yang terbuka di atas nakas medis.
Bzzz... Klik!
Layar laptop Anastasia yang semula dipenuhi notifikasi darurat berwarna merah, mendadak berkedip biru seutuhnya.
Sebuah program dana perwalian rahasia berstempel emas kuno dengan nama "Alta-Arka Kustodian Internasional" terbuka dengan visual yang teratur.
"Ini... ini adalah protokol perisai bursa yang sah secara hukum internasional, Devan?!"
Anastasia tercekat sempurna, menatap tidak percaya ke arah draf program buatan Devan tiga minggu lalu sebelum insiden penusukan terjadi.
"Benar,"
Devan menyunggingkan senyum tipis yang penuh dengan intrik kelam yang mematikan dari balik wajah tirusnya.
"Kunci perwalian Alta memiliki wewenang hukum mutlak untuk melakukan penolakan sepihak (rejection right) atas setiap obligasi bodong yang mencatut nama Mahendra Group sebagai penjamin. Begitu pasar dibuka pukul sembilan lewat lima menit nanti... kita tidak perlu membekukan sistem bursa. Kita biarkan sistem Alta menelan seutuhnya obligasi bodong milik Samuel, lalu membalikkan status utang tersebut secara hukum langsung ke atas nama rekening pribadi milik Samuel Amalia dan seluruh sisa aset milik Keluarga Amalia di luar negeri!"
Anastasia menarik napas dalam-dalam, menatap mantan suaminya dengan pandangan mata yang dipenuhi kekaguman yang teramat luar biasa.
Kombinasi antara kejeniusan taktis Devan Mahendra dan kemampuan siber tingkat tinggi milik Alta menciptakan sebuah aliansi perlindungan keluarga yang teramat mengerikan bagi siapa pun yang berani menjadi lawan mereka.
"Hendra! Masukkan kunci enkripsi Alta ke dalam jalur kliring bursa efek Jakarta sekarang juga!"
perintah Anastasia dengan suara melengking tinggi penuh dengan dominasi mutlak seorang ratu bisnis yang siap mematungkan musuhnya di ujung maut.
"Baik, dimengerti, Nona Anastasia! Eksekusi sistem perisai Alta dimulai dalam hitungan mundur tiga puluh detik sebelum pasar dibuka!"
Hendra berseru dengan semangat yang kembali membara, jemarinya bergerak kilat mengunci instruksi digital akhir.
Waktu merambat dengan kejam membelah fajar yang kian benderang di Kota Jakarta.
Di dalam sebuah gedung mewah pusat kendali bursa efek, jarum jam tepat menyentuh pukul sembilan lewat lima menit.
Layar monitor pasar modal nasional seketika bergetar hebat saat sistem otomatis Samuel melepaskan jutaan obligasi bodong ke dalam sirkuit perdagangan publik.
Namun, tepat di detik yang paling krusial di ambang kebangkrutan teknis tersebut, program emas milik Alta yang digerakkan dari balik kamar rumah sakit mendadak aktif secara otomatis,
memicu sebuah kejutan besar baru yang membuat sistem siber bursa saham internasional di Swiss dan Jakarta mengalami pembekuan massal secara mendadak.
_______
Bersambung.......
Jangan lupa tinggalin jejak dulu yaa biar aku nambah semangat nulisnya (like and komen guyss)