Pulang dari rumah sakit sehabis melahirkan, Alena di kejutkan sebuah Lingerie Merah yang tergeletak di atas ranjang adiknya. Alena terkejut bukan tanpa alasan. Sementara Tiyas - adiknya itu masih lajang. Lalu, Tiyas gunakan untuk apa pakaian vulgar itu.
Setelah Alena menyelidiki, ternyata Lingerie itu Tiyas gunakan untuk memuaskan....????
Tak hanya hati Alena yang hancur. Masa depan putranya juga ikut terpatah. Di tengah himpitan masalah ekonomi, datanglah sosok Juragan cukup matang bernama~Danu Albiru. Pria berusia 38 tahun itu tidak hanya menawarkan pernikahan KONTRAK. Tapi membantu Alena bangkit, menjamin masa depan putranya.
Akankah Alena tetap mempertahankan pernikahannya dengan Dewantara? Ataukan bersedia cerai, dan memilih tawaran menggiurkan Juragan Danu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Septi.sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 24
Karena mood Danu sudah hancur, maka Pria tampan itu langsung bangkit dan melenggang pergi kembali tanpa peduli tatapan tajam wanita pemujanya.
"Danu... Kamu tega tinggalin aku sendirian?! Danuuuu......"
Teriakan Lisa sama sekali tak membuat goyah langkah jenjang sang Juragan. Danu terus saja berjalan lebar, menyebrang, lalu kembali masuk ke dalam rumah sakit tersebut.
Lisa yang masih menoleh, matanya memicing beberapa detik. "Danu ke rumah sakit? Siapa yang sakit? Perasaan aku tadi habis dari rumahnya... Nggak ada keluarganya yang sakit. Aku harus cari tahu."
Tanpa berpikir dua kali, Lisa segera bangkit dan diam-diam mengikuti langkah Danu dari belakang.
Sementara di dalam ruangan rawat, Alena baru saja keluar dari kamar mandi setelah membersihkan diri. Wanita cantik itu terlihat sudah wangi, memakai dress selutut, rambutnya di gerai lurus dengan pita di belakangnya. Alena menatap box bayi itu sejenak. Putranya menggeliat kecil, lalu kembali tidur dengan pulas.
Ce_klek!
Alena dan Bik Risna reflek menoleh ke arah pintu. Mukti masuk membawa satu map data keluar masuknya barang Pabrik.
"Bagaimana, Mukti?" Alena sudah menghampiri tangan kanannya itu.
"Ini, Mbak... Semua data barang masuk sudah saya lingkari. Oh ya, tadi saya dapat kabar dari Pak Santoso, minta cengkeh kering harus di kirim petang nanti." Jelas Mukti.
Alena mengangguk kecil. "Jika buruhnya kurang, kamu suruh pekerja gudang di rumah untuk membantu menjemur di Pabrik dulu."
"Baik, Mbak! Kalau begitu saya permisi dulu," pamit Mukti bergegas keluar.
Alena berjalan menuju sofa, dan kini tampak fokus dengan laporan serta data Pabrik tadi. Di tengah fokusnya itu, gawainya bergetar. Sebuah pesan masuk dari Pengadilan Agama Gunung Kidul.
Jadwal sidangnya sudah keluar. Alena cukup bahagia dengan hal itu. "Syukurlah, besuk sidangnya terlaksana. Semoga saja Mas Dewan tidak memperberat urusanku. Aku sudah mengikhlaskan pernikahan ini."
Alena tersenyum simpul, tarikan napanya juga terdengar ringan. Rasa yang beberapa hari menggumpal itu, kini seolah tersiram air jernih, dan Alena mampu merasakan kelegaan itu.
Dari luar, pintu tiba-tiba terdorong. Danu masuk dengan sikap maskulinnya. Alena yang menyadari hanya mampu memutar jengah bola matanya. Padahal, pria itu sama sekali belum mandi.
"Aku tadi lihat mukti datang? Ada apa?" Danu sudah menjatuhkan tubuhnya di sofa sebrang.
Alena masih sibuk membolak balikan data Pabrik tadi. Ia menjawab tanpa menatap sang Juragan. "Pak Danu apa tak melihat? Semula di meja ini tak ada laporan. Lalu tiba-tiba ada, berarti Anda sudah tahu jawabanya tanpa bertanya."
"Tinggal menjawab, kenapa jadi kamu putar kemana-mana. Hah...." Danu mendesah lelah, lalu menyandarkan punggungnya pada Sofa.
"Lebih baik Pak Danu mandi dulu deh!" kecam Alena tanpa menatap juga.
Danu mengendus lenganya kanan kiri. Dahinya berkerut tipis, tubuhnya sama sekali tak bau. Masih wangi, karena sebelum datang ke rumah sakit dirinya sudah mandi parfum. "Saya masih wangi. Tapi baiklah... Jika yang menyuruh calon Istri saya, maka saya akan turuti. Saya mandi dulu, Alena!"
Mata Alena terbuka sedikit lebar. Danu sudah menenteng paperbag menuju kamar mandi. Langkah tegas itu terpaksa menggantung kala Wanita cantik di belakangnya kembali memekik.
"Ehhh... Mau mandi kemana, Pak Danu?"
Danu membalikan badan, jempolnya menunjuk kamar mandi. "Ya di kamar mandi lah, masak di ruang IGD!"
Alena bangkit. "Maksud saya mandinya di rumah saja, Pak Danu!" bibir tipis itu memaksakan tersenyum.
"Nggak! Saya masih ingin menemani calon putra saya disini!" tolak Danu alis tebalnya sudah bertaut.
Alena berkacak pinggang. Matanya terhunus tajam. "Mandi terus pulang! Nanti sore jika mau kesini, oke nggak masalah! Tapi Pabrik juga harus ke urus, Pak Danu! Saya sudah disini, jadi Anda yang harus mengurus semuanya!"
Mendengar kepercayaan itu, sontak saja perasaan Danu berbunga-bunga. Semangat dalam sanubarinya meledak, membuatnya tak mampu menutupi rasa bahagia.
"Saya akan segera mandi dan ke Pabrik! Kamu tenang saja, calon Istriku," kekehnya kecil, lalu segera masuk ke dalam kamar mandi.
Bik Risma yang duduk di dekat box Delan, lagi-lagi tak mampu menahan tawa bahagianya. Alena menyadari, dan hanya menghela napas cukup berat. Ia kembali duduk dan melanjutkan pendataan.
"Perasaan kemarin nggak kaya gitu deh?! Fiks, perjaka tua itu harus rawat jalan," gerutu Alena sambil geleng-geleng kepala.
*
Beberapa menit mandi, kini Danu sudah keluar dengan rambut basahnya. Dalam balutan kaos kerah bewarna coklat muda, di padukan celana hitam, garis rahang keras yang begitu bersih dan terawat, sikap maskulin itu mampu membuat Alena terkesima beberapa menit. Apalagi kalung emas kecil yang melingkar di leher sang juragan. Usia 38 tahun itu seolah tertutup dengan ketampanannya.
'Astaga, kenapa setelah mandi wajahnya berubah? Apa dia bawa kembang tujuh taman di dalam tasnya tadi?!'
Danu tersenyum tipis, melirik Alena yang tampak terpukau dengan sikap maskulinnya itu. Danu kini memilih berjalan menuju box Delan, memandang bayi 1 bulan itu dengan tatapan penuh kasih.
"Delan... Papah Danu kerja dulu, ya! Papah kerja buat masa depan kamu dan Mamah, nantinya," lirih Danu sambil mengusap lembut kepala calon Putranya.
Pandangan Alena juga tak luput dari sikap hangat sang juragan. Perasaanya tiba-tiba menghangat, rasanya tak ingin usai meski sedetik pun.
"Bik, saya titip Delan, ya! Saya permisi," pamit Danu bersikap segan. Lalu ia berhenti sejenak. Menatap Alena yang tiba-tiba saja wanita cantik itu langsung melanjutkan pendataan tadi. "Alena, saya kerja dulu!"
"Hem! Hati-hati...." jawabnya acuh.
Danu menunduk, menyembunyikan senyumnya, lalu segera keluar.
Setelah kepergian Danu, selang beberapa detik saja. Pintu tiba-tiba terdorong dari luar kembali. Alena mengira jika itu adalah perbuatan Perjaka Tua itu lagi.
"Ada apa lagi, Pak Dan_nu...."
Kalimat Alena mengambang. Ia agak terkejut dengan kedatangan sosok wanita cantik cukup dewasa di sebrang. Wanita itu tengah menatap kearahnya penuh telisik dan penuh tanya.
Bik Risma yang melihat juga ikut bangkit. Alena menyudahi pendataan tadi. Lalu bangkit dan berjalan agak mendekat.
"Maaf, siapa Anda? Apa anda salah ruangan?" tegur Alena.
Wanita yang tak lain Lisa itu, kini membuka suara cukup mengintimidasi. "Apa hubunganmu dengan Juragan Danu?"
"Maksud Anda?" Alena menyipitkan mata. Jika di lihat-lihat dari cara sikap serta tatapanya, Alena yakin jika wanita dewasa di depanya itu adalah salah satu ani-ani milik Danu. Entah mengapa ide tengil tiba-tiba timbul dari benaknya.
"Saya ini kekasihnya, Juragan Danu!" perjelas wanita tadi.
Alena tersenyum miring melipat kedua tanganya. "Kalau saya... Saya calon Istrinya juragan Danu!"
Kedua mata Lisa terbuka sangat tajam.
ceritanya bagus alen audah kuat ituuuu,
tapi gpp belum rejeki
👍👍👍👍
semoga bisa baca kelanjutan cerita ini di lain waktu.
semangaat thor