NovelToon NovelToon
Untuk Pertama Kalinya Aku Takut Kehilangannya

Untuk Pertama Kalinya Aku Takut Kehilangannya

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: zehn hart

Di sekolah elit yang dipenuhi anak pejabat dan keluarga terpandang, Leon Knight de Arther dikenal sebagai murid paling tenang sekaligus paling sulit didekati. Tatapannya dingin, hidupnya sempurna, dan tak seorang pun berani mencari masalah dengannya.

Namun tidak ada yang tahu bahwa di balik seragam putih dan sikap tenangnya, Leon adalah putra kedua dari keluarga mafia paling berpengaruh di kota.

Sebagai putra kedua, Leon hidup di bawah bayang-bayang keluarganya sendiri. Ia tidak pernah benar-benar dianggap, tetapi juga tidak pernah bisa bebas dari dunia gelap yang diwariskan kepadanya. Hingga kedatangan seorang siswi pindahan mengubah segalanya.

Rachael Velencia.

Gadis itu berbeda dari semua orang yang pernah ditemui Leon. Rachael tidak takut padanya, tidak peduli pada rumor tentang dirinya, dan perlahan masuk ke hidup Leon yang selama ini dipenuhi kekosongan.

Untuk pertama kalinya, Leon mulai merasakan kehidupan normal yang selalu ia inginkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zehn hart, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 30 - Belajar Bersama

Axel yang melihat semuanya dalam diam hanya menyendok mie lagi. Lalu menyendok lagi. Lalu minum es campur. Kemudian menatap dua orang di hadapannya.

"..." Ia menghela napas panjang.

Rachael menoleh.

"Kenapa lagi?"

"Gua cuma berpikir."

"Mikir apa? Biasanya juga nggak punya pikiran."

"Kurang ajar."

Rachael terkekeh kecil.

Axel menunjuk dirinya sendiri.

"Gua ada di sini."

"Iya."

"Kalian sadar kan gua ada?"

"Iya."

"Kenapa rasanya tidak begitu?"

Rachael memiringkan kepala.

"Entah lah, mungkin karena kau juga aneh."

"Justru gua yang paling normal disini makanya gua sadar."

"Sadar apa?"

Axel membuka mulut. Lalu menutupnya lagi.

Kemudian memutuskan untuk tetap hidup lebih lama.

"Tidak jadi."

"Itu lebih baik."

Leon yang dari tadi diam kembali menyendok mie.

Masih kepedasan dan masih membuatnya berkeringat. Tapi anehnya ia tidak berhenti makan.

Karena memang rasanya enak. Mungkin bukan makanan paling mewah yang pernah ia makan.

Jelas bukan.

Di rumahnya, para koki profesional bisa membuat hidangan yang jauh lebih mahal dan rumit.

Namun entah kenapa... Mangkuk mie sederhana ini terasa berbeda.

Hangat dan nyaman.

Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia makan bersama teman-temannya di meja makan yang kecil.

Bukan meja makan panjang di mansion.

Bukan ruang makan yang terlalu besar.

Hanya meja sederhana dengan tiga orang duduk berdekatan. Suasana yang tidak pernah benar-benar ia miliki.

Pandangannya tanpa sadar beralih ke arah Rachael.

Gadis itu sedang makan dengan santai. Sesekali menyelipkan sayuran ke mangkuk Axel saat Axel tidak memperhatikan.

"Astaga." Axel langsung protes. "Kok sayurnya nambah?!"

"Aku membantu kesehatanmu."

"Gua nggak minta bantuan."

"Kau membutuhkannya."

"Itu fitnah."

"Itu fakta."

Leon melihat pertengkaran kecil itu. Lalu tanpa sadar sudut bibirnya sedikit terangkat.

Rachael langsung melihatnya.

"Kau tertawa."

Leon berhenti dan langsung datar.

"Aku tidak tertawa."

"Tertawa."

"Tidak."

"Tertawa, tadi terlihat jelas."

"Aku cuma melihat orang bodoh berdebat dengan sayuran."

"HEI!" Axel langsung menunjuknya. "Lu mulai jahat sama gua gara-gara dekat sama dia!"

Rachael langsung tertawa.

"Benar." Leon tidak membantah.

Dan itu membuat Axel merasa dunia sudah berakhir.

||

Beberapa saat kemudian.

Makanan akhirnya habis. Bahkan kuahnya hampir tidak tersisa.

Rachael mengangkat mangkuk kosong Axel.

"Habiskan juga sayurannya."

"Gua udah makan."

"Masih ada dua lembar."

"Itu hiasan."

"Itu makanan."

"Itu tanaman."

"Itu sayuran, cepat makan."

"Itu musuhku."

Rachael langsung memasukkan dua lembar sawi ke mangkuk Axel.

"Tidak ada negosiasi."

"Kejam." Namun pada akhirnya Axel tetap memakannya. Dengan ekspresi seperti pahlawan yang sedang berkorban demi dunia.

Leon sampai harus memalingkan wajah agar tidak tertawa.

Setelah selesai makan, Rachael berdiri.

"Aku cuci piring dulu."

"Aku bantu." Leon ikut berdiri.

Rachael berkedip.

"Tidak perlu."

"Ku bantu."

"Tidak usah."

"Bantu."

"Tidak."

"Bantu."

Rachael menatapnya beberapa detik.

Lalu menyerah. "...Oke."

Axel yang melihat itu langsung bersandar di kursi.

"Wah."

"Apa?"

"Kalian seperti pasangan tua."

Ruang makan langsung hening.

Rachael membeku.

Leon juga terdiam.

Axel baru sadar apa yang baru saja ia katakan.

"..."

"..."

"Ups."

Rachael langsung melempar serbet ke wajahnya.

"Diam."

"Gua cuma bercanda!"

"Diam."

"Gua benar-benar bercanda!"

Leon memijat pelipisnya.

Sementara Axel tertawa sendiri karena berhasil membuat suasana kacau.

Tidak lama kemudian.

Piring-piring sudah bersih. Meja makan juga sudah dirapikan.

Langit di luar jendela mulai gelap.

Lampu-lampu kota mulai menyala satu per satu.

Ruang tamu apartemen terasa hangat.

Rachael membawa buku dan beberapa lembar tugas ke meja.

"Nah." Ia duduk kembali.

"Waktunya mengerjakan PR."

Seketika ekspresi Axel berubah.

"..."

"Kenapa wajahmu seperti itu?" tanya Rachael.

"Gua baru ingat kalau tujuan awal datang ke sini bukan makan."

"Lalu?"

"PR."

"Iya."

"Gua mau pulang."

"Terlambat."

Axel langsung menjatuhkan kepalanya ke meja.

"Tolong, gua nggak mau."

Leon yang duduk di samping justru membuka buku pelajarannya dengan tenang.

Rachael juga sudah mengambil pensil.

Melihat dua orang itu siap belajar, Axel merasa dirinya benar-benar sendirian.

Lalu ia memandang langit-langit apartemen.

Dalam hati ia membuat kesimpulan yang sudah kesekian kalinya hari ini.

"Gua datang untuk mengantar Rachael pulang, makan gratis, jadi penonton romansa orang lain, dipaksa makan sayur. Sekarang aku dipaksa mengerjakan PR. Dan entah kenapa aku tetap merasa seperti NPC."

Namun saat ia mendengar tawa kecil Rachael dan melihat Leon yang tampak jauh lebih santai dibanding biasanya, Axel akhirnya hanya menghela napas pasrah.

"...Yah."

Mungkin menjadi NPC di tempat seperti ini tidak terlalu buruk.

Karena untuk pertama kalinya setelah lama, apartemen kecil milik Rachael terasa hidup.

Dan tanpa disadari ketiganya mulai menciptakan kenangan sederhana yang akan sulit mereka lupakan di masa depan.

...----------------...

Jam di dinding menunjukkan pukul Setengah tujuh malam.

Di luar jendela apartemen, langit sudah sepenuhnya gelap.

Lampu-lampu gedung dan kendaraan terlihat berkilauan di kejauhan.

Sementara itu di meja ruang tamu...

Suasana belajar berlangsung dengan cara yang sangat berbeda untuk masing-masing orang.

Mereka sedang belajar bersama, beberapa kali Leon membantu Rachael yang sesekali salah menjawab soal, karena keliru.

Leon tahu Rachael orang yang genius, karena kepintarannya melebihi orang normal. Hanya saja Leon ingin Rachael merasa sedang di perhatikan yah atau mendapatkan perhatian darinya.

Sementara itu Axel menyimak dan sesekali dimarahi karena tidak mengerti yang sudah di jelaskan Leon dan Rachael.

Rachael duduk bersandar santai di kursinya. Pensil berada di tangan kanan. Lembar tugas matematika terbuka di depannya.

Sesekali ia menulis jawaban, sesekali menghapus, lalu menulis lagi.

Di sampingnya, Leon sedang membaca soal berikutnya.

Sedangkan Axel...

Axel diam menatap soal di bukunya. Soal itu menatap balik.

Lima menit berlalu.

Sepuluh menit berlalu.

Leon akhirnya melirik.

"Lu belum mengerjakan satu soal pun."

"Gua sedang memahami konteks."

"Lu lagi melamun dari tadi."

"Itu bagian dari proses memahami."

"Itu bukan."

Axel menghela napas.

"Kenapa angka harus ada sebanyak ini sih?"

"Karena itu matematika."

"Gua benci matematika."

Leon langsung mengambil buku Axel.

"Nomor tiga."

"Hm?"

"Kerjakan."

"Gak bisa."

"Kenapa?"

"Gak ngerti."

Leon menunjuk baris pertama.

"Bagian mana yang tidak kau mengerti?"

Axel melihat soal itu. Lalu melihat Leon.

"Semuanya."

Rachael yang mendengar itu langsung menahan tawanya. Bahunya mulai bergetar.

Leon memejamkan mata beberapa detik. Mungkin sedang berusaha menjaga kesabaran.

"Mari kita mulai dari awal."

"Nah itu baru guru yang baik."

"Diam, dengarkan."

"Baik."

Leon mulai menjelaskan langkah demi langkah.

Dengan sabar.

Rachael memperhatikan dari samping, diam-diam merasa sedikit kagum.

Karena biasanya Leon terlihat tidak terlalu suka menjelaskan sesuatu berulang-ulang.

Namun untuk Axel...

Entah kenapa ia tetap menjelaskan. Meski kadang terdengar seperti sedang menahan keinginan untuk melempar buku.

"Lalu hasilnya?"

"Hm..."

"Axel."

"Hm..."

"Jawab."

"Empat belas?"

"Salah."

"Dua belas?"

"Salah."

"Sebelas?"

"Salah."

"Aku hampir benar."

"Tidak."

Rachael akhirnya tidak tahan. Tawanya pecah. "Hahaha... Apaan sih?"

Axel langsung menunjuknya.

"Kau jangan ikut tertawa."

"Maaf, tapi itu lucu."

"Gua sedang berjuang."

"Kau sedang menebak."

"Itu juga bentuk perjuangan."

Leon memijat pelipisnya lagi. Sudah yang kesekian kalinya hari ini.

Beberapa saat kemudian.

Rachael selesai mengerjakan satu halaman penuh.

Ia meregangkan tubuhnya. Lalu melirik pekerjaan Leon. Dan menemukan satu jawaban yang menurutnya aneh.

"Hm?"

Leon menoleh.

"Apa?"

"Nomor delapan."

"Kenapa?"

"Aku dapat jawaban berbeda."

Leon melihat lembar tugasnya. Kemudian melihat lembar milik Rachael. Lalu mereka mulai membahas soal itu.

Axel yang berada di seberang meja hanya memperhatikan.

Satu menit.

Dua menit.

Tiga menit.

Mereka masih membahas.

Dan semakin lama pembahasannya semakin terdengar seperti bahasa asing baginya.

"Karena variabelnya berpindah ke sini."

"Tapi kalau menggunakan metode itu hasilnya tetap berbeda."

"Karena ada bagian yang terlewat."

"Oh."

"Tunggu, benar juga."

"Oh."

"Hm."

"Oh."

"Hm."

Axel menatap langit-langit.

"Aku tidak mengerti satu kata pun."

Tidak ada yang menjawab.

Karena dua orang di depannya masih sibuk berdiskusi.

"Aku benar-benar NPC."

Pada akhirnya...

Mereka menemukan jawabannya. Dan ternyata yang benar adalah milik Rachael. Leon menatap hasilnya beberapa detik. Lalu mengangguk.

"Kau benar."

Rachael terlihat puas.

"Aku tahu."

"Itu bukan respons yang rendah hati."

"Aku memang benar."

"Itu juga benar."

Axel hampir jatuh dari kursinya.

"Kalian berdua benar-benar cocok."

Rachael langsung mengambil penghapus.

"Jangan mulai lagi."

Axel buru-buru mengangkat tangan.

"Oke, oke. Gua diam."

Waktu berlalu cukup cepat.

Tumpukan tugas perlahan berkurang. Suasana ruang tamu tetap hangat.

Kadang mereka serius belajar. Kadang malah mengobrol. Kadang Axel menjadi korban. Seperti biasa.

Sampai akhirnya...

...****************...

Bersambung...

1
Ruby
menarik, semangat ya💪😊
Kartika Bessy
sangat bagus, ditunggu chapter berikutnya hingga tamat
Kartika Bessy
kak lanjutan mana sih 🥲
T28J
semangat update nya thor...
iklan buat kamu
Wawan
Rachaeeeel... 😍😍😍
Aksara_Lintangjati
Semangat Menulisnya kak,

Jika berkenan boleh mampir dan baca ceritaku hehe
Aksara_Lintangjati
Bagus, gak nelan mentah mentah gosip👍
Aksara_Lintangjati
Rachael kek beo yee
Aksara_Lintangjati
Leon kek saya wkwkwk
Aksara_Lintangjati
Mungkin karena dia baru kenal lo, Leon....
Aksara_Lintangjati
ini dibacanya Rahel, atau Racael, atau Racel?
zehn hart: Iya kak, dibacanya Racael
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!