Di tengah kehidupan yang penuh hinaan dan kesulitan, Xiao Chen kecil hanya memiliki satu mimpi—menjadi pendekar pedang terhebat di dunia.
Tanpa bakat luar biasa maupun latar belakang kuat, ia menapaki jalan pedang dengan tekad yang tak pernah padam. Bagi Xiao Chen, pedang bukan sekadar senjata, melainkan guru yang mengajarkannya tentang rasa sakit, pengorbanan, dan arti kehidupan.
Namun di dunia tempat kekuatan menentukan segalanya, mampukah seorang anak dari keluarga buruk mengukir namanya hingga mengguncang langit dan bumi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13: Memahami diri
Xiao Chen terduduk di atas tempat tidurnya, keringat dingin membasahi seluruh tubuhnya. Jantungnya berpacu cepat di kegelapan malam asrama yang sunyi.
"Mimpi itu lagi..." bisik Xiao Chen sambil memegangi kepalanya yang pening. Ia mulai menyadari satu kenyataan pahit lainnya: bahwa luka mental di dalam jiwa jauh lebih sulit disembuhkan daripada luka fisik di tubuh.
Langit malam di Sekte Pedang Langit tampak sunyi. Angin dingin bertiup melewati tebing belakang area Murid Luar, membuat jubah abu-abu Xiao Chen berkibar pelan.
Sudah tiga bulan berlalu sejak insiden di Hutan Kabut. Tiga bulan sejak ia melihat murid-murid yang berteriak ketakutan lalu lenyap ditelan monster. Tiga bulan sejak ia memahami bahwa dunia kultivasi tidak pernah peduli pada air mata orang lemah.
Xiao Chen duduk bersila di atas batu besar, menatap bulan pucat di langit. Aura Ranah Pemula berputar perlahan di meridiannya, namun wajahnya tidak menunjukkan kebanggaan sedikit pun. Ia justru tampak lelah.
Di dalam Dunia Pedang, Roh Pedang berdiri di sampingnya. Hanya ada keheningan.
"...Kakek Roh," bisik Xiao Chen pelan. "Kenapa semakin kuat seseorang... semakin banyak hal yang hilang?"
Roh Pedang tidak langsung menjawab. Ia menatap hamparan pedang-pedang yang tertancap di tanah abu-abu itu cukup lama sebelum akhirnya membuka mulut.
"Karena jalan kultivasi bukan jalan untuk mendapatkan segalanya, Nak."
Xiao Chen mengernyit. "Kalau begitu... apa gunanya menjadi kuat?"
Roh Pedang tertawa kecil. Bukan tawa mengejek, melainkan tawa pahit seseorang yang sudah melihat terlalu banyak. "Dulu aku juga menanyakan hal yang sama."
Ia berjalan perlahan melewati ribuan pedang.
"Ketika seorang manusia mulai berkultivasi, ia berpikir kekuatan akan memberinya kebebasan. Saat menjadi lebih kuat, ia ingin melindungi keluarganya. Saat menjadi lebih kuat lagi, ia ingin melindungi teman-temannya. Namun semakin tinggi seseorang mendaki... semakin sedikit orang yang mampu berjalan bersamanya."
Xiao Chen terdiam.
Roh Pedang melanjutkan, "Orang tuamu akan menua. Temanmu bisa mati. Saudaramu bisa mengkhianatimu. Dan suatu hari nanti... kau mungkin bahkan harus mengubur orang yang paling kau cintai dengan tanganmu sendiri."
Tatapan Xiao Chen bergetar. "...Kejam sekali."
"Dunia memang kejam." Roh Pedang menatapnya lurus. "Karena itu seorang kultivator sejati tidak boleh menggantungkan hatinya sepenuhnya pada dunia luar. Keterikatan adalah kekuatan... sekaligus rantai."
Xiao Chen mengepalkan tangannya. "Tapi kalau seseorang tidak punya keterikatan... bukankah dia hanya jadi monster dingin?"
Mata Roh Pedang sedikit menyipit. "Itulah garis tipis yang paling sulit dijaga. Kultivator tanpa hati akan menjadi iblis. Kultivator yang terlalu terikat akan hancur oleh kehilangan. Karena itu keseimbangan adalah inti dari jalan kultivasi."
Xiao Chen menunduk. Bayangan murid-murid yang dimakan Serigala Kabut kembali muncul di kepalanya. "Aku masih terus mengingat wajah mereka... suara mereka... aku bahkan tidak bisa menolong mereka."
Roh Pedang memandang Xiao Chen cukup lama. "Lalu apa yang kau pelajari dari kematian mereka?"
Xiao Chen terdiam. Lama sekali. Akhirnya ia menjawab pelan, "...Bahwa nyawa manusia sangat rapuh."
"Dan?"
"...Bahwa rasa takut bisa membuat manusia saling meninggalkan."
Roh Pedang mengangguk pelan. "Itu baru permukaan." Ia menunjuk ke arah dada Xiao Chen. "Kematian mengajarkan satu hal yang paling penting bagi seorang kultivator. Bahwa waktumu terbatas. Karena itulah manusia mencari keabadian. Tapi ironi terbesar dunia kultivasi adalah..." suara Roh Pedang mengecil perlahan, "...semakin lama seseorang hidup, semakin banyak kematian yang harus ia saksikan."
Angin dingin berembus. Untuk sesaat, wajah Roh Pedang tampak sangat tua. Sangat lelah.
"...Kakek Roh," ucap Xiao Chen hati-hati. "Apakah kau juga kehilangan banyak orang?"
Roh Pedang tertawa pelan. Namun kali ini, tawa itu terdengar kosong. "Aku bahkan sudah lupa berapa banyak makam yang pernah kutinggalkan."
Keheningan turun lagi. Xiao Chen menatap sosok tua itu dengan perlahan. Untuk pertama kalinya, ia sadar... di balik semua ejekan dan sikap gilanya, Roh Pedang adalah seseorang yang telah berjalan terlalu jauh di jalan kultivasi. Terlalu jauh hingga semua orang di sisinya telah hilang.
"Tapi dengarkan baik-baik, Nak." Aura Roh Pedang tiba-tiba berubah tajam. "Kesendirian bukan kutukan. Itu adalah harga. Harga untuk melihat lebih jauh daripada manusia biasa. Harga untuk tetap melangkah saat semua orang berhenti."
Xiao Chen menggigit mengubah bibirnya. "...Kalau suatu hari nanti aku kehilangan semua orang di sisiku..."
Roh Pedang memotongnya sebelum ia selesai. "Kalau hari itu tiba, menangislah. Berduka lah. Jangan menyangkal rasa sakitmu. Namun setelah itu..." mata Roh Pedang berubah setajam pedang surgawi, "...bangkit dan lanjutkan berjalan. Karena dunia tidak akan berhenti hanya karena hatimu hancur."
Jantung Xiao Chen berdegup keras. Kata-kata itu terasa dingin. Namun anehnya... juga terasa nyata.
Roh Pedang kemudian berjalan mendekatinya. "Sekarang katakan padaku, Xiao Chen. Apa menurutmu jalan kultivasi adalah jalan menuju kekuatan?"
Xiao Chen terdiam lama. Sangat lama. Lalu perlahan ia mengangkat kepala. "Tidak."
"Oh?"
"Jalan kultivasi..." napas Xiao Chen bergetar pelan, "...adalah jalan untuk memahami diri sendiri."
Roh Pedang tersenyum bangga. "Bagus. Karena mulai malam ini... kau akhirnya benar-benar menjadi seorang kultivator sejati."
Beberapa pekan setelah malam itu, Xiao Chen mengurung diri di kamarnya untuk melakukan terobosan penting. Ia mencoba mengumpulkan dan memurnikan esensi Qi di sekitarnya demi mencapai Ranah Pemula Tahap Menengah.
Namun, tepat saat aliran energi spiritualnya mencapai titik puncak, energi gelap di dalam jiwanya tiba-tiba bergejolak hebat. Pedang Iblis Surgawi yang tertidur di lubuk jiwanya kembali bergetar hebat, mengeluarkan dengungan konstan yang menyakitkan.
Ugh! Xiao Chen mencengkeram dadanya, penglihatannya langsung terlempar ke dalam visi kuno.
Lautan mayat yang luas, langit merah darah yang mencekam, dan sosok pendekar misterius pemilik asli pedang tersebut kembali berdiri di hadapannya. Namun kali ini, ada sesuatu yang berbeda dan mengerikan. Sosok berambut panjang itu perlahan-lahan memutar tubuhnya, menoleh ke arah Xiao Chen...
Saat kabut hitam yang menutupi wajah pendekar itu perlahan memudar, Xiao Chen membelalak tak percaya. Wajah di balik bayangan itu... perlahan-lahan berubah dan terlihat sangat mirip dengan wajah Xiao Chen sendiri, hanya saja dengan tatapan yang jauh lebih dingin dan kejam namun mengandung kesedihan.
Pada saat yang bersamaan, jauh di atas atap paviliun megah wilayah Murid Inti, seorang wanita cantik berjubah putih salju sedang berdiri menatap rembulan. Ia adalah Lu Xue'er, salah satu murid inti terkuat dari generasi muda Sekte Pedang Langit yang terkenal dengan julukan Pedang Es Suci.
WZTTT!
Tiba-tiba, pedang pusaka yang tergantung di pinggang Lu Xue'er bergetar hebat dengan sendirinya, mengeluarkan suara rintihan logam yang sangat nyaring seolah-olah sedang merasakan ketakutan yang luar biasa.
Lu Xue'er tersentak. Ia segera memegang hulu pedangnya, mencoba menenangkan senjata spiritualnya yang belum pernah bertingkah seperti ini sebelumnya.
Sepasang matanya yang indah menyipit tajam, mengalihkan pandangannya langsung ke arah bawah gunung—tepat ke arah wilayah pemukiman kumuh para Murid Luar.
Ia merasakan sebuah gelombang aura yang sangat asing, pekat, dan kuno melintas sesaat sebelum menghilang tanpa jejak.
"Aura itu..." gumam Lu Xue'er pelan, dinginnya angin malam membuat suaranya terdengar misterius. "...Kenapa getarannya terasa seperti musuh alami Sekte Pedang Langit?"