NovelToon NovelToon
The Broken Lens

The Broken Lens

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir
Popularitas:898
Nilai: 5
Nama Author: Vian's

Sinopsis: The Broken Lens

Bagi Savya, bidikan kamera analog dan kedamaian di Thalassa Coffee adalah pelarian terbaik dari masa lalu. Namun, dunianya yang tenang mendadak retak saat Katya kembali hadir—membawa intimidasi dan ancaman yang siap menghancurkan sisa hidupnya.

Di tengah kepungan panik yang nyaris membuat Savya runtuh, Valerius datang mengintervensi. Pria misterius itu hadir sebagai perisai yang tak tergoyahkan, siap pasang badan dan menjadi fokus baru yang menyatukan kembali kepingan hidup Savya.

Saat masa lalu menolak pergi, mampukah Savya bertahan? Ataukah lensa kehidupannya akan hancur sepenuhnya sebelum Valerius sempat mendekapnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vian's, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

EPISODE 33: Logika yang Dipatahkan

Embusan angin siang di taman kota itu perlahan terasa semakin dingin, atau mungkin hanya perasaan Savya saja yang mendadak membeku. Kehadiran Valerius yang tiba-tiba di sampingnya, duduk di atas bangku besi yang sama, meruntuhkan seluruh dinding ketenangan yang sejak pagi tadi ia bangun dengan susah payah. Suasana canggung yang pekat mulai merayap, menjebak keduanya dalam keheningan yang intens.

Valerius masih duduk dengan posisi santai, sebelah lengannya bersandar pada sandaran bangku, sementara tatapan matanya yang tajam namun teduh tidak sedikit pun beralih dari wajah Savya. Pria itu tampaknya tidak berniat memecah kesunyian dengan basa-basi yang tidak penting. Ia menunggu.

Savya yang merasa tidak nyaman dengan keheningan itu akhirnya menghela napas panjang. Ia memberanikan diri menoleh, menatap langsung sepasang netra gelap pria di sampingnya.

"Bagaimana kamu bisa tahu kalau Thalassa Coffee tutup hari ini, Valerius? Apa kamu sengaja datang ke sana?" tanya Savya, mencoba membuka obrolan dengan nada sewajar mungkin.

Valerius menaikkan sebelah alisnya, ujung bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis. "Sudah kukatakan tadi, rute berangkat menemui klien kebetulan melewati depan kedaimu. Aku melihat papan penanda 'Closed' menggantung di pintu kaca. Agak tidak biasa untuk kedai yang sedang ramai-ramainya memilih libur di hari kerja."

Savya mengalihkan pandangannya kembali ke arah kolam taman, meremas pelan tali tas jinjing di pangkuannya. "Aku sudah mengatakannya di pesan semalam, juga tadi. Aku hanya merasa lelah dan butuh waktu untuk mengistirahatkan pikiran. Menutup kedai satu hari bukan akhir dari dunia."

"Menutup kedai satu hari memang bukan akhir dari dunia, Savya," sahut Valerius, suaranya terdengar berat dan teratur. "Tapi itu bukan solusi. Kamu menutup kedai hari ini demi mengamankan karyawanmu, bukan? Sila, Farel, dan anak-anak lainnya. Kamu berpikir dengan meliburkan mereka, wanita bernama Katya itu tidak akan bisa menyentuh mereka."

Savya sedikit terkesiap. Ia kembali menoleh pada Valerius dengan mata yang sedikit melebar. "Bagaimana kamu bisa berpikir sejauh itu?"

"Logika sederhana," balas Valerius tenang. "Kamu menganggap dirimu adalah benteng yang harus menanggung semua ancaman sendirian. Tapi apa rencanamu untuk besok? Dan lusa? Kamu tidak bisa selamanya mengunci pintu kedaimu dan bersembunyi di rumah. Katya akan tetap ada di sana, menunggu kamu lengah."

"Aku tidak sedang bersembunyi!" bantah Savya dengan nada yang sedikit meninggi, egonya merasa terusik oleh ucapan pria itu yang terlalu blak-blakan. "Aku hanya sedang menyusun strategi. Dan aku tetap pada keputusanku, Valerius. Melibatkan orang luar, terutama kamu, hanya akan memperluas target serangan Katya. Dia itu nekat. Kalau dia tahu kamu ikut campur, dia bisa melakukan hal buruk pada nama baikmu, atau bahkan keselamatanmu. Itu perhitunganku, dan itu sangat logis."

Valerius terkekeh rendah, sebuah suara yang terdengar begitu tenang namun entah mengapa terdengar meremehkan ketakutan Savya. Pria itu mencondongkan tubuhnya sedikit lebih dekat ke arah Savya, membuat jarak di antara mereka terkikis.

"Perhitunganmu itu cacat, Savya. Dan logikamu baru saja ku patahkan," ucap Valerius, sepasang matanya mengunci netra Savya dengan tegas. "Kamu takut aku menerima imbas buruk? Kamu takut keselamatanku terancam? Dengar, aku bukan anak kecil yang bisa digertak oleh preman-preman sewaan kelas teri seperti siang tadi. Sejak aku memutuskan untuk menggenggam tanganmu di kedai itu, aku sudah memperhitungkan semua risikonya. Jadi, alasan logis mu untuk mendorongku menjauh itu sama sekali tidak berlaku."

Savya terdiam seribu bahasa. Ia terpaku menatap ketegasan di wajah Valerius. Selama ini, ia selalu berhasil meyakinkan orang lain bahwa dia baik-baik saja dan sanggup berdiri sendiri. Namun di hadapan Valerius, semua argumen dan benteng pertahanannya patah begitu saja dalam beberapa kalimat. Pria ini terlalu dominan, terlalu kuat, dan entah mengapa, membuat Savya merasa tidak berdaya sekaligus... terlindungi.

Merasa batinnya semakin goyah oleh kedekatan mereka, Savya mencoba mencari pengalihan. Ia meraba tasnya, teringat bahwa ia harus menghadapi kenyataan di tangannya. "Aku... aku harus menyalakan ponselku dulu. Aku perlu memeriksa apakah anak-anak kedai mengirimkan laporan atau ada hal penting lainnya."

"Silakan," jawab Valerius, memberi ruang bagi Savya namun tidak mengalihkan pandangannya.

Savya mengeluarkan ponselnya yang bermerek sederhana, lalu menekan tombol daya. Layar hitam itu berkedip, menampilkan logo ponsel sebelum akhirnya masuk ke menu utama. Detik berikutnya, getaran konstan langsung terasa di telapak tangan Savya. Nada notifikasi berbunyi bertubi-tubi.

Namun, senyum canggung Savya memudar seketika saat melihat nama pengirim di baris teratas bar notifikasinya. Bukan dari Sila, bukan pula dari Farel.

Itu dari nomor tidak dikenal.

Savya menelan ludah, firasat buruknya mendadak bangkit. Dengan tangan yang mulai mendingin, ia membuka pesan tersebut. Di dalamnya terdapat dua buah lampiran foto digital yang dikirimkan berturut-turut.

Foto pertama menangkap siluet tubuh Savya dari arah belakang saat ia sedang berdiri sendirian di dalam galeri seni dua jam yang lalu, menatap lukisan abstrak biru. Foto kedua menangkap gambar Savya dari arah samping saat ia baru saja mendudukkan diri di bangku taman ini, beberapa menit sebelum kedatangan Valerius. Di bawah kedua foto itu, terdapat sebuah pesan teks singkat yang mengerikan:

‘Menutup kedai dan melarikan diri ke pameran seni? Lucu sekali, Savya. Kamu pikir kamu bisa bersembunyi dariku? Ke mana pun kamu melangkah, aku selalu mengawasi mu. Nikmati sisa ketenanganmu hari ini, karena besok aku akan memastikan hidupmu tidak akan pernah tenang lagi.’

Seluruh warna darah seolah menyusut dari wajah Savya. Ponsel di tangannya bergetar hebat. Rasa ngeri yang teramat sangat mencengkeram dadanya hingga ia merasa sesak. Katya benar-benar menguntitnya. Seseorang telah mengawasinya sejak ia melangkah keluar dari rumah pagi ini. Ketakutan, kepanikan, dan rasa frustrasi berbaur menjadi satu, membuat napas Savya memburu pendek-pendek.

Valerius yang sejak tadi memperhatikan setiap perubahan ekspresi di wajah Savya langsung menyadari ada yang tidak beres. Mata tajam pria itu menangkap layar ponsel Savya yang bergetar. Tanpa meminta izin, dengan gerakan cepat dan tegas, Valerius merebut ponsel itu dari genggaman kaku Savya.

"Valerius, jangan—" Ucapan Savya tertahan di tenggorokan.

Valerius tidak mendengarkan. Ia membaca pesan teks itu dan memperhatikan kedua foto pengintaian tersebut dengan saksama. Alih-alih panik atau marah seperti yang Savya duga, raut wajah Valerius justru berubah menjadi sangat dingin. Tidak ada ketakutan di matanya, yang ada hanyalah kilat kemarahan yang tertahan dan pandangan meremehkan yang teramat dalam.

Pria itu mematikan layar ponsel Savya, lalu menggenggam jemari wanita itu yang terasa sedingin es. Genggaman yang sama hangatnya dengan kejadian siang kemarin di kedai.

"Lihat aku, Savya," perintah Valerius, suaranya terdengar sangat rendah namun memiliki otoritas yang tidak bisa dibantah.

Savya yang sedang dilanda kepanikan perlahan mengangkat kepalanya, menatap Valerius dengan sepasang mata yang mulai berkaca-kaca karena frustrasi. "Dia mengawasiku, Valerius... Dia tahu aku di sini sebelum kamu datang. Bagaimana kalau dia juga tahu kamu bersamaku sekarang? Aku sudah bilang, ini bahaya—"

"Savya, tatap mataku dan dengarkan baik-baik," potong Valerius, mempererat genggaman tangannya untuk menyalurkan kekuatan dan ketenangan pada wanita yang sedang bergetar di hadapannya. "Kamu aman. Aku jamin, kamu akan tetap aman."

"Tapi foto-foto itu—"

"Hanya gertakan murahan dari seorang wanita frustrasi yang tidak punya nyali untuk menghadapi duniaya sendiri," sela Valerius dengan nada meremehkan yang sangat kentara. "Dia pikir dengan mengirimkan beberapa foto pengintaian jarak jauh seperti ini bisa membuatmu berlutut dan menyerah? Itu hal yang konyol. Aku tidak akan membiarkanmu terluka atau hancur hanya karena ancaman sekecil dan semurah ini, Savya. Mengerti?"

Savya menatap lurus ke dalam sepasang netra gelap Valerius. Keyakinan dan ketenangan yang memancar dari pria itu begitu absolut, seolah-olah seluruh kekuatan Katya dan preman-premannya tidak lebih dari sekadar debu yang bisa ia sapu kapan saja dengan lambaian tangan. Logika ketakutan Savya lagi-lagi dipatahkan oleh keberadaan pria ini. Di bawah perlindungan kata-kata Valerius, perlahan-lahan sesak di dada Savya mulai berkurang, dan detak jantungnya yang menggila mulai melambat normal.

"Kenapa kamu bisa seyakin itu...?" bisik Savya lirih, masih ada sisa keraguan di suaranya.

Valerius tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap Savya dengan pandangan dalam yang sulit diartikan, sebelum akhirnya menarik napas pelan. "Karena aku tahu apa yang harus kulakukan, dan aku punya kemampuan untuk memastikan ucapan itu menjadi kenyataan. Sekarang, ikut aku. Kita tidak akan membiarkan tikus-tikus kecil milik Katya mengacaukan sisa harimu."

Valerius berdiri, menarik lembut tangan Savya agar ikut bangkit bersamanya. Savya yang sudah kehabisan energi untuk berdebat ataupun menolak, kali ini memilih untuk patuh. Ia membiarkan dirinya dituntun oleh Valerius berjalan membelah jalanan taman menuju area parkir.

Savya melangkah di samping pria itu dengan perasaan yang campur aduk. Dinding pertahanannya sebagai benteng mandiri hari ini runtuh total oleh skakmat logika dan perlindungan nyata dari Valerius. Namun, di balik rasa cemas yang masih tersisa, ada kehangatan asing yang mulai menjalar di hatinya—sebuah perasaan aman yang sudah sangat lama tidak pernah ia rasakan, tanpa pernah ia sadari bahwa di balik ketenangan Valerius yang menyelamatkannya di taman ini, seluruh pergerakan Katya sebenarnya sudah masuk ke dalam skenario eksekusi mati yang sedang disiapkan oleh sang penguasa malam dari puncak menara kota.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!