Reigan Douglas hanya bisa patuh saat Kakek memaksanya menikahi Hana—gadis "kampung" bermata bulat. Pernikahan itu terasa datar dan mati. Bagi Reigan, kehadiran wanita itu hanya akan membatasi geraknya sebagai penguasa Odelgard.
Namun, segalanya berubah ketika sebuah peluru melesat dan nyaris menembus pelipisnya. Reigan pun menyadari satu fakta yang menghantam egonya: peluru penyelamat itu berasal dari senjata milik Vesper—sniper legendaris yang ternyata adalah Hana, istrinya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 24 Membawa Tawanan
"Kau berniat membiarkan tanganmu membusuk?" sergah Reigan, suaranya berat dan serak, memecah keheningan dengan nada kasar yang kentara sekali digunakan untuk menutupi rasa gengsinya yang bergejolak.
"Ini hanya memar kecil." Meski bicara remeh, Hana tetap menerima pemberian itu. Tapi hanya dipegang saja tanpa di eksekusi.
"Pakai, Hana," perintah Reigan.
Hana menoleh. Lalu menatap obat itu. "Nanti."
"Jangan membantahku," geram Reigan rendah, ada nada perintah mutlak dalam suaranya yang tidak ingin didebat. "Atau kau ingin kakek melihat tanganmu sekacau itu besok dan mengira aku tidak bisa menjagamu dengan becus?"
Hana mengembuskan napas pendek, hampir tak terdengar. Alasan logis yang selalu Reigan gunakan demi menutupi egonya sendiri. Namun, kali ini, Hana tidak mendebat atau memberikan cemoohan kaku seperti biasanya. Ia mengambil tub obat itu, membukanya dengan satu tangan yang agak kaku karena nyeri, lalu mulai mengoleskan salep dingin itu ke atas kulitnya yang memar.
Melihat Hana patuh tanpa drama, ketegangan di bahu tegap Reigan perlahan mengendur.
Mobil mendadak melambat saat mereka berhenti di lampu merah sebuah persimpangan jalan yang sepi. Reigan menarik rem tangan, lalu memutar tubuhnya sepenuhnya menghadap Hana.
Pandangan gelapnya mengunci pergerakan tangan Hana yang tampak sedikit kesusahan mengoleskan obat di punggung tangan kanannya sendiri.
Tanpa suara, Reigan mengulurkan tangannya yang besar dan hangat.
Grep.
Jari-jari kekar Reigan menangkap pergelangan tangan Hana, menahannya di udara. Hana tersentak, matanya memicing tajam seolah sentuhan itu adalah sebuah ancaman.
"Diam," perintah Reigan rendah, tatapannya menghujam lurus ke dalam manik mata Hana, mengunci seluruh pergerakan wanita itu.
Reigan mengambil tube salep dari tangan Hana yang bebas. Dengan gerakan yang sangat kontras dengan pembawaannya yang brutal, jemari kasar pria itu mengambil sedikit salep, lalu mulai mengusap punggung tangan Hana dengan sentuhan yang tegas, namun entah bagaimana, terasa sangat hati-hati.
Kulit tangan Reigan yang panas bergesekan langsung dengan kulit Hana yang sedingin es.
Hana tetap diam membeku, membiarkan Reigan memperlakukan tangannya seperti barang pecah belah yang berharga.
Wajahnya tidak berubah, namun sepasang matanya terus merekam bagaimana telatennya pria di depannya ini meratakan obat di atas luka-lukanya.
Nuansa tulus yang ia rasakan di ruang kerja kakek tadi kembali menguar pekat di sini. Kali ini lebih nyata, tanpa ada mata penonton yang mengawasi mereka.
"Sudah?" tanya Hana pendek saat lampu lalu lintas berubah hijau dan Reigan masih enggan melepaskan cengkeramannya.
Reigan tidak langsung menjawab. Ia memberikan satu usapan penutup yang sedikit menekan di pergelangan tangan Hana, seolah sedang menorehkan tanda kepemilikan yang mutlak. Sebelum akhirnya melepaskan tangan Hana dan kembali memegang kemudi.
Wajahnya kembali memasang wajah datar tak tersentuh saat mobil melesat menuju apartemen.
"Lain kali, jangan biarkan dirimu disentuh oleh bajingan-bajingan itu," gumam Reigan dingin tanpa menoleh, mengunci perang kepemilikannya yang baru saja dimulai.
"Pasti." Saat menjawab, bayangan Leon melintas.
***
Sementara itu mobil van logistik berwarna abu-abu gelap bergerak beberapa kilometer di belakang mereka.
Di dalam kabin depan yang hanya diterangi lampu dasbor redup, atmosfer terasa dingin dan berbau besi. Di ruang kargo belakang yang disekat baja kedap suara, tubuh tak berdaya dari agen Tim B terikat kaku dengan rahang terkunci besi, tak sadarkan diri di bawah pengawasan sistem pelacak Valerius.
Marco fokus memegang kemudi, matanya menatap tajam aspal jalanan yang sepi. Di sampingnya, Nico bersandar pada jok.
Keheningan malam itu mendadak dipecah oleh helaan napas pendek dari Marco.
"Kau melihat cara Nyonya berdiri disamping mayat, Nico?" tanya Marco tiba-tiba, suaranya rendah, membawa getaran ngeri sekaligus kagum yang tertahan.
Nico tidak langsung menjawab. Rahang tegasnya mengetat sekilas sebelum ia mengangguk samar. "Ya."
Marco terkekeh kaku, menggelengkan kepalanya tak percaya. "Itu gila. Wanita dengan tubuh kurus seperti mau pingsan itu tidak gentar. Padahal mereka habis diserang."
"Dia bukan wanita biasa, Marco. Kita sudah tahu itu sejak awal," sahut Nico datar, nadanya lebih berat dan analitis.
"Tapi melihatnya seperti itu ... dia jelas menyembunyikan sesuatu yang jauh lebih besar." Seperti biasa, Marco tidak seratus persen percaya pada Nyonya Reigan.
Nico melemparkan pandangan ke samping.
"Jangan bicara sembarangan," tegur Nico dengan nada memperingatkan yang dingin, meski matanya sendiri menyiratkan persetujuan bisu atas kalimat Marco. "Tugas kita hanya memastikan tawanan ini sampai di sel bawah tanah apartemen tanpa cacat. Jangan biarkan mulutmu memicu amarah Tuan Reigan lebih dari ini."
Marco mendengus pelan, membetulkan posisi duduknya. "Jadi kamu benar-benar hormat, pada wanita yang Bos Reigan ragukan itu?"
"Aku hanya kagum. Nyonya Reigan selalu terlihat diam, enggan, dan kaku di samping Tuan Reigan, Tapi begitu pelatuk ditarik... dia berubah menjadi predator yang berbeda. Sifat itu justru yang membuat dia terlihat seratus kali lebih berbahaya daripada musuh mana pun yang pernah kita interogasi." Nico menjelaskan.
Marco memutar kemudi, membawa mobil van mereka berbelok memasuki area turunan curam menuju gerbang barikade bawah tanah kompleks apartemen pribadi Reigan.
"Makanya aku tidak seratus persen percaya padanya." Marco mengatakan isi hatinya.
"Misterius atau tidak, yang jelas malam ini dia berada di pihak kita," ujar Nico final. "Dia juga istri Tuan Reigan, yang memilih juga Tuan besar Arthur Douglas." Nico masih ingat mata Reigan menajam saat ia sekedar peduli pada istrinya. Padahal itu sebuah bentuk hormat pada majikan.
****
Gedung apartemen Reigan.
Reigan baru keluar dari kamar mandi. Rambutnya masih basah. Masih dengan baju handuk, dia keluar kamar. Matanya turun melihat pintu kamar Hana yang tertutup. Jam besar menunjukkan jam 3 malam. Padahal ia harusnya tidur mengumpulkan tenaga, tapi pikirannya justru pada wanita itu.
Apa yang dia lakukan? Tidur atau justru siaga karena terlalu waspada? Reigan tidak tenang. Pintu tertutup itu membuat pikiran yang tidak-tidak.
Langkah kakinya yang tanpa alas bergerak pelan di atas lantai marmer yang dingin, membawanya berhenti tepat beberapa senti di depan pintu kamar Hana. Reigan berdiri kaku seperti patung, menatap gagang pintu logam di depannya dengan tatapan gelap yang sulit diartikan.
Ada dorongan impulsif yang menuntutnya untuk memutar gagang itu, membuka paksa privasi istrinya hanya untuk memastikan apakah wanita itu aman, atau justru sedang duduk memeluk senjatanya di balik kegelapan kamar.
Ctek.
Sebelum jemari kekar Reigan sempat menyentuh gagang pintu, sebuah getaran pendek dari ponsel di saku baju handuknya memecah kesunyian koridor.
Reigan mendengus pelan, merogoh ponselnya dengan gerakan kaku. Nama Marco berkedip di layar, mengirimkan sebuah pesan singkat melalui jalur internal Valerius.
[Tawanan dari Tim B sudah terkunci aman di sel isolasi lantai bawah tanah, Tuan. Rahang steril, borgol taktis aktif. Kami bersiap di pos pengawasan bawah.]
semangattttt
lanjutttt😄💪
lanjuttt
smangattt💪😄