NovelToon NovelToon
MENDADAK JADI TRILIUNER MUDA

MENDADAK JADI TRILIUNER MUDA

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:4.9k
Nilai: 5
Nama Author: Arrofy

SINOPSIS

Arkan Pradipta tidak pernah merasa dirinya gagal.

Ia hanya terlalu sering dipaksa mengalah oleh keadaan.

Di usia dua puluh dua tahun, hidupnya nyaris berhenti di tengah jalan. Kuliah Manajemen Bisnisnya tertunda, motor tuanya lebih sering batuk daripada melaju, dan setiap hari ia harus berpikir bagaimana cara membantu ibunya serta memastikan adiknya, Naya, tetap bisa mengejar masa depan.

Bagi orang lain, Arkan hanyalah pemuda miskin dari Pontianak yang tidak punya apa-apa.

Sampai suatu hari, saat ia dipermalukan karena tidak mampu menyelesaikan urusan biaya adiknya, sebuah suara asing muncul di kepalanya.

[Sistem Triliuner Absolut sedang melakukan pemindaian.]

[Saldo rekening: memprihatinkan.]

[Aset pribadi: tidak terdeteksi.]

[Kesimpulan: Tuan Rumah bukan miskin biasa.]

[Tuan Rumah adalah bencana finansial berjalan.]

Arkan mengira dirinya sedang berhalusinasi.

Namun beberapa detik kemudian, hidupnya berubah.

Rp3.000.000.000.000 masuk ke rekeningnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arrofy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 20 OLIVIA TAN MENUNGGU DI LOBI

Ketika mereka mendekati rumah sakit swasta yang namanya tertera di pesan Olivia, Bu Sari langsung menegang.

Bangunan itu berdiri besar di pinggir jalan. Halamannya luas. Kaca depannya memantulkan cahaya pagi. Mobil-mobil rapi keluar masuk. Petugas keamanan berdiri di pos dengan seragam bersih.

Bu Sari menepuk bahu Arkan pelan.

“Kan, ini rumah sakit mahal.”

“Ibu perlu diperiksa dengan baik.”

“Tapi—”

“Bu,” Arkan memotong lembut, “hari ini jangan pikir biaya dulu.”

Bu Sari terdiam.

Motor tua mereka masuk ke halaman rumah sakit.

Di antara mobil-mobil mengilap, motor itu terasa seperti salah masuk acara. Petugas parkir bahkan sempat melihat dua kali, bukan dengan kasar, tetapi cukup membuat Arkan sadar betapa jauhnya jarak antara hidup lama dan tempat yang mulai mereka masuki.

[Sistem mendeteksi ketimpangan visual ekstrem.]

[Motor Tuan Rumah berada di lingkungan yang secara ekonomi menolak keberadaannya.]

“Diam,” batin Arkan.

[Baik.]

[Jeda komentar dimulai.]

Mereka turun dari motor.

Naya memandang bangunan rumah sakit dengan mata sedikit membesar. Bu Sari merapikan kerudungnya berkali-kali, tampak ingin terlihat pantas berada di sana.

Arkan melihat itu dan dadanya terasa sesak.

Bukan karena malu.

Karena marah pada masa lalu yang membuat ibunya merasa harus meminta izin untuk mendapatkan perawatan yang baik.

Ia baru saja hendak berjalan ke pintu utama ketika seorang perempuan berpakaian blazer krem mendekat dari sisi lobi.

Langkahnya tenang.

Rambutnya tertata rapi sebahu. Wajahnya tidak terlalu banyak ekspresi, tetapi matanya tajam dan langsung mengenali Arkan. Di tangannya ada tablet tipis dan map kulit hitam. Penampilannya tidak mencolok, tetapi jelas bukan orang biasa.

Ia berhenti di depan Arkan, memberi anggukan profesional.

“Pak Arkan Pradipta?”

Arkan menatapnya.

“Iya.”

Perempuan itu tersenyum tipis.

“Saya Olivia Tan.”

Bu Sari dan Naya langsung diam.

Arkan juga terdiam sesaat.

Suara di telepon kemarin kini berdiri nyata di hadapannya.

Olivia menatap Bu Sari dan Naya dengan sopan, lalu sedikit menundukkan kepala.

“Selamat pagi, Ibu Sari. Selamat pagi, Naya. Saya Olivia. Saya akan membantu mengurus proses pemeriksaan hari ini agar semuanya lebih nyaman dan tidak merepotkan.”

Bu Sari tampak bingung harus menjawab seperti apa. Ia hanya mengangguk pelan.

“Pagi…”

Naya menatap Olivia dengan rasa ingin tahu yang jelas. Mungkin bagi Naya, perempuan itu terlihat seperti orang dari dunia lain. Rapi, tenang, percaya diri, dan berbicara tanpa tergesa-gesa.

Olivia kembali menatap Arkan.

“Semuanya sudah saya siapkan. Pendaftaran tertutup, ruang tunggu privat, dokter penyakit dalam, pemeriksaan darah lengkap, jantung, fungsi hati, ginjal, gula darah, tekanan darah, serta pemeriksaan tambahan sesuai rekomendasi dokter.”

Bu Sari langsung pucat. “Sebanyak itu?”

Olivia menatapnya dengan senyum yang sangat terkendali.

“Tidak semuanya berat, Bu. Sebagian hanya pemeriksaan dasar agar keluarga Bapak Arkan punya gambaran kesehatan yang jelas.”

Keluarga Bapak Arkan.

Sebutan itu membuat Naya menoleh ke abangnya.

Arkan sendiri merasakan sesuatu yang aneh di dadanya.

Biasanya, ia disebut anak Bu Sari.

Abang Naya.

Mahasiswa cuti.

Pemuda gang.

Hari ini, untuk pertama kalinya, seseorang dari dunia profesional menyebut keluarganya sebagai keluarga miliknya—keluarga yang berada dalam perlindungannya.

Sistem muncul di layar ponsel.

[Subjek Olivia Tan menjalankan peran dengan baik.]

[Status keluarga: mulai diperlakukan sebagai prioritas.]

[Catatan: Tuan Rumah disarankan meniru ketenangan Olivia, bukan berdiri seperti orang yang baru masuk hotel bintang lima untuk numpang toilet.]

Arkan menekan layar ponsel cepat.

Olivia memperhatikan gerakan kecil itu, tetapi tidak bertanya. Ia cukup cerdas untuk tidak menggali hal yang belum perlu.

“Silakan, Pak,” kata Olivia sambil memberi arah ke pintu lobi. “Kita masuk dari jalur ini.”

Mereka berjalan mengikuti Olivia.

Begitu pintu otomatis terbuka, hawa dingin dari pendingin ruangan langsung menyambut. Lobi rumah sakit terlihat bersih, luas, dan terang. Beberapa pasien duduk di kursi tunggu umum. Ada antrean di pendaftaran, suara nomor dipanggil, dan petugas yang bergerak cepat.

Namun Olivia tidak membawa mereka ke antrean itu.

Ia membawa mereka melewati sisi kanan lobi, menuju area dengan pintu kaca bertuliskan layanan eksekutif.

Bu Sari menahan langkah.

“Kan,” bisiknya, “kita tidak perlu yang seperti ini.”

Arkan berhenti.

Ia menatap ibunya, lalu menggenggam tangan perempuan itu sebentar.

“Perlu, Bu.”

Bu Sari menatapnya.

Arkan melanjutkan dengan suara pelan, “Seumur hidup Ibu selalu memilih yang paling murah untuk kami. Sekali ini, biarkan Arkan memilih yang paling nyaman untuk Ibu.”

Bu Sari tidak langsung menjawab.

Matanya berkaca-kaca, tetapi ia menahan diri karena mereka sedang berada di tempat umum.

Naya berdiri di belakang, ikut menunduk.

Olivia memalingkan wajah sedikit, memberi mereka ruang tanpa terlihat menguping.

Beberapa detik kemudian, Bu Sari mengangguk kecil.

“Ya sudah.”

Arkan tersenyum tipis.

Mereka masuk ke area eksekutif.

Ruang tunggunya jauh lebih tenang. Tidak banyak orang. Sofa empuk tersusun rapi. Ada air mineral, teh, dan beberapa makanan ringan di meja kecil. Petugas resepsionis berdiri begitu melihat Olivia.

“Selamat pagi, Bu Olivia. Ruangan sudah siap.”

Olivia mengangguk. “Terima kasih.”

Petugas itu menatap Arkan dengan sopan. “Selamat pagi, Pak Arkan. Selamat pagi, Ibu Sari. Selamat pagi, Naya.”

Bu Sari tampak semakin tidak terbiasa.

Naya juga.

Arkan bisa merasakan perubahan itu.

Dunia baru tidak selalu datang dengan ledakan. Kadang ia datang dalam bentuk orang asing yang tahu namamu, memanggilmu dengan hormat, dan tidak membuatmu antre untuk sesuatu yang dulu terasa mustahil.

Mereka masuk ke ruang tunggu privat.

Setelah pintu tertutup, suara lobi menghilang hampir sepenuhnya.

Bu Sari duduk pelan di sofa, masih tampak kaku. Naya duduk di sampingnya, memandang ruangan itu dengan mata yang sulit menyembunyikan kagum.

Olivia meletakkan map di meja.

“Dokter akan datang dalam beberapa menit. Sebelum itu, Pak Arkan, ada hal kecil yang perlu saya sampaikan.”

Arkan menoleh.

“Apa?”

Olivia menatapnya dengan tenang.

“Pihak bank sudah berada di gedung ini.”

Naya tidak paham maksudnya.

Bu Sari juga.

Namun Arkan langsung mengerti.

Olivia melanjutkan, “Mereka menunggu izin untuk bertemu Bapak. Saya belum mengizinkan.”

Arkan menarik napas pelan.

Pagi baru dimulai, tetapi dunia besar itu sudah menunggu di balik pintu.

Di kepalanya, sistem berbicara.

[Bank tiba lebih cepat dari jadwal.]

[Indikasi: tingkat kepentingan Tuan Rumah sangat tinggi.]

[Catatan: manusia kaya dikejar peluang.]

[Manusia terlalu kaya dikejar institusi.]

Arkan menatap Olivia.

“Bagus. Biarkan mereka menunggu.”

Untuk pertama kalinya pagi itu, Olivia tersenyum sedikit lebih jelas.

“Keputusan yang tepat, Pak Arkan.”

1
irena
arkan harus lanjut kuliah.. klo perlu tambah pintar dianya thor.. supaya ga dibegoin dan dimanfaatkan sama orang orang jahat
AntoniusSadi
teruskan, gas pol bang
irena
lanjut thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!