Deskripsi Novel: Janji yang Terkubur
Lira Anindita terpaksa kembali ke rumah masa kecilnya yang penuh kenangan pahit, setelah menerima kabar ayahnya terbaring sakit keras. Lima tahun lalu, ia pergi dengan hati hancur—di hari yang sama ibunya meninggal secara mendadak, Lira menemukan kenyataan bahwa seluruh kehidupan keluarganya hanyalah tumpukan kebohongan. Ia diusir, dipisahkan dari orang yang paling ia cintai, dan dipaksa hidup sendirian menanggung rasa sakit serta fitnah yang menghancurkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bang Jun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 33: Pertarungan di Balik Kabut Tebal
Anak panah melesat bertubi-tubi dari segala arah, membelah udara dingin yang penuh kabut. Suara denting besi dan suara dedaunan tertembus terdengar bersahutan, bercampur dengan teriakan perintah dan rintihan pendek. Pasukan Raga segera bersembunyi di balik batang pohon besar dan bebatuan tajam, berusaha melihat posisi musuh yang hampir tak terlihat karena tertutup kabut tebal.
“Jangan asal tembak! Mereka bersembunyi di balik kabut, kita bisa sia-siakan peluru!” teriak Dani dengan suara keras namun tertahan, matanya bergerak cepat mengamati setiap gerakan samar di antara pepohonan.
Raga menarik Lira lebih dekat ke balik batu besar yang cukup lebar, tangannya erat memegang senjata, matanya tajam meneliti sekeliling. Napasnya teratur, meskipun hatinya terus berdebar cemas melihat situasi yang sangat tidak menguntungkan ini.
“Kamu baik-baik saja?” bisik Raga cepat, matanya menatap wajah Lira yang sedikit pucat namun tetap tenang.
Lira mengangguk cepat, tangannya erat memegang lengan baju suaminya.
“Aku aman. Tapi mereka banyak sekali, dan mereka tahu medan ini lebih baik dari kita. Kita harus cari jalan keluar dari lingkaran pengepungan ini, kalau tidak kita akan habis di sini.”
“Tahu,” jawab Raga singkat. “Mereka sengaja memancing kita masuk ke tempat terbuka ini supaya mudah diserang. Lihat ke sebelah kanan sana, ada jurang sempit yang tertutup semak belukar, itu satu-satunya jalan untuk memutus pengepungan.”
Namun sebelum sempat mereka bergerak, sekelompok orang berpakaian serba hijau agar menyatu dengan warna pepohonan, tiba-tiba melompat keluar dari balik kabut, menyerang dengan parang tajam yang berkilauan. Gerakan mereka cepat, terlatih, dan bergerak serempak bagai satu tubuh.
“MEREKA DI SINI!” teriak Dani keras, segera maju ke depan untuk menahan serangan itu bersama dua orang lainnya.
Pertarungan jarak dekat pun pecah. Di tempat sempit dan licin itu, setiap gerakan menjadi taruhan nyawa. Suara benturan besi terdengar memekakkan telinga, keringat dingin membasahi kening setiap orang. Musuh bertarung dengan kejam dan tanpa belas kasih, sementara pasukan Raga bertarung dengan semangat membara demi keselamatan tuan mereka dan demi tujuan besar yang mereka pegang.
Raga segera ikut maju, menyerang dengan gerakan cekatan dan kuat, melindungi Lira yang tetap berada di dekatnya. Ia bukan lagi orang yang dulu hanya bisa bersembunyi, kini ia adalah pemimpin yang tangguh, yang setiap gerakannya penuh perhitungan dan kekuatan. Namun jumlah musuh terus bertambah, mereka terus keluar dari balik kabut seolah tidak ada habisnya.
“Mereka mengeroyok kita, Tuan Muda! Kita tidak bisa bertahan lama di sini!” teriak Dani yang bahunya baru saja tergores parang tajam, darah segar seketika membasahi bajunya.
Raga melihat keadaan itu, matanya menyipit tajam. Ia tahu, kalau mereka terus bertahan di posisi itu, mereka benar-benar akan habis satu per satu. Ia segera mengambil keputusan cepat.
“Mundur pelan-pelan ke arah jurang kanan! Dani, kamu dan dua orang lain tahan mereka sebentar, beri kami waktu untuk menyeberang!”
“Baik, Tuan Muda! Pergilah cepat!” jawab Dani tegas, lalu segera memutar badan dan bersama temannya menghadang barisan musuh yang datang dengan ganas.
Raga segera menarik tangan Lira, berlari cepat menyusuri celah bebatuan yang licin dan sempit itu. Di belakangnya, suara pertarungan semakin sengit, suara Dani berteriak menggelegar untuk memecah semangat musuh. Hati Raga terasa perih, ia ingin sekali kembali membantu, tapi ia tahu tugas utamanya adalah membawa Lira dan rombongan yang lain selamat sampai ke tujuan.
Setelah melewati celah sempit itu, suasana tiba-tiba berubah. Kabut di sini jauh lebih tipis, dan di depan mata mereka terbentang lembah hijau yang luas, dengan aliran sungai jernih yang mengalir deras di tengahnya. Di kejauhan, terlihat jelas tiga air terjun besar yang bertingkat, persis seperti yang digambarkan di peta kakeknya.
“Itu dia! Tiga Air Terjun Bertingkat!” seru Raga lega, napasnya tersengal karena lelah. “Kita sudah sampai di depan pintu masuk tempat itu!”
Namun rasa lega itu hanya berlangsung sebentar. Saat mereka berhenti sejenak untuk mengatur napas, tiba-tiba dari arah air terjun terdengar suara tepuk tangan pelan, bergema jelas di lembah yang hening itu.
“Hebat sekali… Kalian benar-benar punya nyali dan keberanian yang luar biasa. Bisa lolos dari serangan pasukan elitku, kalian memang pantas menjadi lawan yang sepadan.”
Suara itu berat, tua, dan penuh wibawa—jauh lebih berkuasa dan menakutkan dibandingkan suara Pak Surya dulu. Perlahan, dari balik tirai air yang jatuh deras itu, muncul sosok seorang lelaki tua berambut perak, berdiri tegak meskipun usianya sudah lanjut, mengenakan jubah hitam panjang dengan sulaman benang emas berbentuk lambang lingkaran dan ular. Di belakangnya, berdiri puluhan orang berpakaian serba hitam, bersenjata lengkap, wajah mereka kaku dan dingin bagai patung batu.
Lira menatap lelaki tua itu dengan mata terbelalak kaget, jantungnya berdegup kencang seolah mau keluar dari dada. Ada rasa ngeri yang luar biasa menyelimuti hatinya, rasa ngeri yang sama persis seperti saat ia masih kecil, saat ia pernah melihat sosok ini sekilas di mimpi buruknya.
“Siapa… Siapa dia?” bisik Lira gemetar, merapatkan tubuhnya erat pada Raga.
Raga menatap tajam ke arah lelaki tua itu, tangannya mengepal erat sampai buku jarinya memutih. Ia bisa merasakan aura jahat yang sangat pekat dan kuat memancar dari tubuh orang itu, jauh lebih gelap dari apa pun yang pernah ia rasakan seumur hidupnya.
“Dia… Dia pasti pemimpin Roh Kuno yang sesungguhnya,” jawab Raga dingin, suara teredam amarah yang tertahan. “Orang yang sudah bersembunyi di balik bayangan selama puluhan tahun, orang yang menjadi akar dari semua kejahatan ini.”
Lelaki tua itu tersenyum tipis, senyum yang tidak sampai ke matanya, senyum yang penuh dengan kejahatan dan perhitungan. Ia melangkah maju perlahan, seolah tanah itu adalah milik mutlaknya, seolah Raga dan rombongannya hanyalah serangga kecil yang ada di hadapannya.
“Namaku Eyang Kala. Dan akulah pemimpin Roh Kuno yang sudah kalian cari-cari selama ini,” ucap lelaki tua itu dengan suara berat dan bergema. “Aku sudah melihat tumbuh besarnya ayahmu, aku melihat jatuh bangunnya Pak Surya, dan sekarang aku melihat kedatanganmu, Raga Ardiansyah… Keturunan terakhir dari keluarga yang selalu menjadi duri di dagingku.”
“Kenapa kalian selalu mengganggu kami? Kenapa kalian tidak pernah mau membiarkan kami hidup tenang?” seru Raga keras, amarahnya mulai meledak mendengar kata-kata orang itu. “Ayahku tidak pernah berbuat salah pada kalian, kakekku juga tidak. Kenapa kalian selalu mengejar kami sampai mati?”
Eyang Kala tertawa kecil, suara tawanya terdengar kering dan mengerikan.
“Karena kalian punya apa yang kami butuhkan. Karena darah kalian adalah darah keadilan, darah yang selalu menentang kekuasaan kami. Selama masih ada keturunan Ardiansyah yang hidup, selama masih ada orang yang berani bicara kebenaran, kekuasaan kami akan selalu terancam. Dan ancaman harus dimusnahkan sampai akarnya, itu aturan kami.”
Ia berhenti sejenak, matanya yang tajam menatap tepat ke arah wajah Lira, membuat tubuh wanita itu gemetar hebat.
“Terutama dia… Istrimu ini punya sesuatu yang sangat berharga bagi kami. Sesuatu yang hilang puluhan tahun lalu, sesuatu yang menjadi kunci utama untuk membuka Gua Warisan. Kau pikir hanya karena keberanianmu aku mengizinkanmu sampai ke sini? Tidak, Raga… Aku mengizinkanmu datang, karena aku butuh dia.”
Mata Raga menyala merah padam karena marah, ia segera melangkah maju satu langkah, melindungi Lira sepenuhnya di belakang punggungnya.
“Jangan berani sentuh dia! Selama aku masih bernapas, kamu tidak akan pernah bisa menyakiti sehelai rambut pun dari kepalanya!”
Eyang Kala mengangkat bahu dengan santai, seolah ancaman Raga hanyalah angin lalu yang tidak berarti apa-apa baginya.
“Kau masih muda dan berapi-api, Raga. Kau belum tahu seberapa besar kekuatan yang kumiliki. Lihat sekelilingmu… Pasukanmu sedikit yang tersisa, jalan ke belakang sudah dipotong oleh orang-orangku, dan di depan ada pasukan elitku yang siap memotong lehermu kapan saja. Kau pikir dalam keadaan begini, kau masih punya hak untuk memberi syarat?”
Ia menunjuk tangan panjang ke arah mulut gua besar yang tersembunyi di balik tirai air terjun itu.
“Aku beri kau dua pilihan, Raga Ardiansyah. Pertama: serahkan istrimu padaku, dan aku akan biarkan kau serta orang-orangmu pergi hidup-hidup dengan selamat, tanpa diganggu lagi selamanya. Atau kedua: kau tetap bertahan, dan aku akan pastikan kalian semua mati di sini, mayat kalian akan menjadi makanan binatang buas, dan aku tetap akan mendapatkan apa yang kuinginkan dengan cara yang lebih menyakitkan.”
Suasana menjadi hening total. Tawaran itu terdengar menggoda, tapi bagi Raga itu adalah penghinaan terbesar. Bagaimana mungkin ia menyerahkan nyawa istrinya demi keselamatan dirinya sendiri? Bagaimana mungkin ia mengkhianati janji suci yang pernah mereka ucapkan: mati hidup tidak akan terpisahkan?
Raga menarik napas panjang, lalu menghembuskannya perlahan, menenangkan amarahnya yang meluap. Ia menoleh sedikit ke belakang, menatap mata Lira yang menatapnya dengan penuh kepercayaan dan cinta, tanpa sedikit pun rasa takut atau rasa ingin diselamatkan sendirian.
Lira menggeleng pelan, bibirnya bergerak pelan tanpa suara: “Tidak akan pernah. Kita mati bersama atau hidup bersama.”
Raga tersenyum tipis, lalu kembali menatap tajam ke arah Eyang Kala, suaranya lantang dan tegas bergema di seluruh lembah.
“Kau salah besar, Eyang Kala. Kau tidak mengerti apa itu cinta, apa itu janji, dan apa itu kesetiaan. Bagi kami, hidup tanpa satu sama lain lebih buruk daripada kematian. Jadi jawabanku cuma satu: KAMI TIDAK AKAN PERNAH MENYERAH! Kami akan bertarung sampai tetes darah terakhir, dan kami akan membuktikan bahwa kejahatanmu tidak akan pernah bisa mengalahkan kebenaran!”
Eyang Kala menatapnya lama, lalu perlahan senyum di bibirnya lenyap, digantikan ekspresi dingin dan membunuh.
“Bodoh… Kalian memang sama keras kepalanya dengan kakek dan ayahmu. Baiklah, kalau kalian memang mencari kematian, aku akan penuhi keinginan kalian sekarang juga!”
Ia mengangkat tangannya tinggi, lalu menurunkannya dengan cepat.
“SERANG! MUSNAHKAN SEMUA, TAPI BIARKAN WANITA ITU HIDUP-HIDUP!”
Seketika itu juga, ratusan orang hitam yang berdiri di belakangnya melompat maju dengan ganas, berlari cepat menuju posisi Raga. Di belakang, pasukan yang tadi mengejar mereka juga muncul dari balik kabut, mengepung mereka sepenuhnya. Mereka benar-benar terperangkap, dikeroyok dari segala arah, jumlah musuh sepuluh kali lipat lebih banyak dari mereka.
Namun Raga tidak mundur selangkah pun. Ia mengangkat senjatanya tinggi, berteriak keras membakar semangat orang-orangnya yang tersisa.
“UNTUK KEBENARAN! UNTUK MASA DEPAN! SERANG!!!”
Pertarungan paling besar, paling ganas, dan paling menentukan nasib mereka seumur hidup pun pecah tepat di depan pintu masuk Gua Warisan. Darah kembali menetes di tanah lembah yang indah itu, suara benturan dan teriakan bergema memecah suara gemuruh air terjun. Di tengah kekacauan itu, Raga dan Lira berdiri berdampingan, saling melindungi, bertarung mati-matian, bertekad tidak akan jatuh sebelum salah satu pihak benar-benar kalah.
Di atas bebatuan tinggi, Eyang Kala berdiri diam menatap pertempuran itu dengan wajah dingin, matanya menyala penuh niat jahat, menunggu saat yang tepat untuk turun tangan sendiri dan mengambil apa yang ia inginkan.
(Bersambung ke Episode 34)