NovelToon NovelToon
INVINCIBLE DIVINE EMPEROR NINE HEAVENS HAREM

INVINCIBLE DIVINE EMPEROR NINE HEAVENS HAREM

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Harem / Kultivasi
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: Noxalisz

Di dunia kultivasi yang luas, Xiao Chen adalah anomali—diturunkan dari langit dengan ketampanan dan kekuatan absolut tanpa batas. Dibesarkan di Hutan Sunyi oleh Qing Yan, ia tumbuh tanpa memahami asal-usulnya. Saat berusia 15 tahun, ia memulai perjalanan menjelajahi dunia, mengungkap misteri dirinya, menghadapi berbagai faksi, serta membangun hubungan dengan wanita dan kekuatan yang mengguncang tiga alam.

bonus langsung 10 episode pertama

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noxalisz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rahasia di Balik Kristal

Dipan besar dengan tirai sutra itu menjadi saksi bisu dari sesuatu yang belum pernah terjadi selama lebih dari seribu tahun.

Liu Ruyan, Direktur Paviliun Harta Surgawi, wanita paling berkuasa di perdagangan Benua Selatan, kultivator Tahap Jiwa Baru Lahir tingkat 6 yang telah membuat para pedagang dan kultivator gemetar hanya dengan satu tatapan—sekarang berbaring di bawah Xiao Chen, jubah merah gelapnya terbuka, napasnya tersengal, dan matanya yang biasanya tajam sekarang setengah terpejam dalam kenikmatan.

"Kau... kau sangat berbeda dari yang kubayangkan," bisiknya saat bibir Xiao Chen menyusuri lehernya.

"Kau sering membayangkanku?"

"Sejak kau masuk ke ruang rapatku kemarin." Liu Ruyan mendesah saat mulut Xiao Chen menemukan titik sensitif di bawah telinganya. "Kau masuk dengan rambut putihmu dan mata ungu itu, dan aku... aku hampir kehilangan kendali di depan Xu Mei."

"Itu sebabnya kau bersikap dingin."

"Itu satu-satunya cara aku bisa tetap profesional."

Xiao Chen mengangkat kepalanya, menatap matanya. "Dan sekarang?"

" Sekarang..." Liu Ruyan menariknya lebih dekat, kakinya melingkari pinggangnya. "...aku tidak ingin profesional."

Dia membalas ciuman Xiao Chen dengan intensitas yang mengejutkan—seribu tahun pengekangan diri meledak sekaligus. Lidahnya bertemu dengan lidahnya, tangannya menarik-narik jubah Xiao Chen, dan ketika akhirnya jubah itu terlepas, dia menatap tubuhnya dengan mata yang berkilat.

"Kau benar-benar sempurna," bisiknya, jari-jarinya menyusuri otot-otot perutnya. "Ini tidak adil."

"Aku tahu."

"Dan kau tidak rendah hati sama sekali."

"Rendah hati itu untuk mereka yang perlu membuktikan sesuatu. Aku tidak perlu."

Liu Ruyan tertawa—tawa pendek yang terpotong oleh desahan saat Xiao Chen menurunkan tubuhnya dan mulai mencium payudaranya. Tubuhnya yang matang merespons setiap sentuhan dengan kepekaan yang mengejutkan. Putingnya mengeras di bawah lidahnya, dan dia melengkungkan punggungnya dengan erangan yang tidak bisa ditahannya.

"Kau... kau terlalu ahli untuk seseorang yang katanya tidak ingat masa lalunya."

"Aku belajar dengan cepat."

Jarinya turun, menemukan bagian paling intimnya yang sudah sangat basah. Liu Ruyan mengerang keras saat satu jari masuk, lalu dua. Gerakannya lambat pada awalnya, membangun ritme, lalu semakin cepat.

"Aku tidak akan bertahan lama," bisiknya, suaranya bergetar. "Sudah terlalu lama... aku—"

"Lepaskan."

Dan dia melepaskan. Orgasme menghantamnya seperti gelombang—kuat, panjang, menghancurkan semua tembok yang dia bangun selama ribuan tahun. Dia meneriakkan nama Xiao Chen, tubuhnya gemetar hebat, dan air matanya mengalir tanpa bisa ditahan.

Xiao Chen mencium air matanya. "Kenapa kau menangis?"

"Karena..." Liu Ruyan menarik napas, suaranya pecah. "...aku sudah sendiri begitu lama. Begitu lama. Aku pikir aku tidak butuh siapa pun. Aku pikir aku sudah mati di dalam. Tapi kau... kau membuatku merasa hidup lagi."

Dia menarik Xiao Chen ke dalam pelukan erat. "Jangan berhenti."

Xiao Chen tidak berhenti. Dia memposisikan dirinya, dan ketika dia masuk ke dalam dirinya, Liu Ruyan mendesah panjang—desahan yang terdengar seperti kelegaan, seperti seseorang yang akhirnya pulang setelah perjalanan ribuan tahun.

Mereka bergerak bersama dalam ritme yang lambat pada awalnya, saling menatap mata. Tapi seiring waktu, ritme itu semakin cepat, semakin intens, sampai akhirnya Liu Ruyan mencapai puncak untuk kedua kalinya—lebih keras, lebih dalam, seluruh tubuhnya gemetar seperti daun di tengah badai.

Ketika Xiao Chen mencapai puncaknya sendiri, dia melepaskan ke dalam dirinya, dan Liu Ruyan memeluknya erat-erat, tidak membiarkannya pergi.

Mereka berbaring dalam keheningan, napas mereka perlahan kembali normal. Cahaya bulan masuk melalui jendela, menciptakan pola perak di tubuh mereka yang berkeringat.

"Aku ingin ikut denganmu," kata Liu Ruyan tiba-tiba.

Xiao Chen menoleh, alisnya terangkat. "Kau Direktur Paviliun Harta Surgawi. Kau tidak bisa pergi begitu saja."

"Aku bisa menunjuk pengganti. Dan lagipula..." Dia menatapnya, dan di matanya sekarang ada sesuatu yang belum pernah dilihat orang lain—kerentanan. "...aku baru saja menemukan sesuatu yang lebih penting dari Paviliun."

"Apa itu?"

"Kau."

Keesokan paginya, Xiao Chen meninggalkan ruang pribadi Liu Ruyan saat fajar.

Di ruang makan penginapan, Wei Ling, Lin Yao, dan Xu Mei sudah menunggu. Begitu Xiao Chen masuk, Xu Mei mendongak dari peta-petanya dan langsung menyipitkan mata.

"Direktur Liu pagi ini mengirim pesan ke seluruh cabang," katanya, nada suaranya sulit diartikan. "Dia menunjuk wakil direktur baru dan menyatakan akan 'cuti panjang untuk penelitian pribadi'."

"Menarik," jawab Xiao Chen, duduk dengan tenang.

"Menarik," ulang Xu Mei. "Itu kata yang kau pilih."

Wei Ling menatap mereka berdua. "Apa yang terjadi?"

"Tidak ada." Xiao Chen mengambil cangkir teh. "Hanya percakapan."

Lin Yao mendengus. "Percakapan. Tentu saja."

Sebelum interogasi bisa berlanjut, Liu Ruyan sendiri muncul di pintu ruang makan. Hari ini dia mengenakan jubah perjalanan—tetap elegan, tapi lebih praktis. Rambutnya diikat sederhana. Tanpa riasan profesional, dia terlihat lebih muda, lebih segar, dan—anehnya—lebih bahagia.

"Selamat pagi," katanya dengan nada bisnis yang sudah sangat dikenal Xu Mei. "Mulai hari ini, aku akan bergabung dengan rombongan kalian. Paviliun Harta Surgawi menyediakan sumber daya penuh untuk ekspedisi ini."

Xu Mei hampir menjatuhkan cangkir tehnya. "Direktur—"

"Mantan direktur. Panggil aku Liu Ruyan saja."

Zhang Yuan, yang baru saja masuk, menatap pemandangan itu dengan bingung. "Apa yang terjadi? Kenapa ada lebih banyak orang?"

"Kau akan terbiasa," kata Feng Mo datar, duduk di sampingnya.

Sore harinya, mereka kembali ke Arsip Kuno untuk penelitian terakhir.

Kristal ungu keemasan masih di atas meja, dan kali ini Liu Ruyan—yang sekarang bergabung sebagai anggota rombongan—ikut memeriksa bersama Xu Mei. Kedua wanita itu bekerja dengan efisiensi luar biasa, menyilangkan referensi dari puluhan gulungan kuno.

"Aku menemukan sesuatu," kata Xu Mei, mengangkat sebuah gulungan usang. "Ini catatan dari seorang penjelajah yang mengaku menemukan 'Cermin Bintang' di sebuah kuil bawah tanah di Benua Selatan. Cermin itu katanya bisa memantulkan cahaya surgawi dan menunjukkan lokasi 'pecahan-pecahan takhta'."

"Pecahan-pecahan takhta," ulang Xiao Chen. "Itu cocok dengan penglihatanku. Tahta kosong."

"Di mana kuil itu?" tanya Wei Ling.

"Di sini." Xu Mei menunjuk peta kuno. "Sekitar tiga hari perjalanan dari Kota Zamrud, ke arah tenggara. Tempat itu disebut Kuil Seribu Bintang."

"Seribu Bintang," kata Liu Ruyan, alisnya berkerut. "Aku pernah dengar nama itu. Konon, itu adalah kuil yang dibangun oleh kultivator kuno untuk memuja sesuatu yang mereka sebut 'Penguasa Langit'."

Semua mata beralih ke Xiao Chen.

"Kenapa kalian selalu menatapku seperti itu?" tanyanya.

"Karena setiap kali ada sesuatu yang aneh, selalu berhubungan denganmu," jawab Lin Yao.

"Itu bukan salahku."

"Tidak ada yang bilang itu salahmu."

Malam itu, di kamar Xiao Chen, Wei Ling duduk di dipan sambil memeluk lututnya. Lin Yao berdiri di dekat jendela, menatap kota. Xu Mei duduk di meja, masih memeriksa catatan. Liu Ruyan duduk di kursi dekat pintu, posisinya sedikit canggung—masih menyesuaikan diri dengan dinamika baru.

"Aku ingin bicara," kata Wei Ling tiba-tiba. "Tentang... semua ini."

Semua orang menoleh.

"Aku tahu kita semua di sini karena alasan yang berbeda. Tapi kita semua terikat pada Xiao Chen." Wei Ling menatap tangannya sendiri. "Aku hanya ingin memastikan... kita semua baik-baik saja?"

Keheningan turun.

"Aku baik-baik saja," kata Lin Yao. "Selama tidak ada yang mencoba menyingkirkanku."

"Aku juga," tambah Xu Mei. "Meskipun aku masih tidak percaya Direktur Liu—"

"Mantan direktur," potong Liu Ruyan dengan senyum tipis.

"—mantan direktur Liu sekarang bergabung. Tapi aku baik-baik saja."

Liu Ruyan menatap Xiao Chen, lalu menatap ketiga wanita lainnya. "Aku tidak bermaksud mengganggu keseimbangan. Tapi aku sudah hidup tiga ribu tahun. Aku tahu apa yang kuinginkan. Dan aku tidak akan berpura-pura tidak menginginkannya."

"Kita semua menginginkannya," kata Wei Ling. "Tapi kita harus berbagi."

"Itu lebih baik daripada tidak memilikinya sama sekali," kata Lin Yao.

Xu Mei mengangguk. "Setuju."

Liu Ruyan menatap mereka bergantian. Lalu dia tersenyum—senyum yang berbeda dari senyum profesionalnya. Senyum yang tulus. "Kalian semua jauh lebih dewasa dari yang kuperkirakan."

"Kami belajar dari pengalaman," kata Wei Ling, melirik Xiao Chen dengan ekspresi setengah kesal setengah sayang. "Dia tidak membuatnya mudah."

"Aku tidak pernah mencoba membuatnya mudah," kata Xiao Chen, senyum nakalnya muncul.

"Itu yang membuat kami frustrasi."

"Aku tahu."

Keesokan paginya, rombongan berangkat ke Kuil Seribu Bintang.

Mereka sekarang berjumlah delapan orang: Xiao Chen, Wei Ling, Lin Yao, Xu Mei, Liu Ruyan, ditambah Wei Zhen, Feng Mo, dan Zhang Yuan. Tiga penjaga batu masih menunggu di luar kota, dan begitu Xiao Chen muncul, mereka langsung berdiri dan mengikuti.

"Setiap kali aku melihat mereka, aku masih merinding," bisik Zhang Yuan.

"Kau akan terbiasa," jawab Feng Mo.

"Aku sudah bilang itu sejak dua minggu lalu dan aku masih belum terbiasa."

Perjalanan ke tenggara membawa mereka melewati hutan hujan tropis yang lebat—berbeda dari Hutan Kabut yang dingin dan misterius. Di sini, udara hangat dan lembap, dipenuhi suara binatang-binatang eksotis dan aroma bunga-bunga raksasa. Burung-burung berwarna-warni terbang di atas kanopi, dan sesekali monyet spiritual muncul di antara dahan, menatap rombongan dengan rasa ingin tahu.

Monster-monster non-humanoid di hutan ini—ular piton raksasa, laba-laba pohon, dan sesuatu yang besar bersisik di sungai—semuanya menghindar begitu merasakan kehadiran Xiao Chen.

"Kuil Seribu Bintang," kata Liu Ruyan, memeriksa peta. "Menurut catatan, pintu masuknya tersembunyi di balik air terjun."

"Air terjun?" Zhang Yuan menegang. "Kenapa selalu air terjun atau gua atau jurang?"

"Karena kultivator kuno suka dramatis," jawab Lin Yao.

Mereka menemukan air terjun itu pada sore hari ketiga.

Air terjun raksasa yang jatuh dari tebing setinggi seratus meter, menciptakan kolam biru jernih di bawahnya. Di balik air terjun itu, tersembunyi di balik tirai air, sebuah pintu batu dengan ukiran bintang-bintang yang masih bersinar redup.

"Ini dia," bisik Xu Mei. "Kuil Seribu Bintang."

Xiao Chen melangkah maju. Tangannya menyentuh pintu batu itu, dan begitu kulitnya bersentuhan dengan permukaannya, ukiran-ukiran bintang itu menyala terang. Pintu itu bergeser terbuka dengan suara gemuruh yang dalam, memperlihatkan lorong gelap yang menurun ke dalam bumi.

"Aku akan masuk duluan," kata Xiao Chen.

"Kami ikut," jawab Wei Ling, Lin Yao, Xu Mei, dan Liu Ruyan hampir bersamaan. Mereka saling menatap, lalu tersenyum kecil.

"Aku akan tunggu di sini," kata Wei Zhen. "Seseorang harus menjaga pintu."

"Aku juga," tambah Feng Mo. Zhang Yuan mengangguk setuju.

Xiao Chen dan keempat wanitanya memasuki lorong gelap itu. Begitu mereka semua masuk, pintu batu di belakang mereka tertutup dengan sendirinya. Tapi sebelum kegelapan bisa menyelimuti, ribuan titik cahaya mulai bermunculan di dinding dan langit-langit—seperti bintang-bintang yang bersinar di dalam ruangan.

"Ini bukan pantulan," bisik Xu Mei, menyentuh salah satu titik cahaya. "Ini adalah bintang asli. Bintang yang dikurung dalam kristal."

"Ribuan bintang," kata Liu Ruyan. "Sesuai namanya."

Lorong itu berakhir di sebuah ruangan bundar raksasa. Di tengahnya, melayang di atas platform, sebuah cermin raksasa berputar perlahan. Permukaannya bukan kaca, melainkan cairan perak yang bergerak seperti air hidup.

"Cermin Bintang," bisik Xiao Chen, melangkah mendekat.

Begitu dia berdiri di depannya, permukaan cermin itu berubah. Gambar-gambar muncul—bukan pantulan ruangan, tapi pemandangan lain. Sebuah gurun pasir hitam. Sebuah menara yang menjulang dari pasir. Dan di puncak menara itu... sepotong kain emas.

"Ini lokasi potongan keempat," kata Xiao Chen.

Tepat saat dia mengatakannya, cermin itu memancarkan cahaya yang sangat terang, memenuhi seluruh ruangan. Ketika cahaya itu meredup, sebuah gulungan kecil melayang di atas platform—sebuah peta. Peta yang menunjukkan jalan ke Gurun Pasir Hitam, di ujung selatan Benua Selatan.

Xiao Chen mengambil peta itu. "Kita punya tujuan baru."

Bersambung ke Episode 9...

1
TGT
good
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!