NovelToon NovelToon
ARCHEON : THE LAST SIGIL

ARCHEON : THE LAST SIGIL

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Mengubah Takdir / Kutukan
Popularitas:254
Nilai: 5
Nama Author: Kenken77

Di dunia bernama Archeon, sihir bukan sekadar kekuatan.
Sihir adalah hukum.
Langit dipenuhi lingkaran rune raksasa yang terus berputar di atas awan. Laut bercahaya biru di malam hari karena mana mengalir seperti darah di bumi. Dan setiap manusia lahir dengan “Sigil” — tanda sihir yang menentukan takdir mereka.
Ada yang lahir sebagai penyihir api.
Ada yang mengendalikan badai.
Ada yang mampu berbicara dengan roh.
Namun…
Ada satu Sigil yang dianggap kutukan.
Sigil tanpa elemen.
Sigil kosong.
Dan pemiliknya…
Biasanya mati muda

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kenken77, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1

​Hujan di desa Eldravale malam itu bukanlah hujan biasa. Tetesannya terasa dingin menusuk tulang, membawa aroma logam dan abu yang menyesakkan dada. Kabut tebal merayap dari arah Hutan Terlarang, menelan rumah-rumah kayu dan menyisakan hanya remang cahaya obor yang bergoyang liar ditiup angin kencang. Di tengah keheningan yang mencekam, suara lonceng tua di puncak menara desa berdentang.

​DUUUUNG—

DUUUUNG—

DUUUUNG—

​Tiga dentuman yang menandakan dimulainya Hari Kebangkitan Sigil. Bagi remaja berusia lima belas tahun di dunia Archeon, ini adalah momen sakral. Ini adalah saat di mana Inti Mana yang tertidur di dalam tubuh mereka dipaksa bangun oleh resonansi Altar Kristal, membentuk Sigil—sebuah tanda geometris di kulit yang menjadi saluran kekuatan sihir sekaligus penentu status sosial.

​Di dunia yang dibangun di atas hierarki kekuatan, Sigil adalah segalanya. Dapatkan Sigil Elemen (Api, Air, Tanah, Udara), maka akan menjadi prajurit atau penyihir terhormat. Dapatkan Sigil Khusus (Cahaya, Penyembuhan, atau Logam), maka akan menjadi bangsawan atau pemuka agama.

​Namun, sejarah Archeon juga mencatat tentang Sigil Hitam. Sigil yang membawa malapetaka. Dan malam ini, langit merah yang mengintip di balik awan hitam seolah sedang memberikan peringatan.

​Di tengah lapangan desa, sebuah altar kristal raksasa setinggi tiga meter berdiri tegak. Permukaannya yang bening kini bercahaya dengan Rune kuno berwarna biru safir yang berputar-putar seperti pusaran air. Puluhan penduduk berkumpul, wajah mereka tegang, dibasahi hujan yang tak kunjung reda.

​Di barisan paling belakang, Kael Ravenhart berdiri dalam kesendirian. Jubah coklatnya yang kumal, penuh dengan bekas jahitan kasar, melekat basah pada tubuh kurusnya. Rambut hitamnya yang legam menutupi sebagian matanya yang tajam namun lelah.

​Ia bisa merasakan tatapan itu. Tatapan yang selalu menemaninya sejak ia ditemukan di pinggiran hutan utara. Tatapan penuh kebencian, ketakutan, dan jijik.

​"Lihat si pembawa sial itu," bisik seorang pria tua di baris samping, suaranya parau namun cukup keras untuk didengar. "Kenapa dia diizinkan ikut? Ibunya gila, ayahnya menghilang setelah membakar setengah hutan. Darah terkutuk mengalir di nadinya."

​"Hush! Jangan biarkan kutukannya menular pada kita," balas seorang wanita sambil menarik anaknya menjauh dari Kael.

​Kael hanya mengepalkan tangannya di balik saku jubah. Ia sudah terbiasa dianggap sebagai sampah, sebagai penyakit yang tak diinginkan oleh Eldravale. Namun, ada sesuatu yang berbeda malam ini. Sejak fajar menyingsing, dadanya terasa panas. Jantungnya berdetak dengan irama yang asing—terlalu lambat, terlalu berat, seolah-olah ada sesuatu yang besar sedang mencoba bernapas di dalam paru-parunya.

​Dan setiap kali ia memejamkan mata, ia melihatnya. Langit yang terbakar. Kota-kota yang runtuh menjadi debu hitam. Dan sepasang mata merah yang memperhatikannya dari balik cakrawala yang hancur.

​"Kael..."

​Suara itu lagi. Bisikan yang tidak berasal dari telinga, melainkan bergema langsung di pusat kesadarannya.

​Elder Morvain, pemimpin spiritual desa, melangkah maju ke depan altar. Jubah putihnya memancarkan aura emas yang melindungi tubuhnya dari tetesan hujan. Ia mengangkat tongkat kristal tinggi-tinggi ke udara.

​"Warga Eldravale! Archeon telah memberikan kita napas, dan malam ini, Archeon akan memberikan kita pedang! Biarkan mana mengalir, biarkan takdir terukir!"

​Satu per satu nama dipanggil.

​Liora Ashveil maju dengan langkah anggun. Sebagai putri kepala penjaga, ia adalah primadona desa. Saat tangannya menyentuh permukaan kristal, terjadi ledakan mana yang begitu murni hingga awan di atas desa tersibak sesaat. Kobaran api biru menyembur dari altar, membentuk sayap-sayap megah di udara sebelum meresap ke lengan kanannya.

​"SIGIL API CELESTIAL!" teriak Morvain dengan suara bergetar kagum. "Tingkat Epik! Desa kita akan memiliki pahlawan baru!"

​Sorak-sorai pecah, merobek kesunyian malam. Liora berbalik dengan senyum kemenangan, namun matanya sempat bertabrakan dengan mata Kael. Ada rasa kasihan yang merendahkan di sana—sebuah pandangan dari seseorang yang baru saja menjadi dewi kepada seseorang yang tetap menjadi cacing.

​Kemudian Garrick Thorn, putra pandai besi yang bertubuh raksasa, melangkah maju. Saat ia menyentuh kristal, guntur menggelegar hebat. Petir hitam-ungu menyambar-nyambar di sekitar altar, meninggalkan bekas hangus di tanah. Di lehernya, sebuah simbol petir yang rumit muncul.

​"SIGIL THUNDER LORD!"

​Kegembiraan meluap. Eldravale belum pernah memiliki generasi sekuat ini. Namun, semakin banyak anak yang mendapatkan Sigil mereka, semakin gelap langit di atas desa. Petir merah yang tadinya hanya sekilas, kini mulai mendominasi cakrawala.

​"Nama terakhir," suara Morvain mendadak turun beberapa nada. Ada keraguan di matanya. "Kael Ravenhart."

​Keheningan yang mencekam menyelimuti lapangan. Suara hujan yang tadinya berisik mendadak terdengar seperti bisikan ribuan orang mati. Kael melangkah maju. Setiap langkahnya terasa berat, seolah gravitasi di sekitarnya meningkat sepuluh kali lipat.

​Saat ia berdiri di depan altar, ia melihat pantulan dirinya di kristal biru. Namun, pantulan itu tidak bergerak bersamanya. Kael yang berada di dalam kristal sedang berdiri tegak, menyeringai dengan mata yang sepenuhnya hitam pekat.

​"Tunggu apa lagi?" bentak seorang penjaga. "Sentuh dan cepatlah pergi, pembawa sial!"

​Kael menarik napas panjang, mencoba menenangkan jantungnya yang kini berdegup kencang seperti genderang perang. Ia mengulurkan tangannya yang gemetar.

​Ujung jarinya menyentuh permukaan dingin kristal itu.

​DEG.

​Dunia seakan berhenti berputar. Warna-warna di sekelilingnya memudar menjadi hitam putih. Hujan membeku di udara, tergantung seperti ribuan jarum kaca. Penonton, Elder Morvain, dan penduduk desa mematung seperti patung lilin.

​Kael tersentak ke dalam sebuah dimensi yang hancur. Ia tidak lagi berada di Eldravale. Ia berdiri di atas lautan tengkorak yang membentang hingga ke ujung dunia. Langit di atasnya adalah lubang hitam besar yang menghisap segala cahaya.

​Di hadapannya, sebuah singgasana dari duri hitam berdiri. Di atasnya, duduk sesosok makhluk tanpa wajah, namun keberadaannya memancarkan otoritas yang melampaui dewa mana pun.

​"Kau datang juga, Wadahku," suara itu meledak di dalam kepala Kael, menyebabkan telinganya berdarah.

​"Siapa kau?! Apa ini?!" teriak Kael, suaranya hilang ditelan kehampaan.

​"Aku adalah yang dilupakan. Aku adalah akhir dari segala awal. Dan kau... kau adalah kunci untuk membuka pintu yang telah terkunci selama sepuluh milenia."

​Sosok itu menjentikkan jarinya.

​CRACK!

​Dunia nyata kembali menghantam Kael dengan kekuatan badai.

​Kristal Altar yang telah bertahan selama ratusan tahun mendadak mengeluarkan suara retakan yang memilukan. Altar itu tidak lagi memancarkan cahaya biru. Alih-alih, cairan hitam seperti tinta mulai merembes dari retakannya. Mana di udara mendadak menjadi beracun, mencekik siapa pun yang menghirupnya.

​"GAAAHHH!" Kael jatuh berlutut. Punggung telapak tangan kirinya terasa seolah-olah disiram logam cair panas. Kulitnya melepuh, terbakar, dan dari luka itu, sebuah simbol muncul.

​Bukan api, bukan air, bukan petir.

​Itu adalah sebuah lingkaran sempurna yang benar-benar hampa di tengahnya, dikelilingi oleh tujuh garis retakan merah yang berdenyut seirama dengan jantung Kael.

​Elder Morvain menjatuhkan tongkatnya. Wajahnya yang keriput menjadi sepucat kain kafan. Ia menunjuk ke arah Kael dengan jari gemetar.

​"Tidak mungkin... Itu tidak mungkin ada lagi..." bisiknya dengan suara yang penuh teror murni. "Legenda itu nyata... SIGIL VOID!"

​Mendengar nama itu, kerumunan yang tadinya kagum berubah menjadi histeris. Sigil Void bukan sekadar kekuatan; dalam naskah kuno Archeon, itu adalah tanda dari "Eater of Worlds"—sosok yang diramalkan akan mengonsumsi seluruh mana di dunia dan mengembalikan segalanya menjadi ketiadaan.

​"BUNUH DIA!" teriak kepala desa. "BUNUH DIA SEBELUM DIA MEMBANGKITKAN KEGELAPAN!"

​Para penjaga desa segera menghunus pedang mereka. Liora dan Garrick, yang baru saja mendapatkan kekuatan mereka, berdiri di baris depan dengan ekspresi ngeri dan ragu.

​"Kael... apa yang kau lakukan?" bisik Liora, api birunya meredup karena ketakutan instingtual.

​"Aku... aku tidak tahu!" teriak Kael, air mata mulai bercampur dengan air hujan di pipinya. "Hentikan ini!"

​Namun, kebencian yang sudah dipupuk selama bertahun-tahun di Eldravale kini menemukan pembenaran. Mereka tidak lagi melihat Kael sebagai anak yatim piatu yang malang. Mereka melihatnya sebagai kiamat yang berjalan.

​"Mati kau, monster!" Garrick menerjang maju, tangannya diselimuti petir ungu yang mematikan. Ia melayangkan tinju bertenaga tinggi tepat ke arah wajah Kael.

​Kael secara refleks mengangkat tangannya untuk menangkis.

​WHOOOOOMMM!!

​Saat tinju petir itu bersentuhan dengan aura hitam yang menyelimuti Kael, tidak ada ledakan. Tidak ada benturan. Petir milik Garrick seolah-olah tersedot ke dalam sebuah lubang tanpa dasar. Mana petir yang kuat itu menghilang seketika, tertelan oleh kegelapan yang keluar dari Sigil Kael.

​Garrick tercengang. Ia merasa Inti Mana di dalam tubuhnya seperti ditarik paksa keluar. Ia jatuh tersungkur, tubuhnya mendadak lemas dan pucat seolah energinya telah habis dikuras.

​"Dia... dia memakan sihirku!" raung Garrick lemah.

​"Dia adalah iblis!" teriak Elder Morvain. Ia mengangkat tangannya, membentuk lingkaran sihir emas raksasa di udara—Sihir Tingkat 5: Penjara Cahaya Suci.

​Rantai-rantai cahaya meluncur dari langit, mencoba mengikat tubuh Kael. Namun, saat rantai itu menyentuh kabut hitam di sekitar Kael, mereka hancur berkeping-keping menjadi debu mana yang kemudian diserap oleh Sigil di tangan Kael.

​Di dalam pikiran Kael, suara itu tertawa terbahak-bahak.

"Ya... rasakan itu. Mereka menyebutmu sampah, namun sekarang mereka gemetar di hadapan keagunganmu. Jangan menolak, Kael. Terima kegelapan ini. Jadilah satu denganku!"

​"DIAM! KELUAR DARI KEPALAKU!" Kael memegangi kepalanya, berteriak ke arah langit.

​Energi hitam meledak dari tubuhnya dalam gelombang kejut yang dahsyat. Altar Kristal hancur berkeping-keping, menjadi debu halus. Penduduk desa terpental ke belakang, terlempar oleh tekanan gravitasi yang luar biasa. Seluruh desa Eldravale bergetar hebat, seolah-olah bumi sendiri ingin menjauh dari pemuda itu.

​Hujan mendadak berhenti di atas area lapangan, membentuk kubah kekosongan. Kael berdiri di tengah reruntuhan, mata kirinya kini telah berubah menjadi merah darah dengan pupil vertikal layaknya predator.

​Ia menatap tangannya. Ia merasa kuat. Terlalu kuat. Ia bisa merasakan aliran mana di setiap helai rumput, di setiap napas penduduk desa, dan ia merasa bisa mengambil semuanya hanya dengan satu pikiran.

​Elder Morvain menatapnya dengan penuh keputusasaan. "Ramalan itu benar... Wadah Void telah terbangun. Archeon akan segera jatuh ke dalam kegelapan."

​Kael menatap penduduk desa yang kini meringkuk ketakutan. Orang-orang yang selama ini menyiksanya, menghinanya, kini memohon nyawa. Ia punya kekuatan untuk meratakan desa ini dalam sekejap.

​Namun, di tengah kemarahannya, Kael melihat seorang anak kecil yang menangis di pelukan ibunya. Ia melihat ketakutan yang tulus, bukan hanya kebencian.

​Ia tidak ingin menjadi monster yang mereka bicarakan.

​Dengan sisa kesadarannya, Kael menekan energi hitam itu kembali ke dalam tubuhnya. Ia berbalik dan berlari. Ia berlari menembus hujan, menembus kabut, menjauh dari lampu-lampu desa Eldravale, menuju Hutan Terlarang yang gelap gulita.

​Di belakangnya, lonceng desa kembali berdentang, namun kali ini nadanya berbeda. Itu adalah dentang peringatan perang.

​Petir merah menyambar langit sekali lagi, memperlihatkan siluet Kael yang menghilang di kegelapan hutan. Malam itu, seorang anak laki-laki mati di Eldravale, dan sesuatu yang jauh lebih tua serta lebih berbahaya telah lahir untuk menggantikannya.

​Petualangan berdarah Kael Ravenhart baru saja dimulai. Di dunia yang membencinya, ia harus memilih: menjadi penyelamat yang dikhianati, atau menjadi penguasa kegelapan yang mereka takuti.

​Dan di kejauhan, di balik awan hitam Archeon, mata-mata merah lainnya mulai terbuka. Satu demi satu. Menunggu sang Raja Void kembali ke tahtanya.

1
Prety Chiky
semangat terus tor
Ivah Maria ulpah
Mc yg jdi villain hhmmm boleh juga
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!