Amora (23) mengira takdirnya hanya sebatas membungkus es teh manis dan beradu urat dengan kuli panggul di pasar pelabuhan yang becek. Di balik tabiatnya yang ramai, dia tidak pernah tahu bahwa dirinya adalah darah daging Dinasti Klan—pemilik kasta tertinggi yang sengaja dilesapkan ke lumpur kemiskinan akibat tragedi belasan tahun lalu. Yang dia tahu, hidup kasarnya selalu aman karena dijaga oleh Hamdan (29), pria berkemeja hitam yang dingin laksana es.Namun, ketenangan itu koyak saat Gavin Raka (33), miliarder asal Swiss, datang membawa kepingan silsilah yang hilang. Amora diseret paksa masuk ke dunia elite yang penuh manipulasi finansial internasional, fitnah hubungan sedarah, hingga cakar fisik dari saingan cintanya, Elif Azra Karaca.Saat gurita dana rahasia Hamdan bergerak dingin meruntuhkan bursa efek Eropa murni demi melindunginya, seuntai anyaman gelang rumput kering di tangan Amora perlahan mulai mengoyak kabut amnesia bawah sadarnya. Dan tepat ketika rahasia malam kebakaran itu robek seutuhnya, sebuah bayangan dari masa lalu bersiap bangkit untuk meruntuhkan seluruh takhta kekuasaan dunia kelas atas.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Salma.Z, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 17: Pecahan Kaca dan Hati yang Patah
Malam itu, Mansion Tarkan tidak lagi terasa seperti istana, melainkan seperti peti mati yang mewah. Di balik pintu kamarnya yang terkunci rapat, sosok Hamdan Tarkan yang perkasa telah runtuh. Tidak ada lagi CEO dingin yang ditakuti musuh-musuhnya; yang ada hanyalah seorang pria yang hancur karena pilihannya sendiri.
Hamdan berdiri di depan cermin besar, menatap bayangan dirinya yang nampak mengerikan. Matanya merah, bukan karena amarah, melainkan karena menahan luka yang menyesakkan dada. Kata-katanya tadi siang kepada Amora—menyebutnya "beban" dan "naif"—terus berputar di kepalanya seperti kaset rusak.
"Bajingan kau, Hamdan!" erangnya.
Dengan satu ayunan tangan yang penuh keputusasaan, Hamdan menghantam cermin itu.
PRANG!
Kaca setinggi dua meter itu hancur berkeping-keping, mencerminkan wajahnya yang terpecah menjadi ribuan bagian. Tangannya yang tidak terbalut perban kini mengalirkan darah segar, namun ia tidak merasakannya. Rasa sakit di tangannya tidak sebanding dengan rasa sakit saat melihat mata Amora yang kehilangan cahayanya tadi siang.
Ia menjatuhkan diri ke lantai, di antara pecahan kaca. Di tangannya, ia meremas selembar dokumen tes DNA palsu yang menjadi penyebab semua kekacauan ini. Hamdan menangis tanpa suara, bahunya terguncang hebat. Ia harus menjauh, ia harus membuat Amora membencinya, karena hanya dengan cara itulah polisi tidak akan menyeret Amora ke dalam pusaran kasus penipuan identitas yang sedang menjerat Tarkan Group.
Hamdan bersimpuh di atas lantai marmer kamar. Ruangan itu gelap, diterangi cahaya rembulan yang masuk melalui celah gorden yang tersingkap. Di sekelilingnya, serpihan kaca berserakan, memantulkan bayangan dirinya yang hancur berkeping-keping.
Napasnya memburu, berat, dan penuh sesak. Tangan kanannya mengalirkan darah segar dan rasa perih di kulitnya tak sebanding dengan luka yang menganga di dadanya.
"Maafkan aku, Amora..." bisiknya parau, suaranya hilang ditelan kesunyian malam.
Ia teringat sorot mata Amora saat ia menyebutnya sebagai 'beban' tadi siang. Mata yang semula mulai memancarkan binar kepercayaan itu seketika meredup, seolah-olah Hamdan baru saja memadamkan satu-satunya pelita di hidup gadis itu. Hamdan tahu ia harus melakukannya. Ia harus menjadi antagonis dalam hidup Amora, karena semakin dekat Amora dengannya, semakin besar kemungkinan gadis itu terseret ke dalam lubang kehancuran yang sedang digali oleh musuh-musuh politik dan bisnisnya.
Di sayap mansion yang lain, Amora duduk di kegelapan kamarnya. Ia tidak menangis lagi. Air matanya sudah mengering, menyisakan tatapan mata yang dingin dan tajam. Ia mendengar suara kaca pecah dari arah kamar Hamdan, namun ia tidak bergeming.
"Kau ingin aku menjauh, Abang?" bisik Amora pada kegelapan. "Akan kulakukan. Tapi aku akan memastikan kau menderita setiap detik melihatku tidak lagi berada dalam jangkauanmu."
Amora tidak lagi menangis; air matanya seolah telah menguap bersamaan dengan runtuhnya harga dirinya tadi siang. Di jarinya, cincin berlian pemberian Hamdan masih melingkar, namun terasa dingin dan asing.
Amora mengambil ponselnya. Dengan tangan yang tenang, ia mencari nomor yang beberapa hari lalu ia abaikan. Nomor milik Farr Burhan.
Ia menekan tombol panggil. Hanya butuh dua nada sambung sebelum suara Farr yang halus terdengar di seberang sana.
"Amora? Apakah mawar kecil akhirnya butuh bantuan untuk keluar dari musim dingin?" tanya Farr, terdengar sangat percaya diri.
Amora melirik ke arah pintu kamarnya, tahu bahwa Hamdan kemungkinan besar memantau semua log komunikasinya melalui Farid. "Farr, ajakanmu ke museum besok... apakah masih berlaku? Aku bosan tinggal di rumah yang penuh dengan kebohongan ini."
"Tentu saja, Cantik. Jam sepuluh pagi, mobilku akan menjemputmu tepat di depan gerbang."
"Aku akan menunggumu," jawab Amora singkat sebelum mematikan sambungan telepon.
Hanya berselang beberapa menit, di ruang kerja Hamdan, sebuah tablet menyala terang. Farid berdiri di sana dengan wajah penuh kecemasan saat melihat log komunikasi yang baru saja masuk ke sistem keamanan mereka.
"Tuan... Nona Amora baru saja menghubungi Farr Burhan," lapor Farid pelan.
Hamdan, yang baru saja membalut tangannya dengan kain seadanya, mendongak. Matanya yang merah berkilat dengan amarah yang murni, namun juga keputusasaan yang dalam. Ia berdiri dengan kasar, membuat kursi kerjanya terguling ke belakang.
"Dia ingin pergi dengan pria itu?" raung Hamdan. "Di tengah skandal ini, dia ingin memperlihatkan dirinya bersama Farr di tempat umum?!"
"Sepertinya Nona Amora ingin membalas rasa sakit hatinya, Tuan," sahut Farid berani. "Dia ingin Anda melihat bahwa dia tidak lagi membutuhkan perlindungan Anda."
Hamdan mencengkeram pinggiran meja kerjanya hingga buku jarinya memutih kembali. Jantungnya berdegup kencang, perpaduan antara cemburu yang membakar dan ketakutan yang mencekam. Logikanya berkata bahwa ini bagus—biarkan dunia melihat Amora menjauh darinya agar tuduhan hubungan sedarah itu meredup. Namun, instingnya sebagai seorang pria ingin mendobrak pintu kamar Amora dan mengurungnya di sana selamanya agar tidak ada pria lain yang bisa menyentuhnya.
"Biarkan dia pergi," ucap Hamdan akhirnya dengan suara yang sangat rendah, hampir menyerupai geraman. Ia memejamkan mata, menahan badai gelisah yang hampir membuatnya gila. "Pantau dari kejauhan. Jika Farr berani menyentuhnya lebih dari sekadar jabat tangan... pastikan dia tidak pernah bisa meninggalkan kota ini dengan selamat."
Malam itu, Hamdan Tarkan tidak tenang. Ia menghabiskan waktu malam dengan menatap kegelapan, meratapi puing-puing kepercayaan yang ia hancurkan sendiri, Di ruang kerjanya yang baru saja dibersihkan dari pecahan kaca.
Hamdan memejamkan matanya sejenak, meratapi kegelisahan hatinya. Jantungnya berdegup kencang karena cemburu dan gelisah. Tetapi akal pikirannya mengingatkan sesuatu hal tentang surat panggilan polisi yang ada di laci mejanya.
"Biarkan dia pergi, Hamdan" bisik Hamdan pada dirinya sendiri, meskipun suaranya bergetar hebat. "Setidaknya jika dia bersama Farr di tempat umum, polisi akan berpikir hubunganku dengannya benar-benar berakhir. Itu akan menyelamatkannya." ucap Hamdan berusaha menenangkan dirinya sendiri.
Tapi di dalam hatinya, Hamdan tahu, ia sedang menyerahkan jantungnya sendiri untuk diinjak-injak. Malam itu, Hamdan Tarkan tidak tidur barang semenit pun, terjaga oleh bayangan Amora yang tersenyum pada Farr Burhan.
To be continued...
-----------