NovelToon NovelToon
The Professor’S Karma

The Professor’S Karma

Status: tamat
Genre:Dosen / Cintapertama / Mengubah Takdir / Tamat
Popularitas:26k
Nilai: 5
Nama Author: Ra H Fadillah

​"Jangan berharap terlalu tinggi, Aruna. Mahasiswi seperti kamu hanya akan menjadi sampah di industri ini."

​Kata-kata tajam dari Baskara Dirgantara, dosen jenius yang berhati es, masih terngiang jelas di telinga Aruna. Di London, Baskara adalah hakim yang menghancurkan kepercayaan dirinya. Namun, sebuah tragedi besar memaksa Aruna kembali ke tanah air dengan rahasia yang ia simpan rapat-rapat, jantungnya sedang perlahan berhenti berdetak.

​4 Tahun Kemudian, Aruna bukan lagi mahasiswi yang bisa diremehkan. Ia adalah pewaris tunggal yang siap mengambil alih kekuasaan. Namun, tepat saat ia mencoba berdiri tegak, sosok Baskara kembali muncul. Bukan lagi sebagai pengajar, melainkan sebagai pria yang mendadak muncul di setiap sudut hidupnya mengawasi setiap geraknya, memonitor setiap helaan napasnya, dan menunjukkan dominasi yang tidak masuk akal.


Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ra H Fadillah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7 Tatapan Sinis Sang Dosen

Hari yang dinanti pun tiba. Ruang auditorium lantai dua berubah menjadi ruang sidang yang menegangkan. Baskara duduk di kursi paling tengah dengan sebuah pulpen perak di tangan, siap memberikan coretan maut pada lembar penilaiannya.

​Kelompok Aruna, Devan, dan Theo mendapat giliran pertama. Aruna melangkah maju ke podium dengan langkah mantap. Kali ini ia mengenakan kemeja putih bersih yang pas di tubuhnya, rambutnya dikuncir kuda dengan rapi, menampakkan leher jenjang dan wajahnya yang serius.

​"Berdasarkan analisis kasus yang kami bedah, unsur wanprestasi dalam sengketa ini sudah terpenuhi sejak pihak kedua gagal memenuhi klausul waktu..."

​Suara Aruna mengalun jernih, menjelaskan pasal demi pasal dengan sangat fasih. Namun, di tengah presentasi, saat ia harus menjelaskan detail teknis mengenai yurisprudensi terbaru, Aruna mendadak terdiam. Pikirannya sekejap kosong karena kurang tidur setelah begadang menyempurnakan data mereka.

​Baskara yang menyadari hal itu langsung menarik sudut bibirnya, membentuk senyum sinis yang merendahkan. Ia sudah bersiap untuk memotong pembicaraan Aruna dengan teguran pedas.

​Namun, sebelum Baskara sempat membuka mulut, Devan dengan sigap berdiri di samping Aruna. "Menyambung poin yang disampaikan Aruna, yurisprudensi yang dimaksud adalah keputusan Mahkamah tahun lalu yang memperkuat posisi penggugat," sambung Devan dengan lancar sambil memberikan kode mata yang menenangkan pada Aruna.

​Aruna menarik napas lega, ia tersenyum tipis dan kembali melanjutkan sisa presentasinya hingga akhir dengan sangat sempurna. Penampilan mereka menutup sesi tersebut dengan tepuk tangan riuh dari mahasiswa lain.

Kini giliran kelompok Michelle, Paula, dan Gea. Mereka maju dengan gaya bak model di atas catwalk, lengkap dengan tas mahal yang diletakkan di atas meja presentasi. Michelle mulai bicara, namun baru dua kalimat, bahasanya terdengar sangat aneh. Istilah-istilah hukum yang ia gunakan terasa kaku dan tidak menyambung dengan konteks kasus.

​Baskara menyipitkan mata. Ia membaca salinan makalah yang mereka kumpulkan. Kalimat-kalimatnya terlalu terstruktur secara mekanis, namun kosong akan analisis mendalam.

​"Tunggu," potong Baskara dingin. Michelle langsung terdiam dengan wajah pucat.

​"Michelle, jelaskan apa kaitan antara teori yang kamu sebutkan barusan dengan kasus ini menurut pemikiranmu sendiri," pinta Baskara.

​Michelle gagap. "Itu... maksudnya... hukum itu harus adil, Pak. Dan... emm..."

​"Cukup," suara Baskara naik satu oktaf. Ia membanting dokumen itu ke meja. "Kalian pikir saya bodoh? Makalah ini murni hasil salinan AI tanpa kalian mengerti isinya sama sekali. Bahkan kalian tidak repot-repot menyinkronkan data di dalamnya. Silakan duduk."

​"Tapi Pak..." Paula mencoba membela diri.

​"Duduk! Kelompok kalian mendapatkan nilai E. Dan kalian beruntung saya tidak membawa ini ke komite etik atas dugaan plagiarisme," tegas Baskara tanpa ampun.

​Michelle kembali ke bangkunya dengan wajah yang nyaris menangis karena malu, sementara teman-teman sekelasnya mulai berbisik-bisik mengejek mereka.

Setelah kelas berakhir, auditorium mulai sepi. Aruna menghampiri Devan dan Theo yang sedang merapikan laptop mereka di barisan tengah.

​"Devan, Theo, terima kasih banyak ya. Terutama Devan, tadi kalau kamu tidak sigap membantuku saat aku lupa materi, mungkin nilainya tidak akan sesempurna ini," ucap Aruna dengan tulus.

​Devan justru tertawa, ia menggelengkan kepalanya sambil menyampirkan tas ranselnya ke bahu. "Jangan bercanda, Aruna. Kami yang seharusnya berterima kasih padamu."

​Theo mengangguk setuju dari balik kacamatanya. "Benar. Hampir delapan puluh persen isi makalah itu adalah hasil riset mendalammu. Kami hanya tinggal memoles presentasinya saja. Kalau bukan karena kamu, mungkin kami juga akan kesulitan menjawab pertanyaan-pertanyaan menjebak dari Pak Baskara tadi."

​"Aruna, kamu itu otak kelompok ini. Jadi tolong jangan merasa berutang budi pada kami," tambah Devan sambil menepuk pundak Aruna sekilas.

​Aruna tersenyum, kali ini senyumannya terasa hangat dan tanpa beban. Namun, saat mereka bertiga berjalan menuju pintu keluar, mereka berpapasan dengan Baskara yang masih berdiri di sana.

​Baskara menatap Aruna dengan tatapan sinis yang tidak kunjung hilang. "Kerja yang bagus untuk kelompokmu, Aruna. Tapi ingat, keberuntungan tidak akan selalu bersamamu. Jangan biarkan teman-temanmu terus melakukan pekerjaan beratmu di masa depan."

​Aruna tertegun. Ia ingin membela diri bahwa ia yang melakukan sebagian besar pekerjaan itu, namun Devan menarik lengannya perlahan, memberi isyarat untuk tidak meladeni dosen yang sedang dalam suasana hati buruk itu.

​"Ayo, Aruna. Kita cari makan siang. Aku lapar sekali," ajak Devan keras-keras, sengaja agar didengar oleh Baskara.

​Mereka bertiga melenggang pergi, meninggalkan Baskara yang berdiri sendirian dengan kepalan tangan yang mengeras. Ia benci melihat bagaimana Aruna mulai dikelilingi oleh orang-orang yang mendukungnya, dan entah mengapa, ia merasa ada sesuatu yang besar yang sedang disembunyikan oleh mahasiswi "desa"nya itu.

1
Ra H Fadillah
🥰🥰🥰🥰🥰
𝐘𝐖💋🅢🅐🅛🅢🅐🅑🅘🅛🅐👻ᴸᴷ
Mkch, Ade, utk Karya ny, Sukses Slalu 🙏👍🥳
Ra H Fadillah: Terima kasih 💞 semoga kakak suka dengan cerita lainnya 😉
total 1 replies
Tamirah
Mungkin rasa terhina yg luar biasa ketika berada di London membuat ia kembali Bersikap acuh tak acuh.
Desi Santiani
semogaa aruna ttp bisa bersama baskara n membesarkan anak mereka
brawijaya Viloid
aruna jgn mudah luluh plis 😒
brawijaya Viloid
benci bgt 😡
brawijaya Viloid
cih, sok iya bgt lu baskara
brawijaya Viloid
kekny ada yg slaah thor, kok suaminy?
brawijaya Viloid
ortu nya juga ni keterlaluann, mw sok baik klian? 🙄😡
brawijaya Viloid
gara" lu baskara setann
brawijaya Viloid
cihhh, nyesal kann loo 😡
brawijaya Viloid
jujur, author pintar bgt buat alur yg tdinya emosi jdi mnddk melow dan bahagia, senang bgt bacanya! peremluannya juga ga menye" lgsg to the point 🥰🥰
Ra H Fadillah: Terima kasih 💞 😉
total 1 replies
brawijaya Viloid
sialann lo baskaraaaa 😡
brawijaya Viloid
kasian bgt aruna
brawijaya Viloid
sok bgt lu baskaraaa, liat aja nnti
brawijaya Viloid
cerita baru thorrr 😻
Siska Amelia
lama banget Gk update
Ra H Fadillah: authornya lagi flu 😉 kakak 💞
total 1 replies
Trias Aliza Prasetyaningrum
aku inget pernah baca bagian Bagaskara sengaja panggil Aruna sayang di bab awal. ini, tapi mana ya
brawijaya Viloid: udh direvisi mngkin
total 1 replies
Siska Amelia
lanjutkan dong
Ra H Fadillah: Terima kasih, semoga kamu suka dgn ceritanya 😉
total 1 replies
𝐘𝐖💋🅢🅐🅛🅢🅐🅑🅘🅛🅐👻ᴸᴷ
Hi hi gemes bgt, Ade tp unik jdx, 1 lari, 1 mengejar 🤭👍🥳
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!