Selama sepuluh tahun, Nana tumbuh sebagai manusia di desa nelayan — tanpa tahu bahwa dirinya adalah putri mahkota kerajaan Siren Aequoria. Setiap malam, ia mendengar lagu misterius dari dasar laut, memanggilnya dengan nama.
Jeno, Siren penjaga perairan selatan, telah mengawasinya sejak bayi. Tugasnya sederhana: lindungi Nana sampai waktunya kembali. Tapi sepuluh tahun mengamati dari kejauhan membuatnya jatuh cinta pada lagu dalam darah Nana — dan pada Nana sendiri.
Ketika Nana berubah menjadi Siren untuk pertama kalinya, tak ada jalan kembali. Ia harus belajar mengendalikan kekuatannya, menghadapi bibinya yang merebut takhta, dan memilih antara dunia yang ia kenal — atau cinta yang selama ini menunggu di dasar laut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Keivanya Huang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32: Reuni
Raja Valerius tidak langsung pulih.
Sepuluh tahun terperangkap di dimensi gelap meninggalkan luka yang tidak terlihat. Tubuhnya yang kurus mulai berisi setelah berminggu-minggu makan sup rumput laut dan ikan segar. Tapi pikirannya — pikirannya butuh lebih lama.
Kadang, di tengah malam, ia terbangun dan berteriak memanggil nama Ruenna.
Kadang, ia duduk di taman laut berjam-jam, menatap mawar biru tanpa bergerak.
Kadang, ia lupa siapa Nana.
Tapi setiap kali itu terjadi, Nana tidak marah. Ia hanya duduk di samping ayahnya, meraih tangannya, dan bernyanyi — lagu lembut yang dulu Ratu Ruenna nyanyikan untuk menidurkan Nana saat bayi.
Dan Raja Valerius — perlahan — kembali.
"Kau sabar sekali," kata Jeno suatu malam, saat mereka berdua duduk di balkon istana. Di bawah mereka, kota Aequoria bersinar dengan lampu-lampu bioluminesensi — biru, ungu, hijau — seperti bintang-bintang yang jatuh ke dasar laut.
"Dia ayahku," jawab Nana. "Dia dulu sabar menungguku lahir. Sekarang giliranku sabar menunggunya pulih."
Jeno meraih tangannya. "Kau baik hati, Nana. Lebih baik dari yang kau sadari."
"Atau lebih bodoh."
"Keduanya."
Nana tertawa kecil. Ia menyandarkan kepalanya di bahu Jeno — sebuah tindakan yang sangat tidak pantas untuk seorang ratu, tapi tidak ada yang melihat. Hanya bintang-bintang laut yang menjadi saksi.
Raja Valerius mulai menunjukkan kemajuan di minggu ketiga.
Ia tidak lagi berteriak di malam hari. Ia tidak lagi lupa siapa Nana. Ia mulai berkeliling istana, berbincang dengan para penasihat, bertanya tentang keadaan kerajaan.
Suatu pagi, ia meminta Nana menemaninya ke taman laut.
Mawar biru sedang mekar sempurna. Kelopaknya berdenyut lembut — seperti jantung kecil yang tak pernah lelah.
"Ruenna suka di sini," kata Raja Valerius. Matanya sayu, tapi tidak sedih. "Dia bilang, taman ini adalah tempat di mana ia merasa paling tenang."
"Aku juga," kata Nana. "Setiap kali aku sedih, aku ke sini."
Raja Valerius menatap Nana. "Kau sering sedih?"
"Dulu. Sekarang... tidak sering."
"Kenapa?"
Nana tersenyum. "Karena aku tidak sendirian."
Raja Valerius mengangguk pelan. Matanya beralih ke pintu taman — tempat Jeno berdiri dengan setia, menjaga jarak yang sopan tapi tetap waspada.
"Dia," kata Raja Valerius. "Kau dan dia... dekat?"
Nana tidak menyangkal. "Ya."
"Lebih dari dekat?"
"Ya."
Raja Valerius terdiam sejenak. "Ayah tahu Jeno sejak dia masih kecil. Ayahnya — Jenderal Valdris — dulu adalah komandan pasukan kerajaan. Jeno kecil sering ikut ayahnya ke istana. Dia suka bersembunyi di balik tirai kamar Ruenna."
Nana tersenyum. "Jeno cerita."
"Dulu dia pendiam. Pemalu. Tapi matanya... matanya selalu jujur. Ayah tahu dia anak baik."
Raja Valerius menatap Nana.
"Ayah tidak bisa memilihkan suami untukmu, Nak. Tapi ayah bisa bilang... ayah setuju."
Nana tersenyum — senyum terlebar dalam beberapa minggu. "Terima kasih, Ayah."
Malam harinya, Nana dan Jeno berenang ke tepi kota.
Di sana, di bukit karang yang menghadap ke laut lepas, mereka bisa melihat daratan — desa nelayan tempat Nana dibesarkan.
Lampu-lampu kecil berkelap-kelip di kejauhan — kuning, hangat, seperti bintang-bintang yang jatuh ke darat, bukan ke laut.
"Kau kangen?" tanya Jeno.
"Kadang," jawab Nana. "Aku kangen Mira. Aku kangen sup ikannya. Aku kangen... duduk di dermaga, menatap laut, tidak tahu bahwa aku sedang menatap rumah asliku."
"Kau bisa pulang kapan saja."
"Aku tahu. Tapi sekarang... Aequoria juga rumahku."
Mereka berdua terdiam.
"Jeno," kata Nana.
"Ya?"
"Apa kau pernah membayangkan... hidup di darat?"
Jeno mengerjap. "Di darat? Dengan kaki?"
"Ya."
"Tidak. Kaki itu merepotkan. Aku suka ekorku."
Nana tertawa. "Tapi kalau aku memintamu?"
Jeno menatapnya. "Kalau kau memintaku, aku akan belajar. Berjalan. Berlari. Menari. Apa pun."
"Kau tidak bisa menari dengan kaki. Kau belum pernah coba."
"Aku bisa belajar."
Nana tersenyum. "Baik. Aku simpan itu untuk nanti."
Di ruang singgasana, keesokan paginya, Nana memimpin rapat kerajaan.
Raja Valerius duduk di sampingnya — bukan sebagai raja, tapi sebagai penasihat. Jeno berdiri di belakang Nana, trisula di tangan, mata biru pucatnya memindai ruangan.
Lira melaporkan perkembangan pembangunan kembali Aequoria. Zara melaporkan situasi politik di kerajaan tetangga. Seorang penasihat tua melaporkan tentang pajak rumput laut — dan Nana berhasil tidak tertidur.
"Ada kabar dari Kerajaan Utara," kata Zara di akhir rapat. "Pangeran Kael... sudah kembali. Ia meminta maaf secara resmi kepada Aequoria."
Nana mengernyit. "Apa?"
"Theron yang membujuknya. Katanya, Kael ingin memperbaiki hubungan. Ia bahkan mengirim hadiah untuk Yang Mulia."
Zara mengeluarkan sebuah kotak dari balik sisiknya. Kotak itu terbuat dari mutiara putih, dihiasi ukiran bunga laut.
Nana membukanya.
Di dalamnya, sebuah kalung — terbuat dari sisik biru muda, warna kerajaan Aquilae. Dan sepucuk surat kecil.
Nana membaca surat itu.
"Ratu Nanara,
Aku tidak pantas meminta maaf. Tapi aku akan mencoba.
Kael."
Nana tersenyum kecil. "Singkat."
"Tidak seperti Kael biasanya," komentar Jeno.
"Mungkin Theron yang menulis."
"Atau mungkin Kael benar-benar berubah."
"Mungkin."
Nana menutup kotak itu dan memberikannya pada Zara. "Simpan di perpustakaan. Sebagai catatan sejarah."
"Baik, Yang Mulia."