Kehidupan Milly yang tenang di sebuah kota kecil, Glenmore, perlahan mulai berubah menjadi mencekam. Perburuan demi perburuan mengejarnya. Ia harus lari, sejauh mungkin dari rumah, menjauhkan dari nenek Dorothy. Nenek yang mengadopsinya dari panti asuhan.
Pelarian demi pelarian membawanya ke sebuah misteri hidup yang selama ini ia pertanyakan. Siapa dirinya? Darimana asalnya? Kenapa ia memiliki kemampuan yang tidak dimiliki orang sekitarnya? Mengapa mereka mengejarnya?
Akankah takdir akan membawa Milly menemukan jawaban?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Liza Navy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24 Cahaya Sang Penglihat
Wayne sibuk mengganti kompres Milly. Ia memeras saputangan handuk di tangannya dan meletakkan pada dahi Milly.
Sudah setengah jam berlalu, badan Milly makin panas padahal udah dikompres berulang kali. Wayne meminta pada bibi untuk diambilkan termometer. Setelah dicek ternyata suhu badan Milly hampir menyentuh 39⁰ C. Ia tak mengerti pada perubahan tiba-tiba kondisi Milly ini. Padahal tadi pagi Milly masih baik-baik saja. Tapi kenapa mendadak berubah memburuk. Tanpa banyak bicara, ia segera meminta anak buahnya menjemput Dokter Hani.ke rumah untuk memeriksa Milly.
Satu jam kemudian, seorang berpakaian seragam putih diantar masuk ke dalam rumah.
"Kenapa ini?" tanya Dokter Hani begitu tiba di ambang pintu kamar Milly.
"Aku juga tidak tahu, dok. Tadi pagi kondisinya baik. Ia minum obat sesudah sarapan. Bisa tertidur pulas juga. Tapi entah kenapa siang ini tiba-tiba suhu tubuhnya meningkat. Sudah dikompres, tapi bukan suhunya turun malah naik," beritahu Wayne panjang lebar. Nadanya terdengar mengkawatirkan.
Dokter Hani mengeluarkan stetoskop dari dalam tas dan memeriksa kondisi Milly. Ia menarik nafas pelan.
"Fisik dan psikis nya sedang tertekan. Segel sang penglihatnya akan terbuka. Tapi fisiknya terlalu lemah untuk menanggung," ujar Dokter Hani setelah mengajak Wayne menjauh dari kamar Milly. Bagaimanapun Dokter Hani bukan hanya sekedar dokter pribadi keluarganya. Ia tahu rahasia terdalam keluarga Wayne.
"Bagaimana mungkin? Bukankah dokter sudah memberikan resep untuk menekannya," ujar Wayne mempertanyakan.
"Harusnya kau tanyakan ini pada gadis itu," timpal Dokter Hani yang tangannya masih menggenggam stetoskop. Ia hendak memasukkan stetoskop itu kembali ke dalam tas dokternya.
"Maksud dokter?" tanya Wayne tak mengerti.
"Dia tidak meminum obatnya," beritahu Dokter Hani memperjelas.
DEG. Wayne speechless seketika. Tapi kesadarannya cepat kembali, ia segera menanyakan bagaimana cara menekannya lagi. "Bisakah berikan obatnya lagi? Atau naikkan dosisnya?"
Dokter Hani menggeleng keras. "Tidak," tegasnya. Jeda.
"Dok," mohon Wayne sangat.
"Baiklah, tapi obat kali ini bukan untuk menekannya lagi, melainkan untuk membebaskan segelnya. Ia akan kesakitan luar biasa, tapi tahap ini harus ia lewati. Setidaknya resep ini bisa meringankan sakitnya dan menurunkan demamnya," ujar Dokter Hani sebelum menuliskan resep lalu diberikan kepada Wayne.
"Terimakasih dok," ujar Wayne sungguh-sungguh. Ia meminta anak buahnya untuk mengantar kembali Dokter Hani pulang. Ia sendiri pergi ke apotik untuk menebus resep. Ia tidak mempercayai siapapun untuk menebus obat Milly. Ia teringat pengalaman bagaimana obat Milly pernah ditukar.
"Apa yang harus terjadi, terjadilah," gumamnya pada diri sendiri. Ia meminta bibi untuk menggantikannya mengompres Milly sementara ia pergi.
***
Siang itu, Wayne membangunkan Milly untuk meminum obatnya. Ia membantu Milly duduk di ranjang dengan hati-hati.
"Badanku kenapa terasa panas sekali seperti terbakar," ujar Milly lirih. Ia menyandarkan kepalanya di bahu Wayne.
"Cepat minum dulu obatnya," respon Wayne sembari memasukkan satu per satu kapsul ke dalam mulut Milly. Ia lalu memberikan segelas air untuk membantu Milly menelan obat itu.
Salah satu tangan Milly mencengkram selimut lebih erat. "Sakit," katanya sekuat tenaga menahan kepalanya yang semakin terasa berat dan tertekan.
Wayne menggenggam erat tangan Milly. Semoga obatnya cepat bereaksi--batinnya cemas.
Tidak kuat menahan sakit kepalanya Milly menepis tangan Wayne dan kembali mencengkram selimut. Apa yang harus kulakukan--batinnya. Ia meringis kesakitan.
Wayne memeluk Milly makin erat. "Tahan," katanya menguatkan.
"Tahan??" ulang Milly mempertanyakan. Suaranya terdengar lemah. Serangan sakit berikutnya di kepalanya datang lagi. Sangat menyakitkan dan menekan dirinya.
"Tahan. Kau harus bisa melewatinya," bisik Wayne di telinga Milly.
"Ada apa denganku Wayne?" timpal Milly di tengah kesakitannya. Ia meringis dan hampir menggigit lidahnya sendiri. Wayne yang cekatan langsung memberikan tangannya untuk digigit.
"Tahan," katanya lagi.
Milly sudah tak merespon karena berikutnya ia sudah tergolek lemah, tak sadarkan diri.
Wayne terus mengkompres Milly. Ia bolak-balik memeras handuk dan meletakkan di dahi Milly. Kau harus bertahan Milly--batinnya berdoa.
Sudah dua jam berlalu, suhu tubuh Milly perlahan mulai turun. Meskipun tidak sepanas sebelumnya, tetapi masih demam. Wayne kembali mengecek dengan termometer. Sudah turun menjadi 37,7°C suhunya. Ia menarik nafas lega. Akhirnya turun juga panas yang membakar tubuhnya.
Wayne tetap menunggu di samping ranjang Milly. Beberapa jam ia menempelkan punggung tangannya ke dahi Milly. Pandangannya tak berkedip dari Milly. Sebenarnya ia ingin membangunkan Milly untuk makan, tapi melihat Milly tadi kesakitan, ia tak tega, ia lebih memilih membiarkan Milly tertidur daripada harus menanggung sakit.
Jika sampai besok pagi Milly belum bangun juga, ia akan meminta Dokter Hani untuk datang kembali ke rumah dan memberikan infus pada Milly. Setidaknya tubuh Milly tetap bisa makan meski sedang tertidur--pikirnya.
Ketika malam tiba, ada yang aneh dengan langit malam itu. Langit terlihat tidak segelap biasanya. Cahaya bulan jauh lebih terang. Wayne bangkit dari tempat duduknya dan menutup gorden jendela. Saat berbalik, ia kaget melihat dari segala sisi ruangan ada cahaya yang menyinari ranjang tempat Milly berbaring. Makin lama cahaya itu makin terang dan menerangi ruangan lebih terang dari lampu yang dinyalakan. Lalu tiba-tiba lampu bohlam ruangan itu meledak. Wayne segera menutupi tubuh Milly dengan selimut. Kawatir pecahan bohlam bakal mengenai tubuh atau wajah Milly. Tapi ternyata tidak. Pecahan bohlam itu seperti serpihan debu yang diterangi cahaya, lalu jatuh ke tanah sangat lambat sehingga ia pun bisa menghindarinya.
Saat serpihan pecahan bohlam itu menyentuh lantai kamarnya, tersebar dimana-mana, ruangan kembali menjadi gelap. Sinar itu menjadi lenyap.
"Inikah cahaya sang penglihat itu?" gumam Wayne bertanya-tanya. Ia memanggil bibi untuk mengambilkan bohlam baru dan membersihkan serpihan bohlam yang ada di atas lantai kamarnya.
Baru ketika lampu sudah menyala lagi, Wayne dengan hati-hati melepaskan selimut lama yang dipakai Milly, karena ada sedikit serpihan bohlam yang jatuh ke atasnya. Ia mengganti dengan selimut baru.
Sekali lagi ia melihat Milly. Matanya masih terpejam. Ia memeriksa suhu badan Milly. Berangsur-angsur suhu badan Milly ternyata sudah normal. Ia kembali duduk di tepi ranjang Milly. Ketegangan terlukis jelas di wajahnya. Bagaimanapun ia tahu Milly belum terlepas sepenuhnya dari penderitaan ini.
Seperti dugaannya, ketika tengah malam, suhu badan Milly kembali naik. Terpaksa ia membangunkan Milly untuk minum obat. Tapi Milly yang masih tak sadarkan diri susah sekali dibangunkan. Padahal sudah berulangkali ia memanggil-panggil nama Milly.
Ketika mata Milly sedikit terbuka, masih setengah sadar, ia segera membisikkan, "Minum obat." Ia menahan tubuh Milly dengan tubuhnya sendiri dan memasukkan dua kapsul lagi ke dalam mulut Milly. Ia lalu mencekokan air sedikit dipaksa ke Milly supaya obat itu bisa tertelan.
Begitu ia melihat obat itu sudah meluncur ke tenggorokan, ia kembali membaringkan Milly perlahan dan membisikkan lagi, "Tidurlah."
Ia sendiri malam itu masih terus berjaga semalaman. Ia mengkompres lagi, memeriksa suhu tubuh Milly, menggenggam erat tangan Milly ketika kesakitan dalam tidur.
***