Sinta Aniswari (23) dulunya adalah mahasiswi kedokteran paling ceria dan cerewet se-FK.
Sampai ayahnya bangkrut dan satu-satunya cara menyelamatkan rumah sakit keluarga adalah dengan menikahi Dean Galang Wijaya (30).
Pengusaha muda, perfeksionis, kaku seperti robot, dan sedingin kulkas dua pintu.
Dua tahun menikah tanpa cinta. Sinta berubah menjadi Nyonya Wijaya yang anggun dan penurut. Dari luar, semua orang mengira ia adalah istri yang tidak disayang. Pernikahan yang kaku seperti dua orang asing yang tinggal di rumah yang sama.
Sampai mereka tau sisi lainnya.
Bahwa Dean yang kaku itu ternyata menjadwalkan segalanya. Bahkan untuk menyentuh istrinya. Satu bulan empat kali. Setiap tanggal 5, 12, 19, dan 26. Jam 21.00 tepat.
Dan selalu diawali dengan kalimat yang sama, dengan wajah datar yang sama:
"Apa mau main?"
Sinta pikir pernikahan ini hanya soal peran. Sampai Dean yang kaku itu mulai membuatnya bingung, berubah menjadi lebih aktip.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Park ha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15 - Kerusakan Sistem Jadwal
# Bab 15 - Kerusakan Sistem Jadwal
Suasana di dalam kamar utama *penthouse* Kuningan mendadak hening total, menyisakan suara deru halus AC yang terasa menggelitik kulit. Sinta masih berdiri memunggungi suaminya, menatap dinding dengan napas yang berangsur teratur namun jantung yang masih berdisko. Dia memejamkan mata erat-erat.
Pernikahan kontrak yang sudah berjalan enam minggu ini—demi menyelamatkan rumah sakit keluarganya dari kebangkrutan—telah memaksa Sinta menekan sifat ceria dan cerewetnya yang dulu terkenal di fakultas kedokteran, berubah menjadi Nyonya Wijaya muda yang anggun dan penurut. Namun malam ini, topeng itu retak berantakan.
Di belakangnya, Dean Galang Wijaya masih berdiri kaku bagai patung lilin. Otak jeniusnya yang biasa digunakan untuk mengakuisisi perusahaan multinasional kini sedang dipaksa memproses sebuah variabel baru yang sangat aneh: **Kemarahan Sinta.**
[POV Dean]
Ancaman pengusiran ke area luar (sofa) memiliki probabilitas 98% untuk terealisasi jika saya mengambil satu tindakan keliru lagi. Berdasarkan kalkulasi kenyamanan termal dan ergonomi tulang belakang, sofa ruang tamu adalah zona degradasi yang harus dihindari. Namun, penolakan Nona Sinta untuk memberikan data medis yang valid memicu anomali dalam sistem berpikir saya. Mengapa dia begitu defensif? Mengapa wajahnya memerah pekat seperti kepiting rebus? Dan yang paling krusial... mengapa dia berjalan dengan gaya *abduksi* (melebar) seperti itu?
Dean berdeham pelan, sebuah gestur yang sangat jarang dia lakukan. Dia melonggarkan sedikit dasi hitamnya yang tiba-tiba terasa mencekik.
"Baik," ucap Dean akhirnya. Suaranya turun satu oktaf terdengar lebih rendah dan sedikit pasrah.
"Opsi isolasi di sofa dibatalkan. Saya akan menghentikan prosedur interogasi ini demi menjaga stabilitas kuota tidur malam ini."
Sinta mengembuskan napas lega yang sangat panjang. Dia perlahan membalikkan badannya, mendapati Dean sedang berjalan menuju *walk-in closet* dengan langkah tegapnya yang biasa, seolah-olah perdebatan memalukan tadi tidak pernah terjadi.
Namun, Sinta tidak bisa mengabaikan fakta bahwa kedua daun telinga suaminya masih berwarna merah merona.
Setengah jam kemudian, Dean keluar dengan piyama satin hitamnya. Dia langsung naik ke atas ranjang *king size* mereka, duduk bersandar pada *headboard* sambil membuka iPad-nya untuk memeriksa laporan bursa saham pra-pembukaan pasar global.
Sinta menyusul naik ke ranjang dengan gerakan yang sangat hati-hati, berusaha keras menyembunyikan rasa perih yang kembali berdenyut saat kulitnya bergesekan dengan seprai. Dia segera memosisikan tubuhnya membelakangi Dean dan menarik selimut hingga sebatas dada.
"Pak Dean," panggil Sinta lirih, memecah keheningan. "Tolong... matikan lampunya. Saya sudah mengantuk."
Dean terdiam sejenak, lalu menyentuh panel kontrol di samping ranjang. Seketika kamar itu tenggelam dalam kegelapan, hanya menyisakan sedikit bias cahaya bulan dari balik gorden kaca.
Dean meletakkan iPad-nya, lalu merebahkan tubuh kekarnya. Keheningan kembali merayap.
Namun, bagi Dean, kegelapan ini justru mengaktifkan mode analisisnya secara maksimal. Suara napas Sinta terdengar agak tertahan, tidak seirama dengan napas orang yang sedang tertidur lelap. Ada dorongan aneh yang mendadak muncul di dada Dean—sebuah impuls spontan yang di luar kebiasaannya yang biasanya sedingin es kulkas dua pintu.
Tanpa peringatan, Dean menggeser tubuhnya mendekat. Lengan kekarnya bergerak di bawah selimut, berniat untuk memeluk pinggang Sinta. Hanya memeluk.
Begitu telapak tangan Dean yang hangat menyentuh area pinggangnya, Sinta langsung tersentak kaget. Tubuhnya menegang kaku layaknya disengat listrik. Dengan gerakan refleks yang cukup panik, Sinta menggeser posisinya menjauh hingga hampir ke pinggir ranjang. Pikiran Sinta langsung *traveling* ke malam Jumat kemarin yang membuatnya berakhir di dokter kandungan tadi siang.
"Pak Dean, kamu mau apa?!" pekik Sinta refleks dengan suara tertahan, menatap siluet tubuh tegap di sampingnya dengan waswas.
Tangan Dean menggantung di udara dalam kegelapan. Alis tebal pria itu bertaut rapat, merasa tidak nyaman dengan respons defensif yang mendadak ini.
"Nona Sinta, penolakan kontak fisik secara tiba-tiba ini tidak sinkron dengan standar operasional prosedur rumah tangga kita," protes Dean, suaranya terdengar datar namun menuntut penjelasan.
Sinta membalikkan tubuhnya sedikit, membalas tatapan suaminya dalam kegelapan. "Pak Dean... dua hari lalu kita sudah melakukannya. Sekarang bukan jadwalnya!" cetus Sinta, langsung menggunakan aturan saklek suaminya sebagai senjata.
Sinta tahu betul bagaimana suaminya yang kaku ini menjadwalkan segalanya dengan presisi mutlak sejak awal mereka menandatangani kesepakatan pernikahan. Hubungan intim mereka diatur hanya empat kali dalam sebulan—setiap tanggal 5, 12, 19, dan 26 tepat jam 21.00 malam—dan selalu diawali dengan pertanyaan *template* dari mulut Dean dengan wajah lempeng: *"Apa mau main?"*
Setelah sebulan penuh pernikahan mereka berjalan hambar tanpa sentuhan sama sekali, mereka baru melakukannya dua kali dalam dua minggu terakhir ini. Malam Jumat kemarin adalah tanggal 26, dan Dean sudah mengeksekusi jadwal keduanya dengan...
*well*, terlalu kehilangan kendali hingga sistem tubuh Sinta mengalami *error* hari ini. Sekarang masih tanggal 28, jadi secara hukum kalkulasi Dean, tidak seharusnya ada aktivitas di atas ranjang. Sinta benar-benar takut jika si bapak robot ini berniat melanggar janjinya sendiri dan mengajaknya "main" lagi malam ini.
"Saya sadar ini bukan tanggal 5," sahut Dean pelan, suaranya terdengar berat di tengah kegelapan malam.
"Kalkulasi jadwal menyatakan kita berada di fase retensi. Saya tidak berniat untuk mengajukan interaksi intensitas tinggi seperti kemarin."
"Lalu kenapa Anda memeluk saya?" tanya Sinta heran, menuntut penjelasan dari si manusia kalkulator.
Hening.
Di dalam kegelapan, Dean sedang memutar memori otaknya, mencoba mencari pembenaran logis mengapa tangannya bergerak sendiri tanpa perintah jadwal resmi. Baru enam minggu menjadi suami, tapi efisiensi logikanya sering kali kacau jika berdekatan dengan wanita di sampingnya ini.
"Tindakan tersebut... murni merupakan upaya kompensasi termal tubuh untuk mendeteksi anomali suhu pada fisik kamu yang saya curigai sedang tidak optimal," bohong Dean lempeng, padahal hatinya sendiri tidak mengerti mengapa ia hanya ingin mendekap istrinya malam ini.
"Namun, jika tindakan proteksi saya dianggap mengganggu, saya akan kembali ke koordinat semula."
Dean perlahan menarik kembali tangannya, lalu berbaring telentang menatap langit-langit kamar yang gelap, kembali ke posisinya yang berjarak.
Mendengar penjelasan super kaku yang berbelit-belit itu, Sinta mengembuskan napas panjang. Dia menatap langit-langit kamar. Pernikahan ini memang dimulai tanpa cinta, tapi akhir-akhir ini, Sinta merasakan ada yang aneh dengan si bapak robot. Dean mulai berubah menjadi lebih aktif di luar rutinitasnya.
*Maafkan aku, Pak Robot... mukaku mau ditaruh di mana kalau kamu tahu alasan sebenarnya aku menolakmu adalah karena salep iritasi ini,* bisik Sinta dalam hati sebelum akhirnya memejamkan mata, membiarkan malam itu larut dalam kesalahpahaman yang menggemaskan.
Esok paginya, alarm berbunyi pukul 05.30.
Sinta membuka matanya dan mendapati sisi ranjang di sebelahnya sudah kosong. Dean sudah bangun lebih awal. Dengan perlahan, Sinta mendudukkan diri.
Kabar baiknya, salep dari dokter kandungan kemarin siang benar-benar ajaib; rasa perihnya sudah berkurang drastis, dan dia sudah bisa berjalan dengan jauh lebih normal meskipun masih ada sedikit sisa ngilu.
Setelah mandi dan bersiap dengan blender jas almamater kedokterannya, Sinta melangkah ke area ruang makan *penthouse*. Aroma kopi hitam yang kuat langsung menyapa indra penciumannya.
Di sana, Dean sudah duduk rapi dengan kemeja abu-abu, sedang membaca tablet finansialnya. Di atas meja, sudah tersedia sarapan roti bakar dan buah-buahan. Namun, ada satu pemandangan aneh yang membuat mata Sinta membelalak.
Di samping piring sarapan Sinta, terletak sebuah kotak obat berukuran sedang berlogo rumah sakit internasional, lengkap dengan rentetan botol vitamin, berbagai jenis obat pereda nyeri, herbal pelancar menstruasi, hingga... koyo pegal linu otot.
Dean menurunkan tabletnya, menatap Sinta yang mematung di dekat meja.
"Saya sudah melakukan riset literatur medis sepanjang malam mengenai ketidakstabilan hormon akibat stres kerja," ucap Dean dengan wajah lempeng tanpa dosanya yang khas.
"Karena kamu menolak diperiksa oleh tim dokter Wijaya, saya meminta sekretaris saya untuk membeli semua jenis suplemen regulasi hormon dan pereda nyeri otot linier terbaik di pasar jam empat pagi tadi."
Dean berdiri, merapikan jam tangan rolex-nya, lalu menatap Sinta intens. "Konsumsi semuanya sesuai dosis efektif. Saya tidak mau produktivitas istri saya menurun hanya karena kegagalan saya dalam mengelola tingkat stres di rumah tangga ini."
Sinta menatap tumpukan obat di depannya, lalu menatap wajah serius suaminya yang sebenarnya sangat perhatian namun sangat salah sasaran ini. Menghadapi kepolosan suaminya yang kelewat jenius tapi buta soal kode wanita, Sinta benar-benar kehabisan kata-kata.