NovelToon NovelToon
Solo Reaper At The End Of The World

Solo Reaper At The End Of The World

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Epik Petualangan / Fantasi
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: RyzzNovel

Suatu hari, setiap umat manusia dari bumi diseret secara paksa ke dunia apocalypse dimana monster berada. Mereka menerima Aspek, sistem, dan satu tujuan tunggal yakni bertahan hidup.

Player 991 tidak panik. Dia tidak bergantung pada siapapun. Dia tidak mencari bantuan. Dia hanya mulai membunuh.

Sementara yang lainnya membentuk kelompok untuk memastikan keselamatan mereka, Player 991 mendaki papan peringkat global satu demi satu melalui jumlah kill yang dia kumpulkan sendirian.

Namun bertahan hidup saja tidak cukup. Ketika sistem memilih enam pemain terkuat sebagai Sovereign dan memberi mereka kekuasaan untuk membangun kembali peradaban manusia di dunia yang baru, Nate Leicester menemukan dirinya bukan hanya sebagai pemain terkuat — tapi sebagai salah satu dari enam penguasa yang akan menentukan masa depan seluruh umat manusia.

Papan peringkat tidak pernah berbohong. Dan saat ini, hanya ada satu nama di puncak.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RyzzNovel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24

Satu jam istirahat berakhir, dan gelombang kedua puluh dimulai bersamaan.

Nate kini mengenakan liontin itu di lehernya, merasakan koneksi yang akrab dan peningkatan kekuatan yang langsung terasa. Dia mencengkram gagang sabitnya, menunggu apa yang akan datang.

Tapi setelah beberapa menit berlalu, tidak ada apapun yang muncul dari kejauhan. Semuanya sunyi, dan kesunyian itu justru membuat Nate merasa tidak nyaman.

"Apa sudah dimulai?" Nate bergumam dengan suara rendah. Di sampingnya, Nine tampak sama bingungnya.

"Kurasa aku ingat dengan jelas kalau sistem sudah memperingatkan bahwa gelombang dua puluh telah dimulai."

Setidaknya begitulah, sampai tiba-tiba dunia itu sendiri terasa berguncang.

Grrumm!! Grrumm!!

Gedung-gedung yang mencakar langit roboh ke depan. Jalanan miring dan terangkat seolah-olah tanah di bawahnya sedang bangkit. Di sekelilingnya, Nate menemukan semua jalur berada dalam kondisi yang sama, kecuali pijakan tempat mereka berdiri saat ini.

Lalu begitu saja, gedung-gedung itu melebur satu per satu. Setiap bangunan menyatu dengan yang lain, retak, mengeras, bergerak, sebelum akhirnya semuanya membentuk satu monster dengan ukuran yang luar biasa besar.

Rome melebarkan matanya. Tubuhnya sedikit gemetar karena terkejut, mulutnya terbuka sebelum akhirnya suaranya menembus kekacauan suara kehancuran yang terus bergema di seluruh area.

"...Ini gila. Apa yang sedang kulihat saat ini?"

Loen di sampingnya tampak pucat, tapi pupil matanya memancarkan kilau ketertarikan yang tidak bisa disembunyikan.

"Eh... Entah kenapa terasa seperti robot gundam."

Zenith tidak berkata apa pun. Pupil mata vertikalnya memancarkan niat membunuh yang tidak stabil, dan tubuhnya tampak sedikit kaku.

[Monster Boss (Azhraxis) Rank Half-E Lv. 25]

Ini mungkin pertama kalinya bagi mereka semua untuk berhadapan langsung dengan monster peringkat E. Seberapa kuat monster itu bukanlah sesuatu yang bisa mereka ukur dalam kondisi saat ini, tapi jelas sekali bahwa melawannya tidak akan mudah.

Ukurannya mencapai delapan puluh hingga seratus dua puluh meter berdasarkan tebakan Nate. Tubuhnya terbuat dari bangunan-bangunan kota yang dilebur secara paksa, menjadikannya kota berjalan yang membawa bencana. Di sekelilingnya, yang tersisa hanyalah tanah kering dengan retakan di mana-mana dan beberapa kawah yang cukup besar dengan air yang mengalir jatuh ke bawah.

Groaaaa!!

Monster itu meraung. Suaranya begitu keras hingga menciptakan badai angin berskala besar yang terasa bahkan dari jarak yang cukup jauh. Kemudian, dari tubuh monster itu, begitu banyak lubang terbuka, dan dari sana mulai bermunculan gelombang monster kecil dengan level rata-rata delapan belas hingga dua puluh.

Awalnya hanya sedikit. Tidak ada yang terlalu terkejut.

Tapi kemudian mereka semua terdiam saat menyadari bahwa gelombang itu tidak berhenti keluar, dan jumlahnya mulai tampak seperti lima kali lipat dari gelombang monster terakhir yang mereka lawan.

"Kapan itu akan berhenti keluar?" Zenith mendecakkan lidahnya kesal.

Nate merasakan sudut bibirnya berkedut, menahan sesuatu sebelum akhirnya berkata:

"Bagaimana kalau paksa saja monster itu untuk menghentikannya?"

Jika monster itu ingin terus memuntahkan gelombang, maka paksa saja dia agar berhenti. Akan lebih bagus lagi jika bisa membunuhnya sekalian.

Begitu kalimat itu jatuh, Loen yang tampak bersemangat dengan seringai di wajahnya langsung melesat maju dengan kecepatan yang tidak sesuai dengan tubuhnya.

Wuusshh!!

Tinjunya terangkat, angin kencang berputar di sekitar lengannya, sebelum akhirnya dengan pukulan itu dia meledakkan semua yang ada di hadapannya, menghancurkan monster-monster hingga berkeping-keping.

Krabooom!!

Setelahnya, Loen menatap monster peringkat E itu, mengangkat tinjunya lagi, lalu dengan cara yang sama dia menerobos gelombang monster sambil meraung kuat, mengabaikan setiap luka yang terus bermunculan di tubuhnya.

"Uraaaa!!!"

Begitu mencapai kaki monster itu, Loen meloncat, berhadapan langsung dengan lubang tempat monster-monster itu keluar tanpa henti, lalu dengan tinjunya dia meledakkan area tersebut.

Krabooom!!

Debu mengepul ke udara, menghalangi pandangan mereka. Loen meloncat mundur ke barisan, dan saat itu gelombang monster sudah mencapai mereka, tapi berhasil ditahan oleh legiun pasukan bayangan Rome.

Beberapa detik kemudian, asap dan debu mereda, memperlihatkan area yang Loen hantam.

Beberapa lecet.

Hanya itu.

Serangan yang menurut Nate akan menciptakan banyak patah tulang jika mengenai dirinya. Dan monster itu tampak baik-baik saja.

Saat itu Zenith sudah mengambang ke udara, sayapnya mengepak, pupil vertikalnya menatap langsung ke arah monster itu.

"Kurasa ada sesuatu di sana. Semacam inti?" Ucapnya, menunjuk tepat ke area dada monster itu.

Tersembunyi di antara sela-sela reruntuhan bangunan yang dilebur, terdapat cahaya samar dari tempat yang sangat tersembunyi.

"Mungkin itu intinya?" Nelphy mengangkat bibirnya dengan senyuman.

"Maksudmu itu semacam benda yang harus kita hancurkan agar monster besar ini berhenti bergerak?" Loen mencubit dagunya.

Nelphy mengangguk. "Kurasa begitu."

Dengan begitu mereka tahu apa yang harus dilakukan, tapi belum tahu bagaimana caranya. Jika serangan Loen saja hanya meninggalkan lecet, apa yang bisa mereka lakukan?

Tentu saja, ada satu orang yang memilih untuk mencobanya sendiri terlebih dahulu.

Nate sudah melesat maju.

Wuusshh!!

Dengan perkembangannya baru-baru ini, kecepatannya sudah jauh melampaui apa yang bisa diikuti oleh manusia biasa. Dia melesat, menghindari serangan-serangan monster dan membunuh yang terdekat untuk mengumpulkan stack dari skill pasifnya.

Begitu Nate mencapai ujung kaki monster itu, dia baru benar-benar menyadari betapa kecilnya dirinya di hadapan makhluk ini. Tapi alih-alih ketakutan, senyuman muncul di wajahnya, pupil abu-abunya berkilat berbahaya.

Dia mulai merangkak naik, memanfaatkan setiap tonjolan yang ada di tubuh monster itu, terus mendaki hingga mencapai bagian lengannya.

Monster itu merasa terancam. Lengannya bergerak, dan meski gerakannya agak lambat, ukurannya yang raksasa membuatnya cukup untuk menciptakan hempasan angin yang sangat kuat.

Saat Nate berusaha bertahan dari hempasan itu, sebuah bayangan besar tiba-tiba menutupinya. Dia menatap ke atas dan menemukan telapak tangan monster itu turun ke arahnya, seperti seseorang yang hendak menepuk nyamuk.

Nate mendecakkan lidahnya dan segera melesat menelusuri lengan monster itu, mencapai area bahu, tepat berdekatan dengan kepala monster yang terdiri dari reruntuhan batu dan perumahan yang meleleh menjadi satu.

Dari sini, dia bisa melihat sekilas cahaya samar yang tadi dilihat Zenith, jauh di bawah di bagian dada monster itu.

Begitu Nate hendak bergerak, monster itu memutar kepalanya langsung ke arahnya.

Nate tertegun.

Di hadapannya, sebuah lubang berbentuk sempurna seperti lingkaran terbuka, tepat mengarah ke wajahnya. Nate tidak tahu apa itu, tapi yang pasti satu hal, ini sangat berbahaya.

Nate menggertakkan giginya. Dia menghunus sabitnya dan meloncat ke udara, menebas vertikal dari atas ke bawah, menciptakan goresan kecil yang cukup untuk memperlambat laju jatuhnya.

Sraaang!!

Seringai muncul di wajahnya saat energi ungu gelap merembes di setiap goresan yang dia sebabkan, sebelum akhirnya semua itu meledak mengikuti jejak jatuhnya.

Buum!! Buum!! Buum!!

Ledakan itu bergema selama beberapa detik. Tepat saat Nate mendarat, dia langsung melompat menjauh dan memeriksa kondisi monster itu.

Senyuman muncul di wajahnya.

Meski tidak banyak, serangan itu jelas memberikan dampak. Seluruh gelombang monster yang sedang keluar tiba-tiba tersentak dan tampak kaku sejenak.

Nate menyeka keringatnya.

Bagaimana cara membunuh monster ini?

Serangannya memang memberikan efek, tapi jauh dari cukup untuk menyelesaikan ini.

Di saat yang bersamaan, pekikan monster terdengar dengan kegilaan dari arah yang berbeda. Nate memutar pandangannya dan menemukan Nelphy, domain gelapnya sudah aktif penuh.

Mau berapa kali pun Nate melihat kemampuan itu, dia seringkali merasa bahwa kekuatannya sebagai top global sebenarnya kalah jauh dari yang lainnya dalam hal jenis kekuatan.

Nelphy bergerak dengan lancar, tidak peduli dengan monster yang terus menerjangnya dari segala arah. Dia seperti putri yang terlindungi di balik kaca, benar-benar tidak tersentuh.

Nelphy menghembuskan napas kasar, lalu mengangkat satu tangannya.

Area di sekitar monster raksasa itu tiba-tiba terdistorsi. Sebuah titik muncul tepat di antara dua lubang yang terus memuntahkan monster tanpa henti. Cahaya di sekitar titik itu mulai menghilang, udara di radiusnya terhapus perlahan, dan gravitasi di dalamnya mulai menyimpang.

Titik hitam kecil itu memberikan daya tarik yang sangat kuat, menyedot seluruh monster ke dalamnya hingga lenyap tanpa jejak.

Tapi monster terus saja berhamburan keluar, tidak berhenti.

Nelphy menggigit bibirnya, wajahnya mengerut saat dia menurunkan tangannya.

"...Tidak ada habisnya."

Itu adalah kekuatan paling kuat yang dia miliki sejauh ini, dan bahkan itu tidak cukup.

"Rasanya seperti monster di dalam sana dibuat agar tidak pernah habis."

Nate yang tidak jauh darinya mendengar kalimat itu dan tiba-tiba berkata:

"Bukankah ini berarti ladang farming yang luar biasa?"

Nelphy berkedip, lalu mengangguk. "Memang."

Saat itu Rome mendekat dengan wajah yang kesal.

"Ah, ayolah! Mengapa kalian malah memikirkan masalah farming? Kapan kita akan keluar dari tempat terkutuk sialan ini! Lihat, aku sekarang sangat jelek."

Nelphy mengangkat bahunya, bahkan tidak melirik saat menjawab.

"Bukannya kamu memang jelek dari dulu?"

Nate mengangguk, menambahkan dengan suara yang sangat santai.

"Sangat, sangat jelek malah."

Urat kemarahan menonjol di wajah Rome. Tapi pria yang sudah tidak lagi menawan itu tampaknya memang punya kesabaran yang luar biasa.

***

1
Pradama Okta
harusnya udah peringkat D gak sih, kan syarat dari E ke D 5600 kill
Nameless: yang dihitung monster peringkat E keatas, kalau F kebawah gak kehitung
total 1 replies
SETH
cerita nya bagus..mudah2an rajin update dan gak hiatus
blueby
bagus
Nameless: terimakasih!
total 1 replies
KayyLawrence
mampir cuyy,jujur ceritanya bagus,langsung saja terbitkan dan adaptasi jadi manhwa
tintakering
mampir, k
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!