NovelToon NovelToon
TIDUR DOANG TIBA-TIBA JADI MILIARDER

TIDUR DOANG TIBA-TIBA JADI MILIARDER

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / Sistem / Mengubah Takdir
Popularitas:6.6k
Nilai: 5
Nama Author: Arrofy

Kalian pasti pernah kan, seenggaknya sekali seumur hidup, rebahan di kamar sambil menatap langit-langit terus ngehayal: "Coba aja tidur doang bisa dapet duit, pasti gue udah jadi orang terkaya di dunia." Nah, hayalan konyol yang sering kita impikan pas lagi capek-capeknya hidup itu, mendadak jadi kenyataan buat Abdul. Pemuda miskin korban PHK ini doanya dikabulkan secara ajaib. Sekali merem, saldo banknya bertambah 10 juta. Makin nyenyak dia ngorok, makin triliunan uang yang masuk ke rekeningnya secara legal! Tapi ternyata, dapet duit cuma modal tidur itu gak sesantai kedengarannya. Karena gak pernah keluar rumah tapi mendadak kaya raya, Abdul langsung dicurigai satu kampung pelihara babi ngepet, digerebek warga pas lagi enak tidur, dikejar-kejar orang pajak, sampai didatangi mantan pacar yang dulu ninggalin pas lagi sayang-sayangnya, Ups!.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arrofy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 1 DOA KAUM REBAHAN

"Abdul! Kamu dengar Ibu nggk? Itu Bu RT sudah tiga kali bolak-balik di depan rumah sambil ngomel soal uang iuran kebersihan yang udah nunggak dua bulan!"

Suara teriakan ibunya meluncur dari balik sekat kamar, langsung membuyarkan lamunan panjang Abdul. Pemuda berusia dua puluh empat tahun itu tidak beranjak. Dia masih setia memeluk guling kapuknya yang sudah mengempis dan dipenuhi noda pulau-pulau kecokelatan akibat tumpahan keringat bertahun-tahun. Tubuhnya kering, berbalut kaos oblong putih yang sudah menipis dan celana boxer kain yang jahitannya mulai lepas di bagian paha.

"Iya, Bu, Abdul dengar," sahut Abdul dengan nada lemah. Mata pemuda itu menatap nanar ke arah atap seng yang bocor, menyisakan pemandangan langit kelabu Bekasi yang cerah.

"Kalau dengar ya bangun, Dul!. Cari kerjaan apa kek di luar. Jangan cuma rebahan terus dari pagi sampai ketemu pagi lagi. Ibu tahu kamu pusing karena di PHK dari pabrik garmen, tapi kalau cuma tidur, utang kita di warung seberang gak bakal lunas sendiri," 

lanjut ibunya, kali ini disusul dengan bunyi desis minyak jelantah di wajan yang menandakan sang ibu sedang menggoreng sisa tahu kemarin untuk lauk makan siang mereka.

Abdul menghela napas panjang hingga dadanya yang kurus naik turun dengan kentara. Dia membalikkan badan, menghadap ke arah dinding pembatas yang bergetar setiap kali ada truk tronton lewat di jalan raya depan gang. 

Kalimat ibunya tidak salah, sama sekali tidak salah. Masalahnya, ibunya tidak tahu saja kalau Abdul sudah mengelilingi kawasan Beberapa Tempat lowongan kerja hingga kakinya melepuh dan sandal jepitnya putus dua kali dalam minggu ini. Hasilnya tetap sama, nihil. 

Tanpa uang pelicin atau Ordal, lamaran kerjanya hanya berakhir menjadi pembungkus gorengan di tangan para sekuriti gerbang pabrik.

Dari sudut kamar yang satunya lagi, terdengar suara batuk yang berat dan basah. Suara itu disusul oleh erangan lirih yang sangat tipis, hampir tenggelam oleh bisingnya suara knalpot motor yang berseliweran di gang sempit luar rumah.

"Uhuukk... uhuk... Yan... Yanti... A.air..."

Mendengar panggilan itu, Abdul langsung bangkit dari posisinya. Sudut hatinya mencelos. Dia menyibak kain gorden lusuh yang menjadi pintu kamarnya lalu melangkah cepat menuju kamar belakang. 

Di atas ranjang kasur kapuk yang diletakkan langsung di atas lantai semen tanpa ranjang dipan, sesosok pria paruh baya terbaring dengan posisi tubuh yang kaku. Itu adalah bapaknya, seorang mantan kuli bangunan yang sudah delapan bulan ini lumpuh total di bagian tubuh sebelah kanan akibat serangan stroke mendadak.

Ibunya sudah lebih dulu masuk membawa segelas air putih hangat dengan sendok plastik kecil. 

Dengan telaten dan penuh kesabaran yang menyayat hati Abdul, ibunya menyuapkan air tersebut setetes demi setetes ke sela bibir suaminya yang tampak miring ke satu sisi.

"Pelan-pe-lan, Pak... pelan-pe-lan," bisik ibunya dengan suara yang bergetar menahan tangis yang sudah tertahan di ujung kelopak matanya.

Abdul bersandar di kosen pintu kayu yang sudah dimakan rayap. Pemandangan di depannya seperti pisau yang mengiris-iris jantungnya setiap hari. 

Obat pengencer darah dan vitamin syaraf bapaknya sudah habis sejak tiga hari yang lalu. Abdul tahu persis alasan ibunya tidak pergi ke apotek, dompet kain milik ibunya di dalam lemari plastik sudah kosong melongpong, hanya menyisakan beberapa keping uang logam seratus rupiah.

"Dul," panggil ibunya tanpa menoleh, fokusnya masih pada bibir sang suami. "Nanti sore, tolong kamu ke rumah Pak RT ya. Tolong pinjam uang seratus ribu saja dulu untuk tebus obat bapakmu yang eceran di apotek simpang itu. Ibu sudah gak punya muka lagi kalau harus ngutang ke warung Bu Tejo."

Abdul menelan ludah yang terasa kesat di tenggorokannya. Pinjam uang ke Pak RT sama saja dengan menyerahkan diri untuk diceramahi selama dua jam penuh tentang bagaimana pemuda zaman sekarang malas dan tidak punya semangat kerja. 

Namun, melihat dada bapaknya yang kembang kempis menahan sesak, Abdul tidak punya pilihan lain.

"Iya, Bu. Nanti sore Abdul ke sana," jawab Abdul singkat, menyembunyikan rasa gengsi dan luka yang berdarah di dalam dadanya.

Setelah membantu ibunya membalikkan posisi tidur bapaknya agar kulit punggungnya tidak melepuh akibat terlalu lama berbaring, Abdul kembali masuk ke dalam kamarnya yang berukuran dua kali dua meter. 

Dia menutup gorden rapat-rawat, mengunci diri dari realitas dunia luar yang terlalu mencekik. Perutnya berbunyi nyaring, memprotes karena sejak pagi tadi hanya diisi oleh segelas air teh tawar hangat demi menghemat jatah nasi yang ada di bakul dapur.

Abdul menjatuhkan kembali tubuhnya ke atas kasur lantai. Rasa lelah yang teramat sangat, bukan hanya lelah fisik melainkan lelah mental yang teramat besar, menggelayuti seluruh syaraf di kepalanya. 

Di luar sana, orang-orang sibuk mengejar dunia dengan segala kemewahannya, sementara di dalam kamar sempit ini, seorang pemuda harus memutar otak hanya untuk menyambung napas dua orang tuanya esok hari.

Air mata yang sejak tadi dia tahan akhirnya menetes juga, mengalir melewati pelipis dan membasahi kasur tipisnya. Abdul mengepalkan kedua tangannya yang kasar akibat bekas kerja pabrik, lalu menatap langit-langit kamar dengan pandangan kosong.

"Ya Tuhan..." Abdul berbisik dengan suara yang patah-patah di tengah isak tangisnya yang diredam agar tidak terdengar ke luar. "Hamba sudah berusaha. Hamba sudah jalan kaki sampai kaki hamba berdarah, tapi kenapa tidak ada satu pun pintu rezeki yang terbuka untuk hamba? Kenapa dunia ini pelit sekali pada orang miskin seperti kami?"

Dia berhenti sejenak, menghirup udara kamar yang pengap dan terasa panas. Rasa putus asa yang mendalam membuatnya mengucapkan kalimat yang bahkan tidak masuk ke dalam logika manusia normal.

"Kalau memang hamba tidak punya bakat untuk sukses di luar sana... seandainya saja... seandainya saja rebahan dan tidur ini ada harganya di dunia ini, Ya Tuhan. Hamba cuma pengen bapak sembuh, pengen ibu gak usah nangis lagi tiap lihat karung beras kosong. Tolong hamba, Ya Tuhan... hamba capek..."

Dengan sisa tenaga dan air mata yang mengering di pipinya, Abdul memejamkan matamya. Kepasrahan total seorang manusia yang merasa telah ditinggalkan oleh dunia membuatnya jatuh ke dalam fase tidur yang sangat cepat. 

Hanya dalam hitungan detik, napas Abdul melambat, detak jantungnya menjadi sangat teratur, dan kesadarannya padam sepenuhnya, masuk ke dalam fase tidur terdalam yang belum pernah dia alami sebelumnya.

Abdul tidak pernah tahu, bahwa tepat di saat dengkuran halusnya mulai menggema di dalam kamar reot itu, sebuah getaran aneh muncul dari handphone jadul miliknya yang tergeletak di atas lantai semen. 

Layar handphone yang sudah retak seribu itu tiba-tiba menyala sendiri, memancarkan cahaya biru keperakan yang menerangi sudut-sudut kamar yang gelap, menampilkan sebuah proses sinkronisasi aneh yang tertulis dalam bahasa asing: [Sleeper System Initializing... 1%... 50%... 100%. Integration Successful.]

1
Ahmadi 241215
udah tau nama nya rizki.masih nanya dasar tolol,di cari di kampus nama rizki.kan udah tau wajahnya.klo bikin cerita pakai otak,kalo gak punya otak,ke rumah sakit jiwa aja anjing
irawan muhdi
lanjut Thor
Farhat Syahada
mantapp up truss
BaekTae Byun
buset gw kira ini tentang sistem santai atau sesuai dengan judul ternyata ngga
Arrofy: ini baru awal perjalanan, ikutin terus perjalanan Abdul, akan banyak kejutan di bab2 selanjutnya😍
total 1 replies
Gege
bilang begene biar argo rumah sakit jalan terus.. kalo cepet sembuh rumah sakit kehilangan ATM berjalannya...🤣
Arrofy: hehehe🤣🤣🤣
total 1 replies
Pur Yono
bagus Dull sudah punya uang tetapp baik hati sama teman yang kesulitan👍
Pur Yono
cerdas kamu thor lanjut kembangkan kreatifitasmu
Pur Yono
upterus👍
Pur Yono
author pintar menyesuaikan cerita dengan situasi dan kondisi jaman sekarang upterus💪
Pur Yono
alur ceritanya santai mudah diikuti lanjut👍
Junior Ian
insprative novel 👍👍
Arrofy: terimakasih ya😍
total 1 replies
irawan muhdi
lanjut Thor
Arrofy: di tunggu ya/Chuckle/
total 1 replies
Gege
naaaah novel tema system yang ringan, enak dibaca modelan begene yang bikin hiburan lengkap... Yoo gass thor 10k kata tiap update..💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!