NovelToon NovelToon
Oops! Teman Kontrakanku Dosen Paling Hot Di Kampus

Oops! Teman Kontrakanku Dosen Paling Hot Di Kampus

Status: sedang berlangsung
Genre:Dosen / Beda Usia / Cinta Seiring Waktu / Kehidupan di Sekolah/Kampus
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Aliska Rosemary

Paris seharusnya menjadi mimpi indah bagi Kiandra Zanitha. Namun, karena kecerobohan agen properti dan aturan Clause de Solidarité yang menjerat, mimpi itu berubah menjadi jerat yang menyesakkan. Kiandra terpaksa berbagi apartemen sempit di Rue de Rivoli dengan seorang pria asing yang langsung mengacaukan kewarasannya sejak hari pertama.


Pertemuan pertama mereka adalah bencana yang memalukan: sebuah handuk yang melorot, tubuh atletis yang basah, dan tatapan hazel yang seolah mampu menelanjangi rahasia terdalam Kiandra. Namun, kejutan sebenarnya baru dimulai saat fajar tiba. Pria provokatif yang melihatnya tersipu malu di dapur itu ternyata adalah Enzo Romano—dosen senior di Le Cordon Bleu sekaligus pakar kuliner yang memegang kendali atas masa depan studinya.


Di kampus, Enzo adalah otoritas yang dingin dan disiplin. Di apartemen, dia adalah pria yang gemar menguji batas kesabaran—dan iman—Kiandra. Di antara uap mentega di dapur dan denting gelas wine, garis antara dosen dan teman s

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aliska Rosemary, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12: Sang Pangeran dari Sciences Po

Dentum bass dari musik deep house yang diputar DJ di sudut penthouse terasa bergetar hingga ke ulu hati Kiandra. Cahaya lampu neon berwarna ungu dan biru menyapu ruangan, menciptakan siluet-siluet manusia yang bergerak mengikuti irama.

Di meja bundar sudut ruangan, gelak tawa Mei Ling meledak, nyaris menenggelamkan suara musik yang bising. Sahabatnya itu sampai harus menyeka air mata di sudut matanya karena terlalu semangat bercerita.

"Sumpah, Ki! Walau tadi di apartemen kamu agak gelap dan aku cuma lihat sekilas, aku berani taruhan dia pasti ganteng banget!" seru Mei Ling sambil meragakan bentuk bahu lebar dengan tangannya di udara.

"Tubuhnya itu, lho... V-shape-nya sempurna banget. Kayak sering latihan di gym elit atau atlet profesional. Gila, aku masih kepikiran sampai sekarang!"

Kiandra meremas gelas jus jeruknya kuat-kuat. Ia merasa telapak tangannya mendadak berkeringat dingin. Gaun slip dress satin hijau zamrud yang ia kenakan terasa mendadak lebih sesak dari sebelumnya.

Adele Moreau menopang dagu dengan kedua tangannya, matanya yang lembut tampak berbinar penuh rasa penasaran.

"Di Paris, pria dengan fisik seperti itu biasanya kalau bukan model papan atas, ya atlet anggar nasional, Mei."

Juliette Laurent menyesap sampanyenya dengan gerakan yang sangat elegan, matanya yang hijau zamrud menatap Kiandra dengan tatapan menyelidik yang tenang.

"Atau mungkin pria Italia yang sedang pelarian," timpal Juliette datar. "Mereka punya genetik yang curang soal fisik. Tulang pipi tajam, bahu lebar, dan tatapan yang... yah, kalian tahu sendiri."

Deg!

Jantung Kiandra seolah berhenti berdetak sesaat. Tebakan Juliette nyaris mengenai sasaran dengan akurasi seratus persen. Ia menelan ludah dengan susah payah, mencoba menjaga ekspresi wajahnya agar tetap datar.

"Kamu harus mengenalkan kami pada pria itu, Kiandra. Jangan pelit," Diya Kapoor mencondongkan tubuh, memberikan senyum penuh arti yang membuat Kiandra semakin terpojok.

"Pria seksi seperti itu tidak boleh disembunyikan sendirian di apartemen Rue de Rivoli. Itu kejahatan kemanusiaan bagi para jomblo di Paris."

"Dia orangnya sibuk, Diya. Benar-benar tidak suka berinteraksi dengan orang asing," Kiandra membela diri, suaranya naik satu oktav karena panik.

"Alasan!" Mei Ling menyambar cepat dengan nada menuduh yang jahil. "Bilang saja kamu mau menyimpan pria seksi itu sendirian buat kamu tonton tiap malam. Ngaku nggak?"

"Sudah aku bilang bukan itu alasannya! Dia itu... dia punya privasi yang sangat ketat! Dia bukan tipe orang yang bisa diajak nongkrong sembarangan!"

Kiandra merasa wajahnya mulai memanas. Di dalam kepalanya, sebuah sirkus kekacauan sedang berlangsung dengan liar.

Apa jadinya kalau mereka tahu pria seksi yang Mei Ling lihat itu adalah Enzo Romano? Dosen paling hot sekaligus paling ditakuti di Le Cordon Bleu? Aku bisa mati berdiri di sini kalau identitasnya bocor!

Jaxson Cole tertawa keras, menepuk meja hingga gelas-gelas di atasnya berdenting. "Mungkin dia agen rahasia? Atau buronan internasional yang tampan? Kayak di film-film action?"

"Kalian terlalu banyak nonton film!" Kiandra bergegas berdiri, merasa oksigen di sekitar meja itu semakin menipis dan menghimpit paru-parunya.

"Aku mau ambil minum dulu. Tenggorokanku kering gara-gara kalian interogasi terus," ucap Kiandra sambil memutar tubuh dengan cepat, tidak memberikan kesempatan bagi Mei Ling untuk membalas.

***

Kiandra melangkah membelah kerumunan tamu pesta yang semakin padat. Lampu pesta yang berkedip-kedip warna-warni membuat jarak pandangnya sedikit terganggu.

Kepalanya masih berputar hebat, memikirkan cara paling ampuh untuk membungkam mulut Mei Ling sebelum rahasia tentang Enzo benar-benar meledak di kampus.

"Fokus, Ki. Ambil minum, tenangin diri, terus balik ke meja dengan wajah paling polos sedunia," gumamnya pada diri sendiri.

Ia berjalan menuju area bar yang terletak di sisi lain ruangan. Di depannya, seorang pelayan pria dengan seragam hitam-putih sedang membawa nampan perak penuh gelas kristal berisi sampanye yang berkilau.

Kiandra tidak memperhatikan langkahnya dengan benar. Ia terlalu sibuk menoleh ke belakang, memastikan Mei Ling atau Diya tidak mengikutinya untuk melanjutkan interogasi maut tadi.

"Awas, Mademoiselle!"

Suara teriakan itu terdengar nyaring, namun semuanya terjadi terlalu cepat. Bahu Kiandra bersenggolan keras dengan nampan yang dibawa pelayan tersebut.

Bruk!

Nampan itu miring dengan drastis. Gelas-gelas kristal di atasnya berdenting nyaring, siap meluncur bebas menuju lantai beton yang keras.

Kiandra tersentak kaget, mencoba menghindar dengan gerakan refleks. Namun, sialnya, sepatu hak tingginya justru tergelincir di lantai yang sedikit licin akibat tumpahan minuman sebelumnya.

Tubuhnya limbung ke belakang dengan cepat. Kiandra memejamkan mata rapat-rapat, sudah bisa membayangkan dirinya berakhir memalukan di lantai dengan gaun satin hijaunya yang basah kuyup oleh sampanye.

Satu detik ketegangan yang mencekam menyelimuti indranya.

Tiba-tiba, sebuah lengan yang terasa sangat kuat dan kokoh melingkar di pinggang Kiandra dengan mantap. Pegangan itu begitu stabil, menahan seluruh berat tubuh Kiandra agar tidak menghantam lantai.

Di saat yang bersamaan, tangan lain dari pria itu bergerak dengan kecepatan yang luar biasa, menangkap nampan pelayan yang nyaris jatuh dengan presisi yang sempurna.

Tidak ada gelas yang pecah. Tidak ada setetes pun sampanye yang tumpah ke gaun hijau zamrud milik Kiandra.

Kiandra membuka matanya perlahan, napasnya tertahan di kerongkongan. Ia mendongak, dan dunianya seolah berhenti berputar selama beberapa saat.

Sepasang mata biru es yang jernih dan tajam sedang menatapnya dengan ketenangan seorang aristokrat sejati. Pria itu memiliki rambut pirang gelap yang tertata sangat rapi, kulit pucat yang bersih tanpa noda, dan rahang yang tegas seperti pahatan marmer.

Senyumnya tipis, sangat sopan, namun memancarkan kepercayaan diri yang sangat tinggi—tipe pria yang tahu persis bahwa dia adalah pusat perhatian di ruangan mana pun.

"Hati-hati, Mademoiselle. Lantai ini tidak seindah gaunmu jika kamu sampai terjatuh," suara pria itu terdengar sangat jernih, dengan aksen British yang kental, mewah, dan berkelas.

Pria itu membantu Kiandra berdiri tegak kembali dengan gerakan yang sangat gentleman. Namun, Kiandra menyadari bahwa tangan pria itu tetap berada di pinggangnya selama dua detik lebih lama dari yang seharusnya—sebuah sentuhan yang terasa sengaja.

"Terima kasih... aku benar-benar ceroboh," cicit Kiandra. Wajahnya memanas hebat karena jarak mereka yang sangat dekat.

Pria itu menyerahkan nampan kembali kepada pelayan yang wajahnya sudah pucat pasi karena ketakutan. Setelah pelayan itu pergi dengan seribu ucapan terima kasih, pria itu kembali memusatkan perhatiannya pada Kiandra.

"Aku Blake. Blake Harrington," pria itu memperkenalkan diri, mengulurkan tangannya dengan gerakan yang sangat elegan dan terukur.

Kiandra menyambut uluran tangan itu dengan ragu. "Kiandra. Mahasiswi kuliner di Le Cordon Bleu."

Blake menatap Kiandra dengan tatapan yang sangat dalam, seolah sedang menemukan sesuatu yang sangat menarik dan langka di tengah keramaian pesta yang membosankan ini.

"Kuliner? Menarik. Kamu terlihat terlalu... polos untuk dunia dapur yang keras dan penuh tekanan, Kiandra," ucap Blake. Suaranya merendah, terdengar seperti bisikan rahasia yang hanya ditujukan untuk telinga Kiandra.

Kiandra tertegun sejenak. Senyum Blake sangat berbeda dengan seringai jahil dan provokatif milik Enzo. Senyum pria di depannya ini terasa sangat sempurna, terukur, dan sangat memikat dengan cara yang lebih halus.

"Penampilan bisa menipu, Monsieur Harrington," balas Kiandra, mencoba mendapatkan kembali ketenangannya dan menarik tangannya dari genggaman Blake.

Blake terkekeh pelan, sebuah suara yang terdengar sangat berkelas dan menyenangkan di telinga. "Aku suka itu. Sebuah tantangan menarik di balik wajah yang manis dan polos."

Blake mengambil satu gelas sampanye dari atas meja bar, lalu menyerahkannya kepada Kiandra dengan gerakan yang sangat sopan.

"Mungkin segelas sampanye bisa membantu menenangkan sarafmu yang sedang tegang setelah insiden tadi?"

Kiandra menerima gelas itu, jemarinya sempat bersentuhan dengan jemari Blake yang terasa hangat dan halus. Ia menyesap sampanyenya sedikit, mencoba meredam debaran jantungnya yang masih belum stabil.

Dari kejauhan, di meja sudut, Kiandra bisa melihat Mei Ling dan Diya sedang memperhatikan interaksi mereka dengan mata melotot dan bisikan-bisikan heboh yang tidak kunjung berhenti.

Kiandra mengembuskan napas panjang. Ia merasa seperti baru saja melangkah masuk ke dalam babak baru yang tidak kalah rumit dan membingungkan dari urusan apartemennya dengan Enzo Romano.

Blake Harrington mencondongkan tubuhnya sedikit, menatap mata cokelat gelap Kiandra dengan intensitas yang baru, seolah sedang mengunci mangsanya.

"Katakan padaku, Kiandra... apa yang dibawa gadis sepertimu ke Paris selain ambisi memasak yang besar?"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!