Bagaimana jika cinta terbesar adalah cinta yang diam-diam merantai, mengikat hati tanpa suara, dan terus hidup meski tanpa harapan?
Brant dan Luca hanya tahu satu hal: cinta itu masih ada dan mungkin akan tetap ada selamanya. Mereka hanya pasrah, tidak lagi bertarung untuk bersama.
!!!⚠️!!!
#BL
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Selene Mora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
19
Brant berdiri di dekat meja makan kediaman orang tuanya, merapikan jaket kulit hitam yang membalut tubuh jangkungnya.
"Ma, aku izin balik ke apartemen sekarang," pamit Brant, suaranya terdengar datar namun ada nada tegas yang tidak bisa diganggu gugat. "Mau mulai packing sekalian beresin beberapa barang."
Ny. Sofia yang sedang merapikan majalah di ruang tengah menoleh. Ia menatap putranya dengan tatapan lembut penuh pengertian. "Iya, Sayang. Pergilah. Hati-hati di jalan."
Begitu mendapat anggukan dari ibunya, Brant langsung melangkah lebar menuju parkiran. Di atas motornya yang melaju membelah jalanan kota, Brant memakai earphone bluetooth dan langsung menekan kontak Luca. Telepon tersambung pada nada ketiga.
"Ca, gue otw ke rumah lo ya. Kita jalan sebentar," ucap Brant langsung tanpa basa-basi begitu suara serak khas Luca menyahut di seberang sana.
sekitar setengah jam lebih perjalanan, motor Brant akhirnya terparkir di depan pagar rumah Luca. Brant melangkah masuk dan mengetuk pintu kayu itu tiga kali. Tak butuh waktu lama, pintu terbuka dan di sambut dengan wajah datar Lea. Cewek tomboy itu sudah bersiap membuka mulutnya—pasti mau menanyakan kalimat andalannya: 'Ke rumah pacar tapi tangan kosong?'
Namun, seolah sudah hafal di luar kepala dengan tabiat adik kekasihnya itu, Brant dengan gerakan kilat langsung mengangkat sebuah kantong plastik putih berisi dua paket martabak manis hangat, tepat di depan wajah Lea.
"Nih. Martabak, cokelat keju. Spesial," potong Brant cepat sebelum Lea sempat bersuara.
Wajah jutek Lea seketika luntur, matanya berbinar sedikit meski ia berusaha menahan senyumnya. "Masuk, Kak. Untung peka," gumam Lea ketus sambil merebut kantong plastik itu dan membuka jalan.
Di ruang tamu, Luca sudah duduk rapi mengenakan hoodie kebesaran warna abu-abu favoritnya di samping mamanya. Begitu Brant masuk, Ibu Lana langsung tersenyum hangat. "Eh, Brant. Sini duduk dulu."
Brant mendudukkan dirinya di kursi tunggal, menatap Ibu Lana dengan sopan. "Tante, maaf saya datangnya kemalaman. Tadi dari rumah Papa perjalanannya lumayan lama ke sini. Aku juga mau minta izin buat ajak Luca jalan-jalan keluar sebentar, boleh, Tante?"
Ibu Lana menatap jam dinding, lalu beralih menatap wajah Brant yang terlihat sedikit lelah namun matanya memancarkan kesungguhan yang besar. Beliau mengangguk lembut. "Iya, Brant, Tante izinkan. Bawa aja Luca jalan-jalan biar dia nggak suntuk di rumah. Tapi jangan kemalaman ya pulangnya."
"Iya, Tante. Terima kasih. Kalau begitu kami pamit dulu," ucap Brant berdiri, diikuti oleh Luca yang langsung menyambar kunci motor brant di meja.
"Mah luca pergi dulu."
" Iya hati- hati di jalan," balas ibunya yang masih duduk di kursinya menatap kepergian mereka.
Tak lama setelah itu, Mata ibu Lana kini beralih ke dapur menatap heran dan lucu ke arah Lea di meja makan, dengan bungkusan martabak pemberian Brant, yang dia sembunyikan dari Luca.
Deru mesin motor Brant membelah angin malam yang semakin menusuk tulang. Luca yang duduk di jok belakang merapatkan pelukannya pada pinggang tegap Brant, menyandarkan dagunya di bahu kokoh itu. Brant tidak mengarahkan motornya ke area pusat kuliner atau kafe estetik yang biasa mereka kunjungi, melainkan mengambil jalur cepat menuju kawasan distrik tempat apartemen pria itu berada.
"Kak Brant," seru Luca sedikit keras agar suaranya tidak teredam angin malam yang menderu. "Kita mau ke mana? Kok jalurnya ke arah apartemen Kakak?"
Brant tidak langsung menjawab. Ia hanya melirik Luca sekilas melalui spion motor sebelum kembali fokus membelah jalanan di depan. "Kita ke apartemen gue, Ca. Ada hal penting yang mau gue omongin."
Suara berat Brant terdengar jauh lebih rendah dan datar dari biasanya, membuat Luca terdiam. Di balik hoodie tebalnya, firasat Luca mendadak tidak enak. Namun, ia memilih untuk semakin mengeratkan pelukannya, menyalurkan kehangatan yang mendadak terasa sangat dibutuhkan oleh punggung kaku kekasihnya.
Begitu sampai di apartemen Brant, suasana sunyi dan dingin langsung menyergap mereka. Pendingin ruangan yang menyala otomatis seolah menambah atmosfer beku di dalam sana.
Pria jangkung itu melepas jaket kulitnya, lalu menyisir rambut ke belakang dengan tangan gemetar. Gerak-geriknya diburu kegelisahan dan ketakutan yang pekat. Sejak melangkah masuk, ia bahkan tidak berani menatap mata Luca. Ego dan pertahanan yang seminggu ini ia bangun, seketika runtuh oleh rasa tidak siap yang menghantam kesadarannya.
Luca berdiri diam di dekat sofa, memperhatikan setiap gerak-gerik Brant dengan tatapan sendu. Ia tahu, topeng ketenangan Brant malam ini sudah hancur lebur.
Brant berjalan menuju kulkas, lalu mengambil sebotol air dingin. Ia meneguknya cepat, berharap rasa dingin itu bisa meredakan sesak yang mendesak di dadanya. Setelah meletakkan botol itu, Brant tertegun. Tubuhnya mematung, matanya nampak kosong pada sebuah jam digital kecil yang bertengger di atas kulkas. Angka-angka di jam itu seolah sedang mengingatkan waktunya di tempat ini.
Melihat punggung kokoh itu tampak begitu rapuh, Luca tidak bisa tinggal diam. Ia melangkah pelan tanpa suara mendekati Brant, lalu melingkarkan kedua lengannya di pinggang lebar pria itu dari belakang. Luca memeluk Brant erat-erat, menempelkan pipinya pada punggung hangat Brant.
Deg... Deg... Deg...
Jantung Luca berdetak sangat cepat, dan di saat yang sama, ia bisa merasakan detak jantung Brant yang berpacu sama gilanya di balik kemeja hitam yang dikenakannya. Batin mereka seolah sudah terikat pada satu frekuensi rasa yang sama malam ini.
Merasakan pelukan hangat dari belakang, Brant berbalik dengan cepat di dalam dekapan Luca, lalu balas merengkuh tubuh yang lebih mungil itu ke dalam pelukannya yang teramat kuat.
"Kak..." bisik Luca lirih, suaranya mulai bergetar saat air mata hangat mulai membasahi dada kemeja Brant.
Brant menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Luca, menghirup dalam-dalam aroma familier yang selalu menjadi penenang jiwanya.
"Ca... kita cuma punya malam ini dan besok untuk bersama," ucap Brant, suaranya parau dan sarat akan kepedihan yang mendalam. "Lusa subuh, gue udah harus terbang ke London."
Tangis Luca akhirnya pecah di dalam pelukan itu. Bahunya terguncang hebat. Meskipun selama ini mereka berdua selalu meyakinkan diri masing-masing bahwa mereka siap menghadapi kenyataan ini demi masa depan, namun ketika waktu itu benar-benar berada di depan mata, rasa sedih yang luar biasa besar tetap saja datang menghinggapi tanpa ampun.
Perlahan, Brant mengurai pelukan mereka sedikit. Telapak tangan besarnya yang hangat naik untuk menangkup kedua pipi Luca, menghapus air mata yang terus mengalir menggunakan ibu jarinya. Mereka saling memandang dalam jarak yang begitu dekat. Tatapan mata Brant malam ini begitu dalam, gelap, penuh rindu yang teramat sangat, dan menyiratkan sebuah permintaan yang tak terucapkan.
Dalam beberapa detik keheningan yang intens itu, Luca mengerti sepenuhnya apa yang harus dia lakukan. Di tengah tangisnya yang masih tersisa, seulas senyum teduh yang teramat tulus terukir di bibir manis Luca.
" kak, Brant," suara Luca berbisik di sertai anggukkan kepalanya perlahan, memberikan persetujuan mutlak atas seluruh jiwa dan raganya malam ini untuk pria di hadapannya.
Melihat anggukan itu, ketegangan di wajah Brant perlahan mencair, digantikan oleh senyuman paling indah yang pernah Luca lihat. Tanpa memutuskan pandangan mereka, Brant dengan sigap menyelinapkan lengannya di bawah lutut dan punggung Luca, mengangkat tubuh kekasihnya itu dengan mudah ke dalam gendongannya, lalu melangkah lebar menuju kamar mandi bernuansa hangat.
Begitu kaki Luca kembali menyentuh lantai marmer yang dingin, Brant tidak melepaskan tatapannya sedikit pun. Tanpa suara, ia menyalakan pancuran air hingga uap hangat perlahan naik, menciptakan kabut tipis yang mengisolasi mereka dari dunia luar.
Di bawah rintik air yang mulai membasahi tubuh, mereka berdiri berhadapan. Brant melangkah maju, memangkas jarak hingga dada mereka saling bersentuhan.
"Gue mau melewatkan setiap detiknya bareng lo, Ca," bisik Brant rendah, suaranya terdengar begitu dalam di antara deru suara air.
Luca mendongak, menatap lekat sepasang mata gelap di hadapannya yang sarat akan rasa rindu dan kepemilikan. "Aku juga, Kak... Aku mau egois malam ini. Jangan sisain jarak sedikit pun di antara kita."
Mendengar penuturan itu, Brant menundukkan kepalanya dan langsung menyatukan bibir mereka. Ciuman itu tidak lagi lembut, melainkan menuntut, dalam, dan penuh hasrat yang meletup-letup. Sentuhan yang basah di bawah rintik air menciptakan sensasi panas yang menjalar hebat, meluluhkan seluruh ketakutan akan perpisahan. Dalam kabut uap air yang kian tebal, Brant membawa Luca ke dalam sebuah penyatuan yang intens—sebuah penyerahan mutlak tempat jiwa mereka saling mengunci satu sama lain.
Ketika malam semakin larut, Brant membawa tubuh lemas Luca keluar dari kamar mandi dalam gendongannya. Luca terpekik rendah, refleks mengalungkan lengan erat-erat pada leher kokoh itu seiring tubuhnya diletakkan di atas ranjang yang empuk.
"Kak Brant...?" tanya Luca dengan suara serak yang bingung, menatap sayu ke arah kekasihnya.
Brant ikut merosot ke atas ranjang, mengunci tubuh Luca di bawah kungkungannya sambil menyunggingkan senyum tipis yang seksi. "Gue belum selesai, Ca. Malam ini milik kita."
"Tapi badanku rasanya udah lemes banget," rengek Luca manja, walau tangannya justru bergerak naik meremas bahu tegap Brant, sama sekali tidak berniat menjauh.
Brant terkekeh rendah, suara seraknya terdengar begitu mendominasi di rungu Luca. "Gak apa-apa, biar gue yang kendalikan semuanya. Lo cukup fokus ke gue."
Ketakutan akan perpisahan seketika membakar habis seluruh sisa benteng pertahanan mereka. Didorong rasa takut kehilangan yang sama besar, Luca membiarkan akal sehatnya lebur, bergerak liar mengimbangi setiap dominasi yang Brant berikan di atas ranjang.
"Bilang sama gue, Ca... siapa yang paling bisa bikin lu sekacau ini?" bisik Brant parau di ceruk leher Luca, memacu ritme mereka yang kian memanas.
Luca mencengkeram seprai semakin erat, kepalanya mendongak pasrah dengan air mata gairah yang mengalir di sudut netranya. " k...kak Brant... cuma Kak Brant yang bisa bikin aku gila. Tolong... bawa aku lebih dalam lagi, Kak..."
Jawaban jujur itu meruntuhkan sisa kewarasan Brant. Bunyi derit ranjang dan desah napas yang memburu memenuhi kamar, berpadu dengan tatapan penuh kepemilikan yang mengunci satu sama lain. Brant menjelma menjadi sosok yang luar biasa posesif, menghujani Luca dengan cinta yang intens, seolah ingin menyegel jiwanya agar sang kekasih tidak akan pernah bisa melirik orang lain selama ia di London nanti.
Puncak demi puncak pelepasan mereka lewati bersama di bawah temaram kamar yang sunyi. Hingga akhirnya, erangan parau Brant menyusul lenguhan panjang Luca, menandai akhir dari badai gairah yang menguras seluruh tenaga mereka malam itu.
Napas mereka memburu hebat saat keduanya akhirnya jatuh terkulai lemas di atas kasur yang sudah kacau masai. Mereka berbaring pasrah tanpa memedulikan lagi keadaan sekitar, saling memeluk erat dalam diam, mencoba merekam kehangatan yang teramat intim itu sebelum jarak yang sesungguhnya memisahkan mereka.
Sinar matahari pagi mulai menyusup di sela-sela gorden, menerangi kekacauan di atas ranjang. Brant menjadi yang pertama membuka mata. Namun, begitu ia melirik ponsel Luca yang tergeletak di atas nakas, tubuh polosnya mendadak menegang kaku. Jantungnya mencelos.
’Sial, gila bener gue... sampai lupa kabarin nyokapnya Luca kalau dia nginep di sini,’ batin Brant panik.
Brant buru-buru meraih ponselnya sendiri, berniat mengirim pesan kepada Tante Lana—ibu Luca—meski tahu ini sudah sangat terlambat. Namun, saat layar ponselnya menyala, Brant tertegun. Ada beberapa panggilan tak terjawab dan satu pesan masuk dari ibu Luca. Dengan perasaan waswas dan sedikit takut, Brant memberanikan diri membuka pesan tersebut.
“Brant, malam ini Luca nginep di apartemen kamu kan. Tolong jagain ya, jangan tidur kemalaman soalnya Luca lagi pilek.”
Membaca pesan itu, Brant langsung mengembuskan napas lega yang luar biasa. Bahunya yang tegap seketika rileks. Namun, baru saja ia meletakkan ponselnya kembali, hidung Brant mendadak terasa gatal.
"Hachiiuww!"
Brant bersin cukup keras. Ia mengusap hidungnya, lalu menatap wajah tertidur Luca yang masih terpejam damai di sampingnya. "Gue malah ketularan flu , Ca," gumam Brant pelan dengan suara serak khas bangun tidur, menyunggingkan senyum tipis.
Dia kemudian mulai membangunkan Luca. Sesuai dugaan, sangat sulit membuat cowok mungil itu membuka mata karena seluruh energinya telah terkuras habis semalam. Setelah beberapa kali kecupan dan guncangan lembut, Luca akhirnya terbangun dengan lenguhan lengket.
"K-Kak Brant?!" pekik Luca panik, mengabaikan rasa pening yang mendadak menyerang kepalanya. "Aku... aku kok masih di sini? Jam berapa sekarang?!"
Brant menaikkan satu alisnya, bingung melihat kepanikan mendadak kekasihnya. "Jam delapan lewat, Ca. Kenapa?"
"Mampus..." Luca menepuk jidatnya sendiri, wajahnya mendadak pias. "Kak, aku lupa kabarin Mama kalau semalam nginep di sini! Aduh, HP aku mana? Mama pasti nyariin," Luca mulai celingukan panik mencari ponselnya di balik selimut yang berantakan.
Melihat Luca yang panik sampai membeo, Brant malah terkekeh pelan. Sisi khawatirnya tadi langsung lenyap digantikan rasa gemas. Ia meraih pundak Luca, menahan gerakan heboh cowok itu.
"Tenang, Ca. Tarik napas dulu," ujar Brant sembari menyodorkan ponsel Luca. "Gue tadi juga sempet panik. Tapi ternyata mama lu udah tahu dan kirim pesan ke gue, nanya kabarmu dan ngingetin jangan tidur kemalaman karena lo lagi pilek."
Luca tertegun, buru-buru menyambar ponselnya untuk memastikan. Begitu melihat isi pesan dari mamanya, Luca langsung mengembuskan napas lega yang teramat panjang hingga bahunya merosot lemas. "Astaga... untunglah. Jantung aku rasanya mau copot, Kak."
"Makanya, lain kali jangan pelupa," ledek Brant nakal, mencubit hidung Luca gemas.
"Y-ya kan gara-gara Kakak juga semalam..." cicit Luca pelan, wajahnya mendadak merona merah saat kilasan ingatan tentang bagaimana brutalnya Brant memperlakukannya semalam kembali berputar di otaknya.
Kesadaran itu seketika meletupkan rasa malu yang luar biasa di dada Luca. Pipinya merona merah padam, dan secara refleks ia menarik selimut lebih tinggi hingga menutupi separuh wajahnya.
Melihat tingkah menggemaskan itu, seulas senyum asimetris terbit di bibir Brant. Pria itu sengaja memajukan tubuhnya, menatap Luca dengan tatapan mengejek yang seksi.
"Gue udah lihat semua yang ada di diri lu, ca. Lu juga udah tau gue semuanya, kan?" Brant terkekeh rendah, suara serak khas bangun tidurnya terdengar begitu menggoda. "Terlambat kalau lu baru mau malu sekarang."
Setelah diawali dengan kepanikan yang lucu di pagi itu, Brant menyuruh Luca untuk mandi duluan. Sementara sang kekasih membersihkan diri, Brant tetap duduk di tepi ranjang, jemarinya sibuk mengetikkan sesuatu di layar ponsel.
"Ca, mau bubur ayam atau gado-gado?" tanya Brant setengah berteriak ke arah kamar mandi.
Dari dalam, suara Luca menyahut cepat, "Roti gandum alpukat, terus di atasnya pakai telur rebus, Kak!"
Brant mendengus geli. "Enggak ada. Bubur ayam dua porsi aja, ya," putus Brant mutlak, lalu jemarinya langsung menekan tombol order pada aplikasi di ponselnya.
Tak lama setelah Luca, Brant pun segera mandi. begitu selesai, Dia langsung keluar kamar dan mendapati Luca sudah menunggunya di sofa ruang tengah. Di atas meja, telah tersaji dua porsi bubur ayam dan satu porsi gado-gado pesanan Brant. Sembari makan, keduanya mengobrol intim dan tertawa lepas, menikmati setiap detik kebersamaan yang berharga.
Di balik obrolan ringan itu, hati keduanya kini telah benar-benar mantap. Brant dan Luca siap melangkah jauh ke depan, bersiap menantang badai apa pun yang akan menguji kisah cinta mereka—terutama benteng jarak ribuan kilometer yang membentang di depan mata.