NovelToon NovelToon
LOOP ZERO

LOOP ZERO

Status: tamat
Genre:Action / Sistem / Fantasi / Tamat
Popularitas:792
Nilai: 5
Nama Author: tanty rahayu bahari

Vero terjebak dalam Time Loop. Dia adalah satu-satunya orang yang mengingat ledakan itu. Dia harus menemukan pelakunya, menjinakkan bom, dan menyelamatkan seisi kota Jakarta. Namun, takdir memiliki aturan main yang kejam: Setiap kali Vero gagal dan mati, waktu yang dimilikinya berkurang satu menit.
​Loop pertama: 60 menit.
Loop kedua: 59 menit.
Loop ketiga: 58 menit.
​Dengan waktu yang terus tergerus, Vero dipaksa belajar menjadi detektif, tentara, dan penyusup dalam hitungan jam yang berulang. Di tengah kepanikan massal dan teror psikologis, dia menyadari satu hal mengerikan: Pelakunya mungkin bukan orang asing, dan ledakan ini hanyalah permulaan.
​Ketika hitungan mundur mendekati nol, Vero tak hanya bertaruh nyawa—dia bertaruh pada keberadaan itu sendiri.
​Bisakah dia menghentikan kiamat kecil ini sebelum waktunya habis total?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tanty rahayu bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

EPILOG: SATU TAHUN KEMUDIAN

Selasa, 18 Juli.

08:00 WIB.

Jakarta tidak pernah benar-benar berubah. Matahari masih terik, polusi masih abu-abu, dan klakson kendaraan masih menjadi simfoni pagi yang sumbang.

Namun, di lahan bekas Stasiun Pusat, suasananya hening.

Sebuah taman memorial telah dibangun di atas kawah bekas ledakan itu. Tugu batu granit hitam berdiri tegak di tengahnya, bertuliskan ribuan nama korban tragedi yang kini dikenal sebagai "Insiden Triad".

Vero berdiri di depan tugu itu. Dia mengenakan kemeja flanel santai, bukan kemeja kantor kaku seperti dulu. Tangan kanannya memegang buket bunga lili putih.

Dia meletakkan bunga itu di kaki tugu.

Gerakannya sedikit kaku. Bahu kanannya tidak pernah pulih 100% setelah operasi rekonstruksi tulang. Dan jika hujan turun, rusuknya masih terasa ngilu. Itu adalah pengingat fisik yang dia bawa—tanda tangan dari Komandan Silas.

"Kau datang pagi sekali."

Vero menoleh. Sarah berjalan mendekat dari jalan setapak.

Dia terlihat berbeda. Rambutnya dipotong pendek, lebih segar. Dia mengenakan blazer rapi yang memancarkan aura kesuksesan.

"Kebiasaan lama," jawab Vero sambil tersenyum tipis. "Jam segini dulu adalah waktu kematianku."

Sarah berdiri di sampingnya, menatap nama-nama di tugu batu.

"Sudah setahun," gumam Sarah. "Kadang rasanya baru kemarin kita lompat dari jendela lantai dua itu."

"Bagaimana bukumu?" tanya Vero.

Sarah merogoh tasnya, mengeluarkan sebuah buku tebal dengan sampul hitam matte dan tulisan perak.

LOOP ZERO: Konspirasi di Balik Runtuhnya Stasiun Pusat.

Oleh: Sarah Amalia.

"Bestseller minggu kelima," kata Sarah, menyerahkan salinan itu pada Vero. "Tapi tentu saja, bagian tentang 'mesin waktu' dan 'loop' masuk ke rak Fiksi Ilmiah. Editor bilang itu terlalu gila untuk dimasukkan ke bagian Non-Fiksi. Publik lebih percaya versi resmi: Triad Industries melakukan sabotase korporat."

Vero menerima buku itu. Dia mengusap sampulnya.

"Lebih baik begitu. Dunia belum siap tahu kalau realitas bisa diretas."

"Kau masih kerja di firma akuntan itu?" tanya Sarah.

Vero menggeleng. "Aku berhenti sebulan setelah keluar dari rumah sakit. Sekarang aku membuka toko roti kecil di pinggiran kota. Hidup lebih lambat. Lebih... linear."

"Cocok untukmu," Sarah tersenyum. "Kau sudah cukup berlari untuk seumur hidup."

Angin berhembus pelan, menggugurkan daun-daun kering di sekitar tugu.

Suasana damai itu terasa mahal. Vero tahu persis harganya.

"Omong-omong," Sarah merendahkan suaranya, "aku dapat kiriman paket kemarin. Tanpa nama pengirim. Cap pos dari Reykjavik, Islandia."

Jantung Vero berdesir. "Islandia?"

Sarah mengeluarkan selembar kartu pos dari sela halaman bukunya.

Gambarnya adalah pemandangan Aurora Borealis yang indah.

Di belakangnya, hanya ada satu kalimat tulisan tangan yang rapi:

> "Waktu adalah sungai, bukan lingkaran. Jangan pernah berenang ke hulu lagi."

>

Tidak ada tanda tangan. Tapi mereka berdua tahu siapa penulisnya.

Maya. Sang Penjaga Kunci. Dia berada di ujung dunia, memastikan hantu Project Omega tetap terkubur di bawah es.

"Dia selamat," bisik Vero lega.

"Kita semua selamat," koreksi Sarah.

Vero melihat jam tangan analog di pergelangan kirinya. Jam yang sama yang dulu menjadi penanda kiamat pribadinya.

Jarum jam bergerak.

Tik. Tik. Tik.

08:01:00.

Satu menit berlalu.

Tidak ada ledakan. Tidak ada reset. Tidak ada rasa sakit.

Hanya waktu yang terus berjalan maju, detik demi detik, membawa mereka menjauh dari masa lalu.

"Sarah," kata Vero.

"Ya?"

"Mau kopi? Kopi yang enak. Bukan kopi stasiun."

Sarah tertawa lepas. "Tentu. Traktir aku, Pak Pahlawan."

Mereka berdua berbalik meninggalkan tugu memorial itu. Meninggalkan bayang-bayang kematian, meninggalkan memori tentang 20 kematian yang mengerikan.

Mereka berjalan berdampingan menuju gerbang taman, menyongsong hiruk-pikuk Jakarta yang hidup.

Bagi Vero, setiap detik yang berlalu sekarang adalah anugerah. Dia tidak lagi menghitung mundur. Dia mulai menghitung maju.

Karena untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama... hari esok adalah misteri. Dan itu adalah hal yang indah.

...****************...

...TAMAT...

...****************...

1
yumin kwan
keren.... serasa menonton film. ga kebayang mengulang waktu terus, matinya kena bom pula. Terima kasih Kak author....
Ai Emy Ningrum
Vero yg mati berkali kali..aku yg capek 😅😅 time loop kek di pilem Hollywood...
about a time,project almanac ,edge of tomorrow,the butterfly effect,until dawn dsb...time loop sendiri didunia nyata mustahil terjadi ..🤔🤔🤔
☠ SULLY𝕮𝖎ҋ𝖙𝖆 ༄⃞⃟⚡🍒⃞⃟🦅
masih loading kejadian yg menimpa vero
☠ SULLY𝕮𝖎ҋ𝖙𝖆 ༄⃞⃟⚡🍒⃞⃟🦅
mati berulang kali ver
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!