NovelToon NovelToon
Zayn'S Obsession

Zayn'S Obsession

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Fantasi / CEO
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: ValerieKalea

Dia melihat sisi gelapnya, dan seharusnya tidak selamat.
Tapi Zayn tidak menghapusnya dari dunia.
Dia memilih sesuatu yang lebih berbahaya menjadikannya miliknya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ValerieKalea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rumah Musuh Lama

Pagi perlahan datang menggantikan malam yang penuh kekacauan. Cahaya matahari mulai masuk melalui celah tirai besar rumah Zayn, menciptakan suasana tenang yang terasa asing setelah suara tembakan dan pertarungan brutal semalam. Namun di balik ketenangan itu, luka, dendam, dan perasaan yang mulai tumbuh masih menggantung di antara mereka semua.

Aurora membuka matanya perlahan.

Kepalanya masih terasa berat, meski tidak separah semalam. Pandangannya bergerak pelan menatap langit-langit kamar yang asing. Ruangan itu besar dengan dominasi warna hitam dan abu gelap. Terlihat mewah, tapi juga dingin.

Aurora mengerjap beberapa kali sebelum akhirnya mengingat semuanya.

Gudang kosong, Retno, suara tembakan, dan Zayn.

Aurora langsung mencoba bangun. Namun begitu tubuhnya bergerak, rasa pusing kembali menyerang meski lebih ringan dari sebelumnya.

“Pelan-pelan.”

Suara itu membuat Aurora langsung menoleh.

Zayn duduk di sofa dekat jendela sambil menatapnya. Ia sudah mengganti pakaian dan luka kecil di wajahnya terlihat lebih jelas di bawah cahaya pagi.

Aurora sedikit kaget, “Bapak belum tidur?”

Zayn menjawab santai, “Udah.”

Aurora langsung mengernyit, “Bohong.”

Zayn diam beberapa detik sebelum akhirnya berdiri dan berjalan mendekat ke arah ranjang.

Aurora baru sadar ada baskom kecil berisi air dan beberapa obat di meja samping tempat tidur.

“Kepalamu masih pusing?” tanya Zayn singkat.

Aurora mengangguk pelan, “Dikit.”

Zayn mengambil segelas air lalu menyerahkannya, “Minum dulu.”

Aurora menerimanya pelan. Tangannya masih sedikit lemas.

Setelah meminum air itu, Aurora menatap sekeliling kamar lagi sebelum akhirnya sadar sesuatu, “Tunggu…” gumamnya pelan.

Aurora langsung menatap Zayn, “Aku beneran di rumah Bapak?”

“Iya.”

Aurora langsung panik kecil, “Kenapa harus di sini?!”

Zayn menatap datar, “Karena lebih aman.”

“Tapi ini rumah Bapak!” protes Aurora.

“Terus?” balas Zayn santai.

Aurora membuka mulut, tapi tidak tahu harus menjawab apa.

Zayn malah terlihat tenang, seolah membawa seorang karyawan perempuan ke rumahnya setelah perang semalam adalah hal biasa.

Aurora mengusap wajahnya pelan sambil menghela napas frustasi.

Dan itu justru membuat Zayn hampir tersenyum tipis melihat ekspresi Aurora.

Tok.

Tok.

Pintu kamar diketuk pelan sebelum akhirnya terbuka dari luar.

Rakha masuk sambil membawa kantong es di pipinya, “Wah udah bangun” ucapnya santai.

Aurora langsung menoleh.

Untuk beberapa detik suasana terasa canggung.

Karena ini pertama kalinya Aurora melihat Rakha setelah semua kebenaran malam tadi terbongkar.

Rakha mengangkat tangan kecil, “Santai aja. Gue nggak bakal nyulik lo.”

Aurora langsung mengingat malam penculikannya dan spontan berkata, “Aku juga nggak mau diculik lagi.”

Rakha terdiam dua detik.

Lalu tertawa cukup keras sampai sudut bibirnya yang luka terasa sakit, “Aduh… sakit anjir…” keluhnya sambil memegang bibir sendiri.

Aurora menatap bingung.

Sedangkan Zayn malah terlihat kesal, “Berisik.”

Rakha langsung duduk sembarangan di sofa dekat ranjang Aurora, “Rumah lo gede banget. Gue nyasar tadi nyari dapur.”

Aurora tanpa sadar tertawa kecil mendengarnya.

Dan untuk pertama kalinya sejak semalam, suasana kamar itu terasa normal.

Namun beberapa detik kemudian Aurora memperhatikan wajah Rakha yang penuh lebam.

Aurora langsung mengernyit khawatir, “Wajah Kak Rakha…”

Rakha menyentuh pipinya pelan, “Oh ini?”

“Hadiah dari pak tua sinting.”

Aurora menatap bergantian ke Rakha dan Zayn. Baru sekarang ia sadar keduanya sama-sama penuh luka.

Tatapannya perlahan berhenti di tangan Zayn yang sedikit lecet dan diperban tipis.

Aurora langsung terlihat merasa bersalah, “Maaf…” gumamnya pelan.

Rakha mengangkat alis, “Lah kenapa minta maaf?”

“Karena gara-gara aku…”

“Eh” Rakha langsung memotong.

“Jangan mulai nyalahin diri sendiri.”

Aurora terdiam.

Rakha bersandar santai sambil menatap langit-langit kamar, “Yang salah itu Retno. Bukan lo.”

Kalimat itu membuat Aurora perlahan diam.

Sedangkan Zayn hanya memperhatikan Aurora tanpa bicara.

Ia tahu gadis itu pasti merasa dirinya menjadi penyebab semua kekacauan semalam.

Padahal justru Auroralah alasan Zayn datang tanpa pikir panjang.

Tak lama kemudian, seorang pelayan masuk membawa sarapan dan obat.

Aurora langsung menatap nampan makanan itu yang berisi bubur dan obat.

Aurora langsung terlihat tidak semangat.

Rakha yang melihat ekspresinya malah tertawa kecil, “Muka lo kayak anak kecil disuruh minum jamu.”

Aurora langsung cemberut pelan, “Obatnya banyak…”

“Minum” Zayn mengucapkannya singkat tanpa kompromi.

Aurora langsung menoleh kesal, “Pahit.”

“Memang.”

“Bapak jahat.”

Rakha langsung menahan tawa sambil menoleh ke arah Zayn, “Anjir, dia berani juga ngomong gitu ke lo.”

Zayn malah tetap tenang, “Kalau nggak diminum, kepalanya bakal makin pusing.”

Aurora akhirnya pasrah mengambil obat itu.

Ekspresinya langsung berubah begitu obat pahit itu masuk ke mulutnya.

Rakha tertawa tanpa dosa, “Mukanya jelek banget.”

Aurora langsung menunjuk Rakha kesal, “Kak Rakha jangan ketawa! Muka kamu juga tuh jelek”

Rakha kembali memegang bibirnya sendiri karena tertawa terlalu keras, “Heh!”

Dan lagi-lagi suasana kamar itu terasa jauh lebih hidup dibanding sebelumnya.

Namun di balik semua itu, seseorang memperhatikan dari luar pintu yang sedikit terbuka.

Lynda berdiri diam di lorong. Tatapannya tertuju lurus pada Aurora.

Ia melihat bagaimana Zayn yang biasanya dingin bisa duduk berjam-jam hanya untuk menjaga seorang perempuan biasa.

Melihat bagaimana Rakha yang terkenal temperamental bahkan bisa tertawa santai di ruangan itu.

Dan semua itu karena Aurora.

Tangan Lynda perlahan mengepal kecil, “Cuma sekretaris…” gumamnya lirih.

Matanya perlahan berubah dingin.

Namun sebelum ada yang menyadari keberadaannya, Lynda langsung pergi meninggalkan lorong itu dengan langkah tenang.

Sementara di dalam kamar, Aurora mulai terlihat lebih baik meski masih lemas.

Dokter Hans kembali masuk untuk memeriksa keadaannya, “Pusingnya masih ada?” tanyanya ramah.

Aurora mengangguk kecil.

“Itu normal. Tubuh kamu masih menyesuaikan efek obat biusnya.”

Dokter Hans lalu memeriksa denyut nadi Aurora beberapa saat sebelum akhirnya berkata, “Tapi kondisinya jauh lebih stabil dibanding semalam.”

Zayn yang sejak tadi diam akhirnya sedikit melunakkan rahangnya.

Dokter Hans melirik Zayn sekilas lalu tersenyum tipis kecil seolah memahami sesuatu, “Dia harus istirahat total dulu beberapa hari. Dan jangan stres.”

Aurora langsung menatap bingung, “Aku nggak boleh kerja dulu?”

“Tidak.”

Jawaban itu datang bersamaan dari Dokter Hans dan Zayn.

Rakha langsung tertawa kecil lagi.

Aurora menatap tidak percaya, “Kompak banget…”

Zayn mengabaikan protes itu lalu berkata singkat, “Untuk sementara kamu tinggal di sini.”

Aurora langsung tersedak kecil, “Hah?! Gak bisa gitu dong! Terus baju aku gimana?”

Rakha spontan tertawa lebih keras.

Sedangkan Zayn tetap tenang seolah keputusan itu tidak bisa dibantah.

“Retno masih bebas. Dan aku nggak bakal biarin kamu sendirian. Dan baju itu urusan gampang” lanjut Zayn dingin.

Kalimat itu langsung membuat Aurora diam. Jantungnya kembali berdetak aneh.

Sedangkan di sisi lain rumah megah itu, jauh dari suasana hangat kamar Aurora, seseorang sedang duduk di dalam mobil hitam sambil menatap layar ponselnya.

Ya itu Retno.

Wajahnya penuh luka dan lebam akibat pertarungan semalam.

Tatapannya gelap saat melihat foto rumah Zayn di layar.

Dan di sampingnya, berdiri seorang wanita dengan wajah tenang. Tidak lain adalah Lynda.

“Jadi?” tanya Retno pelan.

Lynda tersenyum tipis, “Kita mulai perlahan saja.”

Dan tanpa disadari siapa pun, bahaya baru mulai bergerak mendekati mereka.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!