Para dewa tidak membawa kedamaian-mereka membawa penindasan.
Di bawah kekuasaan Vasilias, langit menginjak manusia tanpa ampun. Ketika Dewa Matahari sejati dijatuhkan dan seorang wanita manusia dibunuh demi menjaga "kemurnian", seorang anak lahir dari pengkhianatan.
Setengah dewa. Setengah manusia.
Dan penuh dendam.
Dengan api matahari dalam darahnya, ia bangkit untuk memburu para dewa-termasuk pewaris palsu langit, Filius.
Namun semakin dekat pada balas dendam, ia mulai menyadari:
Tidak semua dewa layak dibunuh.
Dan tidak semua manusia layak diselamatkan.
Ketika langit mulai retak, satu pertanyaan tersisa-
Apakah ia akan menghancurkan para dewa...
atau menjadi yang paling kejam di antara mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Franzzz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
(ARC 1) Chapter 28: Meridian Strike
Jalan depan bar milik Helga menjadi hening.
Tidak ada lagi tawa dwarf.
Tidak ada lagi dentuman gelas.
Tidak ada lagi sorakan mabuk yang biasanya memenuhi udara Kota Baldr saat sore menjelang malam.
Semua mata tertuju pada satu sosok.
Grachius berdiri di depan Daji.
Rambut putih panjangnya bergerak pelan tertiup angin sore, dengan semburat merah-kuning yang tampak seperti bara kecil di antara helai-helainya. Tubuhnya tegak. Napasnya tenang. Tidak ada darah di pakaiannya. Tidak ada tanda ia baru saja datang dengan kecepatan yang mustahil dipahami mata biasa.
Namun tiga tubuh besar baru saja terpental karena kehadirannya.
Theros bangkit dari puing gerobak yang hancur.
Kairos menahan sisi kepalanya sambil keluar dari retakan dinding batu.
Darios menggertakkan gigi, tubuhnya masih terguling di jalan beberapa meter dari tempat semula.
Mereka bertiga menatap Grachius.
Waspada.
Untuk pertama kalinya sejak masuk ke bar itu, wajah mereka tidak lagi penuh kesombongan.
Mereka belum pernah melihat seseorang datang secepat itu.
Belum pernah merasakan tekanan seperti itu.
Dan belum pernah ditendang menjauh seperti sampah.
Grachius menatap mereka satu per satu.
Theros.
Kairos.
Darios.
Diam.
Lalu ia bicara.
“Sepertinya…”
Suaranya datar.
“…kalian sudah bersenang-senang dengan temanku.”
Daji yang masih duduk di tanah membelalak sedikit.
"Teman?"
Kata itu terdengar terlalu sederhana.
Namun entah kenapa membuat dadanya terasa lebih aneh daripada luka di tubuhnya.
Helga, yang masih berdiri di depan pintu bar dengan napas berat, juga menangkap kata itu. Beberapa dwarf saling pandang.
Teman.
Pria berambut putih itu menyebut Daji temannya.
Grachius melangkah maju.
“Sekarang…”
Tatapannya tetap tenang.
“…giliran kalian bersenang-senang denganku.”
Rocky yang berdiri jauh di belakang Tresaders langsung mundur satu langkah.
Lalu dua langkah.
Wajahnya mulai pucat.
Kairos mengangkat pedangnya.
“Jangan meremehkan kami.”
Grachius tidak menjawab.
Ia hanya mengepalkan kedua tangannya.
Qi mengalir dari pusat tubuhnya.
Pelan.
Padat.
Terkendali.
Energi itu bergerak melalui nadi, turun ke bahu, lengan, lalu berkumpul di kedua tinjunya.
Cahaya kuning bercampur merah muncul.
Seperti bara matahari senja.
Bukan api.
Namun panasnya terasa nyata.
Itulah teknik Zhànqì.
Udara di sekitar Grachius bergetar tipis, seolah jalan batu di bawah kakinya menahan sesuatu yang jauh lebih berat daripada tubuh manusia.
Para penonton mundur tanpa sadar.
Dwarf-dwarf yang biasanya keras kepala pun menelan ludah.
Daji menatap kedua tangan Grachius.
Matanya sedikit menyipit.
Qi-nya… jauh lebih padat.
Tiga hari meditasi itu bukan sekadar istirahat.
Grachius telah berubah.
Bukan secara mencolok.
Namun energi di sekelilingnya kini terasa seperti baja yang baru ditempa.
Tajam.
Panas.
Dan stabil.
Grachius mengambil kuda-kuda.
Tresaders mengangkat senjata mereka.
Untuk satu detik, seluruh jalan membeku.
Lalu—
Grachius melesat lebih dulu.
Batu di bawah kakinya retak.
BOOM.
Ia langsung menuju Theros.
Yang terbesar.
Yang paling kokoh.
Theros menyeringai dan mengangkat kedua lengannya menyilang di depan tubuh.
“Datang!”
Tinju Grachius menghantam pertahanan itu.
DUUM.
Udara bergetar.
Tekanan benturan menyapu debu di sekitar mereka.
Theros terdorong mundur beberapa langkah, sepatu besarnya menggores jalan batu hingga meninggalkan garis kasar.
Para penonton terkejut.
“Theros… terdorong?”
“Dengan satu pukulan?”
Kairos langsung bergerak dari samping.
Pedangnya menebas cepat, mengincar leher Grachius.
Namun Grachius hanya memiringkan kepala sedikit.
Bilah pedang lewat tipis di depan wajahnya.
Sikunya bergerak.
Buk.
Kairos menerima hantaman tepat di perut.
Matanya melebar, napasnya terputus sesaat.
Darios datang dari sisi lain dengan tusukan cepat.
Grachius menangkap pergelangan tangannya.
Namun Theros sudah menyeruduk kembali.
Tubuh raksasa itu menghantam Grachius dari depan seperti banteng besi.
Grachius terdorong beberapa meter.
Debu naik.
Daji menahan napas.
Namun dari balik debu, Grachius berjalan keluar.
Tidak ada luka berarti.
Ia hanya menepuk bahunya pelan.
“Lumayan.”
Theros menyeringai.
Kairos menghapus darah kecil di sudut bibirnya.
Darios memutar pergelangan tangannya yang sempat tertangkap.
Mereka bertiga mulai memahami.
Pria di depan mereka bukan petarung biasa.
Kairos berbisik, “Dia terlalu cepat.”
Darios menggertakkan gigi. “Tubuhnya keras.”
Theros tertawa rendah. “Akhirnya. Lawan menarik.”
Formasi mereka berubah.
Lebih rapi.
Lebih hati-hati.
Kairos maju lebih dulu, pedangnya bergerak cepat dari depan. Darios menurunkan posisi tubuh, menebas kaki Grachius dari sisi bawah. Theros bergerak besar di belakang, menutup jalur mundur.
Grachius menilai gerakan mereka dalam diam.
Lalu ia melompat.
Kairos langsung mengejar dengan tebasan ke atas.
Namun Grachius menapak pada sisi bilah pedang itu.
Bukan lama.
Hanya sesaat.
Cukup untuk menjadikannya pijakan.
Tubuh Grachius berputar di udara.
Tumitnya menghantam rahang Kairos.
KRK.
Kairos terpental, memuntahkan darah.
Darios berhasil bergerak dari bawah.
Bilahnya menggores lengan Grachius.
Darah tipis muncul.
Theros tidak melewatkan celah itu.
Ia menangkap kaki Grachius saat mendarat.
“Mati kau!”
Tubuh Grachius dibanting ke jalan batu.
BRAKKK.
Jalan retak membentuk kawah kecil.
Rocky yang sejak tadi mundur langsung tertawa keras.
“Haha! Kena!”
Namun tawanya berhenti.
Dari dalam kawah kecil itu, tangan Grachius masih menggenggam pergelangan tangan Theros.
Grachius bangkit perlahan.
Matanya tetap tenang.
Lututnya menghantam wajah Theros.
BUK.
Kepala raksasa itu tersentak ke belakang.
Lalu Grachius memutar tubuh dan melempar Theros ke arah Darios.
Darios mencoba menahan, namun tubuh Theros terlalu besar.
Keduanya terguling menghantam tanah.
Jalan depan bar menjadi semakin sunyi.
Pertarungan itu bukan lagi perkelahian bar.
Bukan lagi urusan petualang mabuk.
Ini level yang berbeda.
Kairos bangkit dengan rahang berdarah.
“Jangan beri dia ritme!”
Theros berdiri sambil mengusap darah dari hidungnya.
Darios menggeram.
Mereka menyebar.
Formasi segitiga.
Grachius berada di tengah.
Daji merasakan tekanan Qi di arena semakin kuat. Setiap napas Grachius seolah menarik udara ke dalam ritme pertarungan.
Grachius menatap posisi mereka.
Jarak.
Sudut.
Arah bahu.
Pijakan kaki.
Semuanya terbaca.
Lalu ia tersenyum kecil.
“Pertarungan ini…”
Qi di tinjunya menyala lebih terang.
“…mulai menyenangkan.”
Tresaders menyerang bersamaan.
Kairos dari kiri.
Darios dari kanan.
Theros dari depan.
Grachius tidak mundur.
Ia justru maju ke arah Theros.
Theros mengangkat kedua tangan, bersiap menerima hantaman.
Namun Grachius hanya berpura-pura menyerang.
Kakinya menapak di lutut Theros.
Lalu tubuhnya melompat melewati kepala raksasa itu.
Di udara, Grachius memutar tubuh dan menghantam tengkuk Theros dengan tendangan balik.
DUK.
Theros jatuh berlutut.
Kairos langsung menyerang dari belakang.
Namun Grachius mendarat rendah dan menyapu kakinya.
Kairos kehilangan keseimbangan.
Sebelum pedangnya bisa bergerak lagi, Grachius menghantam pergelangan tangannya.
Krak.
Pedang Kairos terlepas dan berputar di udara sebelum jatuh ke jalan.
Darios menyerang dengan tebasan horizontal.
Grachius menangkap lengannya.
Memutar.
Lalu melemparkannya ke arah Kairos.
Keduanya bertabrakan dan tersungkur.
Theros mencoba menyeruduk lagi meski masih goyah.
Grachius menunggu.
Satu langkah.
Dua langkah.
Pada detik terakhir, ia bergeser setengah langkah.
Tubuh Theros melewati sisi tubuhnya.
Siku Grachius menghantam rusuk raksasa itu.
BUK.
Theros terbatuk.
Grachius menangkap kepalanya.
Lalu membantingnya ke tanah.
BRAAAK.
Jalan batu retak lebar.
Debu beterbangan.
Formasi Tresaders hancur total.
Kairos mencoba berdiri.
Kakinya terhuyung.
Darios merangkak sambil menggenggam lengan yang terasa mati rasa.
Theros batuk darah, tangannya gemetar di atas batu retak.
Mereka masih hidup.
Namun tidak sanggup melanjutkan.
Rocky?
Ia sudah tidak terlihat.
Entah sejak kapan kabur.
Grachius berjalan mendekati ketiga bersaudara itu.
Langkahnya pelan.
Tenang.
Tidak terburu-buru.
Ia berhenti di depan mereka.
“Apa yang harus kulakukan pada kalian?”
Tidak ada yang menjawab.
Kairos menatapnya dengan napas berat.
Darios masih mencoba bangkit.
Theros menggertakkan gigi, namun tubuhnya menolak bergerak.
Grachius menatap mereka.
“Membunuh kalian mudah.”
Udara menjadi dingin.
Daji menelan ludah pelan.
Beberapa dwarf menegang.
Namun Grachius mengangkat tangan kanan.
“Tidak.”
Cahaya kuning-merah terkonsentrasi di ujung jari telunjuknya.
Tipis.
Tajam.
Seperti jarum.
Daji langsung mengenalinya.
Meridian Strike.
Grachius bergerak.
Cepat.
Hampir tidak terlihat.
Jarinya menusuk titik di bawah tulang selangka Kairos.
Lalu punggung.
Perut bawah.
Bahu.
Dada.
Pinggang.
Pangkal leher.
Kairos menjerit.
Grachius berpindah ke Darios.
Gerakan yang sama.
Presisi.
Tanpa emosi.
Darios menjerit lebih keras, tubuhnya menegang seperti tali yang ditarik terlalu kuat.
Lalu Theros.
Raksasa itu mencoba menahan, namun tubuhnya sudah terlalu rusak.
Jari Grachius menyentuh titik demi titik meridiannya.
Setelah titik terakhir ditekan—
Theros meraung.
Lalu ketiganya ambruk bersamaan.
Qi mereka kacau.
Jalur energi utama tertutup.
Sirkulasi kultivasi mereka terputus seperti sungai yang dibendung dari sumbernya.
Grachius menurunkan tangannya.
“Kalian masih bisa berjalan.”
Suaranya datar.
“Masih bisa makan.”
“Masih bisa hidup.”
Ia menatap mereka satu per satu.
“Tapi kalian tidak akan pernah bisa berkultivasi lagi.”
Jalan menjadi hening total.
Bagi petarung—
hukuman itu lebih buruk daripada kematian.
Kultivasi adalah hidup mereka.
Kekuatan mereka.
Harga diri mereka.
Dan Grachius baru saja mencabutnya tanpa membunuh mereka.
Kairos menatap tangannya sendiri dengan mata kosong.
Darios gemetar.
Theros, yang sejak tadi paling keras, hanya diam dengan wajah pucat.
Grachius berbalik.
Ia berjalan kembali ke arah Daji.
Daji masih duduk di tanah, tubuhnya penuh luka, napasnya berat.
Grachius berhenti di depannya.
Menatap beberapa detik.
“Qi-mu kacau.”
Daji berkedip.
“Apa?”
“Alirannya tidak beraturan. Itu membuatmu cepat lelah.”
“Aku baru saja hampir mati, dan itu komentarmu?”
Grachius mengangkat tangan.
Cahaya kuning lembut muncul di telapak tangannya.
Berbeda dari Qi yang ia gunakan untuk bertarung.
Ini tidak tajam.
Tidak panas.
Energi itu terasa tenang.
Hangat.
Grachius menempelkan telapak tangannya ke jidat Daji.
Daji membeku.
Qi Grachius masuk perlahan.
Bukan menyerang.
Bukan menekan.
Melainkan menuntun.
Seperti tangan yang merapikan benang kusut.
Qi liar Daji yang sebelumnya berputar kacau mulai mengikuti alur baru. Jalur energinya melurus. Napasnya perlahan stabil. Rasa sakit di tubuhnya mereda sedikit demi sedikit.
Daji menatap wajah Grachius dari jarak dekat.
Tenang.
Fokus.
Tidak ada ejekan.
Tidak ada dingin yang menusuk.
Hanya kehangatan yang aneh dan lembut.
Grachius menarik tangannya.
“Selesai.”
Daji masih diam.
Selama ini, ia mengenal Grachius sebagai pria yang sulit ditebak.
Dingin.
Tajam.
Kadang kejam.
Kadang terlalu tenang hingga tampak tidak manusiawi.
Namun barusan…
saat Qi itu masuk ke tubuhnya, Daji merasakan sesuatu yang berbeda.
Hangat.
Lembut.
Menjaga.
Ia tidak tahu apakah meditasi tiga hari telah mengubah Grachius.
Atau mungkin—
itu memang bagian dari dirinya yang jarang terlihat.
Daji menelan ludah.
Pipinya terasa sedikit panas.
Grachius menatapnya.
“Kau juga harus mengganti jendela bar.”
Daji tersentak.
“Ha?”
“Kau menembusnya.”
“Itu karena aku ditendang!”
“Tetap saja pecah.”
Daji membuka mulut.
Menutupnya lagi.
“Kenapa kau seperti ini?”
Grachius memiringkan kepala sedikit.
“Seperti apa?”
Daji cepat-cepat membuang muka.
“Bukan apa-apa.”
Grachius menatapnya beberapa detik.
“Kenapa wajahmu merah?”
“Tidak merah!”
“Merah.”
“Diam.”
Di dalam dadanya, jantung Daji berdetak aneh.
Ia tidak tahu nama perasaan itu.
Dan itu membuatnya kesal.
Grachius berdiri.
“Kalau sudah pulih, bantu bersihkan kekacauan.”
Daji langsung menoleh cepat.
“Aku baru saja hampir mati!”
“Kau sudah pulih.”
“Aku belum pulih secara emosional!”
Helga yang mendengar dari depan bar tertawa keras.
“Bagus! Mulai dari meja yang pecah, Nona Rubah!”
Daji menatap Helga dengan wajah tidak percaya.
“Kau juga?!”
“Meja itu mahal!”
Para dwarf mulai tertawa.
Satu per satu, ketegangan yang menekan jalan perlahan mencair.
Beberapa warga masih menatap Tresaders yang tergeletak tak berdaya.
Beberapa lagi menatap Grachius dengan campuran hormat dan takut.
Pria berambut putih itu tidak membunuh mereka.
Namun justru karena itu, hukuman yang ia berikan terasa lebih mengerikan.
Grachius berjalan pelan menuju bar, seolah pertarungan barusan hanyalah jeda kecil dalam hari biasa.
Daji duduk di tanah beberapa saat lebih lama.
Lalu tanpa sadar—
ia tersenyum.
Bukan senyum licik.
Bukan senyum menggoda.
Hanya senyum kecil yang sederhana.
Sore di Kota Baldr terasa lebih hangat dari biasanya.
Di antara jalan batu yang retak, meja hancur, jendela pecah, dan para dwarf yang kembali tertawa—
sesuatu dalam hubungan Grachius dan Daji juga ikut berubah.
Pelan.
Tidak terucap.
Namun nyata.
...A Novel By Franzzz...