NovelToon NovelToon
Sistem Absolut: Evolusi Tanpa Batas

Sistem Absolut: Evolusi Tanpa Batas

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Sistem / Action
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: septian123

Di dunia yang kejam, tempat di mana yang lemah selalu diinjak, dia hanyalah sampah yang diremehkan. Namun, ketika nyawa nyaris terenggut dan pengkhianatan terasa di setiap sudut, sebuah sistem misterius muncul memberinya kesempatan untuk bangkit.

Dari titik terendah, ia memulai perjalanan menaklukkan dunianya, mengasah kekuatan, dan mengungkap rahasia di balik kekuasaan yang tersembunyi. Setiap pertarungan bukan hanya soal kekuatan, tapi strategi, kepercayaan, dan pengorbanan. Dari seorang yang hina, ia perlahan berubah menjadi sosok yang tidak bisa diremehkan, menantang dewa dan musuh yang lebih kuat dari imajinasi.

Apakah ia akan menjadi penakluk dunia atau korban dari permainan yang lebih besar?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon septian123, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 24 - Aturan Tak Tertulis

Jeritan itu tidak bertahan lama, namun gema yang ditinggalkannya terasa menempel di dinding lorong dan tidak segera hilang. Tidak ada yang benar-benar perlu memastikan apa yang terjadi di belakang, karena semua orang sudah memahami hasil akhirnya tanpa harus melihat langsung. Dalam ruang sempit seperti ini, satu kesalahan kecil cukup untuk mengakhiri segalanya, apalagi jika seseorang tertinggal tanpa perlindungan.

Langkah kaki kembali terdengar, tetapi ritmenya berbeda dari sebelumnya. Tidak ada lagi usaha untuk menjaga keselarasan secara alami, hanya gerakan maju yang dipaksakan oleh keputusan yang sudah diambil. Kaelvarion Thorne tetap berada di depan tanpa menoleh, seolah suara tadi tidak memiliki hubungan apa pun dengan kelompoknya.

Alverion Dastan memperhatikan punggung orang itu beberapa saat, mencoba membaca sesuatu dari cara ia berjalan. Tidak ada keraguan dalam langkahnya, tidak ada jeda yang menunjukkan penyesalan, dan itu justru yang membuatnya lebih sulit dipahami. Sikap seperti itu bukan muncul dalam satu atau dua hari, melainkan hasil dari kebiasaan panjang dalam mengambil keputusan tanpa mempertimbangkan beban di belakangnya.

Lysera Virel berjalan beberapa langkah di samping Alverion, namun kali ini ia tidak langsung berbicara. Tatapannya tetap lurus ke depan, tetapi ketegangan di bahunya terlihat jelas. Ia tidak setuju dengan apa yang terjadi, namun juga tidak bisa menyangkal bahwa situasi mereka tidak memberi banyak pilihan.

“Kita akan kehilangan lebih banyak kalau terus seperti ini,” katanya akhirnya, suaranya cukup pelan agar tidak menjangkau semua orang.

Alverion tidak langsung menjawab. Ia memahami maksudnya, tetapi juga melihat bahwa masalahnya tidak sesederhana itu. Ini bukan lagi soal strategi atau jalur yang dipilih, melainkan cara setiap orang memandang nilai dari orang lain di dalam tim.

“Yang berubah bukan situasinya,” balasnya pelan. “Tapi cara mereka menilai risiko.”

Lysera melirik sekilas, lalu kembali menatap ke depan.

“Itu sama saja.”

Alverion tidak membantah, karena dalam kondisi seperti ini, perbedaan itu memang semakin tipis.

Di depan, lorong mulai menyempit lebih jauh. Dinding di kiri dan kanan terasa semakin dekat, membuat ruang gerak menjadi terbatas. Cahaya dari retakan batu semakin redup, dan beberapa bagian bahkan hampir sepenuhnya gelap, memaksa mereka mengandalkan indera lain selain penglihatan.

Serin Althaea berjalan lebih dekat ke tengah formasi, tangannya sesekali bergerak kecil seolah menjaga keseimbangan energi di sekitar mereka. Ia terlihat lebih fokus dari sebelumnya, tidak lagi hanya mengamati, tetapi mulai menyesuaikan diri dengan tekanan yang terus berubah.

“Kepadatan meningkat lagi,” katanya pelan. “Dan fluktuasinya lebih cepat.”

Nerithra Solen menanggapi tanpa menoleh.

“Itu berarti kita semakin dekat ke sesuatu.”

Eryndor Vale menghembuskan napas pendek, mencoba meredakan ketegangan yang mulai terasa di tubuhnya.

“Bagus,” katanya. “Setidaknya kita tidak jalan tanpa arah.”

Tidak ada yang menanggapi pernyataan itu. Semuanya terlalu sibuk dengan pikiran masing-masing, atau mungkin memilih untuk tidak memperpanjang percakapan yang tidak memberi manfaat langsung.

Alverion memperhatikan satu hal lain yang mulai muncul perlahan. Setelah kejadian sebelumnya, tidak ada lagi yang benar-benar berjalan terlalu jauh dari pusat kelompok. Bahkan Eryndor yang sebelumnya cenderung maju sendiri kini menjaga jaraknya, meskipun ia tidak mengakuinya secara langsung.

Pengalaman singkat tadi cukup untuk mengubah cara mereka bergerak.

Namun perubahan itu datang dengan harga.

Kepercayaan yang sebelumnya sudah tipis kini hampir tidak tersisa.

Beberapa saat kemudian, lorong kembali melebar, tetapi tidak seperti sebelumnya. Ruang di depan terasa lebih rendah, dengan langit-langit yang menurun dan dipenuhi tonjolan batu yang menggantung tidak beraturan. Bayangan yang dihasilkan dari cahaya redup menciptakan ilusi gerakan yang sulit dibedakan antara nyata dan tidak.

Kaelvarion mengangkat tangan sebagai tanda berhenti.

Semua langsung diam.

Ia tidak langsung berbicara. Matanya bergerak perlahan, memperhatikan setiap sudut ruangan dengan ketelitian yang tidak berlebihan, tetapi cukup untuk menangkap perubahan kecil.

“Ada sesuatu yang berbeda di sini,” katanya akhirnya.

Eryndor mengerutkan kening.

“Sejak tadi juga sudah berbeda.”

Kaelvarion tidak menanggapi sindiran itu.

“Ini bukan soal suasana. Ini pola.”

Serin memejamkan mata sejenak, mencoba merasakan aliran energi yang lebih dalam.

“Dia benar,” ucapnya pelan. “Energi di sini tidak menyebar. Terpusat.”

Nerithra sedikit memiringkan kepala.

“Seperti titik kumpul.”

Kalimat itu membuat suasana kembali menegang, meskipun tidak ada suara yang meninggi. Jika ini benar sebuah titik kumpul, maka kemungkinan besar apa pun yang ada di sini bukan sesuatu yang bisa dihadapi dengan cara yang sama seperti sebelumnya.

Alverion mengalihkan pandangannya ke lantai. Retakan cahaya di bawah kaki mereka tampak lebih terang dibandingkan sebelumnya, dan jika diperhatikan lebih lama, pola garisnya tidak acak. Ada arah tertentu yang mengarah ke tengah ruangan.

Ia mengangkat pandangannya perlahan.

“Jangan terlalu masuk ke tengah,” katanya.

Lysera langsung memahami.

“Zona aktif.”

Alverion mengangguk tipis.

Belum ada yang bergerak, tetapi tekanan di udara berubah secara perlahan. Bukan lonjakan mendadak, melainkan peningkatan yang stabil, seolah ruang itu sendiri mulai merespons keberadaan mereka.

Eryndor menggenggam tangannya sedikit lebih erat.

“Kalau memang ada sesuatu, lebih baik kita selesaikan sekarang.”

Kaelvarion melirik sekilas.

“Atau kita masuk ke sesuatu yang belum kita pahami sepenuhnya.”

“Pilihanmu selalu itu,” balas Eryndor. “Menunggu sampai terlambat.”

Kaelvarion tidak terpancing. Ia justru terlihat semakin tenang, seolah ketegangan seperti ini sudah menjadi bagian yang biasa ia hadapi.

“Pilihanmu juga selalu sama,” katanya. “Bertindak sebelum berpikir.”

Suasana kembali mengeras.

Namun kali ini, tidak ada yang mencoba menengahi secara langsung.

Alverion memperhatikan keduanya, lalu mengalihkan pandangannya ke sekitar ruangan. Ia tidak tertarik pada perdebatan itu, karena jawabannya tidak akan datang dari kata-kata.

Jawabannya ada di sini.

Di tempat yang mulai menunjukkan reaksi.

Cahaya di retakan lantai tiba-tiba berdenyut lebih kuat. Bukan sekadar terang, tetapi bergerak seperti aliran yang mengarah ke satu titik. Dalam hitungan detik, pola yang sebelumnya samar menjadi lebih jelas.

Serin membuka mata dengan cepat.

“Kita harus bergerak.”

Namun sebelum siapa pun sempat melangkah, suara lain muncul dari bawah.

Bukan suara keras.

Melainkan getaran halus yang merambat melalui tanah.

Semua orang bisa merasakannya.

Dan kali ini, tidak ada yang menganggapnya sepele.

Alverion sedikit menurunkan posisi tubuhnya, pusat gravitasinya berubah secara alami. Matanya tetap tenang, tetapi fokusnya meningkat.

Ia tidak tahu apa yang akan muncul.

Namun satu hal sudah pasti.

Apa pun yang mereka hadapi berikutnya, itu bukan lagi sekadar ujian kekuatan.

Melainkan ujian pilihan.

Dan setelah apa yang terjadi sebelumnya, tidak semua orang akan membuat pilihan yang sama.

1
Manusia Ikan
bruh bro punya sistem, dan akan menjadi OP
Manusia Ikan
dadah pecundang😏👋
Manusia Ikan
😌👉itu tragis, tapi aku suka. aku akan menambahkan kejadian yang serupa di karya ku juga. karena aku memerlukan karakter baru
Manusia Ikan
bro anda sudah menjelaskan bagian ini :v
Manusia Ikan
baiklah aku mulai tertarik. aku akan mengikutinya perlahan lahan😌👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!