kisah perjalanan Marsha valerine yang kehadirannya ditolak oleh ibunya, dan saat merencanakan perjalanan ke Eropa bersama keluarga besar, ibunya dengan kejamnya meninggalkan Marsha valerine yang saat itu masih kecil.
Marsha Zaiva Dominic.
Angin malam menyentuh wajahnya, membawa hawa dingin yang tak mampu mengusik ketenangan yang ia bangun selama bertahun-tahun. Ia tidak tahu bahwa nama yang ia bawa sekarang bukanlah miliknya sejak lahir.
Ia hanya tahu—hidupnya dimulai kembali saat ia diadopsi oleh sepasang dokter.
Dokter Erlan Dominic dan Dokter Shafira Hanazawa.
Dari merekalah ia mengenal arti rumah. Bukan tempat yang megah, tapi tempat yang hangat. Bukan sekadar keluarga, tapi orang-orang yang memilih untuk mencintainya tanpa syarat.
Dari mereka pula, Marsha belajar tentang kehidupan tentang merawat, tentang bertahan, dan tentang menjadi seseorang yang berarti bagi orang lain.
Dan dari sanalah… ia memilih jalan yang sama.
Menjadi dokter.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 羽菜, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12 Dua nama satu hati
Pagi yang Tenang di London
Sementara itu, 11.000 kilometer jauhnya, Marsha sedang bersiap untuk ujian praktiknya di rumah sakit. Erlan Dominic memperhatikan putrinya dengan bangga dari meja makan.
"Marsha, ada surat dari yayasan medis internasional," ucap Erlan sambil menyerahkan amplop cokelat.
Marsha membukanya, namun keningnya berkerut. Di dalam amplop itu bukan surat beasiswa, melainkan sebuah foto lama yang sudah menguning: Seorang pria (Andreas) sedang menggendong bayi perempuan di depan Monas.
Di balik foto itu tertulis: "Ayah tidak pernah berhenti mencarimu."
Tangan Marsha gemetar. "Dad... siapa pria di foto ini? Kenapa wajahnya... terasa begitu akrab?"
Erlan dan Shafira saling berpandangan. Rahasia yang mereka simpan rapat selama dua dekade akhirnya menjemput mereka di depan pintu rumah.
Erlan dominic dan shafira jujur, "sayang sebelum kamu dikirim ke panti asuhan, dulu kamu terluka itu sebabnya kamu tidak mengingat apapun selain dua kata Marsha dan papah Andreas." Ucap shafira.
Kejujuran Erlan dan Shafira melepaskan beban yang selama ini menghimpit pundak mereka, namun bagi Marsha, dunia yang ia kenal seolah berputar 180 derajat. Di ruang tamu mereka yang tenang di London, pengakuan itu menggantung di udara seperti kabut yang tebal.
Marsha tertegun. Jari-jarinya mengusap pinggiran foto tua yang diberikan Erlan. Nama itu Andreas. Tiba-tiba, sebuah kilatan ingatan yang sangat samar muncul di benaknya: aroma parfum maskulin yang bercampur dengan bau oli mobil, dan suara tawa berat yang selalu membuatnya merasa aman.
"Papa... Andreas," gumam Marsha, suaranya bergetar. Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. "Jadi, selama ini... aku tidak dibuang oleh semua orang?"
Shafira segera berpindah duduk ke samping Marsha, memeluk putrinya dengan erat. "Tidak, sayang. Ayahmu mencari ke setiap sudut Paris. Kami baru mengetahui identitas aslinya setelah Theodore rekan lamanya menghubungi rumah sakit tempat Erlan bekerja. Kami tidak pernah berniat menjauhkanmu, kami hanya ingin kamu pulih dan tumbuh tanpa bayang-bayang trauma."
Erlan mengangguk, tatapannya penuh ketulusan. "Kamu tetap putri kami, Marsha. Nama 'Dominic' akan selalu menjadi milikmu, tapi darah 'Halvard' juga mengalir di nadimu. Jika kamu siap, pria itu... Andreas... dia sedang dalam perjalanan ke London bersama kakakmu, Xabiru."
Marsha mendongak, matanya membelalak. "Kakak? Aku punya kakak?"
"Namanya Xabiru," Erlan tersenyum tipis. "Dia yang paling keras kepala mencarimu. Dia tidak pernah memaafkan dirinya sendiri karena kehilanganmu hari itu."
___
Di saat momen emosional itu berlangsung, sebuah taksi hitam berhenti di ujung jalan kediaman Dominic. Dari dalamnya, seorang wanita dengan kacamata hitam besar dan syal yang menutupi sebagian wajahnya keluar dengan terburu-buru. Selena Ardith.
Ia menatap rumah bergaya Victoria itu dengan tatapan penuh kebencian. Di tangannya, ia meremas sebuah botol kecil berisi cairan kimia yang ia dapatkan dari pasar gelap di Jakarta sebelum terbang.
"Marsha Zaiva Dominic..." desis Selena. "Nama yang indah untuk sebuah pengkhianatan. Jika Andreas ingin memilikimu kembali, dia hanya akan mendapatkan abumu."
Selena mulai berjalan mendekat ke arah rumah, namun langkahnya terhenti saat sebuah mobil sedan hitam mewah berhenti tepat di depan gerbang. Pintu mobil terbuka, dan seorang pemuda jangkung dengan rahang tegas turun dengan tergesa-gesa.
Itu adalah Xabiru.
Xabiru terpaku di depan gerbang, menatap nomor rumah yang sesuai dengan informasi dari Theodore. Jantungnya berdegup kencang. Namun, sudut matanya menangkap siluet wanita yang sangat ia kenal sedang bersembunyi di balik pohon besar di seberang jalan.
"Mama?" bisik Xabiru, suaranya penuh rasa tidak percaya sekaligus kemarahan yang meluap.
beberapa hari telah berlalu, setelah memikirkan Marsha setuju untuk menemui mereka, Marsha menarik napas panjang, mencoba menenangkan debaran jantungnya. "Aku ingin bertemu mereka, Dad. Aku ingin tahu siapa aku sebenarnya sebelum 20 tahun yang lalu."
Tepat saat Marsha mengucapkan itu, bel rumah berbunyi.
Erlan berdiri, menatap pintu dengan mantap. "Itu pasti mereka."
Namun, suasana tenang itu pecah ketika terdengar teriakan dari luar rumah. "Marsha! Jangan keluar! Ayah, dia ada di sini! Selena ada di sini!" itu adalah suara Xabiru yang berteriak memperingatkan.
Di dalam rumah, wajah Shafira memucat. "Selena? Dia sampai ke sini?
Marsha berdiri, rasa takut dan rasa penasaran berperang di dadanya. Ia melihat ke arah jendela dan melihat seorang pria paruh baya (Andreas) yang baru saja turun dari mobil, tampak panik mencari posisi Selena, sementara Xabiru sedang berlari mengejar sosok wanita yang mencoba menerobos masuk lewat pintu samping.
Dunia Marsha yang damai di London baru saja bertabrakan dengan badai yang dibawa dari masa lalunya di Indonesia
Selena berdiri di depan pintu yang baru saja terbanting tertutup. Matanya merah, napasnya memburu, dan tangannya yang memegang senjata gemetar hebat—bukan karena takut, tapi karena kebencian yang sudah mendarat di puncak kegilaan.
"Keluar kau, anak sialan!" teriak Selena. "Gara-gara kau, Andreas menceraikanku! Gara-gara kau, aku kehilangan segalanya! Kau seharusnya mati di Paris!"
Di balik pintu beton ruang belakang, Marsha bersandar dengan napas tersengal. Jantungnya berdegup begitu kencang hingga telinganya berdenging. Kedua tangannya masih gemetar, namun sorot matanya perlahan mengeras—terlatih oleh tekanan, ditempa oleh rasa takut yang tak lagi asing.
Ia menatap Erlan dan Shafira yang berdiri tak jauh darinya, wajah keduanya pucat dipenuhi kecemasan. “Mom, Dad… tetap di sini,” bisiknya tegas, meski suaranya nyaris tak lebih dari hembusan napas. Ada ketenangan dingin yang tiba-tiba mengambil alih insting medisnya kembali hidup, mengambil kendali di tengah kekacauan.
“Polisi London akan datang. Mereka cepat… sangat cepat. Kita hanya perlu bertahan beberapa menit lagi.”
Di luar, suara langkah kaki berderap semakin mendekat.
Andreas dan Xabiru muncul dari ujung halaman, nafas memburu setelah berlari tanpa henti. Namun langkah Andreas terhenti seketika saat pandangannya menangkap sosok Selena, berdiri dengan tangan terangkat, senjata mengarah lurus ke pintu rumah tempat Marsha bersembunyi.
Waktu seakan membeku.
“SELENA! HENTIKAN!” teriak Andreas, suaranya menggema, penuh otoritas sekaligus kepedihan yang tak bisa disembunyikan.
Selena tidak menoleh.
“Kau sudah menghancurkan masa kecilnya…” lanjut Andreas, suaranya mulai bergetar, “jangan hancurkan masa depannya juga.”
Udara di antara mereka terasa menegang, seperti benang tipis yang siap putus kapan saja.